Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Ayam jantan di dapur asrama belum berkokok ketika Yu Tian menyelinap keluar dari kamar nomor sembilan. Lantai papan berderit di bawah sandalnya, dan ia berhenti tepat di ambang pintu untuk memastikan dengkuran Fang Ming tidak terputus.
Di gerbang timur, penjaga malam bersandar pada tombaknya dengan kepala terkulai, dan Yu Tian melewati tembok belakang asrama dengan satu lompatan ringan yang nyaris tanpa suara. Di pinggangnya tergantung kantong kain berisi sembilan inti monster dan sebilah pisau dapur tumpul yang ia ambil diam-diam kemarin sore.
Hutan pinus di lereng barat gelap dan basah, dan kabut tipis menggantung setinggi lutut. Yu Tian berjalan pelan di antara batang-batang pohon sambil mencium udara, mencari bau kencing binatang yang pernah ia kenali beberapa hari lalu.
'Malam kemarin Qi-ku habis dalam tiga hitungan. Kalau aku boros di sini, aku akan mati dalam satu jam.' Ia menyelipkan pisau di sabuk dan mengambil sebuah batu runcing dari tanah, dan keduanya akan menjadi senjatanya sampai pagi.
Kawanan serigala berbulu besi menemukannya lebih dulu. Tiga ekor keluar dari semak dengan mata hijau yang menyala dalam gelap, bulu di punggung mereka berkilat keabu-abuan dan berdenting pelan setiap kali mereka bergerak.
Yu Tian tidak lari. Ia mundur ke sebuah celah batu yang hanya cukup dilewati satu ekor sekaligus, dan di sana ia menunggu. Serigala pertama melompat dengan rahang terbuka, dan batu runcing itu menghunjam ke matanya sebelum taringnya menyentuh kulit.
Ia membunuh yang kedua dengan pisau, menusuk tepat di bawah rahang tempat bulu besinya tipis. Yang ketiga sempat menggigit lengan kirinya dan merobek kulit sampai ke daging, tiga garis merah yang berdenyut panas.
Yu Tian mencengkeram leher binatang itu dengan tangan yang berdarah, lalu menghantamkan kepalanya ke dinding batu berulang kali sampai gerakannya berhenti. Napasnya memburu, dan keringat dingin mengalir di punggungnya. 'Tiga ekor, tiga inti. Belum satu pun yang kuhabiskan menggunakan Qi untuk membunuh.'
Sepanjang malam ia berburu dengan cara yang sama: memancing, menunggu di tempat sempit, lalu menyerang pada titik terlemah. Babi hutan bertaring lurus ia jatuhkan dengan jebakan lubang yang ia gali sendiri di jalur larinya. Dua kera bertanduk ia pancing ke tebing curam dan ia dorong jatuh dari atas. Setiap kali ia membelah dada binatang itu dan mengambil inti yang masih hangat, tangannya semakin cepat dan semakin terlatih. Kantong di pinggangnya bergoyang makin berat.
Inti kesembilan belas ia dapat dari seekor rubah api, dan yang kedua puluh dari seekor ular belang sebesar paha orang dewasa yang menyergapnya dari balik akar. Taring ular itu menembus betis kanan Yu Tian sampai menyentuh tulang, dan rasa terbakar langsung merambat naik sampai ke lutut. Ia menjerit tertahan, lalu mengiris sendiri sisi luka itu dengan pisau, menekan darah hitam keluar dari dagingnya dengan ibu jari.
'Racun. Tubuh Suci tidak kebal terhadapnya, dan aku hampir melupakan itu.' Ia menekan lukanya sampai pandangannya berkunang-kunang, lalu memotong kepala ular itu dengan sekali tebasan yang gemetar.
Ia duduk bersandar di batang pohon sampai racunnya mereda, sampai kakinya kembali bisa digerakkan dan darah di lukanya berubah merah segar. Ia menghitung inti-inti itu di telapak tangan, dua puluh butir baru dan sembilan butir lama, dan senyum lelah muncul di bibirnya yang pecah. 'Dua puluh sembilan. Sepuluh untuk tubuhku, sisanya untuk pasar bulan baru.'
Ia menyusun sepuluh inti membentuk lingkaran kecil di atas lantai hutan dan duduk bersila di tengahnya. Satu per satu inti retak, dan Qi mengalir deras ke perutnya. Kali ini ia tidak membiarkannya masuk begitu saja. Ia mengatur napas dengan cara yang ia ajarkan pada Fang Ming, menurunkan hawa itu ke bawah pusar, menekannya, memadatkannya, dan mengulanginya sampai ruang di perutnya terasa penuh dan berat. Luka di lengan dan betisnya menutup pelan, meninggalkan garis merah tipis.
Qi di tubuhnya sekarang lebih padat daripada kemarin, nyaris menyentuh batas tingkat berikutnya, tetapi belum menembusnya. Yu Tian membuka mata dan menarik napas panjang.
'Cukup. Terlalu cepat menerobos hanya akan membuat dasarnya rapuh.' Ia memasukkan sembilan belas inti yang tersisa ke dalam kantong, mengikatnya erat, dan menyelipkannya ke dalam lipatan jubah, lalu bangkit dengan satu tangan bertumpu pada batang pohon.
Langit di timur sudah berubah pucat keabu-abuan, dan kabut mulai menipis oleh cahaya pertama yang menembus sela pinus. Dari jauh, bel pagi sekte terdengar samar, dan Yu Tian mempercepat langkahnya menuruni lereng sambil menahan nyeri di betisnya. Ia harus sudah berada di dipannya sebelum Fang Ming bangun dan mulai bertanya.