Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. PERINTAH
...بسم الله الرحمن الرحيم...
...Sandyakala"Aksa dan Amerta"...
...Karya : Ms_nyms...
Derap langkah kaki berjalan terburu-buru di sebuah bangunan yang jauh dari pemukiman penduduk, beberapa orang pria berpakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup masker hitam tengah berdiri dengan membawa senjata api. Terdengar dari dalam bangunan tersebut suara beberapa orang yang sedang berdiskusi mempermasalahkan suatu hal, langkah mereka semakin dekat menuju pintu masuk bangunan tersebut.
"Bagaimana bisa kalian tidak becus seperti ini, gua tinggal selama seminggu malah begini. Sekarang kalian tinggal pilih, gua tembak atau kalian cari dia sekarang hingga ketemu" suara seorang pria dengan nada tinggi mengisi kesunyian bangunan yang sudah tak terawat tersebut.
"Siap bos" serempak para pria lain.
"Jangan ada yang balik ke markas sampai dia ketemu, jika tidak nyawa kalian yang akan habis ditangan gua"
"Siap bos!! "
Para pria yang berbadan tegap tersebut bersiap untuk pergi dengan membawa beberapa perlengkapan, mereka memakai sebuah masker dengan penutup kepala tak lupa dengan sebuah senjata tajam di pinggang mereka.
Pria-pria berbadan tegap tersebut hanya diam menatap dengan sinis wajah orang-orang yang ada dihadapan mereka, wajar saja tubuh mereka tidak sebanding dengan kekuatan pria-pria berotot tersebut. Mereka saling melempar pandangan, memberikan sebuah kode satu sama lainnya.
"JANGAN BERGERAK!! SAYA PERINTAHKAN JANGAN ADA YANG MELARIKAN DIRI"
DUARR!!
Suara tembakan akhirnya lepas, kedua kelompok saling menodongkan senjatanya. Keadaan semakin memanas kala itu sang target utama yang akan menjadi tersangka kabur melarikan diri, salah satu anggota yang bertugas mengejarnya sampai ke dalam hutan. Menelusuri semak-semak belukar yang sangat tinggi, suara hewan-hewan malam mulai terdengar.
Jarum jam di pergelangan anggota tersebut tertulis pukul 18.30 malam, sinar dari cahaya matahari tidak dapat membantunya dalam mengejar tersangka. Hanya dengan bermodal insting dan matanya yang harus tetap waspada dalam segala hal, ia tetap memberanikan diri mengejar tersangka tersebut.
Tanpa adanya penerangan, mereka terus saling mengejar hingga ke tengah hutan belantara. Suara nafas tersengal-sengal kelelahan setelah berlari cukup jauh, begitu juga anggota yang mengejarnya hanya berjarak 2 meter darinya.
Mereka berhenti ditengah-tengah hutan, anggota tersebut melihat sekelilingnya dengan samar-samar tidak ada hal yang mencurigakan baginya jikalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Gua peringatin, lu bakal mati kalau nangkap gua. Gua punya kuasa atas hal ini "
"Saya tidak peduli, ini perintah. Lebih baik anda ikut dengan saya, selama saya masih kooperatif terhadap anda"
"Lu mau ngelawan gua? Oke, kalau gitu kita adu kekuatan tanpa senjata"
"Oke" jawab anggota tersebut dengan cepat menjatuhkan senjatanya ke rerumputan yang lembab. Ia mengencangkan sarung tangan hitam yang melekat di tangannya, bersiap untuk melawan pria yang ada di hadapannya ini.
"Ck,Dasar bodoh-"
Duaaarr!! Duaaarrr!!
Suara tembakan dua kali lepas dari senjata api dari salah satu pria itu, dalam kegelapan tidak ada yang tahu siapa yang menjadi korbannya. Sesaat peluru telah dilepaskan, suara ringisan salah satu pria yang tengah berada di tengah hutan ini terdengar.
"AAARRRGGHH"
Burung-burung berterbangan dari dalam hutan, suara tembakan terdengar hingga kedalam gedung. Para tersangka sudah dilumpuhkan dan sedang diikat oleh beberapa anggota saat itu, semua terdiam melihat ke sekeliling gedung. Kemudian sepersekian detik langsung berlari saat menyadari komandan mereka tidak bersama mereka, mereka berlari memasuki hutan yang gelap dan rimbun itu. Mencari-cari keberadaan komandan mereka ditengah kegelapan tanpa cahaya bermodalkan lampu flash dari ponsel mereka masing-masing, beberapa anggota menyebar ke sisi kanan dan kiri mencari komandan mereka.
"NDAAANN!! KOMANDANN!!!" teriak para anggota yang terus berjalan.
Semakin gelap masuk kedalam hutan, suara-suara hewan malam mulai terdengar para anggota terus mencari keberadaan komandan mereka. Apa yang sedang terjadi saat ini, pikiran mereka sedang kalut hancur berantakan gagal melindungi komandan mereka.
Suara rerumputan semak-semak memecah keheningan hutan, suara burung hantu juga terdengar. Mereka seperti sedang dipantau oleh penghuni hutan, cahaya mata hewan malam sesekali terlihat menampakkan diri nya.
"NDANNN!! NDAAANN DIMANA NDAAANN!! "
Para anggota kembali berkumpul ditengah-tengah hutan, wajah mereka terlihat frustasi. Saling melempar pandangan sesekali melemparkan cahaya ke sisi hutan untuk melihat keadaan sekitar.
"Bagaimana komandan, apakah komandan tertembak? " tanya anggota termuda yang sangat khawatir pada komandannya. Wajahnya hampir saja menangis, ia sangat mengkhawatirkan pria yang menjadi komandannya itu.
"KOMANDAN!!! KODE NDAN!! "
Seorang pria berjalan dari dalam kegelapan, mendekat ke arah para pasukan. Mata mereka langsung bersiap dengan menodongkan senjata pada pria yang tengah berjalan tersebut, pria dalam kegelapan itu menggendong seseorang dibelakang punggungnya.
"JANGAN BERGERAK!! SAYA PERINTAHKAN JANGAN BERGERAK, TETAP DITEMPAT ANDA" peringat salah seorang anggota berteriak dari kejauhan.
Tidak ada suara dari pria itu, jarak mereka sekitar lima meter dari posisi para anggota berdiri saat ini. Mereka semakin memasang wajah waspada pada sosok yang ada dihadapan mereka saat ini, tangan mereka bersiap untuk melontarkan peluru pada pria itu jika sewaktu-waktu melakukan perlawanan.
klek!
"JANGAN MELAKUKAN SESUATU HAL YANG BERBAHAYA BAGI ANDA, KAMI INI PARA ANGGOTA!!" teriak salah satu anggota.
"SAYA INI!!" ucap pria itu.
Para anggota saling beradu pandangan mencoba fokus mendengarkan, mata mereka membulat seketika dan langsung berlari ke arah pria itu. Melihat wajah pria itu, mereka tersenyum dengan bahagia apa yang ada dipikiran mereka tidak terjadi. Mereka memeluk tubuh pria itu yang ternyata adalah komandan mereka, pria itu juga bangga saat melihat para anggota nya tetap tegas dan tetap berpikir jernih walaupun pikiran mereka sedang kalut saat mencari dirinya.
"Ndaaan!! syukur lah ndan.. Komandan selamat, kami kira komandan terkena tembakan. Jantung kami hampir saja putus saat mendengar suara tembakan dua kali terdengar sampai kedalam gedung. Syukur lah ndan"
"Angkat dia, kakinya terkena peluru langsung larikan ke team medis yang telah bersiaga di depan sana. " Perintah komandan mereka.
Mereka berjalan dengan santai keluar dari dalam hutan, kembali bergabung dengan anggota lainnya yang sedang mengawasi para tersangka lainnya. Beberapa anggota juga sedang menginterogasi mereka, hari ini merupakan malam yang panjang bagi mereka sepertinya.
Drrrtt Drrrrtt
Suara panggilan masuk ke ponsel pria yang disebut komandan itu, ia duduk tak jauh dari para anggota yang sedang menginterogasi para tersangka.
"Halo? "
"Jawab yang sopan"
"Siap salah"
"Bagaimana? "
"Sudah selesai, lagi interogasi"
"Oke, nanti kasih informasi selanjutnya"
"Oke"
Menutup sambungan telepon tersebut dan duduk dengan tenang sembari menikmati kopi hitam dan singkong goreng yang dibuat oleh anggotanya, ia memandangi satu- persatu wajah para pria yang tengah terduduk di lantai gedung. Mencoba menganalisa setiap karakter dan perilaku mereka, ia hanya diam di posisinya tanpa ikut campur dalam hal yang dilakukan anggotanya itu.
"Ndan, bermalam disini dulu? "
"Iyalah, lumayan libur kan"
"Siap ndan, kalau begitu saya izin ke desa terdekat untuk membeli makanan untuk sarapan besok pagi"
"Oke, bawa mobil" melempar sebuah kunci mobil pada anggota nya.
Salah satu tersangka melihat kearah pria yang disebut komandan itu, ia sangat serius melihatnya tanpa berkedip sedikitpun. Ia menyadari dirinya saat ini sedang di pandangi oleh para tersangka, namun ia tetap merasa tenang saja.
"Kenapa? Lapar? " tanya nya. " Nah" memberikan sepiring penuh singkong goreng didepannya, ia juga menaruh kopi hitam didepan mereka.
Salah satu ikatan ia lepas dan mengaitkannya dengan sebuah kursi yang tak jauh dari posisinya berada agar tangan pria tersebut bisa ia gunakan untuk makan, meskipun saat ini ia berstatus tersangka tapi tetap harus memanusiakan seseorang terlepas dari statusnya.