NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengelabuhi

Bab. 09

# Mengelabuhi #

"Ya...Tuhan, lindungi kami semua dari hantu wanita ini." Bisik Sora yang diamini oleh BI Muna.

Dalam upayanya merayu dan mengatur Ino, Sora sebisa mungkin menjaga setiap tata bahasanya. Ia tak ingin Ino tersinggung dan berakhir dengan tangisan lagi. Sora berusaha keras menahan Ino agar tetap berada di dalam kamar selama menginap di rumahnya. Jangan sampai pria itu bertemu kembali dengan ayah dan bundanya.

Kemarin, ayahnya mungkin bisa terpedaya. Namun, untuk selanjutnya, alibi itu belum tentu berhasil untuk kedua kalinya, mengingat sang ayah adalah sosok yang berwawasan luas.

Bukankah sangat aneh jika seseorang berbadan sekekar Ino mengaku sebagai wanita tulen? Meskipun Ino sempat berdalih ada kelainan genetik yang membuat tubuh dan suaranya berbeda dari gadis-gadis lain, bagi Sora itu adalah alasan absurd yang melampaui luar angkasa.

Di sisi lain, Bi Muna tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Ino yang memainkan gaun bak seorang putri Inggris. Wajah Ino memang terlihat cantik mengenakan gaun dan wig, meski tanpa pulasan make up. Namun, melihat bahu dan dada bidangnya, lengan berotot, panggul sempit, serta bulu kaki yang lebat bagai hutan rimba, Sora menatapnya dengan perpaduan rasa geli dan ngeri.

Belum lagi bulu ketiaknya yang halus seperti habis di smoothing benar-benar khas pria maskulin.

"Bi Muna saja setuju kalau aku cantik. Terus, kenapa kita nggak boleh bergabung sarapan bersama ayah dan bundamu? Bukannya aku harus menyapa mereka sebagai tamumu yang penuh sopan santun, Sora? Bahkan ayahmu menyuruhku memanggilnya Paman. Aku janji tidak akan membuat masalah. Toh, aku juga tidak berniat merebut posisi mu di rumah ini..."

Pernyataan Ino membuat Bi Muna kembali tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perutnya yang kram. Sebenarnya, Sora pun ingin sekali tertawa lepas, tetapi ia berusaha menahannya sebisa mungkin. Ia memberi isyarat agar Bi Muna berhenti tertawa, sampai sebuah kejadian membuat Sora akhirnya lepas kontrol.

Wuuusss... AAAAA!

Angin kencang mendadak berhembus melewati pintu balkon yang dibuka Ino sejak petang tadi. Angin itu menerbangkan gaun putih pendek yang dikenakan Ino. Secara refleks, Ino menangkup bagian depan roknya, menirukan adegan legendaris Marilyn Monroe yang diterpa angin.

Sora menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya naik-turun tanpa suara, membuat Ino dan Bi Muna memandangnya keheranan. Bi Muna beranjak dari duduknya dan menanyakan apa yang terjadi pada sang nona, mengira gadis itu mendadak menangis.

Namun, sebelum tangan Bi Muna menggapai bahunya, Sora tiba-tiba merubuhkan badan ke samping. Tawa yang sedari tadi ditahannya setengah mati akhirnya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak hingga meneteskan air mata.

"Bi... apa Sora punya penyakit gila yang suka kambuh?"

Pertanyaan polos Ino membuat suasana semakin riuh. Bi Muna ikut tertawa lepas, sementara Ino melongo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dialah sumber kericuhan itu, tetapi ia sendiri tidak sadar telah membuat kedua orang di hadapannya tertawa tanpa henti.

"Aww... aww... Perut ku kram. Udah... udah... Bi, tolong bilang ke Bi Yuli buat siapin sarapan satu porsi lagi untuk Ino. Bi Muna boleh lanjut pekerjaan yang lain dulu. Setelah Ayah berangkat, baru kita bahas lagi tentang orang pintar itu. Aku mau siap-siap sekalian briefing ke Ino dulu."

Bi Muna mengusap air mata di ujung matanya, lalu berpamitan untuk mengatur segala keperluan Sora dan Ino.

Karena enggan mandi pagi, Sora dengan cerdik menyuruh Ino mandi terlebih dahulu jika ingin sarapan bersama orang tuanya. Ino menurut. Sora kemudian masuk ke walk-in closet untuk menyiapkan pakaian.

Karena sudah kepalang basah menyetujui penyamaran Ino sebagai teman wanitanya, Sora mengambil setelan over jeans dengan atasan crop top oversize untuk menutupi kesan maskulin Ino. Sora harus menyamarkan bagian kaki dan lengan yang berotot. Ia juga mengambil bra serta dua pasang kaus kaki yang akan digunakan sebagai ganjalan.

"Ino... Ino... buruaaannn!"

Sora mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Sudah lebih dari 30 menit Ino berada di dalam dan belum juga selesai. Dari dalam, terdengar sahutan Ino yang menyuruh Sora bersabar karena ia memang membutuhkan waktu lama untuk ritual mandinya. Sora kembali memanggil dan mengingatkan bahwa orang tuanya sudah menunggu di meja makan.

Lima menit kemudian, Ino keluar dengan handuk melilit kepala dan mengenakan kimono mandi yang memperlihatkan dada bidangnya. Pemandangan pagi yang indah, jika saja Sora tidak segera tersadar bahwa sosok di depannya ini adalah hantu wanita yang merasuki Axcelino Pierce.

"Nih, cepat pakai bajumu. Semoga muat. Aku belum pernah pakai ini karena ukurannya kebesaran banget pas beli online, jadi jangan khawatir. Nanti siang kita ke mall untuk beli baju barumu. Eh... eh... pakai di kamar mandi! Jangan di sini!"

Sora dengan sigap mendorong tubuh Ino kembali ke kamar mandi, sebelum ia sempat melepas kimono. Untung saja ia cepat, kalau tidak, Ino pasti sudah melemparkan kimono mandinya begitu saja di hadapan Sora. Hantu wanita itu benar-benar tidak menganggap tubuh Axcel sebagai tubuh pria!

"Soraaa... baju ini kekecilan di badanku... Perutku terasa dingin, tahu! Aku lebih suka pakai dress. Aku lihat kamu punya banyak baju tidur berukuran besar seperti kemarin. Kan aku bisa pakai itu saja."

Ino mengeluh karena pakaian pilihan Sora tak sesuai seleranya. Ia terus-menerus menarik hoodie crop top yang dikenakannya demi menutup area pusar. Sora menggeleng-gelengkan kepala. Ia tertawa dalam hati, berpikir bahwa hantu yang merasuki Axcel ini pasti arwah hantu kuntilanak yang hobi memakai daster kedodoran.

Sora menarik tangan Ino dan memintanya duduk di kursi meja rias. Ia melepaskan handuk di kepala Ino, mengusapnya pelan, lalu mengeringkan rambut tersebut menggunakan hairdryer. Sambil menyisirnya perlahan, Sora diam-diam mengagumi rambut Ino yang halus dengan gradasi warna putih, abu-abu, dan perak. Kombinasi yang langka dan tampak sangat alami.

"Coba berdiri. Lihat deh, kamu keren banget pakai outfit ini. Kelihatan centil! Sini, lihat model-model di majalah ini. Kalau dibandingkan sama kamu, mereka kalah jauh. Masih keren kamu, Ino. Apalagi perut langsingmu ini, asal kamu nggak memamerkan otot, kelihatan menggoda banget sebagai cewek."

Ino tersipu malu mendengar pujian Sora. Ia memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri, mengamati pantulan bayangannya di cermin. Beruntung otot perut Ino tidak begitu kentara, sehingga tampilan di sekitar pusarnya masih aman. Ino meraba perutnya dengan raut bangga.

"Mmm... betul katamu. Ah... aku punya ide! Karena Sora sangat suka perutku, aku mau pasang piercing di pusarku nanti pas kita ke mall, ya..."

Sora melongo. Pujiannya malah memprovokasi Ino untuk merusak tubuh Axcel. Sora harus memutar otak agar Ino membatalkan niat nekatnya itu. Jangan sampai tubuh berharga milik sang sahabat dilukai oleh arwah ganjen ini. Sora bergegas menyuruh Ino memakai wignya kembali dan mengajak turun. Sementara itu, Sora sendiri hanya sempat menyisir rambut tanpa mengganti piyama maupun mencuci muka.

"Hooaaaaaammm... Selamat pagi, Bunda... Ayahhh... Hari ini kita sarapan apa?"

Nyonya Mubis berdecak sebal melihat putri tunggalnya belum mandi di jam segini dan tampil lusuh. Belum sempat memperkenalkan Ino, Sora sudah lebih dulu mendapat ceramah pagi dari sang bunda. Tak biasanya Sora seberantakan ini. Nyonya Mubis terus mengomel sampai Tuan Mubis menyentuh lengannya halus untuk menghentikan omelan tersebut, mengingat ada tamu yang ikut sarapan.

"Ah... Maafkan Tante, ya. Kamu jadi harus melihat omelan Tante pagi-pagi. Lihat Sora, temanmu saja bisa tampil serapi ini sejak pagi. Kenapa kamu sebagai tuan rumah malah memberi contoh yang tidak baik? Sini, Nak, duduk. Siapa namamu? Apa kamu berdarah campuran? Badanmu tinggi sekali untuk ukuran gadis lokal."

Ino tersenyum malu-malu. Sambil menyelipkan helai rambut kirinya ke belakang telinga, ia duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Mubis. Ino lalu meraih tangan Sora dan menariknya untuk duduk di sebelah. Belum apa-apa, Sora sudah dibanding-bandingkan dengan Ino, padahal dialah yang merias pria itu. Lagipula orang tuanya tidak tahu saja kalau semalaman Sora tidak bisa tidur gara-gara ulah tamunya.

Suasana sarapan di meja makan terasa hangat. Kedua orang tua Sora sangat harmonis, meski sesekali lontaran kata Nyonya Mubis tetap menyelipkan teguran tajam untuk Sora. Namun, Sora maupun Ino tidak merasa terintimidasi; mereka tahu begitulah wujud kepedulian seorang ibu.

Di tengah-tengah perbincangan hangat, tanpa sadar Ino menggaruk dadanya yang tersumpal dua pasang kaus kaki. Dengan cepat Sora memukul tangan Ino sebelum orang tuanya menyadari kebohongan mereka.

"Soraaa... Ini gatal di dadaku. Tidak nyaman. Boleh aku lepas?" bisik Ino.

Sora kembali memukul pelan tangan Ino yang sibuk mengusap dada dan berusaha mengeluarkan ganjalan bra. Sora menatap tajam, menyuruh Ino bertahan sebentar lagi.

Waktu keberangkatan Tuan dan Nyonya Mubis pun tiba. Sora dan Ino mengantar mereka sampai ke halaman depan hingga mobil melaju menghilang dari pandangan. Barulah setelah itu Sora bisa bernapas lega. Kini tinggal mereka berdua di rumah bersama dua satpam, Bi Muna, dan tiga asisten rumah tangga lainnya. Sora segera meminta Bi Muna mengumpulkan seluruh staf di ruang tamu.

TIIING...

"Bi... aku baru saja transfer 10 juta. Tolong Bi Muna bagikan ke semuanya, dan suruh mereka tutup mulut, ya. Kalian perhatikan wajah temanku ini baik-baik. Bi Muna yang akan beri tahu siapa dia sebenarnya, jadi dengarkan baik-baik. Kalau ada yang tidak mau kerja sama, bakal aku pecat. Dan kalau ada yang membocorkan rahasia ini... kalian bisa kukirim secepatnya ke surga. Paham?"

Semua staf yang berdiri di hadapan Sora dan Ino mengangguk patuh. Mereka mengucap terima kasih atas bonus mendadak tersebut. Sora memang terkenal loyal. Ia jarang menghabiskan uang untuk berbelanja barang pribadi, tetapi sangat royal memberi bonus uang atau oleh-oleh kepada karyawan rumahnya. Strategi yang ampuh agar mereka selalu berpihak padanya dan tidak mengadu yang aneh-aneh pada sang bunda.

---

"Nonaaa... Nona... bangun. Kita sudah sampai."

Sora yang tertidur pulas di bahu Ino hanya sedikit menggeliat, lalu kembali memeluk perut Ino dengan erat. Ia tampak sangat kelelahan, terlebih lagi Sora tidak pernah begadang seumur hidup. Ditambah lagi, sepanjang perjalanan Ino terus membelai rambutnya dengan manja, membuat tidurnya makin terlelap.

Bi Muna kembali memanggil sambil melongok ke kursi belakang dan menggoyang-goyangkan tubuh Sora. Karena merasa tidak enak pada sopir taksi online, Ino akhirnya memutuskan untuk membopong tubuh Sora keluar dari mobil.

"Bi... bukannya tadi kita mau ke mall? Tapi kok malah ke rumah kuno ini? Rumah siapa ini, Bi?"

Bi Muna tertawa canggung memikirkan alasan yang tepat. Seharusnya Nonanya yang bertugas mengelabui Ino agar mau bertemu Kakek giok untuk pengobatan, eh... Sora malah tertidur lelap di gendongan Ino, bahkan sempat mendengkur halus.

"Aaa... kemarin kan Nona masuk angin. Jadi kita ke sini mau ikut pengobatan tradisional... Ya, benar! Benar begitu. Nanti sekalian kamu juga ikut dicek, ya. Sebagai perempuan...kita perlu energi spiritual yang kuat biar auranya makin terpancar. Kita sering kok ke sini, hehehe..."

Ino mengangguk polos lalu berjalan masuk mendahului Bi Muna. Bi Muna pun bernapas lega sambil mengelus dada karena berhasil mengarang alasan yang masuk akal.

Saat melangkah ke halaman rumah, Ino yang masih membopong Sora langsung disambut oleh orang-orang berpakaian kuno yang datang tergopoh-gopoh membawa tandu. Dengan sigap, mereka meminta Ino meletakkan Sora di atas tandu untuk segera dibawa ke ruang pengobatan.

Ino menurut saja, sedangkan Bi Muna tak bisa mencegah karena terlanjur memberi alasan bahwa pengobatan ini untuk menyembuhkan nonanya terlebih dahulu. Mereka berdua mengekor di belakang tandu hingga masuk ke ruang pengobatan.

"AAWWWW.... SIAPA YANG BERANI NGINJEK PERUTKU, WOYYY?!"

⭐⭐⭐⭐⭐

*Aduh, gara-gara siapa nih perut Sora mendadak terhimpit sampai menjerit begitu? 😱 Apakah ritual pengobatan Kakek giok bakal membongkar rahasia Ino, atau malah bikin suasana makin kacau dan kocak? Yuk, lanjut ke bab berikutnya buat tahu nasib Sora dan rahasia besar Axcel! Jangan lupa tinggalkan jejak seperti vote dan komen ya, biar makin semangat updatenya! ✨*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!