Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Jam ke 2 setelah istirahat adalah pelajaran olahraga. Baju putih biru yang semula ia pakai telah berganti dengan baju olahraga. beberapa murid terlihat mulai berdatangan menuju ke arah lapangan outdoor sekolah. Mereka terlihat lebih gembira karena pelajaran hari ini adalah bulu tangkis.
Vian berdiri di tengah keramaian . Melihat beberapa siswa-siswi yang telah membentuk kelompok nya. Dia bingung, sebenarnya dia bukan tipe orang yang akan mudah akrab. Karena dia memang orang nya seperti itu. Jika tak ada yang bertanya dia tak akan berbicara . Jika tidak dia akan diam saja. Baik dulu maupun sekarang sifat nya tidak berubah. Tapi untungnya dulu dia mempunyai satu teman yang selalu menemani nya.
"Hahh, kok jadi kangen ya" gumamnya pelan.
Pritt, bunyi peluit mengalihkan atensi mereka. Melihat ke arah guru laki-laki yang datang dengan membawa beberapa tas raket yang sedang ia gendong.
"Pelajaran kita kali ini adalah bulu tangkis , Minggu lalu kita udah di beritahu kan dasar-dasar nya. Sekarang kita praktekkan dengan pertandingan dua lawan dua" ucapnya . Ia membuka tas ransel itu dan dalam satu tas terdapat 2 raket di masing-masing tas. Total ada 8 raket.
"Sebelum mulai kita pemanasan dulu" ucapnya .
Semua murid melakukan pemanasan termasuk Vian. Namun pandangan Vian tak lepas dari raket di depan nya. Karena permainan itu merupakan salah satu permainan yang ia sukai.
Setelah melakukan pemanasan . Guru itu mulai membagi kelompok sesuai absen nya masing-masing. Termasuk Vian. "Vian!" Serunya . Vian mengangkat tangan menanggapi seruan dari gurunya "kamu murid baru ya?"
"Iya pak"
" Baiklah , walaupun kamu belum mempelajari dasar-dasar nya. Kamu pasti tau buku tangkis kan?" Tanya nya " iya pak"
"Baiklah , kamu dengan Reno aja" ucapnya.
Salah satu pemuda di balik keramaian mengangkat tangan . Mengajukan sedikit komplen "pak!, menurut absen seharusnya aku dengan Jamal" ucapnya
"Baiklah kalian bertiga satu kelompok" entengnya
" Tapi pak , kenapa cuma kita yang kelebihan orang?!"
"Ya karena si Leo gak masuk, kalian sendiri pasti tau karena kalian satu kelas. udah jangan ada yang komplen atau bapak kurangin nilai kalian " ucapnya. Pemuda itu merasa tidak terima. Namun tak ayal ia menurut untuk diam.
Ashilla menghampiri Vian, menepuk pundak nya kecil dengan akrab " kamu pasti tidak tau teman sekelompok mu kan. Aku antar ya" ucapnya. Vian terdiam. Perasaan nya sedikit tidak enak dengan kejadian sebelumnya dan sekitarnya. Dia merasa bahwa keberadaan nya tidak di inginkan di sini
Ashilla menyeret Vian . Membawanya ke arah 2 pemuda yang jelas menunjukkan raut yang tidak suka"hai guys , nihh teman kelompok jangan di tinggal " ucapnya ashilla.
" Hahaha,, iya ren teman kelompok Lo tuh" ucap pemuda di sampingnya menyaut"diam ege , dia bukan temen gue" ucapnya ketus. Vian terdiam . Merasa tidak nyaman dengan pembicaraan itu.
"Udah jangan gitu kita kan berteman " ucap ashilla. Ashilla mengalihkan atensi nya pada Vian" Ouh ya Vian , jika kamu merasa tidak enak badan langsung bicara sama guru. Takut nanti malah ngerepoti mereka. Kan repot jika semisalnya kamu pingsan di tengah permainan, gimana ?" ucapnya. vian masih diam . Menunduk tak berdaya dengan tangan terkepal merasakan perasaan yang tidak nyaman.
"Ouh iya Lo kan sakit-sakitan. Lo jangan ikut dehh , kapan-kapan aja ya" ucap pemuda yang bername tag Jamal.
"Jangan ngomong gitu Jamal kasian Vian "ucap ashilla. Dia melihat ke arah ke 3 orang di depan nya. Kenapa rasanya dia seperti di sudut kan ya?
"Gimana , mau tetep lanjut gak , saran gue sih nyerah aja " ucap Reno.
Vian tersenyum kecil. Tak mampu untuk berkata apa-apa. Mulutnya membisu. Dengan perasaan yang tidak nyaman. Dia menyesal mengikuti pelajaran ini. "Baiklah aku akan izin ke guru" ucapnya dan pergi meninggalkan mereka.
Setelah mendapatkan izin dari guru ,ia hanya bisa melihat aktivitas itu dari pinggir lapangan. Duduk di dengan kepala bersandar pada pohon . Menatap lekat beberapa anak yang sedang bermain. Padahal bulu tangkis merupakan pelajaran yang ia sukai di kehidupan lamanya. Tapi mungkin sekarang berbeda.
"Gak papa , Lo itu Revano . Lo biasa di perlakukan seperti ini" monolog nya. mencoba menepis perasaan tidak nyaman. Sesak itu yang ia rasakan. udara terasa berat saat melewati tenggorokan nya. Setiap tarikan nafas terasa seperti menelan duri. Setiap kali ia bernapas yang ia rasakan hanyalah rasa nyeri. Vian mulai memukul satu dua kali dadanya. Untuk meminimalisir kan sesaknya.
"Kenapa di saat seperti ini , penyakit Vian kambuh sih" monolognya lagi.
Raut wajahnya seketika pucat pasi dengan mata sayu yang terlihat sedikit memerah. Ia memejamkan mata nya. Merasakan rasa sesak yang perlahan menganggu pernapasan nya."kenapa sih ini " monolognya.
Dengan tertatih-tatih. Dia berjalan ke arah guru. Dengan tangan yang masih mencengkram erat di dadanya. " Pak... saya.. izin ke UKS" dengan nafas yang tersengal. Vian berusaha berbicara . Walaupun pandangan nya mulai berkabut. Sedikit mengganggu penglihatan nya.
"hey ,kamu gak papa. Lihat bapak, apa ada yang sakit" samar-samar ia bisa melihat raut panik pria itu. Dengan tangan yang melambai berusaha mengalihkan fokus nya. Sebelum kegelapan benar-benar menguasainya sepenuhnya.
Hal pertama yang ia lihat adalah Revano yg sedang tertidur dengan posisi yang terduduk. Dengan kepala yang sedikit memiringkan ke bahu. Sementara sebelah tangannya masih menggenggam tangan Vian. Dan itu terasa hangat.
Vian menatap kakak nya yang sedikit lelah. Mungkin karena mempersiapkan olimpiade .Walaupun matanya terlihat damai namun di baliknya terlihat guratan kelelahan yang ketara. Seolah ia memikul beban yang lebih besar dari porsinya. Seketika ia merasa bersalah. Tak seharusnya ia membuat Abang nya repot. Apalagi sebentar lagi ia akan mengikuti olimpiade.
"Maaf" bisiknya pelan.
Revano membuka matanya , saat mendapati mata terbuka adiknya yang menatap nya cemas. Dia tersenyum tipis ke arah nya sebelum mengelus tangan yang ia genggam untuk menyalurkan perasaan tenang.
"Kenapa? Ada yang sakit" ucapnya lembut. Dengan hati-hati dia mendekatkan telinganya ke arah dada. Mengecek detak jantung saudara nya dengan lembut.
"Kalau ada yang sakit atau gak nyaman bilang Abang ya" ucapnya lembut. Vian menatap lekat mata Revano yg menatap nya dengan mata penuh bersalah. Matanya memerah seperti habis menangis. Dengan beberapa bengkak yang terlihat sedikit jelas saat membuka mata.
Vian hanya mengangguk kecil . Tak tau harus menjawab apa.
"Maafinn Abang, karena Abang terlalu pokus sama olimpiade. Abang jadi mengabaikan Vian . Abang benar-benar minta maaf " lirihnya.
Nyut. Rasa bersalah kembali hinggap . Membuat mata Vian sedikit berembun.
"Abang gak salah kok ,Vian seperti ini karena kelelahan doang " katanya lirih. Tersenyum kecil seolah ingin eredakan ke khawatiran Revano.
"Mungkin Abang akan undur dalam olimpiade kali ini" gumamnya kecil namun masih bisa di dengar oleh Vian " jangan!!" ucapnya sepontan.
"Abang tak perlu mengundurkan diri. Vian baik-baik saja. Lagian Vian bisa jaga diri sendiri kok"
"Tapi"
"Udah jangan. Pokoknya kalau Abang mengundurkan diri gara-gara Vian. Vian marah loh" Rajuk nya. Ia melotot kecil dengan pipi tirus yang berusaha di kembung kan . Itu terlihat sedikit lucu. Revano tertawa dan mengusap lembut pipi Vian " baiklah, tapi Abang gak bisa menemani mu selama sebulan ke depan" ucapnya
"Gak papa"
"Lohh kok gak papa, Ade gak kangen sama Abang" canda nya berusaha terlihat sedih "kita selalu ketemu di rumah bang" mereka tertawa bersama. Merasakan kehangatan yang saling menyelimuti masing-masing. Perasaan sesak yang tadi ia rasakan mulai hilang dan sekarang ia baik-baik saja.
"Kalau ada sesuatu yang buruk , jangan dipendam sendiri ,ya. Bilang ke Abang "
Vian tersenyum kecil"ya"