Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 26
Rara dan Alisha sudah sampai di parkiran. Mereka berdua keluar dari mobil dengan tampilan yang memukau. Rara mengenakan dress satinnya, sedangkan Alisha memakai corset mini dress. Mereka lalu masuk ke kelab malam yang terkenal mewah, Velvet & Gold.
Rara langsung menemui Bramantyo, pria yang terikat kontrak temu dengannya. Ia duduk di sofa bersamanya. Lalu ia pesan minuman.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Pelayan itu meletakkan gelas mocktail ke hadapan Rara dan segelas cocktail ke hadapan Bramantyo.
"kamu pesan long island iced tea mas ? Tidak biasanya kamu minum ini ?" tanya Rara heran. Biasanya pria itu selalu pesan mocktail dan baru malam ini ia pesan cocktail.
"soalnya aku lagi pusing. Banyak masalah hari ini," jawab Bramantyo.
"uhhh kasihan," ucap Rara sambil mengusap lembut rambut Bramantyo. Lalu pria itu memberikan senyuman.
Kini Rara dan Bramantyo asyik mengobrol. Mulai pembahasan kerjaan Bram, masalah yang dialami Bram ataupun saling bertukar candaan. Sementara, Rara tidak pernah menceritakan hidupnya atau masalahnya ke orang lain demi menjaga privasinya.
Malam semakin larut dan suasana kelab malam sudah ramai. Alunan musik DJ membuat para tamu menari di tengah ruangan. Seakan melepaskan beban hidup.
"ayo ra, kita ikut nari ke tengah," ajak Bramantyo. Ia berdiri sambil mengulurkan tangannya kearah Rara.
Muka Bram kini tampak merah. Matanya juga tampak sayu. Sepertinya ia mulai terpengaruh oleh minumannya.
Rara pun menanggapi uluran tangan Bram. Mereka melangkah ke tengah ruangan. Berbaur ke tamu yang berdansa riang karena terlena alunan musik.
Sambil membawa gelas cocktailnya yang belum habis, Bram sangat tampak menikmati alunan musik. Sesekali ia minum dengan terus menari.
Rara menari disamping Bram. Saat ini pria itu berdansa sambil merangkul bahunya. Tubuhnya benar-benar berat, karena pria itu mulai tak mampu menyeimbangkan tubuhnya.
"ra temenin aku sebentar ya," ucap Bramantyo.
"kemana ?" jawab Rara.
"tapi rahasia ya. Jangan bilang siapa-siapa," ucap Bramantyo. Walaupun ia sudah mabuk, ia tetap berusaha menghabiskan minum cocktailnya.
"memang mau kemana ?" tanya Rara.
"temenin aku dihotel, kita main sebentar," bisik Bramantyo ke telinga Rara.
"nggak aku nggak mau," jawab Rara. Seketika ia melepas rangkulan Bramantyo.
"loh. Kenapa nggak mau ? Kita main sebentar aja kok, nggak lama. Mau ya ?" ucap Bramantyo. Kondisinya sudah sangat mabuk.
"maaf mas, aku nggak mau," tolak Rara.
"hei..hei..hei, dengerin aku. Nanti aku bayar kamu berkali kali kali lipat kalau kamu mau. Aku berjanjiii," ucap Bramantyo sambil memegang tangan Rara.
Rara langsung menepis tangan Bramantyo. Hal ini membuat Bramantyo mulai emosi dan wajahnya kini sudah memerah.
"kamu ini kenapa ?!! Kamu udah aku bayar, harusnya kamu mau dong !!!," kata Bramantyo penuh emosi. Ia sekarang sulit mengontrol suasana hatinya.
Sontak itu mengagetkan Rara. Ia pun lansung menatap heran Bramantyo.
"dari dulu, aku selalu nggak mau diajak ke hotel, kenapa kamu emosi ? Dasar pria mesum," jawab Rara kesal.
Seketika tamparan melayang ke pipi Rara. Ia tidak sempat menghindar, karena ia tak menyadari kalau Bramantyo akan melakukan ini. Pipinya kini memerah samar. Rasa nyeri perlahan terasa.
"kamu wanita nggak tahu diuntung !!! Beraninya ngelawan bos kamu !!!," ucap Bramantyo.
Rara memilih mengabaikan Pria itu. Ia langsung lari keluar kelab malam sambil memegang pipinya yang sakit. Air matanya seketika mengalir di pipinya. Ia berlari menuju taman yang terdekat dari tempat itu.
Rara duduk dikursi taman sambil mendengarkan tangisannya sendiri. Malam ini adalah malam terburuknya. Ia baru pertama kali menerima perlakuan kasar dari tamunya. Ia memegang pipinya, merasakan nyeri yang mulai menjalar.