Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingin Tahu
Pagi itu, Alya sudah selesai bersiap ketika Arga keluar dari kamar. Ia mengenakan tunik berwarna biru muda dengan kerudung senada. Koper mereka telah tertata di dekat pintu, sementara tas kecil berisi perlengkapan pribadi diletakkan di atas kursi.
“Aku sudah siap, Mas,” kata Alya sambil memeriksa isi tasnya sekali lagi.
Arga mengangguk. “Kalau begitu, kita turun. Ayah dan Ibu mungkin sudah menunggu untuk sarapan.”
Mereka keluar kamar bersama dan menuju ruang makan. Maya dan Adrian sudah duduk di sana. Begitu melihat putri dan menantunya datang, Maya tersenyum sambil mempersilakan mereka mengambil tempat.
“Sudah siap berangkat?” tanyanya. “Sarapan dulu. Perjalanan ke Jakarta lumayan jauh. Jangan sampai kalian berangkat dengan perut kosong.”
“Iya, Bu,” jawab Alya sambil duduk di samping Arga.
Arga mengucapkan terima kasih sebelum mulai menyantap sarapan. Mereka makan bersama sambil membicarakan rencana kepindahan dan apartemen yang akan mereka tempati.
Adrian berpesan agar mereka tidak terburu-buru mengambil keputusan jika tempatnya ternyata kurang sesuai.
“Rumah itu bukan cuma soal bagus atau mewah. Yang penting kalian nyaman tinggal di sana dan bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik,” katanya.
Arga mengangguk. “Iya, Yah. Kami akan melihatnya dulu.”
Maya kemudian menoleh kepada putrinya. “Kalau nanti sudah pindah, jangan lupa memberi kabar kepada Ibu. Kalau ada yang kurang atau kamu membutuhkan sesuatu, bilang saja.”
Alya tersenyum. “Iya, Bu. Nanti Alya kabari.”
Setelah sarapan selesai, Arga membantu membawa koper ke mobil. Alya berpamitan kepada kedua orang tuanya, lalu memeluk Maya sebelum masuk ke mobil.
“Hati-hati di jalan, ya,” pesan Adrian.
“Baik, Ayah. Nanti kalau sudah sampai, saya kabari,” jawab Arga.
Mereka kembali berpamitan, kemudian meninggalkan rumah keluarga Wiratama.
Perjalanan menuju Jakarta dimulai dengan suasana yang cukup tenang. Arga mengemudikan mobil, sedangkan Alya duduk di sebelahnya sambil sesekali memeriksa pesan dari ibunya.
Beberapa waktu setelah memasuki jalan tol, Arga mulai membicarakan apartemen yang akan mereka tempati.
“Aku sudah menyiapkan beberapa pilihan sebelum menikah,” katanya. “Tapi ada satu yang paling cocok menurutku. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor.”
Alya menoleh. “Fasilitasnya lengkap?”
“Cukup lengkap. Ada dua kamar tidur, dapur, dan balkon. Menurutku, tempatnya nyaman untuk kita berdua.”
“Kalau begitu, nanti kita lihat langsung saja. Aku ingin memastikan dapurnya cukup nyaman untuk memasak.”
Arga tersenyum tipis. “Kamu suka memasak?”
“Lumayan. Aku tidak bisa membuat terlalu banyak hidangan, tapi masakan sehari-hari bisa.”
“Berarti nanti aku bisa mencicipi masakanmu.”
“Bisa saja, Mas.” Alya tersenyum kecil. “Asalkan Mas tidak berharap aku langsung bisa memasak semua makanan kesukaan Mas.”
Arga terkekeh. “Aku tidak sepesimis itu.”
Percakapan mereka berlangsung ringan. Alya sesekali bertanya tentang lokasi apartemen dan kebutuhan rumah tangga yang harus disiapkan. Arga menjawab seperlunya sambil tetap berkonsentrasi menyetir.
Bagi Alya, pembicaraan semacam itu cukup. Mereka sedang mempersiapkan kehidupan bersama, jadi wajar jika membicarakan hal-hal praktis. Ia tidak merasa perlu membahas persoalan yang terjadi pada malam pertama mereka.
Setelah beberapa saat, percakapan mereda. Alya kembali menikmati pemandangan di luar jendela, sementara Arga fokus mengikuti arus kendaraan.
Tidak lama kemudian, ponsel yang diletakkan Arga di dekat konsol tengah bergetar.
Arga meliriknya sekilas. Nama Nadira muncul di layar.
Jemarinya sempat bergerak hendak mengambil ponsel, tetapi ia mengurungkan niatnya. Alya sedang duduk di sebelahnya, dan ia tidak ingin mengangkat telepon itu dalam keadaan seperti sekarang.
Arga segera mematikan layar, lalu kembali memperhatikan jalan.
Alya tidak melihat nama yang muncul di ponsel tersebut. Ia hanya mendengar suara getaran yang berhenti beberapa detik kemudian. Perhatiannya kembali tertuju pada pemandangan di luar jendela.
Beberapa menit berlalu sebelum ponsel itu bergetar lagi.
Arga mengembuskan napas pelan. Ia tahu Nadira mungkin ingin berbicara dengannya, tetapi ia tidak bisa begitu saja mengalihkan perhatian ketika sedang mengemudi.
Ia membiarkan panggilan itu berhenti sendiri.
Arga merasa gelisah. Ia ingin segera menghubungi Nadira, tetapi kehadiran Alya membuatnya harus lebih berhati-hati. Ia tidak ingin menciptakan situasi yang bisa membuat perjalanan mereka terasa canggung.
Sementara itu, Alya sama sekali tidak bertanya tentang panggilan yang masuk. Ia memilih tidak mencampuri urusan Arga dengan perempuan yang telah lebih dahulu hadir dalam kehidupan suaminya.
Baginya, keputusan untuk melanjutkan pernikahan bukan berarti ia harus ikut mengatur hubungan Arga dengan Nadira. Ia sudah mengetahui kenyataan yang perlu diketahuinya, dan untuk saat ini, ia ingin fokus pada kehidupannya sendiri.
Ketika perjalanan berlanjut, Alya membuka ponsel dan membalas pesan dari ibunya. Maya menanyakan apakah mereka sudah sampai di Jakarta. Alya menjelaskan bahwa mereka masih dalam perjalanan dan akan memberi kabar setelah tiba di apartemen.
Arga sempat meliriknya ketika Alya selesai mengetik.
“Ibu kamu menanyakan perjalanan kita?” tanyanya.
“Iya. Ibu ingin tahu apakah kita sudah sampai.”
“Nanti kalau sudah tiba, kita kabari mereka bersama.”
Alya mengangguk. “Baik, Mas.”
Percakapan kembali berhenti. Tidak ada pertengkaran atau pertanyaan yang membuat suasana menjadi tidak nyaman. Namun, Arga mulai menyadari bahwa Alya tidak berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi dalam kehidupannya di luar pernikahan mereka.
Alya tetap berbicara dengannya secara wajar, tetapi tidak menuntut perhatian lebih.
Entah mengapa, sikap itu membuat Arga merasa sedikit gelisah.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Arga memutuskan berhenti di sebuah rest area. Ia ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju area tempat makan. Alya memilih membeli air mineral dan roti, sementara Arga memesan kopi.
“Kita duduk sebentar, ya,” kata Arga.
Alya mengangguk. “Boleh. Mas juga perlu istirahat sebelum menyetir lagi.”
Mereka memilih meja yang tidak terlalu ramai. Alya membuka bungkus rotinya, lalu mulai makan sambil melihat orang-orang yang berlalu-lalang.
Arga duduk di hadapannya. Ia sempat memeriksa ponsel dan melihat ada panggilan tidak terjawab dari Nadira. Ia juga menemukan pesan yang masuk beberapa menit sebelumnya.