Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESAL
Pukul 07.52 — Pengadilan.
Suara sepatu hak tinggi terdengar beradu dengan lantai marmer ketika Elma memasuki gedung pengadilan. Wajahnya tampak muram, bibirnya mengerucut tipis, dan alisnya sesekali bertaut menahan kekesalan. Pagi itu, suasana hatinya benar-benar buruk. Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena seseorang yang sejak pagi telah menguji kesabarannya. Maxime Sinclair. Laki-laki itu benar-benar pandai membuatnya kehilangan kesabaran, bahkan sebelum hari kerjanya dimulai.
Elma meraih ponsel dari dalam tasnya, memeriksa waktu, lalu mengembuskan napas panjang.
"Pria menyebalkan," gumamnya pelan.
"Siapa yang menyebalkan?"
Elma spontan menoleh. Seorang perempuan dengan rambut panjang yang tergerai rapi berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenakan kemeja putih dengan blazer berwarna cokelat muda, dipadukan dengan celana bahan hitam. Sebuah map terselip di tangannya, sementara senyum jahil menghiasi wajahnya. Dia adalah Karin. Sahabat Elma sejak masa kuliah sekaligus rekan kerjanya di pengadilan. Karin menyipitkan mata, memperhatikan wajah Elma dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Astaga, Elma. Wajahmu seperti seseorang yang baru saja kalah dalam perang."
Elma mendengus. "Lebih buruk daripada itu."
Karin mengangkat sebelah alisnya. "Jangan bilang kau bertengkar dengan suamimu lagi."
Elma tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewati Karin menuju ruangan. Bagi Karin, sikap diam itu sudah cukup menjadi jawaban.
"ELMA!"
Elma berhenti dengan enggan. "Apa?"
Karin segera menyusulnya sambil menahan senyum.
"Kau benar-benar bertengkar dengan Maxime?"
"Aku tidak bertengkar."
"Lalu?"
"Dia menyebalkan."
Karin mengangguk seolah baru saja menerima informasi penting. "Baiklah. Jadi, suamimu menyebalkan. Lalu, apa yang dia lakukan kali ini?"
Elma meletakkan tasnya di atas meja kerja, kemudian menarik kursi dan duduk. "Dia memaksaku sarapan bersamanya."
Karin terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu perempuan itu tertawa.
Elma langsung menatapnya tajam. "Karin, ini tidak lucu."
"Maaf, maaf." Karin menutup mulutnya, meskipun senyumnya belum menghilang.
"Aku hanya tidak menyangka seorang Maxime Sinclair bisa merengek hanya karena ingin sarapan bersama istrinya."
"Dia tidak merengek!" Bantah Elma
"Oh, jadi dia memohon dengan sopan?"
"Dia bahkan mengancam tidak akan sarapan kalau aku pergi!"
Karin kembali tertawa kecil. "Ya Tuhan, Elma. Suamimu itu direktur perusahaan besar, bukan anak kecil yang harus dibujuk ibunya agar mau makan."
"Itulah yang kukatakan kepadanya!" Ketus Elma lagi.
Karin menarik kursi di hadapan Elma, lalu duduk sambil menopang dagunya dengan satu tangan.
"Tunggu dulu. Bukankah kau bilang Maxime selalu dingin dan tidak pernah peduli dengan apa yang kau lakukan?"
Elma terdiam sesaat. "Ya, memang begitu"
"Kalau begitu, kenapa sekarang dia ingin sarapan bersamamu?"
"Mana kutahu? Mungkin dia bosan makan sendirian."
Karin memiringkan kepala. "Dan menurutmu, dia tidak punya siapa-siapa di rumahnya sendiri? Oh maaf, aku lupa jika kalian sedang mengungsi ke apartemen"
"Dia punya banyak orang yang bisa menemaninya." Sambung Elma.
"Tapi dia menginginkanmu." Goda Karin.
Elma segera menggeleng. "Jangan mulai, Karin."
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tapi wajahmu sudah mengatakan banyak hal."
Karin tertawa kecil, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Baiklah, aku tidak akan membahas suamimu yang tampan itu."
Elma melotot. "Siapa yang bilang dia tampan?"
Karin terdiam, kemudian menatap sahabatnya dengan ekspresi tidak percaya. "Elma, tolonglah. Aku punya mata."
"Memangnya kenapa dengan matamu?"
"Maxime Sinclair itu punya wajah yang bisa membuat perempuan lupa cara menatap dunia dan dia punya kekayaan yang membuat orang tak mampu untuk berbicara."
"Kalau begitu, kau saja yang menikah dengannya."
Karin langsung tertawa terbahak-bahak. "Astaga! Kalau aku menikah dengannya, mungkin aku sudah mengajukan gugatan cerai sejak minggu pertama!"
Elma tanpa sadar tertawa kecil. Kekesalan yang sejak tadi menguasai wajahnya perlahan berkurang.
Karin tersenyum melihat perubahan itu. "Nah, begitu lebih baik. Aku lebih suka melihatmu tertawa daripada memasang wajah seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa."
Elma menggeleng sambil membuka berkas pekerjaannya. "Omong-omong, kau sudah membaca berkas perkara yang akan kita tangani hari ini?"
"Sudah. Semuanya sudah kusiapkan." Karin meletakkan mapnya di meja. "Tapi sebelum kita mulai bekerja, aku punya satu pertanyaan."
Elma menghela napas. "Apa lagi?"
Karin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Elma dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan. "Apakah kau bahagia menikah dengan Maxime?"
Pertanyaan itu membuat tangan Elma berhenti membalik halaman berkas. Senyum Karin perlahan memudar ketika menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
Elma menunduk, memperhatikan dokumen di hadapannya. "Aku tidak tahu, Karin."
Jawabannya terdengar pelan. "Kami menikah karena keluarga kami menginginkannya. Aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik sebelum pernikahan itu terjadi. Sekarang, kami tinggal di apartemen yang sama, tidur di kamar yang sama, tetapi terkadang aku merasa seperti orang asing baginya."
"Tapi kalian sudah melewati malam panas itu bukan" Karin menyela.
"Itu, itu hanya kebutuhan batin saja" Elak Elma.
"Kamu tahu sendirikan, pria dan wanita tidak bisa menahan kebutuhan biologis itu. Dan itu normal Karin".
"Iya aku tahu, tidak apa- apa kok. Itu normal, toh kalian sah sebagai pasangan suami istri".
"Heh, aneh bukan. Kami bisa melakukannya padahal tanpa perasaan saling suka". Elma seperti sedang menertawakan dirinya sendiri.
Karin tidak menyela. Ia memahami perasaan sahabatnya itu.
"Tapi dia tidak jahat kepadaku," lanjut Elma. "Dia memenuhi semua kebutuhanku, menghormatiku dalam banyak hal, dan tidak pernah melarangku bekerja. Tapi dia selalu bersikap dingin. Aku tidak pernah tahu apa yang ada di pikirannya."
Elma berhenti sejenak. "Dan pagi ini, dia tiba-tiba bersikeras ingin sarapan bersamaku. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan dariku."
Karin memperhatikan sahabatnya dengan lembut. "Mungkin dia sendiri juga belum mengerti."
Elma mengangkat wajah. "Maksudmu?"
Karin mengangkat bahu. "Aku tidak mengenal Maxime seperti kau mengenalnya. Aku juga tidak bisa memastikan apa yang dia rasakan. Tapi, Elma, terkadang seseorang terbiasa menyembunyikan perasaannya sampai dia sendiri tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya."
Elma terdiam.
"Namun, jangan langsung menganggap sikapnya sebagai bukti bahwa dia mencintaimu," lanjut Karin. "Kau berhak mendapatkan kejelasan, bukan hanya menebak-nebak isi pikirannya setiap hari."
Elma menatap sahabatnya cukup lama sebelum mengangguk kecil. "Kau benar."
"Tentu saja aku benar. Kapan aku pernah salah?"
Elma mendengus. "Setiap kali kau memilih laki-laki yang salah untuk dikencani."
Karin langsung melemparkan tatapan tajam kepadanya. "Hei! Kita sedang membicarakan kehidupan rumah tanggamu, bukan masa laluku!"
Untuk pertama kalinya pagi itu, Elma tertawa lepas. Karin ikut tertawa, senang karena berhasil mengembalikan suasana hati sahabatnya. Namun, beberapa saat kemudian, Karin melirik ponsel Elma yang tergeletak di atas meja.
"Lalu, apakah Maxime menghubungimu setelah kau berangkat?"
Elma mengambil ponselnya, memeriksa layar, kemudian menggeleng. "Tidak."
"Dan kau?"
"Aku juga tidak menghubunginya."
Karin mengangguk pelan. "Baiklah. Sekarang, simpan dulu urusan rumah tanggamu. Kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan."
Elma menarik napas panjang, kemudian membuka berkas perkara di hadapannya.
"Setuju. Aku tidak mau membiarkan seorang Maxime Sinclair merusak hari kerjaku."
"Bagus." Karin berdiri sambil membawa mapnya.
"Tapi, Elma?"
"Apa lagi?"
Karin menyeringai. "Kalau nanti suamimu menelepon hanya untuk bertanya apakah kau sudah makan siang, jangan lupa ceritakan kepadaku."
Sebuah pulpen melayang ke arah Karin.
"KARIN!"
Tawa Karin menggema di ruang kerja mereka, disusul suara protes Elma yang kembali memenuhi ruangan.
Pagi itu, setidaknya, Elma memiliki seseorang yang bisa membuatnya melupakan sejenak pria dingin yang menunggunya di rumah. Sayangnya, ia belum tahu bahwa Maxime Sinclair bukanlah tipe pria yang mudah melupakan sesuatu yang sudah mulai menjadi kebiasaannya.
☆