Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak yang Terbongkar
Tiga hari damai setelah ciuman kening itu.
Bima dan Dinda sudah kembali ke Tebet, tapi penthouse masih menyisakan gambar keluarga karya Bima yang ditempel Rafael di kulkas dengan magnet - hal yang tidak pernah terjadi selama 5 tahun penthouse itu berdiri. Alya juga jadi lebih berani. Ia tidak lagi gemetar saat mengganti perban tangan Rafael setiap pagi.
Semua terlihat baik-baik saja sampai Mama Olivia datang mendadak dari Singapura.
Pukul 10 pagi, Alya sedang merapikan kamar kerja Rafael karena Bu Ratna izin. Di laci meja kerja Rafael, ada sebuah map hitam yang tidak terkunci. Map yang sama yang Alya tanda tangani 7 hari yang lalu di ruang rapat gelap.
Alya tidak berniat membukanya. Tapi angin dari AC membuat map itu terbuka sedikit, memperlihatkan namanya: ALYA PUTRI.
Karena penasaran, Alya mengambilnya.
Di saat yang sama, pintu penthouse terbuka. Mama Olivia masuk dengan koper kecil dan senyum cerah.
"Alya? Mama pulang lebih cepat! Hasil kontrol Mama bagus! Di mana Rafael? Mama kangen kalian!"
Alya panik dan buru-buru menutup map itu, tapi terlambat. Map itu terjatuh dari tangannya yang gemetar. Isinya berhamburan ke lantai marmer.
Lembaran-lembaran kertas putih dengan judul besar: PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.
Mama Olivia yang melihat kertas-kertas berserakan, dengan refleks membantu memungutnya. Matanya membaca cepat halaman pertama.
Pasal 1: Pernikahan berlangsung 365 hari.
Pasal 2: Dilarang jatuh cinta.
Pasal 3: Tidak ada kontak fisik di luar kebutuhan akting.
Nilai kontrak: Pelunasan hutang Rp 2.000.000.000 dan biaya pengobatan Ayahanda.
Wajah Mama Olivia yang tadinya cerah langsung pucat seperti saat ia selesai kemoterapi. Tangannya gemetar memegang kertas itu.
"Ini... ini apa, Alya?" suaranya bergetar.
Alya langsung berlutut, menangis. "Ma... Ma, saya bisa jelaskan, Ma... bukan seperti yang Mama lihat..."
"Jadi kamu menikah sama anak saya karena uang? Karena 2 Miliar? Jadi pelukan kemarin, tangisan di restoran, semua itu bohong? Kamu bohongi Mama?" Air mata Mama Olivia tumpah. Ia adalah wanita yang paling tulus menyayangi Alya. "Mama kira kamu tulus sayang sama Rafael... Mama kira doa Mama terkabul..."
"Ma, tidak Ma! Awalnya memang begitu! Tapi"
"Di mana Rafael? Panggil Rafael sekarang!"
Teriakan Mama Olivia membuat Bu Ratna keluar dari dapur dengan wajah panik.
Alya dengan tangan gemetar menelepon Rafael. Hanya satu dering, langsung diangkat.
"Rafael... Mama... Mama tahu..."
15 menit kemudian, pintu lift terbuka dengan dibanting. Rafael masuk dengan napas memburu. Ia baru selesai rapat dengan dewan direksi, kemejanya masih rapi, tapi wajahnya sudah seperti mau membunuh.
Ia melihat Mama Olivia duduk di sofa dengan kertas kontrak di tangannya, menangis. Dan Alya berlutut di lantai, menangis lebih keras.
"Mama," kata Rafael pelan.
"Rafael Virel! Apa-apaan ini!" Mama Olivia melempar kertas kontrak itu ke wajah Rafael. Kertas beterbangan. "Kamu beli istri? Kamu pikir Mama ini barang yang bisa kamu bohongi pakai perempuan bayaran? Kamu pikir Mama mau mati tenang lihat kamu nikah kontrak?"
Rafael tidak memungut kertas itu. Ia menatap Alya yang masih berlutut.
"Kamu yang kasih lihat?" tanya Rafael dingin pada Alya.
Alya menggeleng cepat sambil terisak. "Tidak! Saya tidak sengaja! Mapnya jatuh! Saya"
"Cukup!"
Satu kata dari Rafael membuat seluruh penthouse diam.
Rafael berjalan ke arah Mama Olivia dan berlutut di depan ibunya, sama seperti Alya. Pemandangan yang tidak pernah dilihat Bu Ratna sebelumnya. Rafael Virel, sang mafia SCBD, berlutut.
"Ma, maafkan saya," kata Rafael dengan suara yang Alya tidak pernah dengar sebelumnya. Suara anak kecil yang takut kehilangan ibunya. "Awalnya memang kontrak. Saya yang buat kontraknya. Saya yang paksa Alya."
Mama Olivia terisak. "Kenapa, Rafael? Kenapa kamu lakukan ini sama Mama?"
"Karena saya takut, Ma," jawab Rafael, suaranya pecah. "Dokter bilang di Singapura kemungkinan Mama kambuh 70%. Mama bilang mau lihat saya nikah sebelum Mama... sebelum Mama pergi. Saya tidak punya siapa-siapa untuk Mama lihat, Ma. Saya tidak bisa kasih Mama kebahagiaan itu dengan cara normal. Saya hanya punya uang. Jadi saya beli kebahagiaan itu. Saya pakai Alya."
Pengakuan itu membuat Alya menatap Rafael dengan air mata. Jadi itu alasannya...
Mama Olivia memukul dada Rafael pelan. "Kamu bodoh! Mama tidak butuh menantu bayaran! Mama butuh kamu bahagia! Apa kamu bahagia dengan pernikahan bohong ini?"
Rafael terdiam. Ia menoleh menatap Alya yang masih berlutut di lantai, wajahnya basah, rambutnya berantakan, memeluk dirinya sendiri karena takut.
Tatapan Rafael yang tadinya dingin dan marah, perlahan melunak.
"Ma," kata Rafael pelan, tapi tegas. "Awalnya bohong. Tapi sekarang..."
Ia berdiri, berjalan ke arah Alya, dan di depan Mama Olivia, ia menarik Alya dari lantai untuk berdiri. Ia memegang kedua bahu Alya yang gemetar.
"Sekarang kalau ada yang bilang Alya matre, perempuan bayaran, istri kontrak..." Rafael menatap ibunya dalam-dalam, lalu suaranya naik, menggelegar memenuhi penthouse, penuh amarah posesif yang bukan akting lagi.
"...saya hancurkan orang itu. Bahkan kalau itu Mama sekalipun."
Mama Olivia terdiam kaget.
Alya juga terdiam, menatap Rafael dengan mata membelalak. Air matanya berhenti.
Rafael menatap Alya, menghapus air matanya dengan kasar.
"Kamu istri saya," kata Rafael pada Alya, bukan pada ibunya. "Kontrak atau tidak, kamu istri saya. Tidak ada yang boleh bilang kamu matre. Tidak ada yang boleh buat kamu nangis di rumah saya. Mengerti?"
Alya hanya bisa mengangguk dengan isakan tertahan.
Mama Olivia yang melihat interaksi itu, yang melihat bagaimana putranya yang selama 32 tahun tidak pernah peduli pada wanita, kini ngamuk seperti singa hanya karena istrinya dibilang matre, tiba-tiba menangis lagi. Tapi kali ini tangisnya berbeda.
"Ya Tuhan..." bisik Mama Olivia sambil menutup mulutnya.
Ia melihatnya. Ia melihat dengan jelas bagaimana Rafael menatap Alya. Itu bukan tatapan CEO ke karyawan kontrak. Itu tatapan pria yang sudah jatuh cinta tapi tidak tahu caranya bilang.
Mama Olivia berdiri, mengambil kertas kontrak yang berserakan di lantai, dan di depan Rafael dan Alya, ia merobeknya menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan.
Kertas kontrak 2 Miliar itu disobek-sobek.
"Kontraknya sudah Mama sobek," kata Mama Olivia sambil membuang sobekan kertas ke tempat sampah. "Mulai hari ini tidak ada kontrak. Kalau kalian mau cerai setelah 365 hari, silakan. Tapi kalau kalian mau lanjut... Mama restui dengan tulus. Bukan karena Mama sakit, tapi karena Mama lihat anak Mama akhirnya jatuh cinta beneran."
Rafael terpaku melihat sobekan kontrak di tempat sampah.
Alya menatap sobekan itu juga, jantungnya berdebar kencang.
Kontraknya hilang. Aturan Pasal 1, 2, 3 hilang.
Lalu apa status mereka sekarang?
Malamnya, setelah Mama Olivia tidur karena kelelahan emosi, Alya dan Rafael berdiri di balkon penthouse. Angin Jakarta malam berhembus.
Tidak ada batas bantal lagi di ranjang. Tidak ada kontrak lagi di laci.
Hanya ada mereka berdua.
"Kontraknya sudah tidak ada," kata Alya pelan, menatap lampu-lampu kota.
"Iya," jawab Rafael.
"Jadi... kita apa sekarang?"
Rafael tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengambil selimut tipis dan memakaikannya ke bahu Alya yang kedinginan, lalu ia berdiri di belakang Alya, tidak memeluk, tapi cukup dekat untuk melindungi dari angin.
"Kita lihat 365 hari ke depan," bisik Rafael di dekat telinga Alya. "Tanpa kontrak."
Dan untuk pertama kalinya, Alya tidak takut dengan 365 hari itu. Ia malah berharap 365 hari itu tidak pernah selesai.
Bersambung...