Amelia Rossi hanya punya satu impian: panggung dan sepatu baletnya. Tapi dalam satu malam, semuanya runtuh—utang judi sang ayah jatuh ke tangan pria paling ditakuti di Chicago, dan harga yang diminta bukan uang, melainkan seorang pengantin.
Untuk menyelamatkan adiknya, Amelia menyerahkan dirinya sendiri kepada Matteo Salvatore—Don muda berdarah dingin yang menguasai imperium mafia dengan besi dan darah. Ia pikir hanya menandatangani sebuah kontrak. Ia tak menyangka Sang Don akan menagih setiap detiknya… dan tak akan pernah membiarkannya pergi.
"Mulai hari ini, akulah yang memilih segala hal dalam hidupmu."
Tapi Matteo salah menilai satu hal. Gadis balet ini tidak gemetar di hadapan namanya. Ia membalas tatapan iblis dengan dagu terangkat, melawan setiap perintah, dan bersumpah mengubah hidup Sang Don menjadi neraka. Dan justru perlawanan itulah yang menyalakan sesuatu yang berbahaya di dada pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun.
Di antara pernikahan penuh perhitungan, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan pengkhianatan yang mengancam meruntuhkan seluruh imperium, sebuah kontrak dingin perlahan berubah menjadi obsesi yang membara—dan gadis yang seharusnya menjadi tawanan justru menjelma menjadi ratu paling berbahaya di kota itu.
Ketika seorang iblis jatuh cinta, ia tak hanya melindungi. Ia menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Harapan
Aku tak percaya aku benar-benar terkurung dalam sangkar emas ini. Tapi jika Matteo Salvatore mengira aku akan duduk di pojok kamar untuk menangis dan meratap, ia sama sekali tak mengenalku.
Aku sudah berjanji akan mengubah hidupnya menjadi neraka. Dan aku selalu menepati janjiku.
"Dasar bajingan!" jeritku sekuat tenaga, suaraku menggema di dinding-dinding kamar yang luas.
Kulihat sebuah vas kristal berat di atas meja kecil dari kayu solid. Kuhampiri dan kulemparkan sekuat tenaga ke pintu yang terkunci. Suara benturannya memekakkan telinga. Puluhan pecahan tajam yang berkilau berhamburan di lantai.
Aku berlutut dan mengambil pecahan terbesar yang kutemukan. Ia menjadi senjataku.
Kuserang karya-karya seni yang tergantung di dinding. Kugoreskan tepi kaca ke atas kanvas lukisan yang jelas bernilai jutaan dolar, merobek kainnya dari atas ke bawah dengan kebencian yang membuta.
Lalu kuhantam kepala tempat tidur berlapis kain empuk itu, menarik kain-kain halusnya, menghancurkan seprai sutra dan merobek kasur dengan pecahan kaca. Kuserang kursi-kursi berlapis kulit dan beludru, mencabik setiap inci kemewahan menjijikkan itu.
Aku ingin menghancurkan segala sesuatu yang menjadi miliknya.
Tenaga yang kukerahkan untuk merobek permukaan-permukaan keras itu membuat kaca menyelip di tanganku sendiri. Kurasakan bilah tajamnya mengiris kulit jari-jariku, dan tak lama kemudian darah mulai mengalir, menodai kain-kain dan baju baletku.
Sakit. Sangat sakit. Tapi rasa sakit fisik itu bukan apa-apa dibanding rasa sakit di harga diriku, rasa malu atas penghinaan itu, dan amarah karena hidupku dirampas oleh lelaki itu.
Lebih buruk lagi, perutku berbunyi keras, terbakar dari dalam. Diet ketat dan penuh pantangan yang kujalani demi menari kini menuntut harga tertingginya, meninggalkan tubuhku lemah dan gemetar di tengah upaya yang teramat berat.
Aku menjerit dan merobek satu lukisan lagi, berharap keributan itu memancing seseorang datang. Kukira Matteo atau para penjaga akan mendobrak pintu untuk menghentikanku. Tapi tak seorang pun datang. Keheningan mansion di luar sana begitu kejam dan mutlak.
Napasku semakin pendek dan tak beraturan. Lenganku terasa berat seperti timah. Kelelahan, rasa nyeri di jari-jari yang berdarah, dan rasa lapar akhirnya mengalahkan seluruh kekuatanku.
Pecahan kaca terlepas dari tanganku dan jatuh ke atas karpet yang sudah hancur.
Aku ambruk berlutut lalu berbaring di sana juga, menyandarkan kepala ke lantai yang dingin. Air mata akhirnya membasuh wajahku, panas dan tak terkendali. Meringkuk di tengah kehancuran yang kuciptakan sendiri, aku menangis dalam diam, tak sanggup percaya bahwa hidupku akan berakhir seperti ini: terkurung dalam gelap, berdarah, dan berada di bawah belas kasihan iblis.
Kegelapan kamar menekan kelopak mataku. Aku kelelahan, seluruh tubuhku sakit, dan kelemahan itu menahanku dalam keadaan antara tidur dan mengigau.
Tiba-tiba, kurasakan lantai lenyap dari bawah tubuhku.
Sepasang lengan kuat dan kokoh mengangkatku dari lantai dingin dengan mudah. Bahkan sebelum aku membuka mata, aroma kayu yang khas menyelubungi indraku.
Matteo.
"Lepaskan aku…" gumamku, suaraku lemah, nyaris keluar seperti bisikan. Kucoba bergerak, tapi tubuhku sama sekali tak menurut. "Kumohon… lepaskan aku."
"Diam, Amelia." Suaranya datang rendah, serak, bergema tepat di sisi telingaku dalam sunyi dini hari.
Ia tampak tak terganggu oleh kehancuran kamar itu, atau oleh kanvas-kanvas bernilai jutaan yang teronggok robek di lantai. Matteo melangkah mantap menembus kegelapan dan mendorong sebuah pintu samping dengan bahunya, membawaku ke ruangan yang lebih luas dan disinari cahaya kekuningan yang lembut. Sebuah suite serba hitam.
Ia meletakkanku dengan hati-hati di atas tempat tidur yang sempurna rapi. Begitu kurasakan kasur yang empuk, aku mencoba menjauh, langsung menyembunyikan kedua tangan di balik punggung seperti anak kecil yang terpojok.
Matteo berlutut di samping tempat tidur. Ia memegang kotak pertolongan pertama dari logam.
"Berikan tanganmu," perintahnya, tatapan gelapnya terpaku padaku.
"Tidak," jawabku, menelan ludah, suaraku tercekat. "Jangan sentuh aku."
Matteo menghela napas panjang. Alih-alih meninggikan suara atau mencengkeramku dengan kasar, ia mengulurkan tangan dan menarik pergelangan tanganku dengan kelembutan yang menakutkan, nyaris penuh perhatian.
"Biarkan aku membersihkan ini, piccola," katanya, suaranya menyapu kulitku sementara ia membuka kotak itu. "Aku butuh tunangan dengan dua tangan utuh untuk memukulku… bukan yang kehilangan tangannya karena lukanya membusuk."
Kupandang ia, terkejut dengan jawabannya, tapi aku tak punya tenaga untuk menarik lenganku kembali.
Matteo mengambil kapas berantiseptik dan mulai membersihkan darah kering dari jari-jariku. Gerakannya cermat, mantap, tapi teramat hati-hati agar tak melukaiku.
Merasakan tangan besar dan hangat Sang Don dari Chicago merawat luka-lukaku dalam sunyi malam adalah sebuah siksaan tak bersuara. Kontras antara monster yang menculikku dan lelaki yang membersihkan darahku dengan begitu telaten membuat dadaku sesak.
Tiba-tiba, sebuah suara nyaring memecah keheningan suite itu.
Perutku berbunyi keras, mengkhianati kelemahanku dengan cara yang memalukan.
Kupejamkan mata karena malu, wajahku terbakar. Matteo menghentikan gerakannya sejenak. Ia memejamkan mata dengan ekspresi pasrah, menggelengkan kepala perlahan.
"Aku akan menyuruh orang membawakan nampan makanan untukmu," katanya, kembali melilitkan perban di sekeliling telapak tanganku.
"Aku tak mau apa-apa," bentakku, mencoba mempertahankan sisa harga diriku, menatapnya penuh curiga. "Kau hanya melakukan ini untuk meracuniku. Aku tak akan menyentuh apa pun yang berasal darimu!"
"Kalau aku ingin meracunimu, aku tak akan buang-buang delapan juta dolar," ucapnya, seolah aku baru saja mengatakan hal paling bodoh di dunia.
Matteo mengikat perban di tanganku dengan simpul yang mantap, tanpa menghambat aliran darah, lalu melepaskan pergelangan tanganku perlahan.
Ia mengangkat tatapan ke arahku, ekspresinya kembali ke ketenangan yang diperhitungkan seperti biasa.
"Ini lantai tiga, Amelia," katanya, suaranya tenang dan rendah, memenuhi kamar yang sunyi. "Seluruh sayap ini milikku. Mulai hari ini, kau bebas berkeliling di seluruh lantai ini. Tapi jangan coba-coba menuruni tangga."
Ia bangkit, menyimpan perban dan antiseptik ke dalam kotak logam dengan gerakan tenang.
"Kau akan menerima semua makananmu di sini sampai kau menunjukkan bahwa kau mengerti, sekali dan untuk selamanya, bahwa tak ada jalan kabur dari kontrak ini," lanjutnya, menatapku dari atas. "Pilihan untuk melakukannya dengan cara yang sulit… sepenuhnya ada di tanganmu."
Tanpa menunggu jawaban dariku, Matteo berbalik dan melangkah menuju pintu.
"Aku tak akan menerima pernikahan ini!" bentakku ke punggungnya, berusaha menutupi getaran di suaraku.
Ia bahkan tak menoleh ke belakang. Ia hanya melewati ambang pintu dan menutupnya, meninggalkanku sendirian lagi dengan keheningan dan aroma parfumnya yang menggantung di udara.
Kupandang tanganku yang terbalut perban dengan hati-hati. Rasa nyeri yang berdenyut membuatku terhenti di tengah jalan; sementara emosi mendorongku untuk menghancurkan segalanya, akal sehat memintaku tenang. Aku terluka, dan amukanku hanya menghasilkan satu hal: rasa sakitku sendiri.
Sebuah ketukan lembut dan ragu di pintu memotong lamunanku.
Pintu terbuka perlahan dan seorang pelayan setengah baya, mengenakan seragam gelap dengan tatapan waswas, masuk ke kamar sambil membawa nampan perak yang mengepul. Ia melirik sekilas ke tanganku yang terbalut, meletakkan nampan di atas meja samping tempat tidur, dan memberiku anggukan singkat sebelum mengundurkan diri dalam diam.
Aroma sup panas dan roti segar menyeruak ke lubang hidungku.
Perutku berbunyi begitu keras sampai terasa sakit. Kutatap makanan itu penuh curiga beberapa detik, teringat rasa takutku akan racun, tapi akal sehat berbicara lebih keras. Matteo tak perlu meracuniku; jika ia ingin membunuhku, ia sudah melakukannya sejak tadi.
Aku bergeser ke tepi tempat tidur dan mengambil sendok dengan jari-jari yang terasa nyeri.
Tak ada gunanya berdrama atau bersikap seperti martir manja. Amarah tak mengenyangkan perut. Untuk menghadapi Matteo Salvatore, untuk melawan cengkeraman imperium itu, dan yang terpenting, untuk menemukan celah dan kabur dari tempat ini, aku harus tetap hidup. Dan kuat.
Kutelan sesendok pertama sup panas itu, merasakan energi perlahan kembali ke tubuhku. Setiap kunyahan adalah sumpah tak bersuara. Ia mengira ia telah mengurungku, tapi aku hanya sedang mengulur waktu.