NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA SUDAH ADA DI LAPORAN

Seperti itulah kegiatan Anaxa menjelang libur semester nya yang semakin dekat.

Amplop misterius kadang datang kadang tidak datang di depan pintu kosnya. Anaxa juga tidak mau ambil pusing. Dia segera terbiasa dengan rutinitas barunya itu. Hal yang dulu membuatnya takut, kini jadi lebih terbiasa, walaupun setiap hari Anaxa juga bertanya-tanya tentang siapakah pengirim laporan misterius tersebut.

Kulkasnya penuh dengan tempelan laporan. Anaxa benar-benar memperlakukan nya seperti to do list harian!

HARI 138

Sebulan lagi subjek kembali masuk ke perkuliahan

Esai penelitian subjek berhasil di submit ke perlombaan dan mendapatkan juara satu

Kinerja di perusahaan kembali stabil

Subjek terus menempelkan laporan di permukaan kulkas

Yang tadinya adalah terror, kini terlihat seperti lelucon. Anaxa hanya menggeleng-nggelengkan kepala juga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Anaxa sudah terbiasa

Dan keterbiasaan seringkali menjadi musuh yang berbahaya.

Anaxa juga sudah mempersiapkan kembali dirinya untuk berkuliah di semester 5. Membeli buku binder. Mengecek jadwal. Menyiapkan laptop. Menara ulang kamar.

Namun dalam hati, Anaxa tetap memikirkan Aglaea. Dosen wanita itu... Terasa familiar.

Anaxa sempat mencarinya di internet. Google. Website kampus. LinkedIn. Sosial media. Bahkan jurnal ilmiahnya. Namun semua tetap terasa nomal. Tetapi... Ada detail kecil yang membuat rasa aneh tetap tinggal di dadanya.

Nama Aglaea pernah muncul di salah satu artikel penelitian yang pernah Anaxa baca bertahun-tahun yang lalu...

"Ah. Mungkin cuma kebetulan" Ucap Anaxa

Hingga akhir nya esok hari adalah hari pertamanya di semester lima. Anaxa bangun pagi, segera mematikan alarm ponselnya yang berbunyi bar-bar. Bangun dari kasur dan melangkah ke kamar mandi. Dia mencuci muka, gosok gigi, menyisir sekilas rambutnya, lalu berganti pakaian. Celana panjang juga turtleneck lengan panjang.

Keluar kos. Mengunci pintu. Tak lupa menyapa pak satpam tua yang berjaga. Anaxa mengayuh sepedanya ke kampusnya. Kurang lebih 20 menit pulang pergi. Sama sekali tidak boros duit dan juga tidak polisi udara. Malah kebiasaan mengayuh sepedanya malah membuat tubuhnya terasa sehat.

Semakin dekat mengarah ke kampusnya, Anaxa melihat segerombolan ribut anak kampusnya yang lehernya terkalung oleh namecard kampus. Mereka terlalu ribut. Ada yang berbicara tentang kelas baru. Ada yang asik selfie. Ada yang kepo serta tanya-tanya "Kayak gimana sih semester lima?"

Semuanya meledak dalam euforia. Namun Anaxa hanya mengayuh sepedanya dengan tenang. Memikirkan sepedanya di tempat biasa, Anaxa langsung melangkah ke kantin. Dia memesan americano double shoot untuk memulai harinya.

Anaxa duduk di meja kantin. Memperhatikan suasana sekitar sembari menyeruput kopinya.

Semuanya terasa normal.

Anaxa turut tersenyum karena dirinya juga tidak sabar untuk mempelajari psikolog klinis di semester lima. Dia membuka ponsel dan melihat jadwal kelas dan ruangan kelasnya pada pagi itu.

Dia berdiri dari duduknya. Mengambil sebelah earphone bluetooth nya dan menyumpalkan di telinga kanan, memutar lagu favorit nya.

Dia meraih segelas kopinya. Memasukkan ponsel ke saku celana. Mulai berjalan. Menaiki lift ke pantai lima. Lalu melangkah ke kelasnya.

Keadaan tetap chaos khas seseorang yang baru naik semester, mendapatkan teman yang berbeda lagi, dan semangat belajar yang meledak untuk membantai semester lima.

Anaxa tetap memilih bangku kesayangannya. Paling belakang. Pojok kanan. Hanya hantu yang menemani! Kekeh Anaxa merasa lucu.

Dibandingkan sibuk berbicara dengan sesamanya, Anaxa malah asik dengan ponselnya. Hingga waktu menunjukkan pukul 9:20, Anaxa menangkap bunyi sepatu heels yang terdengar berwibawa, seolah-olah memecah keributan kelas.

Anaxa langsung mengalihkan pandangannya ke dosen itu. Rambut pirang sebahu. Memakai dress panjang yang anggun. Juga memeluk beberapa buku dan laptop di dadanya

Wajahnya tersirat senyum tipis. "Selamat pagi anak-anak." ucapan itu langsung dibalas oleh anak-anak di kelas itu. "Selamat pagi bu!"

Anaxa hendak membalikkan tubuhnya untuk meraih binder tulisnya, namun sebelum dia mengambilnya, tubuhnya tiba-tiba terhenti.

"Anaxa."

Dengan cepat Anaxa menoleh ke dosen itu. Aglaea masih memeluk buku dan laptopnya di dada. List absen belum dibukanya. Belum melihat tulisan di name tag. Belum sesi perkenalan. Cuma... menyebutkan namanya.

Anaxa langsung membeku.

Anaxa kembali mengingat tulisan di laporan penelitian tentangnya itu. Bahwa, "Anaxa akan bertemu dengan dosen baru!"

Dan semuanya menjadi kejadian!

Dengan cepat wajah Anaxa memucat. Dia tak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun.

Aglaea kembali menyebutkan nama Anaxa. Aglaea tersenyum tipis. Menaruh tumpukan buku dan laptopnya di atas meja dosen, kemudian melangkah ke tengah-tengah kelas. Aglaea menghadap seluruh murid-murid kemudian dia berkata.

"Anaxa Daemyn Elrad, mari berikan tepukan meriah kepadanya atas prestasinya yang lagi-dan lagi menjuarai lomba esai tingkat Internasional!"

Anak-anak di kelas langsung berteriak heboh. Bahkan ada beberapa anak yang berdiri dari kursinya dan datang ke kursi Anaxa untuk menepuk bahunya. "Gak nyangka ya bro pendiam ini ternyata pinter banget!"

"Anaxa! Boleh sekelompok sama kamu gak di semester ini?"

"Kamu buka les mandiri gak? Aku lihat kalau nama kamu terpajang di Wall of Fame kampus. Aku juga ingin menjadi dirimu!"

Sontak kelas ramai dan atensi murid-murid jatuh kepadanya. Anaxa sedikit kelabakan. Bahkan dia memijit kepalanya karena pusing tiba-tiba yang diakibatkan oleh kericuhan.

"Itu..."

"Cukup anak-anak. Yang ingin tahu tentang Anaxa lebih lagi bisa bicara setelah kelas usai. Waktunya bagi saya untuk memulai sesi pembelajaran pada hari ini." Ucap Aglaea yang langsung dipatuhi oleh anak-anak kelas.

Secara serempak mereka kembali ke kursinya yang sebenarnya. Menyisakan Anaxa yang gemetar ketakutan di kursinya...

Sama sekali, Anaxa tidak pernah mengalami atensi sebesar itu. Apalagi semuanya terasa jadi berbeda akibat satu orang. Yaitu Aglaea.

Sementara anak-anak yang lain sibuk mencatat sesuatu di binder mereka, Anaxa malah berdiam diri. Dia sibuk berpikir

"Namaku sudah berkali-kali terpajang di Wall of Fame, tapi kenapa baru seheboh ini?

" Aneh.. Kenapa teman-teman kelas pada ingin berdekatan denganku? Padahal kemarin pun tidak masalah ketika diriku sama sekali tidak berkomunikasi oleh mereka."

"Ini semua dipicu oleh Aglaea."

Anaxa menggeleng-nggelengkan kepalanya lelah. Dia memaksakan diri untuk lebih fokus ke mata kuliah yang diajarkan oleh Aglaea. Walaupun rasa gak enak tetap terasa di dada.

"Anaxa... Menurutmu... Kapan seseorang mulai kehilangan privasinya?" Aglaea bertanya dengan nada dosen yang biasa

Anaxa terdiam.

Seluruh kelas menoleh kepadanya

Beberapa detik

Lalu Anaxa berdiri perlahan

Awalnya dia ingin menjawab seperti anak psikologi biasa... Namun entah kenapa pikirannya selalu jatuh ke amplop misterius itu

Akhirnya dia berkata pelan,

"Menurut saya... privasi tidak hilang ketika seseorang mulai diawasi."

Kelas mulai hening.

"Privasi hilang ketika kehidupan kita mulai bisa diprediksi."

Aglaea tidak memotong.

Anaxa melanjutkan.

"Setiap manusia meninggalkan pola. Jam bangun. Tempat membeli kopi. Jadwal bekerja. Cara berjalan. Tempat duduk favorit. Semakin konsisten pola itu, semakin mudah seseorang mengetahui hidup kita tanpa harus selalu mengikuti kita."

Ruangan semakin sunyi.

"Kadang... seseorang terlihat seperti sedang diawasi. Padahal sebenarnya... dia hanya meninggalkan terlalu banyak jejak."

Lalu Anaxa baru sadar...

Kenapa dia menjawab seperti itu?

Dia menggigit bibirnya pelan.

"...Maaf, Bu. Jawaban saya mungkin terlalu melebar."

Aglaea hanya tersenyum tipis lalu berkata, "Menarik. Itu bukan jawaban yang ada di buku. Tapi justru jawaban seperti itu yang membuat psikologi berkembang."

Murid-murid yang hadir di kelas itu langsung memberi tepuk tangan meriah kepada Anaxa. Bahkan ada yang bersorak. "Keren banget Anaxa?! Jawabannya gak ada yang bisa duga."

Anaxa hanya menggaruk bingung belakang kepalanya. Tepat sebelum dia melangkah kembali ke tempat duduknya, omongan dari Aglaea malah membuat tubuhnya membeku lagi. "Saya suka cara kamu mengamati manusia, Anaxa."

Kalimat terakhir itu pendek, tetapi bagi Anaxa rasanya seperti ada seseorang yang sedang berkata, "Aku juga sedang mengamatimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!