Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Panggil Aku Sayang
Sarapan pertama mereka dimulai dengan dua telur pecah di atas kompor.
Nathan menatap kuning telur yang mengalir seperti sedang menganalisis kegagalan sistem. Keira berdiri di pintu dapur, menahan tawa.
"Jangan bilang apa-apa."
"Aku belum bicara."
"Wajahmu berisik."
Keira mengambil spatula dan menyelamatkan telur ketiga. Mereka akhirnya makan roti panggang, buah, serta telur yang bentuknya tidak seragam. Nathan duduk di seberangnya dengan rambut belum rapi. Pemandangan itu terasa lebih intim daripada makan malam mahal.
"Besok aku bisa lebih baik," katanya.
"Besok kita masak bersama."
Satu kalimat itu membuat Nathan tersenyum sepanjang perjalanan ke kantor.
Di lampu merah, Nathan bertanya apakah Keira selalu bangun sepagi itu. Pertanyaan sederhana berubah menjadi percakapan tentang enam tahun hidup sendirian. Keira terbiasa menyiapkan pakaian malam sebelumnya, menyimpan uang tunai untuk keadaan darurat, dan tidak menerima paket tanpa memeriksa pengirim.
"Ko Fabian pernah mengirim terlalu banyak hadiah," jelasnya. "Bunga, parfum, tiket, buku seni. Semua kukembalikan."
"Kenapa tiket?"
"Dia ingin aku menemaninya ke Singapura. Katanya sebagai keluarga. Setelah pengakuannya, aku tidak percaya lagi pada alasan itu."
Nathan menggenggam kemudi lebih erat. "Dia masih menyimpan fotomu?"
"Dulu layar ponselnya memakai foto kami saat aku masuk universitas. Aku minta diganti."
"Dia menggantinya?"
"Di depanku. Aku tidak tahu setelahnya."
Keira memandang profil Nathan. "Jangan menjadikan ini perlombaan siapa yang lebih posesif. Aku tidak butuh penjaga baru."
"Aku tahu."
"Yang kubutuhkan adalah pasangan yang mendengar kata tidak."
Nathan mengangguk. "Kalau aku gagal, katakan saat itu juga. Jangan menunggu sampai membenciku."
Keira tidak menjanjikan sesuatu yang terlalu besar. Ia hanya berkata akan mencoba, dan bagi Nathan jawaban itu tampak cukup.
Malamnya, Keira keluar dari kamar mandi dan baru sadar pakaian tidurnya tertinggal. Ia membuka pintu sedikit.
"Nathan."
Laki-laki itu langsung mendekat. "Kenapa?"
"Ambilkan kaus dari lemari. Yang abu-abu."
Beberapa detik kemudian, sehelai kaus hitam masuk melalui celah.
"Ini punyamu."
"Yang abu-abu terlalu tipis."
"Kau tidak berhak memilih."
"Baik. Mau kutukar?"
Keira melihat kaus besar itu, lalu menutup pintu. "Sudah. Pergi."
Saat keluar, ujung kaus mencapai pertengahan pahanya. Nathan yang duduk di ranjang membeku dengan ponsel di tangan.
"Jangan menatap."
"Aku sedang berusaha."
Keira mengambil laptop dari meja untuk mengalihkan perhatian. Layar terakhir masih membuka folder referensi bertanda HT. Ia buru-buru menutupnya, tetapi Nathan melihat ilustrasi laki-laki berjas dengan dua kancing terbuka.
"Kau menggambar itu untuk Nebula?"
"Proyek lepas."
"HT itu apa?"
"Hak terbatas."
"Nama folder yang buruk."
"Jangan sentuh perangkatku."
"Aku ingat aturan." Nathan meletakkan ponsel. "Tapi aku boleh bertanya pekerjaan istriku."
Keira menghela napas. "Aku membuat ilustrasi karakter laki-laki untuk gim dan komik perempuan dewasa. Tidak semuanya sopan. Itu pekerjaan, bukan pengakuan selera pribadi."
"Aku tidak menghakimi."
"Matamu terlihat terlalu tertarik."
"Aku tertarik pada semua hal tentangmu."
Nathan bertanya jenis karakter apa yang paling sering dipesan klien. Keira menjelaskan bahwa pasar perempuan dewasa menyukai laki-laki dingin dalam setelan rapi, tatapan tajam, dan sifat protektif yang berubah lembut hanya pada satu orang.
"Seperti aku," simpul Nathan.
"Seperti fantasi yang dibayar klien."
"Aku bisa menjadi referensi hidup."
"Kau terlalu percaya diri."
Nathan berdiri di depan lampu meja, membuka kancing manset, lalu menggulung lengan dengan gerakan sengaja. "Sudut ini?"
Keira melempar bantal. Nathan menangkapnya sambil tertawa. Namun saat ia mengembalikan bantal ke ranjang, jarak di antara mereka kembali menyempit dan kelakar itu berubah menjadi tarikan yang lebih sunyi.
Jawaban itu mengubah udara di kamar. Nathan mendekat perlahan, memberi cukup waktu bagi Keira untuk mundur. Ia tidak mundur.
Jemari Nathan menyentuh ujung lengan kausnya sendiri di tubuh Keira. "Boleh?"
Keira mengangguk.
Ciuman pertama malam itu ringan, lalu kembali dengan tekanan lebih jelas ketika Keira mencengkeram bahunya. Nathan selalu berhenti setengah ketukan sebelum melanjutkan, menunggu tubuh Keira menjawab. Tidak ada tergesa, hanya napas yang mulai tidak teratur dan kain kaus yang hangat di bawah telapak tangan.
"Ci," bisiknya di dekat bibir Keira. "Panggil aku Sayang."
"Namamu Nathan."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, jangan meminta nama baru."
Nathan mencium sudut rahangnya. "Sekali saja."
Keira menahan suara saat bibir itu menyentuh lehernya. "Kau sangat merepotkan."
"Katakan, lalu aku berhenti meminta."
"Bohong."
"Benar. Aku akan meminta lagi besok."
Kejujuran itu membuat Keira tertawa di tengah napas pendek. Nathan menatapnya begitu dekat, tanpa senyum sekarang.
"Sayang," ucap Keira sangat pelan.
"Hmm, Sayang."
Nathan menjawab seolah telah menunggu kata itu bertahun-tahun. Kening mereka bersentuhan. Keira merasakan detak di leher Nathan sama cepat dengan miliknya.
Mereka berhenti sebelum melewati batas yang belum dibicarakan. Di laci samping ranjang sudah ada perlindungan, tetapi keduanya pernah sepakat belum ingin memiliki anak dan tidak akan membuat keputusan tubuh dalam keadaan terburu-buru.
Nathan menarik selimut sampai bahu Keira. "Aku tidur di sini?"
"Kau sudah memindahkan pakaianmu."
"Aku tetap bertanya."
"Tidurlah."
Lampu padam. Setelah hampir satu jam, Keira belum terlelap. Ia bangun mengambil headphone peredam suara dari kamar kecil, lalu kembali dengan ponsel.
"Kau mendengarkan apa?" tanya Nathan dari gelap.
"Suara hujan."
"Di luar juga hujan."
"Yang ini tidak disertai klakson Jakarta."
Nathan mengulurkan tangan. "Boleh dengar?"
"Besok."
Keira memasang headphone dan membuka rekaman white noise yang aman. Di bawahnya, beberapa berkas audio ASMR untuk riset proyek masih terlihat. Ia mengunci layar sebelum Nathan sempat membaca judul.
Ketika napas Keira sudah teratur, Nathan melirik ponselnya di meja. Folder HT dan daftar audio itu mengusik rasa ingin tahunya. Ia meraih perangkat tersebut, lalu berhenti sebelum jari menyentuhnya.
Aturan mereka jelas.
Nathan menarik tangannya kembali, tetapi matanya tetap pada tiga huruf di layar yang belum sepenuhnya padam.
HT.
Besok, ia akan bertanya sampai Keira menjawab.
Namun malam itu ia memilih mematikan layar ponsel Keira agar baterainya tidak habis. Ia meletakkannya tepat di tempat semula, dengan sudut yang sama terhadap lampu. Batas kecil itu mungkin terasa konyol bagi orang lain, tetapi bagi mereka ia adalah ujian pertama.
Nathan kemudian mematikan lampu meja dan berbaring tanpa merapat. Beberapa menit kemudian, tangan Keira yang sedang tidur bergerak mencari sisi hangat. Ujung jarinya menyentuh pergelangan Nathan dan menetap di sana. Nathan menahan napas, tidak menggenggam balik, takut membangunkannya.
Ia membiarkan sentuhan ringan itu menjadi jawaban yang tidak Keira ucapkan saat sadar.
Untuk pertama kalinya sejak kembali, Nathan tertidur tanpa memeriksa jam ataupun pesan. Tangan mereka tetap bersentuhan sampai cahaya pagi masuk.