NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Si Miskin!

Musim semi di desa utara seharusnya menjadi waktu di mana tunas-tunas hijau membawa harapan baru. Namun, bagi Lin Wanru, musim semi hanyalah pertanda lain dari dinginnya perut yang kosong dan tajamnya lidah tetangga yang lapar akan penderitaan orang lain.

Hari itu, matahari baru saja naik sepenggal, ketika Wanru terpaksa berjalan ke sumur umum di tengah desa untuk menimba air. Mengingat keluarganya tidak memiliki timba kayu yang layak, ia hanya membawa sebuah kendi tanah liat retak yang diikat dengan tali rami usang.

Belum sempat ia menurunkan kendinya ke dalam sumur, suara tawa cemoohan sudah menyambutnya.

"Wah, lihat siapa yang datang. Si gadis pemulung dari gubuk reot ujung desa!" seru Nyonya Liu, istri seorang pedagang beras lokal yang bertubuh tambun, sambil berkacak pinggang di dekat sumur.

Wanru menunduk dalam-dalam. Ia merapatkan pakaiannya yang penuh tambalan dan sudah terlalu pendek untuk tubuh remajanya.

Rambutnya diikat seadanya menggunakan sehelai kain kusam. "Bibi Liu, permisi... saya hanya ingin mengambil sedikit air untuk ibu saya yang sedang sakit," bisik Wanru, suaranya nyaris tenggelam oleh angin.

"Air? Kau pikir air sumur ini milik nenek moyangmu?" hardik Nyonya Liu dengan suara melengking tinggi, sengaja menarik perhatian seluruh warga yang sedang berkumpul di sekitar sumur.

Nyonya Liu kemudian maju dan dengan sengaja menyepak kendi tanah liat milik Wanru hingga terpelanting dan pecah berkeping-keping di atas tanah berbatu.

Ppree!

Air yang sedianya sangat berharga itu tumpah seketika, meresap sia-sia ke dalam debu kering.

Wanru terpekik tertahan. Air mata panas langsung menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya agar tidak tumpah di hadapan orang banyak. Ia lalu berlutut di tanah dan memunguti pecahan kendi yang pecah dengan jari-jarinya yang sudah kasar dan terluka.

"Jangan mengotori air bersih di sumur ini dengan tangan sucimu yang bau kemiskinan, Wanru!" cibir gadis muda seusianya, anak dari Nyonya Liu, yang datang membawa keranjang pakaian.

Gadis itu menumpahkan seember air kotor bekas cucian tepat di dekat tangan Wanru yang sedang berlutut, hingga membuat pakaian gadis malang itu basah kuyup dan berlumur lumpur kotor.

"Keluarga kalian itu benar-benar parasit di desa ini! Ayahmu mati meninggalkan utang, ibumu hanya menunggu ajal di atas ranjang busuk, dan kau... kau hanya gadis tidak berguna yang hidupnya pantas dibuang ke sungai!" cerca Nyonya Liu tanpa belas kasihan.

Beberapa warga desa yang berlalu lalang hanya menatap dengan pandangan dingin, mencibir, atau bahkan meludah ke tanah di dekat Wanru.

Tidak ada satu pun yang menolong. Di dunia di mana hukum rimba dan kasta sosial berlaku kejam, kemiskinan adalah sebuah dosa terbesar, dan keluarga Lin berada di kasta paling bawah dari dosa tersebut.

Wanru meremukkan pecahan tembikar di genggamannya hingga telapak tangannya berdarah. Darah segar pun menetes, menyatu dengan lumpur di tanah. Namun, rasa sakit di telapak tangannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit dan kehancuran harga diri yang menghujam dadanya saat itu.

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan isak tangis yang mendesak keluar. Di dalam sunyinya kehinaan itu, di tengah tatapan merendahkan orang-orang desa, Lin Wanru hanya bisa meraba dadanya sendiri yang sesak.

"Kenapa dunia ini begitu kejam pada orang miskin?" batin gadis malang itu berteriak dalam kepedihan yang teramat sangat.

Di usia delapan belas tahun, ketika gadis-gadis sebayanya di desa tetangga mulai mengenakan pita rambut kain katun berwarna cerah atau membantu ibu mereka memanen di ladang yang subur, hari-hari Wanru hanya diisi dengan warna abu-abu kemiskinan yang mencekik.

Tubuh kecil itu sudah lama lupa bagaimana rasanya kenyang. Dalam sebulan, biji-bijian gandum utuh adalah kemewahan yang hanya bisa mereka impikan dua atau tiga kali.

Selebihnya, mangkuk kayu di atas meja reyot mereka hanya berisi geng, bubur encer yang nyaris seluruhnya berupa air hangat dengan segenggam kecil sekam padi atau sisa akar sayuran liar yang dipungut Wanru di pinggir hutan.

Setiap kali ia menyuapkan bubur hambar itu ke mulut adiknya yang bernama Lin Bao, perut Wanru sendiri bergemuruh hebat, dan melilit menahan perih.

Namun, ia tidak pernah mengeluh di depan sang ibu. Ia tahu, ibunya yang bernama Nyonya Lin, sudah menanggung beban psikologis yang jauh lebih berat sejak kematian suaminya.

Sebagai anak perempuan tertua, pundak Wanru menjadi tumpuan utama keluarga. Meskipun fisiknya kurus kering dan kurang gizi, setiap pagi sebelum matahari terbit, ia harus berjalan sejauh dua mil menuju sungai terdekat.

Di musim dingin, air sungai terasa bagaikan ribuan jarum es yang menusuk kulit jarinya yang pecah-pecah. Wanru harus mencuci pakaian kotor milik keluarga kaya di desa sebelah demi selarik upah berupa beberapa butir beras atau ubi jalar kecil. Sering kali, tangan kecilnya membiru, kaku, dan berdarah karena gesekan kain kasar dan air es.

Ia tidak punya waktu untuk bermimpi, tidak punya tenaga untuk menangis, dan tidak memiliki hak untuk berharap. Hidupnya hanyalah lingkaran setan, bekerja hingga ambruk, menahan lapar, dan menghindari amukan sang paman penagih utang.

Malam itu, angin musim gugur bertiup kencang, menembus celah-celah dinding kayu yang keropos. Hujan gerimis turun, membuat suhu di dalam gubuk merosot drastis.

Tidak ada selimut tebal di rumah itu. Lin Wanru meringkuk di atas ranjang kayunya yang keras, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil hebat. Demam tinggi menyerangnya akibat kelelahan kronis dan kurangnya asupan makanan selama berhari-hari.

Di dalam kegelapan malam, napasnya semakin memburu, pendek, dan terasa berat di dadanya. Ia menatap langit-langit gubuk yang bocor, lalu membayangkan apakah kematian adalah satu-satunya bentuk kebebasan dari penderitaan panjang ini.

Suara tangisan lirih adiknya dan batuk tertahan sang ibu terdengar samar-samar di telinganya, sebelum akhirnya kesadaran gadis malang itu benar-benar padam dalam gelap yang abadi.

Dan di saat napas terakhir itu terhembus... detik itu pula jiwa dari dunia modern bersiap mengambil alih, membawa badai perubahan yang sama sekali tidak pernah disangka oleh orang-orang yang selama ini menginjak-injak harga diri keluarga Lin.

Bersambung...

🍁 Jangan lewatkan kelanjutan kisah seru ini!

Pastikan untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan (subscribe), berikan vote/dukungan terbanyak, dan tekan tombol follow agar kalian tidak ketinggalan update episode terbaru setiap harinya!

Dukungan, komentar, dan antusiasme kalian adalah bahan bakar terbesar bagi saya untuk terus menulis cerita terbaik. Terima kasih sudah setia menemani author...

Sampai jumpa di episode berikutnya!— 🍁

1
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!