NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

“Tidak apa-apa. Aku hanya perlu menunduk saja. Tidak apa-apa.” Alexander terus menggumamkan kalimat ini, berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap tenang agar tidak menarik terlalu banyak perhatian.

Masalahnya, saat ini dia sedang berdiri tepat di depan toilet wanita di bandara.

Setiap wanita yang hendak masuk atau keluar toilet selalu menatapnya dengan curiga. Satu-satunya penyelamat Alexander hanyalah tas tangan Soraya yang sengaja dia angkat, memberi tanda dia sedang menunggu seseorang.

Sebenarnya dia bisa saja menunggu sedikit lebih jauh, namun hari masih sangat pagi dan udara terlalu dingin, membuat Soraya beberapa kali ke toilet karena tidak nyaman.

Naluri pria dewasanya, membuat dia berjaga sedekat mungkin meski harus terlihat konyol.

Sambil menundukkan kepala, Alexander tetap waspada. Bukan hanya terhadap orang-orang di sekitarnya, tetapi juga terhadap Soraya sendiri.

Meskipun sudah mendengar langsung bahwa Soraya menginginkan anak yang ada di dalam kandungannya, Alexander masih belum sepenuhnya percaya, apalagi setelah perbedaan pendapat mereka beberapa waktu lalu.

Ingatan Alexander kembali pada percakapan tadi...

Ternyata mereka memiliki pemahaman yang sama sekali berbeda mengenai tanggung jawab yang dimaksud.

Bagi Alexander, tanggung jawab itu sudah jelas. Dia ingin menikahi Soraya dan memberikan status yang jelas kepada wanita itu sekaligus kepada anak mereka.

Sementara Soraya, dia mengira tanggung jawab yang dimaksud Alexander hanyalah tanggung jawab terhadap anak mereka.

Kompensasi materi, hak kunjungan, atau hak untuk memberikan nama belakang—kurang lebih seperti yang biasa dilakukan paman-paman dalam keluarganya ketika kebablasan bermain di luar.

Sejujurnya, saat pertama kali mendengar pemikiran itu, Alexander hampir terkena serangan jantung.

Dia benar-benar tidak mengerti dari keluarga seperti apa Soraya berasal?

Bagaimana mungkin wanita muda itu bisa begitu santai membicarakan sesuatu yang menurut Alexander sangat serius. Soraya bahkan membicarakan anak mereka seperti sedang membicarakan sebidang tanah yang dibayar, diberi sertifikat, lalu diatur kepemilikannya.

Namun, sebagai pria dewasa, Alexander tahu dirinya harus menjadi pihak yang paling rasional.

Meskipun tertekan, dia tetap berusaha tenang dan menjelaskan niatnya kepada Soraya.

Dan hasilnya?

Dia ditolak mentah-mentah.

Alexander sama sekali tidak pernah memperkirakan kemungkinan itu.

Dia bahkan sudah menganggap pembicaraan tentang tanggung jawab tadi hampir seperti sebuah lamaran, tetapi Soraya menolaknya tanpa berpikir panjang.

Karena itulah sekarang Alexander merasa harus selalu waspada.

Dia takut, jika lengah sedikit saja, Soraya akan pergi dan menghilangkan jejaknya begitu saja. Bukan karena wanita itu berniat buruk, tetapi karena bagi Soraya, pernikahan memang bukan sesuatu yang harus dilakukan hanya karena mereka memiliki anak.

“Tidak apa-apa,” putus Alexander dalam hati sambil mengangguk mantap. “Aku hanya perlu meyakinkannya perlahan.”

Mungkin dia memang harus bersabar.

Itulah sebabnya dia sekarang akan ikut Soraya, kembali ke tempat wanita itu belajar.

---

Sementara itu, Soraya yang sedang dikhawatirkan Alexander di luar, memanfaatkan waktu di dalam toilet, mencari sedikit ruang gerak tanpa pria itu.

Dia berdiri di depan wastafel sambil menyisir rambutnya di depan cermin.

“Ck!” Soraya berdecak. Dia masih tidak habis pikir, tentang bagaimana Alxander sampai hendak menikahinya.

Dalam pemikiran Soraya, hubungan antara seorang ayah dan anak tidak harus selalu disatukan dalam sebuah pernikahan. Setidaknya, begitulah yang dia pahami dari keluarganya sendiri.

Selama Alexander bersedia bertanggung jawab secara materi, semuanya seharusnya baik-baik saja.

Bahkan jika tidak, Soraya sebenarnya tidak terlalu memusingkannya. Tabungannya cukup untuk membesarkan anak sambil menyelesaikan pendidikan yang sebentar lagi juga selesai.

“Mana dia ikut lagi. Yang benar saja!” keluhnya.

Namun, mau mengeluh seperti apa pun, dia sudah telanjur mengiyakan tawaran Alexander untuk ikut bersamanya.

Pria itu menawarkan satu-satunya tiket kabin kelas satu yang memiliki ruang lebih luas dan tempat tidur selama penerbangan, jika dia diizinkan ikut.

Kemewahan itu tentu sangat cocok bagi Soraya yang memang berniat meng-upgrade tempat duduk, yang biasa hanya di kelas bisnis.

Juga pilihan itu langsung menjadi bahan pembicaraan di antara anggota timnya yang berangkat bersama. Namun, Soraya sama sekali tidak peduli.

Satu-satunya sumber masalahnya saat ini hanyalah Alexander.

Pria itu mulai bertingkah aneh.

Terlalu protektif.

Bahkan ponsel pun tidak boleh dipegang terlalu dekat dengan perutnya karena takut radiasi akan membahayakan bayi mereka.

“Argh...”

Mengingatnya saja membuat Soraya kesal.

Memasukkan sisir ke dalam tas makeup, Soraya ganti mengeluarkan lipstik merah untuk menyamarkan wajahnya yang terlihat pucat.

Dia menginginkan anak ini. Hanya saja, dia masih belum siap jika kehamilannya diketahui orang lain.

“Maaf, apakah Anda bernama Soraya?”

Soraya menoleh melalui pantulan cermin.

Seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk, berbicara kepadanya.

“Ya? Ada apa?”

“Itu suamimu menitip pesan. Katanya kamu belum keluar dari tadi.”

Soraya mengernyit.

Wanita itu tersenyum. “Tadi saya pikir salah orang, karena kamu kelihatan masih muda. Ternyata benar, karena memang cuma kamu yang di sini.”

Soraya hanya bisa berdiri kaku, ditinggal wanita itu ke dalam bilik.

Dia bahkan menahan napas selama beberapa detik, seolah-olah sedang berusaha mencegah kepalanya meledak.

“Ini gila!”

Kakinya menghentak. “Bisa-bisanya Alexander itu mengaku-ngaku sebagai suamiku? Dasar tidak waras!”

Seraya langsung keluar, dia sudah menyiapkan berbagai macam omelan untuk Alexander.

Namun begitu keluar, dia justru kembali dibuat terkejut. “AAAH!”

“Awas!”

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Keduanya kembali berada dalam posisi yang sudah terlalu familiar.

Soraya hampir jatuh, tetapi tangan Alexander selalu lebih cepat untuk menahan dirinya.

“Soraya?” Suara lain terdengar, memecah suasana.

“Lepas, ih!”

Begitu berdiri tegak, Soraya segera menyingkirkan tangan Alexander dan menyapa Gavin.

Beberapa saat lalu, Gavin mengetuk pintu kamarnya di hotel untuk mengajak dia bersiap berangkat sesuai prosedur tim.

Pria itu sama sekali tidak menyangka akan menemukan Alexander di dalam kamar Soraya. Juga saat ini, di toilet seperti ini.

“Gavin, kenapa diam?”

“Eh? Tidak tidak.”

Gavin segera mengalihkan perhatian.

“Aku cuma mau menanyakan soal salinan dokumentasi. Sudah kamu kirim?”

“Oh, tunggu sebentar. Aku cek dulu.”

Soraya mengambil ponselnya dan memeriksa email.

“Sudah sih, tapi sepertinya belum semua—”

Dia tertegun ketika baru beberapa langkah mendekati Gavin, pria itu justru refleks mundur dan menjaga jarak.

Soraya mengernyit.

“Kalau belum semua, coba cek lagi apa saja yang terlewat dan kirim lagi. Aku mau duluan, masih harus antre.”

“Oh.”

Soraya hanya mengangguk sebelum menggumam, “Gavin aneh sekali.”

Alexander yang berdiri di sampingnya hanya menarik sudut bibir.

Dia tersenyum setelah melakukan intimidasi diam-diam.

Dia tidak ingin menginterupsi atau membuat Soraya tidak nyaman, namun dia juga dia tidak suka melihat pria lain berbicara dengan wanita yang sedang mengandung anaknya.

“Ayo, kita ke lounge,” ajak Alexander.

Tangannya dengan alami mengambil tas make-up Soraya.

Soraya langsung teringat perkataan wanita di toilet.

“Kak, tunggu.”

Alexander yang hendak menarik pegangan troli koper menoleh. “Ada apa?”

Soraya sedikit ragu sebelum akhirnya bertanya.

“Tadi waktu aku di dalam... Kau menitip pesan untuk memanggilku?”

Alexander mengangguk.

“Lalu...” Soraya memerh. “Kenapa bilang suamiku menunggu di luar?”

Alexander kembali mengangguk seolah pertanyaan itu sangat sederhana.

Dia memasukkan sebelah tangannya ke saku, sementara tangan lainnya tetap memegang troli.

“Itu yang paling aman. Aku bisa dikira penguntit kalau tidak menjelaskan diri.”

Dia menatap mata Soraya. “...Lagipula, memang akan seperti itu kan nanti.”

Soraya memutar bola matanya jengah.

Dia tahu percakapan ini akan berujung pada pembicaraan yang sama: tentang bagaimana Alexander akan menjelaskan keberadaan anak mereka kepada orang tuanya, kekasihnya, dan lingkungan di sekitarnya.

Sesuatu yang sama sekali tidak ingin Soraya lakukan.

Dia memang merasa bersalah karena Alexander harus menerima konsekuensi dalam hubungan percintaannya akibat kehamilan ini. Sebagai sesama perempuan, dia bahkan merasa bersalah kepada kekasih pria itu.

Namun, sebagai calon ibu, Soraya juga tidak ingin anaknya disembunyikan.

Karena itulah sebelum anaknya lahir, dia ingin mereka memiliki pengaturan yang jelas mengenai bagaimana mereka akan menjadi orang tua tanpa harus menjadi pasangan.

Sayangnya, prinsip itu tidak sejalan dengan Alexander.

Bagi pria itu, memiliki anak berarti harus menikah.

Bahkan terkadang Soraya masih sempat berandai-andai bahwa hubungan Alexander dengan kekasihnya tidak perlu berakhir.

Kalau saja semuanya bisa berjalan dengan baik, anaknya mungkin bisa memiliki dua ibu.

Toh, Soraya sendiri tumbuh dengan tiga sosok ibu meskipun ibu kandungnya telah meninggalkannya.

Namun, itu hanya angan-angan.

Dari cara Alexander berbicara, Soraya sudah tahu pria itu hidup dengan banyak aturan.

“Sudah, ah. Jangan ditarik terus. Kayak anak kecil saja.”

Soraya menarik tangannya dengan wajah cemberut.

Alexander justru kembali meraih tangan itu.

“Kamu memang bukan anak kecil.”

Dia menggenggamnya dengan tenang.

“Tapi di perut kamu ada anak kecil.”

Soraya menatapnya tajam.

“Anak kita.”

“Dih!”

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!