NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di Ujung Tasbih dan Malam Pertama yang Sesungguhnya

Satu minggu telah berlalu sejak malam mencekam di mana Kenzie Al-Ghazali bertaruh nyawa di bawah terjangan peluru. Di balik dinding-dinding kokoh istana berarsitektur neo-gothic itu, perubahan besar sedang terjadi sebuah metamorfosis sunyi yang tidak pernah disangka oleh siapapun di dalam sindikat dunia bawah.

Luka tembak di bahu dan sayatan di perut Kenzie berangsur-angsur membaik. Meskipun ia masih harus mengenakan perban pelindung dan bergerak dengan hati-hati, kekuatan fisik pria itu sudah jauh pulih. Namun, perubahan paling drastis bukanlah pada fisiknya, melainkan pada jiwanya.

Sore itu, cahaya matahari temaram menyusup melalui celah tirai kamar utama. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tenang.

Di atas karpet beludru tebal, Kenzie duduk bersila dengan mengenakan celana bahan hitam longgar dan kaus polos berwarna senada. Di hadapannya, Aisyah Humaira duduk bersimpuh sambil membuka sebuah kitab kecil panduan salat dan tajwid. Di samping mereka, sebuah Al-Qur'an bersampul cokelat tua tergeletak rapi di atas meja kecil.

"Perhatikan makhraj hurufnya, Tuan," suara Aisyah terdengar lembut, membimbing dengan penuh kesabaran. "Bukan ha, tapi ha keluar dari tenggorokan bagian tengah. Coba tirukan saya: Bismillahir-rahmanir-rahim."

Kenzie menatap lurus ke arah Aisyah. Meskipun wajah sang istri tertutup cadar, binar ketulusan di sepasang mata biru jernih itu begitu menghujam hatinya. Dengan suara berat dan bergetar, Kenzie mencoba melafalkan kalimat basmalah tersebut.

"B-Bismillahir-rahmanir-rahim..." ucap Kenzie terbata-bata.

Aisyah tersenyum di balik cadarnya. "Nah, begitu. Bagus sekali, Tuan. Pelan-pelan, yang penting niat dan ketulusannya sampai kepada Allah."

Kenzie menghela napas panjang, lalu meletakkan kitab di pangkuannya. Ia menatap telapak tangannya sendiri tangan yang selama belasan tahun dikenal paling kejam di dunia hitam, tangan yang memegang senjata dan mengalirkan darah banyak orang.

"Aisyah..." panggil Kenzie lirih, suaranya sarat akan beban masa lalu. "Kadang aku merasa... dosaku terlalu banyak. Apakah Allah benar-benar akan menerima taubat dari orang sepertiku? Orang yang sepanjang hidupnya berjalan di jalan kegelapan?"

Aisyah mendongak, menatap lekat-lekat manik mata gelap suaminya. Tanpa ragu, ia merapatkan duduknya, lalu berkata dengan suara penuh keyakinan yang menenangkan.

"Dosa manusia seluas lautan, Tuan... tapi rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada langit dan bumi," tutur Aisyah lembut. "Pintu taubat tidak pernah tertutup bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin kembali. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa orang yang bertaubat dari dosanya adalah seperti orang yang tidak berdosa sama sekali. Yang terpenting adalah langkah awal Anda hari ini."

Kata-kata itu meluncur bagaikan embun sejuk yang membasahi tanah gersang di dalam hati Kenzie. Untuk kesekian kalinya, pertahanan terakhir mafia itu runtuh. Selama ini ia mencari kekuasaan untuk menutupi rasa kosong di dadanya, tetapi kedamaian yang sesungguhnya baru ia temukan di hadapan seorang gadis Hafizah yang membimbingnya mengenal Sang Pencipta.

Kenzie mengangguk perlahan. "Ajari aku... ajari aku cara bersujud, Aisyah. Aku ingin membersihkan diriku."

Malam itu, di bawah bimbingan sang istri tercinta, Kenzie Al-Ghazali menunaikan salat pertamanya. Di atas sajadah yang sama, seorang penguasa dunia bawah yang tadinya ateis dan kejam kini bersujud dengan khusyuk, menumpahkan segala penyesalan dan air mata di hadapan Allah SWT.

Jam dinding antik menunjukan pukul sebelas malam. Suasana istana sudah sunyi senyap. Para pengawal berjaga di pos masing-masing, memastikan keamanan di sekitar bukit tetap steril.

Di dalam kamar utama, lampu-lampu gantung telah diredupkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan.

Aisyah berdiri di depan meja rias, baru saja selesai merapikan mukena dan sajadahnya. Ia melirik sekilas ke arah ranjang king-size. Selama berminggu-minggu sejak malam pernikahan mereka yang penuh ancaman dan air mata, Aisyah selalu tidur di sofa kecil atau di atas sajadah, sementara Kenzie menguasai seluruh ranjang besar tersebut—atau lebih sering menghabiskan malam di ruang kerjanya.

Namun malam ini berbeda.

Kenzie sudah berbaring di atas ranjang. Meskipun lukanya sudah mulai menutup, pria itu tampak ragu-ragu ketika melihat Aisyah masih berdiri diam di dekat sudut kamar.

Kenzie bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Ia menepuk sisi kosong kasur di sebelah kirinya dengan gerakan pelan.

"Aisyah..." panggil Kenzie dengan suara beratnya.

Aisyah menoleh, jantungnya mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia berjalan mendekat dengan langkah ragu, berdiri di sisi ranjang sambil menundukkan pandangannya.

"Ada apa, Tuan?" tanya Aisyah pelan.

Kenzie menatap wanita yang kini sah menjadi istrinya itu dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah dan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

"Sampai kapan kau akan terus tidur di sofa atau di atas sajadah itu?" tanya Kenzie lirih. "Ini kamarmu juga. Dan aku... suamimu."

Aisyah terdiam sejenak. Ia meremas jemarinya sendiri di balik lengan abayanya. "Saya... saya tidak apa-apa tidur di sana, Tuan. Saya terbiasa..."

"Tapi aku tidak terbiasa melihat istriku tidur di lantai dingin sementara aku tidur sendirian di atas ranjang besar ini," potong Kenzie tegas namun lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya, meraih pergelangan tangan Aisyah dengan sangat hati-hati agar tidak membebani bekas lukanya. "Kemari... duduklah."

Dengan sedikit keraguan, Aisyah menuruti permintaan suaminya. Ia duduk di tepi ranjang, menjaga jarak aman, dengan cadar hitam yang tetap melekat sempurna menutupi wajahnya.

Kenzie mengamati istrinya lekat-lekat. Ada rasa hormat yang luar biasa besar di dalam dadanya terhadap wanita di hadapannya ini.

"Aisyah," panggil Kenzie sekali lagi, suaranya terdengar serak. "Aku tahu, pernikahan kita berawal dari cara yang sangat buruk. Aku memaksa, aku mengancam ayahmu, dan aku memperlakukanmu bagaikan tawananku di neraka ini. Tapi... demi Allah yang baru saja kuakui sebagai Tuhanku malam ini... aku ingin mengubah segalanya."

Aisyah mendongak. Sepasang mata birunya menatap manik mata Kenzie yang memancarkan ketulusan yang tidak dibuat-buat.

"Aku tidak meminta langsung untuk dicintai olehmu," lanjut Kenzie dengan suara bergetar. "Karena aku sadar, aku tidak pantas mendapatkan wanita sebaik dan sesuci dirimu. Tapi... izinkan aku belajar menjadi suami yang bertanggung jawab. Izinkan aku melindungimu, bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai ratu di istana ini."

Air mata haru perlahan menetes di pipi Aisyah. Segala kepahitan, rasa takut, dan air mata yang ia tumpahkan selama berminggu-minggu di istana ini seolah terbayar lunas oleh kejujuran dan perubahan drastis yang ditunjukkan oleh suaminya.

Aisyah tersenyum tulus di balik cadarnya. Ia mengangguk perlahan. "Saya sudah memaafkan semuanya, Tuan... Kenzie. Sebagai seorang istri, kewajiban saya adalah mendampingi Anda dalam taat kepada Allah."

Kenzie menghela napas lega, seolah beban berton-ton di pundaknya mendadak terangkat. Ia menepuk kasur di sampingnya. "Berbaringlah di sini, Aisyah. Istirahatlah dengan nyaman. Aku berjanji, tidak akan ada tangan jahat yang bisa menyentuhmu selama aku masih bernapas."

Aisyah perlahan membaringkan tubuhnya di sisi kiri ranjang yang luas itu. Jarak di antara mereka masih terpaut beberapa jengkal, tetapi kehangatan yang merambat di udara malam itu terasa begitu nyata.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka berdua, Kenzie Al-Ghazali dan Aisyah Humaira berbagi satu ranjang yang sama bukan sebagai penjahat dan tawanan, bukan pula atas dasar paksaan dan ancaman, melainkan sebagai sepasang suami istri yang disatukan oleh takdir, kesabaran, dan cahaya hidayah yang menyinari hati di penghujung badai.

Di dalam keheningan malam yang damai, Kenzie mematikan lampu tidur utama, membiarkan cahaya bulan menemani malam pertama mereka yang sesungguhnya sebuah awal baru dari babak kehidupan yang jauh lebih indah di jalan Allah.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!