Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 9
Ana keluar dari aula lelang menuju area parkir. Mencari sang sopir.
Matanya mencari di setiap baris mobil yang terparkir rapih di sana, ketika ia akan menikung tanpa sengaja ia melihat Hansen dengan identitas asli nya sedang menodongkan pistol di kepala pria yang berlutut di kaki nya.
Ia masih mengenakan topeng silver yang menutupi wajah nya.
Langkah Ana terhenti ia tertegun panik bersembunyi menutup mulut nya di balik tembok.
Pelan-pelan ia mengintip.
Ana terbelalak takut saat melihat Hansen menembak bahu pria yang berlutut di kaki nya dengan senapan peredam.
Ana terkejut menarik diri membekap mulut nya sendiri agar tidak bersuara. Wajah nya pucat ketakutan melihat adegan kejam yang baru saja ia saksikan. Ia berusaha menenangkan diri lalu mencoba mengintip kembali. Namun ia tidak melihat siapa pun di sana. Ana keluar dari persembunyian nya. Mencari orang-orang itu pergi.
Tanpa ia sadar sosok Hansen sudah berdiri di belakang nya.
Ketika berbalik ia terkejut sampai pucat ketakutan langkah nya mundur menjauh.
Dengan wajah dingin Hansen menodongkan pistol ke kening Ana hingga ia tergolek jatuh akibat rasa takut yang sangat besar.
"Tu..tuan, aku.. aku sungguh tidak melihat apapun! Aku hanya lewat!"
Hansen menatap dingin pada Ana, Rasa dendam nya seakan ingin langsung menghabisi nya saat itu. Namun ia menahan niat nya. Ia menarik kembali pistol yang ia todongkan lalu
mengibaskan tangan, meminta Ana untuk pergi dari hadapan nya.
Ana langsung beranjak bangun lalu berlari peninggalan Tempat itu dengan wajah pucat. Tidak jauh dari sana. Ia melihat sopir yang menjemputnya masuk kedalam mobil menunggu diri nya.
Ia melangkah cepat masuk kedalam mobil lalu meringkuk, tangis nya pecah. Ia benar-benar di buat ketakutan saat itu.
Sang sopir sampai panik kebingungan melihat wajah Ana yang pucat menangis.
"Nona, kenapa anda menangis? Apa terjadi sesuatu!?" Tanya nya, cemas.
Ana menggeleng pelan "Tidak papa pak, bisakah mengantar aku pulang sekarang!" Isak nya. Sambil terus meringkuk takut.
Sang sopir tidak bisa berbuat apa-apa. Ia segera menjalankan mobil nya menuju Apartemen.
Setelah sampai Ana bergegas masuk ke dalam apartemen nya. Ia Bersandar membelakangi pintu tubuh nya merosot ke bawah, ia memeluk erat lutut nya, mata nya terlihat sangat takut. Entah mengapa ia bisa merasakan sorot mata pria bertopeng itu sangat benci terhadap nya.
Ana mengambil ponsel di tas nya. Ketakutan nya membuat ia tidak aman, ia pergi mengetuk Apartemen Hansen, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ana mengambil ponsel nya menghubungi nya, tapi tidak juga Ada jawaban dari Hansan.
Saat ini Hansen sedang dalam perjalanan pulang. Ares melirik kecil melihat Hansen
mengabaikan panggilan yang terus masuk di ponsel nya.
"Bos, seseorang terus menelpon di ponsel mu?" Ucap nya.
Hansen mengambil ponsel nya, melihat sudah ada lebih dari lima panggilan dari Ana. Ada satu pesan yang juga di kirim oleh Ana.
Hansen membuka pesan itu untuk tau apa isi nya. Ia tertegun kesal ketika membaca pesan yang di kirim Ana. Kalau ia meminta putus hubungan!
"Pergi ke apartemen!" Tegas nya.
Ares langsung putar arah menuju apartemen. Ia melihat expresi Hansen terlihat kesal. 'Apa nona ana membuat nya marah?' batin nya, penasaran.
Hansen keluar dari mobil setelah mereka sampai di gedung apartemen " Tidak usah menunggu!" Ucap nya, berlalu pergi.
Ares terdiam sebentar melihat Bos nya melangkah cepat masuk kedalam Apartemen.
"Aku kasihan dengan nona Ana, semoga saja nyawa nya aman untuk saat ini!" Gumam nya, mengeluh. Ia segera pergi meninggalkan Apartemen.
Hansen melangkah cepat keluar dari lift, ia berdiri di depan pintu apartemen Ana.
Ia menghubungi ponsel nya.
"Keluar!" Ucap nya dari balik telfon.
Ana membuka pintu dengan kesal.
Tiba-tiba Hansen langsung menyerobot masuk mendorong nya ke dinding lalu mencium nya dengan paksa.
Ia melumat bibir Ana beberpa kali.
Hansen mantap marah pada nya "hanya aku yang bisa putuskan hubungan kita!" Tekan nya, Kemabli mencium paksa.
Ana mendorong kuat tubuh Hansen Sampai ia melangkah mundur.
"Aku juga punya hak untuk memutuskan!" Bantah, Ana.
Hansen menyeringai jahat " Itu bukan keputusan mu!"
Ana mengepal kesal dengan ego Hansen yang besar " Satu bulan ini, kamu terus mengabaikan Aku! Sikap mu selalu ketus, aku terima itu," tersenyum pahit "tapi.. aku pikir aku terlalu bodoh karena diam saja.."
Ana menatap lurus Hansen. Mata nya berkaca, bibir nya gemetar "Kamu punya wanita lain, kan! tidak papa, aku yang akan pergi!" Mengusap air mata yang diam-diam menetes.
Hansen tertegun melihat air mata Ana yang jatuh, hati nya terasa sakit ketika melihat Ana tertunduk sedih menahan tangis.
Ia mengusap air mata di pipi Ana, tubuh nya seakan tergerak oleh hati nya. Hansen tidak bisa mengendalikan diri nya yang luluh ketika melihat Ana menangis.
Ia meraih tubuh Ana dan memeluk nya erat "Jangan menangis, ini salah ku. Tidak ada wanita lain!" Jelas nya pelan.
"Dengar mulai sekarang aku tidak akan mengabaikan mu?" Mengusap air mata Ana" jangan menangis!"
Ana terisak mengusap pipi nya yang banjir air mata, ia mengangguk pelan. Perasaan kecewa nya telah terobati setelah mendengar penjelasan dari Hansen.
Hansen pergi setelah masalah di antara mereka selesai. Malam ini ia menginap di apartemen nya. Ia duduk di luar balkon dengan pikiran nya yang kacau.
.
.
.
Bersambung.