Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 9
Satu anak panah berkepala besi diapit jemarinya. Zhang Li berdiri tegap, menarik tali busur hingga melengkung maksimal tepat di samping pipinya. Tatapan matanya yang tajam mengunci sasaran. Sebuah papan kayu tebal berjarak seratus langkah di sudut lapangan.
Srettt... Bles!
Anak panah meluncur bagai kilat, menembus tepat di titik merah tengah papan sasaran hingga papan kayu tebal itu terbelah dua.
Feng Chuan mendekat seraya menatap papan yang hancur. "Ketepatan memanah Yang Mulia tidak pernah bergeser sejengkal pun."
Zhang Li menurunkan busurnya, matanya masih menatap tajam ke arah sasaran. "Bagaimana situasi di Kediaman Barat pagi ini?"
Feng Chuan merapatkan tangan memberi laporan. "Seperti biasa, Yang Mulia. Selir Huo Yan dan Selir Kui sibuk menunjukkan dominasi mereka di meja makan terbuka. Sementara Selir Lin tetap memilih tidak terlibat."
"Dan gadis dari keluarga Xiao itu?" tanya Zhang Li datar. Dia teringat pada Xiao Yu yang semalam hanya menunduk dan menurut saat ia beri peringatan.
"Sangat patuh dan tenang, Yang Mulia," lapor Feng Chuan. "Dia menerima semua sindiran Selir Huo Yan dan Selir Kui tanpa membantah sepatah kata pun, lalu kembali ke kamarnya dengan sopan."
Zhang Li mengungkit senyum tipis yang sarat dingin di bibirnya seraya menaruh busurnya kembali ke rak.
"Bagus," gumam Zhang Li pendek. "Wanita yang penurut dan tahu diri adalah hal terbaik di kediaman ini. Setidaknya dia tidak akan membuang waktuku dengan drama yang tidak penting. Meskipun akhirnya kehidupan disini tetap membosankan."
Zhang Li kembali mengambil sepasang belati latihan dari meja senjata, bersiap untuk sesi latihan berikutnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kepatuhan tenang yang ditunjukkan Xiao Yu di pelataran hanyalah topeng sempurna untuk menyembunyikan seorang ahli strategi yang sedang menunggu waktu.
*
*
*
Malam merayap makin larut, membungkus Kediaman Barat dalam kesunyian yang mencekam. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari arah kolam teratai, sementara lentera-lentera di pelataran tengah satu per satu mulai dipadamkan oleh para pelayan.
Di dalam Paviliun Anggrek, Xiao Yu berdiri di depan jendela yang terbuka sedikit. Matanya menyapu sekeliling halaman untuk memastikan jadwal pergantian giliran ronda para pengawal. Begitu dua prajurit berzirah melangkah menjauh mengitari belokan lorong timur, Xiao Yu berbalik menatap Bao'er.
"Sekarang waktunya," bisik Xiao Yu seraya mengikat rambut panjangnya menjadi sanggul tinggi yang ringkas. Ia sudah berganti pakaian menggunakan gaun latihan berwarna hitam polos yang pas di tubuh.
Bao'er berdiri siaga di dekat pintu. "Aku akan menjaga kisi jendela, Yu'er. Aku akan menunggumu."
"Bagus," jawab Xiao Yu.
Dengan gerakan seringan bulu, Xiao Yu melompati ambang jendela belakang Paviliun Anggrek tanpa menimbulkan derit sedikit pun. Tubuhnya menyatu sempurna dengan bayang-bayang dinding batu. Ia menyusuri jalan setapak kecil yang tertutup semak belukar, sengaja menghindari rute utama.
Naluri petarungnya menuntun Xiao Yu menerobos rimbunnya hutan bambu di sudut terisolasi Istana Barat. Makin jauh melangkah, aroma udara mendadak berubah. Ada bau samar minyak senjata dan debu tanah yang padat.
Di balik deretan gerbang kayu berukir naga yang tak terkunci, Xiao Yu menemukan sebuah area luas tersembunyi. Tempat itu dikelilingi dinding batu yang sangat tinggi, lengkap dengan deretan rak senjata, papan sasaran memanah yang terbelah dua, serta tiang-tiang kayu bekas tebasan.
Xiao Yu berdiri di tengah lapangan tanah padat tersebut, menyapu pandangannya dengan mata berkilat kagum.
"Arena latihan pribadi..." gumam Xiao Yu pelan. Suasana yang sangat sepi dan tertutup rapat membuat tempat ini menjadi lokasi sempurna yang tak terjangkau oleh mata-mata para selir.
Tanpa membuang waktu, Xiao Yu melangkah menuju rak senjata. Jemarinya yang lentik membelai salah satu pedang kayu berat yang tergeletak di sana. Ia mengangkat pedang itu, merasakan bobot dan keseimbangannya seraya mengulas senyum tipis.
Xiao Yu menghentakkan kakinya ke tanah, memutar tubuhnya dengan ketepatan luar biasa. Pedang kayu di tangannya mengayun membelah udara malam, menciptakan gema tebasan yang tajam dan tak bersuara. Gerakannya begitu cepat dan anggun. Sekaligus mematikan.
Sangat jauh berbeda dari sosok selir penurut yang tadi pagi membiarkan dirinya dihina di meja makan batu.
Di bawah naungan sinar rembulan, Xiao Yu terus mematangkan jurus-jurus rahasianya secara bebas. Tanpa menyadari bahwa tanah yang sedang ia pijak adalah arena khusus tempat Pangeran Zhang Li memuntahkan Keringat dan ketajamannya setiap pagi.
Ia menyusuri rak senjata, membelai sebilah pedang kayu berat, lalu mengayunkannya beberapa kali sebelum akhirnya beralih ke deretan busur panah. Xiao Yu mengambil sebuah busur kayu hitam berukuran sedang dan menarik satu anak panah dari tabung properti arena.
Xiao Yu mengambil posisi tegap. Matanya menyipit, mengunci titik merah di tengah papan sasaran kayu tebal di bawah guyuran sinar rembulan.
"Mari kita lihat apakah jariku sudah makin tumpul karena terus berpura-pura jadi gadis penurut," bisik Xiao Yu pelan.
Ia menarik tali busur hingga melengkung maksimal tepat di samping pipinya. Tenaga dalamnya tersalur halus namun padat ke jemari tangannya.
Srettt... Bles!
Anak panah meluncur tajam membelah malam, menancap sangat dalam tepat di titik tengah papan sasaran kayu. Pangkalnya bergetar pelan menimbulkan gema halus di arena yang sepi.
Xiao Yu menurunkan busurnya seraya menyunggingkan senyum puas. "Masih presisi."
Ia baru saja hendak melangkah maju untuk mencabut anak panah tersebut ketika indra pendengarannya yang tajam menangkap gesekan samar di luar arena.
Dari arah rimbunnya taman bambu, samar-samar terdengar gema derap langkah kaki berzirah tebal dan suara gesekan pedang yang mengayun di pinggang para pengawal.
"Coba cek pintu gerbang arena latihan. Pastikan kuncinya terpasang."
"Baik, ayo periksa sebentar."
Mata Xiao Yu seketika berkilat siaga. Ia mendesis pelan di balik napasnya. "Pengawal ronda... cepat sekali mereka bergerak."
Waktu sudah terlalu mendesak. Mencabut anak panah yang menancap begitu dalam di kayu tebal itu membutuhkan tenaga dan waktu, yang justru berisiko menimbulkan suara keras.
"Biarkan saja," bisik Xiao Yu cepat pada dirinya sendiri.
Dengan gerakan secepat kilat, ia mengembalikan busur ke rak, memanjat tiang kayu terdekat, dan melompati dinding arena-menyelinap kembali menembus rimbunnya taman bambu menuju Paviliun Anggrek tanpa meninggalkan jejak selain sebatang anak panah yang menancap kokoh.
Xiao Yu menyelinap kembali melalui jendela Paviliun Anggrek tanpa suara. Begitu kakinya mendarat di lantai kayu, sebuah bayangan mendekat dengan napas tertahan.
"Yu'er! Kau membuatku mati ketakutan!" bisik Bao'er setengah histeris. Wajahnya pucat pasi, kedua tangannya meremas kain gaunnya sendiri. "Bagaimana kalau pengawal patroli melihatmu? Kalau sampai ketahuan kau keluar malam-malam, kita bisa kena masalah besar!"