Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.
Pagi-pagi sekali, mobil hitam SUV sudah membelah jalanan. Di dalam mobil, suasana terasa membeku. Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, sementara Teressa sibuk bersolek di jok belakang sambil sesekali melirik sinis ke arah kakaknya.
Perjalanan menempuh waktu hampir dua jam hingga mobil akhirnya melaju memasuki sebuah gerbang besi tempa yang menjulang tinggi. Begitu melewati halaman depan yang luar biasa luas, mata Ruby dan Teressa sama-sama membelalak. Di hadapan mereka berdiri sebuah mansion megah berarsitektur klasik modern yang sangat fantastis.
"Wah... Pa, ini rumah siapa? Megah banget!" seru Teressa takjub, matanya berbinar melihat air mancur besar dan deretan mobil mewah yang terparkir rapi.
"Ini rumah kawan lama Papa. Sudahlah, ayo turun," jawab Papa singkat.
Mereka bertiga disambut hangat oleh tuan rumah dan dipersilakan duduk di ruang tamu yang begitu luas dan elegan. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berwibawa duduk di hadapan mereka bersama seorang pria muda berparas dingin dan berkarisma tajam.
Setelah berbasa-basi sejenak, Papa berdeham, mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius. "Ruby, Teressa... Papa membawa kalian ke sini bukan sekadar untuk berkunjung."
Ruby menaikkan sebelah alisnya, sementara Teressa menatap Papanya bingung.
"Papa dan Om Frans sudah sepakat untuk menjodohkan salah satu dari kalian," lanjut Papa tenang sambil menatap pria muda di depannya. "Beliau mencari calon istri untuk putra tunggalnya ini."
Suasana ruangan mendadak hening seketika. Ruby tertegun, tatapannya berpapasan sebentar dengan pria muda beraut wajah tegap dan misterius itu.
Namun belum sempat Ruby mencerna situasi, Teressa sudah berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam.
"Nggak! Teressa nggak mau!" teriak Teressa histeris, menunjuk pria di depannya tanpa sopan santun. "Apa-apaan sih, Pa? Papa kok tega mau main jodoh-jodohin Teressa sama orang asing yang nggak Teressa kenal?"
"Teressa, jaga sikap kamu! Ini demi masa depan kamu juga!" bentaknya, merasa malu di depan temannya.
"Masa depan apa?! Teressa masih muda, Pa! Kenapa harus dijodohkan kayak gini?!" bentak Teressa tak mau kalah, matanya mulai berkaca-kaca karena marah. "Kalau Kak Ruby aja yang dijodohin terserah deh, dia kan emang beban di rumah! Tapi jangan Teressa!"
Sang tuan rumah hanya menyimak pertengkaran itu dengan raut wajah datar, seolah sudah biasa melihat drama keluarga.
Tapi Teressa..." Papa menghela napas berat, lalu tatapannya beralih perlahan ke arah Ruby yang sejak tadi hanya diam membisu di sudut sofa.
Seulas senyum licik mendadak terbit di bibir Teressa. Ia mengusap air matanya dan menunjuk Ruby. "Kak Ruby aja, Pa! tiap hari cuma keluyuran nggak jelas dan bikin malu keluarga. Mending Kak Ruby aja yang dinikahin!"
dia menundukkan kepalanya sejenak dan menepuk bahu Teressa pelan.
"Ya sudah... Papa paham."
Pria itu kemudian menegakkan posisinya, memandang Frans dan putra tunggalnya dengan raut wajah penuh penyesalan yang dipaksakan.
"Frans, maafkan sikap putri bungsu saya," ucap Papa pelan. "Kalau tidak keberatan... bagaimana jika penjelasannya kita alihkan untuk anak sulung saya, Ruby?"
Frans tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah putranya yang sejak tadi menatap Ruby tanpa ekspresi. Pria muda itu hanya memberikan anggukan pelan tanda setuju tanpa keberatan sama sekali.
"Sama saja buat saya," sahutnya santai.
"Yang penting kesepakatan kita tetap berlaku. Hutang perusahaanmu sebesar lima puluh miliar akan saya anggap lunas begitu surat nikah mereka ditandatangani."
Deg.
Bagai disambar petir di siang bolong, dada Ruby terasa sesak luar biasa. Mata Ruby membelalak menatap Papanya tak percaya. Lima puluh miliar? Jadi selama ini... ia hanya dijual untuk membayar hutang?
"Pa...?" suara Ruby tercekat di tenggorokan. "Papa... ngejual Ruby?"
sang papa bahkan tidak berani menatap mata Ruby secara langsung. Ia memalingkan wajahnya ke samping dengan dingin. "Ini demi keluarga kita, Ruby. Lagian kamu di sini tidak akan kekurangan apa pun. Menerima pernikahan ini adalah satu-satunya cara kamu bisa berguna buat Papa."
Teressa tersenyum puas di balik punggung Papanya, melipat tangan di dada sambil menatap Ruby penuh kemenangan.
Ruby terkekeh miris. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos menetes. Rumah yang dingin, tamparan di pipi, dan kini... dirinya dijadikan barang tukar tambah untuk menyelamatkan nama baik pria yang dipanggilnya Papa.