Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Aku Tidak Akan Meninggalkan Mereka
Faza memutuskan mendekati Alunar untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang ada di hati. Pandangan mata Sagara, entah kenapa mengingat Faza terhadap seseorang.
“Bagaimana kondisi beliau, Alunar? Apakah ada perkembangan?” tanya Faza memutus pandangan Alunar dan Sagara.
"Tekanan darahnya terus turun, Ayah. Nadinya pun teraba lemah dan tidak beraturan," jawab Alunar sambil melakukan pemeriksaan.
"Berapa lama lagi beliau bisa bertahan dengan sisa obat yang ada, Alunar?" tanya Faza lagi.
"Kurang dari tiga puluh menit, Ayah. Kalau dalam waktu itu kita tidak belum sampai. Racun di tubuh beliau akan menghentikan detak jantung secara total.”
Hening, suasana itu yang dirasakan sekarang. Semua orang yang ada di atas ketinting diam dengan segala praduga terburuk.
Melihat wajah Alunar yang tertekan karena penurunan kondisi kepala desa. Entah kenapa ada rasa kurang nyaman yang dirasakan oleh Sagara.
“Jaya, apakah perahu ini bisa jalan lebih cepat?” tanya Sagara memecah keheningan.
"Tidak bisa, Pak Kapten. Di depan masuk area bebatuan. Jika dipaksakan, baling-baling mesin bisa hancur menabrak batu dan kita semua tenggelam."
"Malam ini, kita benar-benar sedang berkejaran dengan waktu, Komandan," timpal Oka yang sama-sama dalam kondisi frustasi.
Sementara itu, di jalur darat terdengar suara mesin truk dan motor saling bersahutan. Arisandhi memacu motor trailnya menuju aliran sungai.
"Lapor, Ndan! Alat pelacak sinyal kita mulai menangkap sesuatu yang aneh!" lapor Bima melalui alat komunikasi yang terpasang di helm.
"Jelaskan posisinya, Sersan!" perintah Arisandhi lewat mikrofon kecil tanpa mengurangi kecepatan.
"Siap, Ndan! Alat pengacak sinyal terdeteksi menguat di arah utara, tepat di sekitar jembatan utama yang putus,” tutur Bima.
“Tampaknya musuh sengaja meninggalkan alat itu dalam keadaan menyala agar kita kebingungan dan tidak bisa minta bantuan!" lanjut Bima.
"Biarkan saja alat itu! Fokus kita malam ini adalah menjemput Komandan Sagara beserta tim!"
“Siap, Ndan.”
Arisandhi tahu bahwa setiap menit yang terbuang bisa membahayakan nyawa komandannya beserta tim. Apalagi saat ini ada sosok dokter yang harus mereka lindungi bersama kepala desa yang sudah bisa dipastikan dalam kondisi kritis.
***
Tanpa sepengetahuan Arisandhi maupun Sagara. Jika bukan hanya pasukan darat dari markas militer yang bergerak. Melainkan juga helikopter penyelamat milik Kepolisian yang terbang rendah mendekati aliran sungai.
"Pusat, disini Elang Satu sudah masuk di atas wilayah perbatasan. Belum terlihat tanda-tanda keberadaan target," lapor kopilot helikopter melalui radio.
"Diterima, Elang Satu. Tetap cari di sepanjang aliran sungai. Tugas utama adalah menyelamatkan Jenderal Faza beserta tim. Langsung angkat lewat udara jika jalan darat tidak memungkinkan," balas suara petugas dari pusat kendali yang harus dilaksanakan malam itu juga.
***
Saat ini kondisi kepala desa semakin kritis. Efek racun yang mulai menyerang sistem saraf membuat tubuh kepala desa kejang-kejang, hingga mulut sedikit mengeluarkan sedikit busa.
"Kapten Sagara! Arahkan lampu senter ke kepala desa! Saya butuh cahaya untuk membersihkan jalan nafasnya!" teriak Alunar panik.
"Siap, gunakan ini, dok!" Sagara sambil memegangi tubuh kepala desa agar tidak jatuh sambil memberikan penerangan.
"Tolong tahan kepalanya, Sertu Oka!" perintah tegas Alunar.
"Siap, dokter!"
Alunar dengan tangan yang gemetar mencoba membersihkan mulut pasien menggunakan kain kasa. Sementara air matanya mulai menetes takut jika apa yang dikhawatirkan terjadi.
Wus-wus-wus…!
Flap-flap-flap…!
Di tengah kepanikan melanda karena turunnya kondisi kepala desa. Suara gemuruh dari baling-baling helikopter datang mendekat mengalihkan semuanya.
"Helikopter!" teriak Jaya penuh kelegaan.
"Itu helikopter polisi dari Tarakan siap melakukan penyelamatan," ucap Faza sambil menyiapkan evakuasi.
Pintu geser helikopter terbuka lebar. memperlihatkan dua petugas Brimob dengan tali penyelamat yang langsung menurunkan keranjang tandu besi khusus dan tali baja menggunakan katrol listrik.
Pada saat yang sama, lampu sorot motor trail dan truk yang dipimpin Arisandhi tiba.
"Kapten Sagara!" teriak Arisandhi sambil melambaikan tangan ke arah perahu yang kini sudah menepi di bawah helikopter.
"Arisandhi! Jaga wilayah sekitar sini!” perintah Sagara.
"Siap, laksanakan, Ndan!" sahut Arisandhi langsung memberikan perintah kepada bawahannya untuk berjaga.
“Cepat bawa tim penyelamat! Kepala desa harus mendapatkan penanganan cepat!” perintah Faza kepada bawahannya yang berhasil turun dari helikopter.
“Siap, Jenderal.”
Sesuai perintah Faza, tubuh ketua adat dipindahkan dari atas perahu ke dalam tandu besi helikopter.
"Dokter harus naik duluan bersama pasien!" perintah salah satu petugas penyelamat polisi dengan suara keras karena bising.
Alunar menoleh sekilas ke arah ayahnya, lalu ke arah Sagara yang keduanya memberikan isyarat menganggukkan kepala.
"Baik."
Tubuh Alunar langsung diikat sabuk pengaman pada pengait helikopter. Dengan menggunakan isyarat tangan, katrol listrik menarik Alunar dan ketua adat naik ke kabin helikopter.
Setelah dipastikan aman, tali kembali turun untuk menarik Faza dan satu orang untuk dievaluasi.
"Kapten Sagara, giliran Anda naik ke helikopter. Masih ada tempat membawa kita ke pangkalan Tarakan,” ucap Faza.
Sagara menegakkan tubuhnya dan memberikan hormat militer yang sempurna kepada Faza. Namun, matanya menunjukkan keputusan yang tidak bisa diubah oleh siapapun.
"Izin, Jenderal. Terima kasih atas bantuannya. Tapi saya memilih untuk tetap tinggal di sungai ini," jawab Sagara atas ajakan Faza.
"Hutan ini masih berbahaya, Kapten. Risiko diserang kembali oleh musuh masih tinggi dalam keadaan gelap. Kenapa Anda menolak ikut?" tanya Faza ingin memastikan.
"Izin menjelaskan, Jenderal. Di atas sana, di dalam hutan. Saya masih punya enam anak buah yang sedang melakukan patroli untuk memastikan tempat ini aman,” jawab Sagara.
“Sebagai komandan, sampai kapanpun saya tidak akan pernah meninggalkan mereka berjuang di kegelapan hutan Kalimantan ini," tegas Sagara yakin dengan ucapannya.
Faza terdiam sejenak. Menatap sosok pemuda di hadapannya yang mengingatkan pada dirinya di masa lalu.
"Saya mengerti keputusan Anda, Kapten," ujar Faza sambil menganggukkan kepala.
"Jaga diri Anda dan pasukan di bawah sana.”
“Siap, Jenderal lm”
Saat tali masih berada di depannya. Sagara menatap ke arah Oka.
“Ikutlah naik helikopter, Oka. Tetap jaga dan pastikan keamanan dokter Alunar dan kepala desa.”
"Siap, Ndan! Kami tunggu Anda di markas dengan selamat!" seru Oka memberi hormat sebelum tubuhnya perlahan-lahan ditarik menuju kabin helikopter.
Setelah semua orang yang dievakuasi sudah masuk ke helikopter. Kini helikopter itu pergi menjauh. Alunar terus menatap ke arah bawah tempat Sagara berdiri sambil terus menatap perginya helikopter.
"Semua orang sudah aman di atas helikopter, Letnan," ucap Sagara kepada Arisandhi setelah helikopter pergi menjauh.
"Siap, Ndan.”
"Sandhi, bawa kembali pasukan truk menuju markas. Kamu harus memimpin koordinasi agar komando di markas tidak lumpuh," perintah Sagara membagi tugas kepada Arisandhi.
"Siap, perintah dimengerti, Komandan. Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya Arisandhi cemas.
"Saya, Jaya, dan dua prajurit perintis akan menggunakan motor trail untuk masuk menyusuri sungai dan jalur hutan. Kita harus menjemput enam anak buah kita di tengah hutan. Kita tidak boleh pulang ke markas sebelum memastikan seluruh anggota tim berkumpul kembali dengan selamat," tegas Sagara kepada anak buahnya.
"Siap, laksanakan, Ndan! Semoga beruntung di dalam hutan!" sahut Arisandhi penuh semangat. Lalu pulang menuju markas utama.
Dengan posisi Jaya yang tetap memimpin di depan sebagai penunjuk jalan arah lokal. Sagara dan sisa tim perintis motor trail mulai memacu kendaraan mereka memecah kegelapan malam dan menyusuri tepi sungai. Siap masuk kembali ke dalam hutan demi menjemput sisa anggota yang tertinggal.
Sedangkan di dalam helikopter tatapan mata Alunar mengarah ke kegelapan hutan. Rasa khawatir menyelimuti diri Alunar saat Sagara tidak ikut naik ke helikopter.
“Kapten Sagara orang hebat, dokter. Lebih baik fokus dengan kondisi pasien agar perjuangan tim penyelamat tidak sia-sia,” ucap Oka mengalihkan perhatian Alunar.
“Anda benar, Sertu,” ucap Alunar yang kini kembali fokus dengan keselamatan kepala desa. Meskipun hatinya tiba-tiba tidak tenang kepikiran pada sosok kapten yang baru hari pertama. Namun sudah mampu mengalihkan perhatiannya.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi