“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Badai dalam Hening
Sejak malam di trotoar Hongdae itu, atmosfer di antara kami berubah total. Dimas bersikap sangat dingin. Tidak ada lagi tegur sapa manis, tidak ada lagi sentuhan lembut di jemariku, dan tidak ada lagi pandangan hangat yang biasanya selalu menyertaiku. Pria itu kembali menjadi sosok CEO Arjowibowo yang berdarah dingin, berjarak, dan asing.
Di dalam hati yang paling dalam, aku merintih. Perasaan dulu waktu konflik sama Juan tidak selelah ini... Apa memang semua laki-laki pada akhirnya hanya mementingkan egonya sendiri?
Aku tumbuh jadi perempuan yang jarang sekali meminta. Bukan karena aku tak punya keinginan, tapi karena aku selalu takut memberatkan orang lain. Dari kecil, di bawah tatanan rumah Natakusumah yang serba kaku, aku terbiasa memahami keadaan, terbiasa menahan diri, dan terbiasa diam meski sebenarnya ingin bercerita.
Lama-lama, semua orang mengira aku perempuan yang kuat, yang bisa menghadapi segala hal tanpa keluh. Padahal aku tidak sekuat itu. Aku hanya terlalu sering berpura-pura baik-baik saja. Dan setiap kali seseorang datang bertanya, "Kamu gimana, Mei?" aku selalu menjawab dengan kalimat refleks yang sama. "Nggak apa-apa, tenang saja."
Hari ketiga riset di Seoul terasa bergulir begitu lambat dan menyiksa. Tim Garuda sedang berkumpul di area ruang rapat hotel untuk merekap data uji rasa warga lokal.
Arvino yang duduk di seberang meja rapat beberapa kali melirik ke arahku, lalu bergantian melirik Dimas yang sedang fokus pada laptopnya di sudut ruangan. Aura di antara kami berdua begitu membeku hingga menyebar ke seluruh ruangan. Vino jelas menyadari ada yang tidak beres di antara kami, tapi dia memilih diam dan tidak berani angkat bicara di depan tim.
"Mbak Mei, ini rekapitulasi data kuesioner dari pasar Hongdae sudah selesai," ucap Juno pelan, menyerahkan map berkas padaku dengan sangat hati-hati, seolah takut salah bicara.
"Terima kasih, Juno," sahutku singkat dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
Dimas berdiri dari duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia merapikan jasnya, meraih ponsel di meja, lalu melangkah keluar dari ruang rapat dengan wajah datar sekeras batu. Suara langkah kakinya yang tegas bergaung di sepanjang koridor, menyisakan keheningan yang menyesakkan.
Aku menundukkan kepala, memegang pulpen di tanganku erat-erat hingga buku-buku jariku memutih.
Aku tumbuh di tengah keluarga yang terbiasa menyelesaikan segala sesuatu dengan nada tinggi, perintah mutlak, dan bentakan. Karena itulah, di dalam doa-doa sunyiku, aku cuma berharap suatu hari dipertemukan dengan pasangan yang bisa menghadapi masalah dengan tenang seorang pria yang merangkulku dengan kelembutan, bukan seseorang yang justru membuatku merasa takut dan asing saat konflik terjadi.
Terkadang, di dalam sudut kamar hotel yang gelap saat malam tiba, aku sering meneteskan air mata hanya karena merasa kasihan dengan diriku sendiri. Kenapa perjalanan hidup dan perasaanku harus selalu sesulit ini?
Ada tipe orang yang kalau sakit hati itu tidak teriak, tidak marah, dan tidak mengamuk. Aku cuma diam. Bukan karena tidak ada yang mau diomongin, justru di dalam kepalanku ada ribuan kalimat yang sudah berputar-putar tanpa henti. Semuanya jelas, semuanya rapi, tapi ketika mau dikeluarkan, kalimat-kalimat itu nyangkut di tenggorokan.
Akhirnya ya sudah, dipendam saja. Pelan-pelan hal itu jadi kebiasaan, jadi seperti tombol otomatis. Ketika disakitin, aku tarik diri. Ketika dikecewain, aku diam. Sampai lama-lama orang lain pun salah paham, dikiranya aku dingin, dikiranya aku tidak peduli. Padahal sebenarnya hatiku penuh dengan badai yang berkecamuk hebat, tapi badai itu tidak pernah dikasih izin untuk keluar.
Sore harinya, saat anggota Tim Garuda lainnya sedang pergi ke area Myeongdong untuk mengambil sampel foto produk tambahan, aku memilih berdiam diri di balkon kafe lantai atas hotel.
Angin dingin musim gugur Seoul menerpa wajahku, menyapu rambutku yang terurai. Aku memeluk cangkir teh chamomile hangat dengan kedua tanganku, memandangi deretan gedung dan jalanan kota yang sibuk di bawah sana.
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat.
"Boleh aku duduk di sini, Mei?"
Aku menoleh. Arvino berdiri di sana membawa cangkir kopinya. Wajah ramahnya yang biasa ceria kini dipenuhi raut cemas dan penuh kehati-hatian.
"Boleh, Mas Vino. Silakan," jawabku pelan, berusaha mengukir senyum sopan.
Vino menarik kursi di depanku dan mendudukkan dirinya. Pria itu menyesap kopinya sedikit, lalu menatapku lurus dengan pandangan yang sangat dewasa.
"Mei... aku tidak mau mencampuri urusan pribadi kamu dan Dimas," buka Vino pelan, memilih kata-kata dengan sangat hati-hati. "Tapi dari kemarin suasana di antara kalian berdua benar-benar drastis berubah. Kamu kelihatan pucat dan banyak diam, sedangkan si Dimas balik lagi jadi es batu yang jauh lebih tajam dari biasanya."
Aku menundukkan pandanganku ke dalam cangkir tehku, mengaduknya pelan. "Kami cuma... lagi ada perbedaan pendapat saja, Mas."
Vino menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya pelan. "Perbedaan pendapat biasa tidak akan bikin Dimas mukanya sekusut itu, dan tidak akan bikin kamu tatapannya sekosong ini, Mei."
Aku tidak menjawab. Bibirku terkatup rapat. Ribuan kata yang ingin kuungkapkan rasa kecewaku, rasa takutku, dan luka hatiku atas sikap Dimas kemarin seolah mengendap tajam di tenggorokanku, tak sanggup keluar.
"Dimas itu..." lanjut Vino dengan nada bicara yang penuh empati, "...pria yang keras kepala, Mei. Dia terbiasa pegang kendali atas segala hal di hidupnya dan di bisnisnya. Tapi aku tahu betul, baru kali ini aku lihat dia kebingungan setengah mati. Dia tidak tahu cara menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa terlihat arogan."
"Tapi dia tidak harus bersikap seakan-akan prinsipku tidak ada artinya, Mas Vino," bisikku lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku punya harga diri. Aku punya batas yang tidak bisa ditawar."
Vino menatapku dengan pendar rasa kasihan yang tulus. "Aku mengerti, Mei. Sangat mengerti. Dan kamu sama sekali tidak salah untuk mempertahankan harga dirimu."
Sebelum Vino sempat melanjutkan ucapannya, pintu kaca balkon bergeser terbuka.
Dimas berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan mantel tebal hitam, tangannya dimasukkan ke dalam saku. Mata hitam pekatnya langsung bertabrakan lurus dengan pandanganku, sebelum berpindah menatap Vino yang duduk di hadapanku.
Atmosfer di balkon seketika membeku.
"Vin, dicari Juno di bawah. Berkas kerja sama agensi lokal butuh tanda tanganmu," kata Dimas dengan suara berat, datar, dan tanpa nada.
Vino berdiri dari kursinya, menepuk bahuku pelan memberi dukungan tersirat, lalu menatap Dimas. "Tolong bicara baik-baik, Dim. Jangan pakai ego," bisik Vino tegas di samping Dimas sebelum dia melangkah pergi meninggalkan kami berdua.
Pintu kaca tertutup kembali.
Sekarang, hanya ada aku dan Dimas di balkon yang dingin itu. Embusan angin Seoul bertiup di antara kami, membawa kesunyian yang amat berat dan menyiksa.
Dimas tidak langsung mendekat. Dia berdiri beberapa langkah di depanku, menatapku dengan pandangan yang sulit dibaca ada amarah yang tertahan, rasa bersalah yang tersembunyi, dan ego yang masih membentenginya rapat-rapat.
"Kamu dingin sekali dari kemarin, Mei," ujar Dimas memulai pembicaraan, suaranya terdengar kaku di udara terbuka. "Bahkan di depan tim, kamu seakan-akan menganggap aku tidak ada."
Dada dan tenggorokanku seketika meremas sakit mendengar ucapannya. Aku yang dingin? Dia yang memulainya!
Aku menatapnya dengan mata beningku yang mulai digenangi air mata. Kalimat-kalimat yang selama ini kupendam di dalam kepala mendadak mendesak ingin keluar, namun bibirku tetap terasa begitu berat.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?" tanyaku lirih, suaranya bergetar menahan luka. "Harus pura-pura tertawa dan baik-baik saja setelah apa yang Mas ucapkan kemarin?"
Dimas mengepalkan tangannya di dalam saku mantel. Rahangnya mengerasa.
"Aku cuma mau kita makin dekat, Mei," sahut Dimas dengan nada bertahan, egonya masih membumbung tinggi. "Aku membeli barang itu bukan untuk merendahkanmu. Kita ini calon suami istri, bukan orang asing."
Aku tersenyum getir, sebuah senyuman penuh keputusasaan yang membuat Dimas tertegun sekilas.
"Makin dekat dengan cara melanggar prinsipku?" bisikku pelan. "Mas Dimas bilang kita bukan orang asing... tapi saat ini, cara Mas menatapku dan cara Mas bersikap dingin seperti ini justru membuat Mas terasa jauh lebih asing dari siapa pun yang pernah kukenal."
Dimas membelalakkan matanya tipis, terhenyak oleh kata-kataku.
"Aku ini perempuan yang terbiasa diam dari kecil, Mas," lanjutku, air mata pertamaku akhirnya meluncur jatuh membasahi pipiku yang kedinginan. "Kalau aku disakiti, aku tidak bisa berteriak atau mengamuk seperti orang lain. Aku cuma bisa diam dan menarik diri. Karena di rumahku dulu, semua hal selalu diselesaikan dengan bentakan dan nada tinggi... dan aku sangat takut pada hal itu."
Aku mengusap air mataku dengan telapak tangan yang gemetar, berdiri dari kursi.
"Aku cuma ingin pria yang bisa menghadapiku dengan tenang, yang menghargai batasku tanpa membuatku merasa takut atau tidak berharga," lanjutku penuh penekanan, menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya. "Tapi kalau bagi Mas Dimas kencan dan hubungan ini hanyalah tentang pemenuhan keinginan dan ego Mas sendiri... mungkin kita memang harus memikirkan kembali arah perjodohan ini."
Mendengar kata memikirkan kembali arah perjodohan, raut wajah Dimas seketika berubah pucat pasi. Pria yang biasanya tenang dan dominan itu tampak terpukul hebat, matanya menatapku dengan ketakutan yang mendalam.
Tanpa menunggu balasan atau reaksinya lebih lanjut, aku berjalan melewatinya, mendorong pintu kaca balkon, dan melangkah pergi meninggalkan Dimas sendirian di tengah dinginnya angin Seoul.
Badai di dalam hatiku mungkin belum mereda, tapi setidaknya untuk pertama kali dalam hidupku, aku tidak lagi membiarkan diriku terluka demi menuruti ego orang lain.