Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Drama
Klik!
Bunyi dingin borgol besi yang melingkari kedua pergelangan tangan Aldo bergema tajam di koridor sunyi luar ruang rapat. Darah di tubuh Aldo serasa berhenti mengalir. Sensasi besi yang mencengkeram kulitnya begitu nyata, dingin, dan mematikan.
"M-maksud Bapak apa ini?!" bentak Aldo dengan suara gemetar, berusaha memberontak walau tubuhnya kaku bak patung. "Saya Manajer di VK Group! Saya nggak pernah gelapkan dana!"
Salah satu polisi paruh baya menatap Aldo dengan pandangan dingin tanpa empati. "Dokumen rekayasa laporan keuangan divisi kamu sudah kami terima dari tim audit internal satu jam lalu, Pak Aldo. Tanda tangan dan stempel pribadi kamu tertera jelas di sana. Silakan jelaskan semuanya di kantor polisi."
"Nggak mungkin! Ini pasti jebakan!" teriak Aldo histeris. Wajahnya yang biasa dipenuhi rasa bangga kini memerah padam, mandi keringat dingin.
Pintu ruang rapat utama terbuka lebar. Para petinggi saham berhamburan keluar dengan wajah tegang setelah menyaksikan kehancuran Nico di dalam. Di barisan paling depan, Gia melangkah keluar dengan anggun, berdampingan dengan Elkan.
Langkah kaki Gia terhenti tepat dua meter di depan Aldo yang sudah terborgol. Ia menatap mantan suaminya itu dari atas ke bawah dengan tatapan datar, seolah sedang melihat tumpukan sampah di pinggir jalan.
"Gia! Tolong aku, Gia!" Aldo mendadak berlutut di atas lantai granit lobi kantor. Air mata dan keringat bercampur aduk membasahi wajahnya. "Ini pasti salah paham! Aku dijebak, Gia! Tolong cabut laporannya... kita pernah nikah dua tahun, Gia! Kamu tega liat aku masuk penjara?!"
Gia menyunggingkan senyum tipis, senyuman yang sangat indah namun terasa bagai belati yang menusuk dada Aldo.
"Tega?" Gia menundukkan tubuhnya sedikit, menyamakan tingginya dengan Aldo yang bersimpuh. "Waktu kamu ceraikan aku di restoran cuma demi cewek lain, apa kamu mikir soal 'tega', Aldo? Waktu kamu dan ibumu ngusir aku cuma bawa baju murah, apa kamu mikir soal dua tahun pernikahan kita?"
"Aku khilaf, Gia! Aku ngaku salah!" ratap Aldo melengking, berusaha meraih ujung gaun Gia namun tangannya ditahan cepat oleh polisi. "Siska yang ngeracunin otak aku! Dia yang suruh aku manipulasi laporan itu buat beli mobil baru!"
Di balik pilar tak jauh dari sana, Siska yang tadinya hendak mengintip langsung menutup mulutnya panik. Begitu mendengar namanya diseret-seret, Siska berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar gedung, takut ikut terseret borgol polisi.
Gia berdiri tegap kembali, merapikan blazernya santai. "Nasi sudah jadi bubur, Manajer Aldo. Kamu yang memilih jalan ini, jadi nikmati proses hukumnya."
"Giaaaa! Baji***n kamu Gia!" teriak Aldo emosi, berubah dari memohon jadi memaki saat polisi mulai menyeret tubuhnya menuju lift service. Suara teriakan dan makian Aldo memantul di sepanjang koridor, disaksikan oleh belasan karyawan yang menatapnya dengan pandangan jijik dan puas.
Elkan yang berdiri di samping Gia mengusap bahu wanita itu pelan. "Puas bales dendamnya?"
Gia menghela napas panjang, ada kepuasan luar biasa yang memenuhi dadanya, namun ia tahu ini baru awal dari pembersihan total. "Belum. Orang kayak Aldo dan ibunya nggak bakal kapok sebelum bener-bener menyentuh dasar jurang."
"Sesuai perintahmu, Nyai," bisik Elkan dengan nada bercanda yang renyah, membuat Gia refleks meliriknya tajam.
"Stop panggil yang aneh-aneh," dengus Gia.
Ponsel Elkan bergetar. Pria itu melihat layarnya sejenak lalu menatap Gia dengan raut wajah yang mendadak berubah serius.
"Gia, Nico baru saja kabur dari gedung lewat pintu darurat sebelum polisi sempat menahannya," ujar Elkan datar, matanya memancarkan kilat berbahaya. "Dan laporan dari intel ku... dia baru aja menelepon Siska."
Gia memicingkan mata. "Nico dan Siska? Mau bikin manuver konyol apa lagi mereka?"
"Nico panik karena perusahaannya terancam bangkrut total gara-gara audit kita," lanjut Elkan pelan, melangkah makin dekat ke arah Gia hingga jarak mereka tersisa beberapa senti. "Dia tahu satu-satunya cara buat menjatuhkanmu adalah dengan menyerang dari celah terlemah."
Gia tertawa sinis. "Celah terlemah? Aku nggak punya celah terlemah."
Elkan menatap lurus ke dalam manik mata Gia, tangannya terangkat pelan, menyelipkan sehelai rambut Gia ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Celah terlemahmu adalah rahasia identitas keluargamu yang dipegang mantan ibu mertuamu," bisik Elkan serak. "Siska baru saja meluncur ke rumah sakit tempat ibunya Aldo dirawat. Mereka mau menjual informasi itu ke Nico media sore ini juga."
Jantung Gia berdegup kencang seketika. Rahasia besar keluarga aslinya... yang bisa mengguncang seluruh peta bisnis negara ini.
***
Suasana kamar rawat kelas tiga rumah sakit itu terasa pengap dan berbau karbol menyengat. Ibu Titik terbaring lemah di atas banker dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Wajahnya yang biasa dipenuhi kesombongan kini sayu, keriputnya makin tegas tercetak.
Brak!
Pintu kamar terdorong kasar. Siska melangkah masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat tak berdarah. Tas mewahnya dilempar asal ke atas meja samping tempat tidur.
"Tante! Mas Aldo ditangkap polisi!" jerit Siska hysteris tanpa memedulikan kondisi kesehatan calon ibu mertuanya itu.
Ibu Titik tersentak, matanya membelalak kaget. Ia langsung berusaha duduk meski tubuhnya bergetar hebat. "K-kamu bilang apa, Siska?! Aldo ditangkap?! Nggak mungkin! Anak saya itu manajer sukses!"
"Manajer sukses apanya?!" sentak Siska dengan nada frustrasi. "Laporannya dipalsukan dan Gia ngebongkar semuanya di depan polisi! Mas Aldo diseret pakai borgol di lobi kantor, Tante! Nama baik aku ikut hancur gara-gara kalian!"
"Gia... perempuan iblis itu!" Ibu Titik mencengkeram sprei kasurnya hingga buku-buku jarinya memutih, dadanya kempas-kempis menahan emosi yang membakar. "Dia bener-bener mau ngebantai keluarga kita sampai habis!"
"Nggak cuma itu," desis Siska sambil melipat kedua tangannya di dada, matanya memancarkan kilat kejam. "Tadi di kantor, aku dapet telepon dari Pak Nico pemilik Nico Corp. Dia juga benci setengah mati sama Gia dan Presdir VK Group. Pak Nico nawarin bantuan uang ratusan juta..."
Ibu Titik menelan ludah. "Uang? Buat apa?!"
"Buat beli rahasia besar keluarga Gia yang pernah Tante ceritain ke aku!" Siska menundukkan tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah Ibu Titik. "Pak Nico mau bayar mahal kalau kita punya bukti dokumen atau foto asal-usul Gia sebelum dia nyamar jadi orang miskin. Kita pakai uang itu buat bayar pengacara Mas Aldo!"
Ibu Titik tertegun sejenak. Pikiran liciknya langsung berputar cepat. Rasa dendam pada Gia mengalahkan rasa takutnya pada ancaman hukum.
"Ada..." bisik Ibu Titik dengan senyum jahat yang terukir di bibirnya yang pucat. "Dulu waktu Gia baru pindah ke rumah Aldo, Ibu sengaja geledah tas tuanya. Ibu nemu satu foto lama keluarga aslinya dan lembar sertifikat saham lama yang dia sembunyiin di bawah lipatan baju. Ibu simpan di brankas kecil rumah!"
Siska tersenyum puas. "Bagus! Sekarang juga kita ke rumah sebelum disita total sama pengacara Gia!"
Sementara itu, di dalam mobil eksekutif yang sedang melaju kencang membelah jalanan kota, suasana di dalam kabin terasa sangat dingin. Gia duduk di samping Elkan, matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang menampilkan pergerakan GPS rumah lama Aldo.
"Mobil Nico baru saja terlihat mengarah ke rumah sakit tempat mantan ibu mertuamu dirawat," ujar Elkan datar, jari-jarinya menari di atas layar ponselnya. "Pria itu benar-benar makin nekat setelah perusahaannya diaudit."
Gia menyunggingkan senyum dingin. "Nico pikir dia bisa menjatuhkan saya cuma pakai gertakan foto lama? Dia lupa siapa yang pegang kendali permainan ini."
"Tapi kamu tetap panik kan waktu aku sebut soal rahasia keluargamu tadi?" sindir Elkan halus, menoleh menatap profil samping wajah Gia yang sempurna.
Gia menoleh pelan, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap Elkan. "Aku nggak pernah panik, Elkan. Aku cuma nggak suka ada lalat-lalat sampah yang mengotori nama baik keluargaku."
Elkan terkekeh renyah, tiba-tiba meraih tangan kanan Gia dan menggenggamnya erat di atas pangkuan. Gia sempat tersentak dan hendak menarik tangannya, namun cengkeraman Elkan yang hangat dan protektif membuat gerakan Gia terhenti.
"Selama aku ada di sampingmu, lalat-lalat itu bakal ku pastikan rata sama tanah sebelum sempat menyentuhmu," bisik Elkan dengan suara berat yang menggetarkan dada.