Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Asli Sheila
Melisa mencari barangnya yang mungkin tertinggal ke kamar tamu, tapi dalam perjalanan seseorang memukul kepalanya dari belakang sampai ia tidak sadarkan diri.
“Bangun! Dasar sampah.”
Seseorang berteriak padanya sambil menyiramkan air kotor di wajahnya. Melisa membuka matanya perlahan, sisa pukulan yang mengenainya tadi masih membuat kepalanya terasa sakit, apalagi aroma air busuk itu menyakiti hidungnya.
“Nah, bangun juga akhirnya. Kamu pikir kamu tuan putri yang bisa bermalas-malasan di sini.”
Siapa itu? Melisa berusaha mengingat wajah itu.
“Kita belum kenal, ya? Aku lupa memperkenalkan diri.” Perempuan itu lalu tertawa.
Melisa sudah ingat, dia Sheila yang kemarin datang berkunjung dan menemui para pembantu. “Kenapa dia melakukan ini padaku?” gumam Melisa dalam hati.
Tangannya terikat ke belakang, jadi ia hanya bisa menyimak Sheila berbicara. Sementara ini tidak ada yang bisa ia lakukan, meskipun sebenarnya sejak tadi ia juga geram ingin melakukan sesuatu. Di sekolah dulu, ia pernah menampar dan menendang empat orang pembully yang menyerangnya karena dikira merebut salah satu pacar mereka. Menurutnya, mungkin kali ini akar masalahnya juga sama, karena Dharma.
“Aku Sheila Nareswari, kau tau? Aku sahabat baik mendiang istri Dharma. Jadi, aku melakukan ini atas Namanya. Sahabatku itu pasti tidak terima suaminya tinggal satu ranjang bersama perempuan kelas bawah sepertimu. Karena dia sudah tenang di alam sana dan tidak bisa melakukan apapun padamu, biar aku yang mewakilinya.” Tawa Sheila terdengar begitu puas dan nyaring.
Melisa kira perempuan-perempuan jelmaan iblis seperti ini hanya ada di film, rupanya dalam keluarga sultan yang sejak kecil sudah ketat penerapan attitude dan manner-nya tetap tumbuh manusia-manusia seperti Sheila.
Melihat Melisa yang hanya diam dan menatapnya dengan tatapan merendahkan, Sheila jadi semakin geram sampai meremas mulut Melisa. “Kenapa wajahmu ini jelek sekali? Jangan diam saja, sampah. Katakan sesuatu.” Sheila berteriak di wajah Melisa saat mengatakan kalimat paling akhir tadi.
Melisa meludah ke arah Sheila.
Sheila otomatis semakin meradang sampai urat-urat di tangannya terlihat jelas. “Beraninya kamu!”
Ia menampar Melisa dua kali.
Tiba-tiba Rosa muncul dari balik pintu dan mengingatkan Sheila untuk tidak menyerang wajah. “Jangan terllau meninggalkan bekas di wajah, Non. Nanti bisa ketahuan.”
Sheila menahan amarahnya susah payah. Ia mengangguk setuju pada saran Rosa dan mengisyaratkannya untuk keluar dulu dari ruangan ini.
Kali ini justru Melisa yang tertawa keras begitu Rosa sudah menghilang dibalik pintu.
“Sheila, Sheila. Kasihan sekali, sudah berapa lama kamu mengemis cinta Dharma? Tidak pernah berhasil, ya? Mungkin di mata Dharma kita sama-sama terlihat seperti sampah.”
Wajah Sheila masih merah karena menahan emosinya.
“Aku akan membuat Dharma membuangmu, seperti pada istrinya dulu.”
“Oh, itu ulahmu, ya? Akan aku sampaikan ini baik-baik pada Dharma.”
Sheila tertawa. “Coba saja kalau bisa!” Ia mengatakan itu sambil mengeluarkan alat catok rambut dan segera mencolokkannya ke stop kontak.
Melisa panik. Kalau sudah dirasuki iblis seperti itu, perempuan ini pasti bisa saja nekat melakukan apapun. “Jangan gila, Sheila.”
“Sabar, sayang. Aku sama sekali tidak gila. Kamu yang gila dengan nekat masuk ke dalam keluarga ini, apalagi mengambil posisi sebagai istri Dharma.”
Alat catok itu sudah mengeluarkan asap. Melisa berteriak memanggil Dharma. Berharap siapapun yang mendengar itu akan menyadari kejahatan ini.
Tiba-tiba Listrik padam. Melisa merasa lega, setidaknya alat catok itu tidak bisa jadi lebih panas lagi.
Sheila menempelkan plester di mulut Melisa, lalu menekankan kuat-kuat alat catok yang sudah panas itu di pahanya. Ia puas sekali melihat teriakan Melisa yang tertahan dan usaha gadis itu meronta untuk coba menghindar dengan Gerakan yang sia-sia.
“Apa timmu yang mematikan Listrik, hm? Akan aku cari sampai dapat agar suatu saat dia bisa ikut merasakan catokan panas ini.”
Sheila mengusap air mata yang mengalir di pipi Melisa kasar. “Jangan cengeng! Kalau sampai Dharma tahu luka ini, aku akan menambahkannya dua garis lagi di pipi kanan dan pipi kirimu ini, agar wajahmu semakin menawan. Aku tahu Dharma tidak mungkin mau menyentuhmu di ranjangnya. Melihat manusia sampah sepertimu pasti membuatnya mual.”
Setelah puas tertawa, Sheila menambah rasa sakit Melisa dengan menekan luka bakar di paha itu lalu beranjak pergi.
Rosa buru-buru masuk dan melepas semua ikatan di tubuh Melisa. Ia memang tidak menyukai Melisa di rumah ini, tapi tidak tega juga kalau istri baru majikannya itu harus mengalami hal menyedihkan seperti ini.
Melisa mengusap sisa air mata di wajahnya. Ia sudah akan memarahi Rosa juga, tapi ia melihat mata Rosa sembab. Apa Sheila juga menyakitinya? Ia hendak coba berbincang untuk menanyakan itu. Namu, Rosa sudah buru-buru pergi tanpa mengatakan apapun.
Melisa tidak menyiakan kesempatan, ia juga segera keluar dari ruangan itu. Begitu sampai di luar ia baru tahu, ini bukan bagian dari rumah keluarga Dharma. Entah bangunan ini milik siapa, letaknya tidak terlalu jauh dari rumah yang ia tempati.
…
Sampai di rumah, Melisa segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia membuka ponsel yang tadi ia tinggalkan di meja kamar sebelum pergi ke kamar tamu untuk mencari seuatu, khawatir ada pesan penting dari Bu Inggit atau Maya. Ternyata yang ada hanya pesan dari pakdenya yang mengancam akan mendatangi rumah barunya kalau dia tidak segera cap jempol di surat tanah warisan ibunya.
“Astaga, kenapa ini lagi ini lagi.” Ia menutupi wajahnya dan terduduk di lantai.
Melisa muak. Permasalahan ini tidak kunjung selesai. Ditambah lagi dengan terlibat dalam keluarga ini, masalah yang harus dihadapinya justru semakin bertambah dan bertambah.
“Ada apa?”
Melisa terkejut. Itu Dayu.
Merasa dipedulikan, Melisa reflek memeluk Dayu erat sambil menangis lagi.
“Ada apa, sih?” Dayu mencoba akrab, tapi juga sedikit menjaga jarak. Setelah beberapa lama membiarkan Melisa menyalurkan kesedihannya, ia melepas pelukan itu. Lalu menutup hidung.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang punya masalah dan merindukan ibuku,” jawab Melisa. Ia tidak berbohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur pada anak seusia Dayu.
“Tentang merindukan ibu, aku paham perasaan itu karena aku juga sudah lama tidak bertemu ibuku. Kamu boleh sedih tentang itu.”
Melisa mengangguk. Dayu ternyata tidak buruk, menurutnya. “Maaf, kalau itu malah membuatmu mengingat ibumu.”
“Tapi poinku bukan itu, apa sebenarnya masalahmu sampai … “ Ia terlihat ragu meneruskan kalimatnya.
“Sampai apa?” Melisa heran melihat Dayu terus menutupi hidungnya. Ia menciumi pakaiannya, apa sisa bau air kotor yang diguyurkan Sheila padanya tadi masih menempel?
“Sampai membuatmu dan kamar papa jadi kayak bau sampah.”
Nah, kan.