Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DANIEL, SANG PENGENDALI DI BALIK TOPENG
Semua orang terdiam.
Dominic menatap pria tua yang berdiri di hadapannya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Daniel?” ulang Dominic.
Pria itu tersenyum.
“Ya. Namaku Daniel. Orang yang selama ini kalian cari.”
Isabella mundur selangkah.
“Tidak mungkin. Daniel yang kukenal masih muda. Bagaimana mungkin kau menjadi orang yang sama?”
Daniel tertawa kecil.
“Karena Daniel yang kalian kenal hanyalah identitas palsu. Aku menggunakan beberapa nama selama puluhan tahun untuk memastikan tidak seorang pun mengetahui keberadaanku.”
Dominic mengarahkan pistolnya lebih tinggi.
“Jadi selama ini kau yang mengendalikan Adrian, Alexander, dan seluruh keluarga kami?”
Daniel mengangguk.
“Adrian hanyalah pelaksana. Alexander adalah wajah dari proyek ini. Sedangkan Helena bertugas menjaga garis keturunan yang telah kami rencanakan.”
Helena tersenyum sinis.
“Jangan terlalu percaya diri, Daniel. Kau bukan satu-satunya orang yang mengetahui rahasia proyek ini.”
Daniel menoleh kepadanya.
“Jangan lupa, Helena. Tanpa aku, kau tidak akan pernah memiliki kekuasaan seperti sekarang.”
Helena tertawa.
“Dan tanpa aku, kau tidak akan pernah bisa menciptakan anak kelima.”
Victoria yang masih terikat mulai berteriak.
“Cukup! Aku ingin tahu kenapa kalian melakukan semua ini!”
Helena mendekatinya.
“Karena kau dan saudaramu adalah bagian terpenting dari rencana kami.”
Victoria membeku.
“Saudaraku?”
Daniel mengangguk.
“Benar. Kau memiliki saudara kembar. Tetapi bukan hanya itu. Kalian berdua memiliki sesuatu yang tidak dimiliki empat subjek lainnya.”
“Apa?”
“Kalian adalah pewaris asli keluarga Imanuel.”
Isabella menggeleng.
“Kalian sudah menghancurkan kehidupan kami hanya demi kekuasaan!”
Daniel menatapnya dengan tenang.
“Tidak, Isabella. Aku justru telah memberikan kalian kehidupan yang tidak akan pernah kalian miliki jika tidak ada proyek ini.”
Dominic tertawa pahit.
“Kau menyebut kehancuran keluarga kami sebagai hadiah?”
Daniel tidak menjawab.
Tiba-tiba Dominic menarik pelatuk pistolnya.
Namun sebelum tembakan dilepaskan, Adrian bergerak cepat dan menendang tangan Dominic.
Pistol terlempar ke lantai.
Perkelahian pun terjadi.
Dominic berusaha melawan Adrian, sementara Isabella berlari menuju Victoria untuk melepaskan ikatannya.
“Victoria, bertahanlah!”
Isabella menarik tali yang mengikat kedua tangan Victoria.
Namun Helena segera menghampiri mereka dan menarik rambut Isabella.
“Jangan ikut campur!”
Isabella terjatuh.
Victoria berteriak.
“Lepaskan dia!”
Helena menampar Victoria.
“Kau seharusnya bersyukur karena masih hidup!”
Isabella bangkit dan mendorong Helena hingga perempuan itu terjatuh.
Mereka terlibat perkelahian singkat sebelum akhirnya Victoria berhasil melepaskan ikatannya.
Sementara itu, Dominic berhasil menjatuhkan Adrian.
Ia mengambil pistol yang tergeletak di lantai dan mengarahkannya kepada pria tersebut.
“Sekarang kau tidak akan bisa melarikan diri!”
Adrian tersenyum sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
“Kau pikir dengan menangkapku semuanya akan selesai?”
“Setidaknya aku bisa menghentikanmu.”
Adrian tertawa.
“Masih belum mengerti juga? Semua yang terjadi sudah direncanakan.”
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
Daniel berdiri sambil memegang sebuah alat pengendali.
“Bagus sekali. Kalian akhirnya berkumpul.”
Dominic mengarahkan pistol kepadanya.
“Hentikan semua ini!”
Daniel menekan sebuah tombol.
Sekejap kemudian, layar besar di ruangan itu menyala.
Muncul rekaman seorang perempuan yang sedang melahirkan di sebuah rumah sakit dua puluh tahun lalu.
Clara langsung terkejut.
“Matikan rekaman itu!”
Daniel tersenyum.
“Kenapa? Kau takut mereka mengetahui siapa sebenarnya yang melahirkan Isabella?”
Isabella menatap layar.
Dalam rekaman tersebut terlihat seorang perempuan muda sedang terbaring di ruang persalinan.
Wajah perempuan itu terlihat jelas.
Mariana.
Isabella mengerutkan kening.
“Kenapa Mariana ada di rekaman kelahiranku?”
Daniel menjawab dengan tenang.
“Karena pada malam itu, Mariana melahirkan seorang bayi perempuan.”
Clara menangis.
“Tidak! Jangan percaya kepadanya!”
Daniel melanjutkan.
“Namun bayi itu kemudian ditukar dengan bayi perempuan yang dilahirkan oleh Clara.”
Isabella menatap Clara.
“Ibu…”
Clara menundukkan kepala.
“Ada sesuatu yang memang belum pernah kuceritakan kepadamu.”
Daniel tertawa.
“Sekarang kau mulai mengerti, Isabella. Clara memang membesarkanmu, tetapi darah yang mengalir dalam tubuhmu bukan darahnya.”
Isabella mundur.
“Lalu siapa ibu kandungku?”
Daniel tersenyum.
“Mariana.”
Semua orang terdiam.
Mariana yang sejak tadi berdiri di dekat pintu tiba-tiba menangis.
“Maafkan aku, Isabella.”
Isabella menatapnya dengan wajah tidak percaya.
“Jadi selama ini kau adalah ibu kandungku?”
Mariana mengangguk.
“Aku ingin memberitahumu, tetapi aku tidak pernah memiliki keberanian.”
Isabella menangis.
“Kenapa semua orang selalu menyembunyikan kebenaran dariku?”
Clara berusaha bangkit.
“Isabella, dengarkan Ibu. Aku mungkin bukan ibu biologismu, tetapi aku adalah perempuan yang memilih untuk mencintaimu dan melindungimu sejak kau masih bayi.”
Isabella menghampirinya dan memeluknya.
“Bagiku, Ibu tetap ibuku.”
Clara menangis dalam pelukan Isabella.
Namun Daniel kembali berbicara.
“Sayangnya, masih ada satu rahasia yang belum kalian ketahui.”
Dominic menoleh.
“Apa lagi?”
Daniel menunjuk Mariana.
“Mariana bukan hanya ibu kandung Isabella.”
Mariana langsung menutup wajahnya.
Daniel melanjutkan dengan suara dingin.
“Dia juga perempuan yang melahirkan Dominic.”
Dominic membeku.
“Tapi kau mengatakan bayi yang dilahirkan Mariana meninggal!”
Daniel tertawa.
“Itu kebohongan yang sengaja kubuat agar kalian tidak pernah mengetahui bahwa Isabella dan Dominic memiliki hubungan darah.”
Isabella menatap Dominic dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi pesan itu benar?”
Daniel mengangguk.
“Benar. Dominic adalah saudara kandungmu dari pihak ibu.”
Dominic menundukkan kepala.
Seluruh kenangan masa lalu kembali menghantam pikirannya.
Ia tidak sanggup menatap Isabella.
Tiba-tiba Helena berdiri dan mengeluarkan sebuah pistol dari balik pakaiannya.
“Aku sudah cukup mendengarkan semua kebohonganmu, Daniel!”
Daniel menoleh.
“Turunkan senjatamu, Helena.”
“Tidak! Kau sudah mengkhianatiku sejak awal.”
Helena mengarahkan pistol kepada Daniel.
“Aku tahu siapa yang sebenarnya menciptakan anak kelima.”
Daniel tersenyum.
“Kau tidak akan berani mengatakannya.”
“Justru aku akan mengatakannya sekarang!”
Helena menarik napas panjang.
“Anak kelima bukan dirimu, Daniel. Kau hanyalah penjaga identitasnya.”
Daniel mendadak kehilangan senyumnya.
“Apa maksudmu?”
Helena tertawa.
“Anak kelima yang sebenarnya adalah anak yang dilahirkan oleh perempuan lain. Anak itu memiliki seluruh akses untuk menghentikan Proyek Imanuel.”
Isabella menatap Helena.
“Siapa anak itu?”
Helena mengarahkan pandangannya kepada Mariana.
“Anak kelima adalah…”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara tembakan.
Helena terjatuh.
Semua orang berteriak.
Daniel segera mengambil pistol yang terlepas dari tangan Helena.
Dominic mengarahkan senjatanya kembali kepada Daniel.
“Siapa yang menembak Helena?”
Daniel tersenyum.
“Orang yang selama ini kalian tunggu.”
Pintu ruangan terbuka perlahan.
Seorang perempuan muda masuk dengan langkah tenang.
Wajahnya membuat Isabella membeku.
“Tidak mungkin…”
Perempuan itu tersenyum.
“Halo, Isabella.”
Dominic terlihat sama terkejutnya.
“Siapa kau?”
Perempuan itu mendekati Mariana dan memeluknya.
Mariana menangis.
“Anakku…”
Isabella menatap mereka dengan kebingungan.
“Mariana, siapa perempuan itu?”
Perempuan tersebut menoleh.
“Namaku Evelyn.”
Ia kemudian mengangkat rambutnya, memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulan sabit di belakang telinga kirinya.
Daniel langsung menurunkan pistolnya.
“Evelyn…”
Perempuan itu tersenyum dingin.
“Ya, Daniel. Aku akhirnya kembali.”
Isabella menatap Clara.
Clara terlihat sangat ketakutan.
“Jangan bilang…”
Evelyn mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.
“Dua puluh tahun lalu kalian menciptakan lima subjek. Namun kalian lupa bahwa seseorang harus menjadi pengawas atas semuanya.”
Ia meletakkan dokumen tersebut di atas meja.
“Dan orang yang memiliki kendali penuh atas Proyek Imanuel bukanlah Daniel.”
Evelyn menatap Isabella.
“Orang itu adalah aku.”
Dominic terkejut.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara, Evelyn mendekati Isabella dan membisikkan sesuatu.
“Isabella, aku datang bukan untuk menghancurkan keluargamu.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku datang untuk memberitahumu bahwa ayah kandungmu masih hidup.”
Isabella membeku.
“Siapa dia?”
Evelyn tersenyum tipis.
Kemudian ia menunjuk seseorang yang berdiri tepat di belakang Isabella.
“Ayah kandungmu adalah orang yang selama ini selalu melindungimu.”
Isabella perlahan menoleh.
Dan ketika melihat sosok tersebut, seluruh tubuhnya mendadak lemas.
Bersambung...
jangan lupa mampir kakk..🤭