Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Rusa kecil
Setelah beberapa menit digendong pria tampan, Jingga akhirnya bisa duduk di kursi sebuah pondok kecil tak jauh dari sungai.
"Tunggu di situ sebentar," kata sang pria membuka sebuah lemari kayu dalam pondok dan mengeluarkan sebuah kemeja putih yang bersih.
"Gunakan ini," kata sang pria menyerahkan kemeja putih itu pada Jingga lalu segera keluar dari pondok dan berjalan ke arah tempat pemotongan kayu.
Brak! Brak!
Suara kayu yang dipotong menghiasi tempat itu dan terdengar sampai ke telinga Jingga yang berada dalam pondok kayu.
Hah....
Jingga menghela nafas, lalu menutup jendela dan segera mengganti pakaiannya.
"Dia tidak memberi pakaian dalam, sementara punyaku semua basah," Jingga menggigit bibir bawahnya ketika ia telah selesai menggunakan kemeja tetapi dibalik kemeja itu tidak ada apapun lagi, sepenuhnya polos.
Beberapa saat Jingga memejamkan mata sebelum akhirnya mengambil pakaiannya yang telah basah kuyup dan keluar dari pondok dengan langkah tertatih karena lukanya yang masih belum sembuh.
Kemeja oversize yang ia kenakan itu untungnya panjang sampai ke pertengahan paha sehingga cukup untuk menutupi tubuhnya.
Sang meletakkan alat pemotong kayunya saat melihat Jingga keluar dalam balutan kemeja miliknya.
Tangannya memegang erat alat pemotong kayu saat ia terkagum melihat betapa cantiknya perempuan yang berdiri di ambang pintu.
"Anu..." Jingga merasa gelisah karena tatapan Sang pria yang begitu melekat padanya.
"Kenapa kau keluar?" pria tampan itu bertanya.
Jingga memegang erat-erat pakaian basah di tangannya, "aku akan mencuci pakaianku supaya nanti--"
"Tidak perlu!" pria itu berjalan mendekati Jingga, mengambil pakaian dari tangan Jingga dan meletakkannya ke dalam baskom di samping pintu.
Sang pria kemudian menatap kaki Jingga yang terluka, "kita obati kakimu dulu," kata pria itu dengan cekatan mengulurkan kedua tangannya dan menggendong Jingga kembali ke dalam pondok.
Wajah Jingga semakin merah saat rasa malunya memuncak sampai ke ubun-ubun, dibalik kemeja pria yang ia kenakan tidak ada apapun lagi, lalu pria ini menggendongnya begitu erat, bagaimana ini?
Lelaki tampan itu tidak mengatakan apapun, hanya mendudukkan Jingga di kursi kayu dan segera mengambil kotak obat dari lemari lalu berjalan ke arah Jingga, sang pria berjongkok di depan Jingga dan meraih kaki Jingga yang terluka.
Kaki itu diletakkan di atas pasang pria membuat Jingga merapatkan kedua pahanya dan menekan kemeja yang menutupi tubuhnya itu agar sesuatu yang ada di sana tidak kelihatan.
Malunya!
Jantung Jingga tak karuan berdetak, saat ini dia hanya berharap ada lubang besar yang segera muncul menelannya.
"Siapa namamu?" sang pria bertanya sambil dengan telaten mengobati luka di kaki Jingga.
"Ji.. Jingga," jawab Jingga terbata, pikirannya saat ini begitu liar, mereka hanya berdua di pondok terpencil di tengah hutan, seorang perempuan yang menggunakan baju lelaki asing tanpa apapun di dalamnya, bukankah ini sangat mengundang sesuatu yang disebut erotis itu?
"Nama yang bagus, aku Farhan. bagaimana kau bisa terlantar di tempat seperti ini?" tanya Farhan masih berusaha fokus pada kaki Jingga.
"Salam kenal, aku datang bersama teman-temanku ke sini untuk berkemah, tapi tiba-tiba jatuh ke sungai dan terbawa arus. Terima kasih sudah menolongku, aku pasti akan membalas kebaikanmu hari ini, katakan saja apa yang kau inginkan, aku pasti akan memenuhinya," ucap Jingga berusaha tenang.
Farhan tersenyum, lalu dia mengangkat kepalanya menatap Jingga, wajah yang cantik dengan bibir mungil dan hidung yang mancung, dua mata yang besar dengan bulu mata yang lentik. Kulit putih yang tersembunyi di balik kemejanya, rambut setengah basah yang hitam dan panjang, tidak ada yang tidak tergoda melihat perempuan secantik itu.
Tatapan yang dalam dari Farhan membuat tubuh Jingga kembali menegang, berusaha mengalihkan pandangannya dari mata sang pria.
"Apa saja?" tanya Farhan.
Jingga menggangguk seperti anak anjing kecil yang bersikap patuh demi sepotong sosis, "tentu saja!" jawab Jingga.
Sebuah senyuman licik muncul di wajah Farhan saat ia berkata, "bagaimana kalau aku menginginkanmu?"
Satu kalimat itu langsung membuat Jingga segera menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya dan menggerakkan giginya sembari berkata, "jangan macam-macam!"
"Aku hanya bercanda," senyuman tipis muncul di bibir Farhan saat ia meletakkan kaki Jingga dengan hati-hati, lalu berdiri.
"Istirahatlah, aku akan memasak dulu, setelah selesai makan aku akan mengantarmu kembali ke rombonganmu," kata Farhan kemudian keluar dari pondok kecil itu.
Jingga bernafas lega sambil memperhatikan punggung Farhan yang menjauh darinya, 'dia sepertinya orang baik, tentu saja orang baik! kalau itu orang lain, mungkin aku sudah berakhir di ranjangnya,' ucap Jingga dalam hati menghela nafas lega.
Sementara Farhan yang keluar, ia berjalan ke arah tungku yang tak jauh dari pondok menyalakan api dan memanaskan air.
'Dia sungguh menggoda, seperti rusa kecil tersesat di mata seorang pemburu,' pikir Farhan dalam hati sambil mengatup erat-erat giginya, sesuatu yang sedari tadi bangkit rasanya begitu mengganggu di bawah sana.