NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Sendiri, Nasib Sendiri

Mereka akhirnya tiba di hadapan sebuah motel.

Bangunannya tidak terlalu besar. Cat dindingnya telah lama kehilangan warna, digantikan noda lembap yang merambat seperti urat-urat tua di sepanjang tembok. Di beberapa sudut, jamur hijau tumbuh dengan bebas, seolah tempat itu telah lama berdamai dengan waktu dan memilih untuk membiarkan dirinya perlahan-lahan dimakan usia.

Papan nama motel yang tergantung di atas pintu bahkan tampak sedikit miring.

Bukan tempat yang bisa disebut nyaman.

Namun setelah perjalanan panjang dan pelarian yang nyaris merenggut nyawa, tempat sederhana seperti itu terasa lebih mirip surga daripada penjara yang baru saja mereka tinggalkan.

Rachel berdiri beberapa detik di depan pintu.

Ia menatap bangunan itu dari atas sampai bawah.

"Yah..."

Gadis itu menghela napas panjang.

"Yang penting bukan penjara lagi."

Tanpa banyak komentar, mereka pun masuk.

Pintu kaca di depan motel bergeser dengan suara berderit pelan.

Di dalam jauh lebih sunyi.

Nyaris tidak ada siapa-siapa.

Lampu-lampu kekuningan menggantung di langit-langit, sebagian berkedip seperti sedang berusaha keras untuk tetap hidup. Aroma kayu tua dan kelembapan memenuhi udara. Beberapa sofa lusuh berjajar di ruang tunggu, sementara meja kecil di sudut ruangan dipenuhi majalah lama yang tampaknya sudah bertahun-tahun tidak disentuh.

Reana memandang sekeliling.

Jessica juga begitu.

Dante hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Sementara Kael tetap tenang.

Alesya masih berada dalam gendongannya.

Kepala gadis itu bersandar lemah di dada Kael. Pengaruh obat yang diberikan sebelumnya masih membuat kesadarannya belum sepenuhnya pulih.

Rachel berjalan lebih dulu menuju meja resepsionis.

Meja itu hanya dipisahkan oleh dinding kaca dari ruang belakang. Di bagian bawah kaca terdapat sebuah lubang petak kecil—cukup untuk satu tangan menyelusup dan mengambil atau menyerahkan kunci.

Rachel mengetuk kaca dua kali.

Tok. Tok.

"Hallo."

Tidak ada jawaban.

Rachel mengetuk lagi.

"Permisi."

Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki dari balik ruangan.

Seorang wanita paruh baya akhirnya muncul.

Wajahnya datar.

Tidak tersenyum.

Tidak ramah.

Bahkan tidak terlihat sedikit pun terkejut melihat rombongan orang asing yang tiba-tiba muncul di motelnya.

Wanita itu hanya duduk di kursinya, kemudian menatap Rachel dari balik kaca.

"Tunjukkan kartu identitas."

Rachel mengangkat satu alis.

Tidak ada sapaan selamat datang.

Tidak ada senyum.

Bahkan sekadar basa-basi pun tidak.

Padahal motel itu sedang begitu sepi.

Rachel merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu identitas, ya karena hanya dia yang memilikinya.

Ia memasukkannya melalui lubang kecil di bawah kaca.

Wanita itu mengambilnya.

Memeriksa sebentar.

Lalu mengangkat wajah.

"Berapa kamar?"

Rachel menoleh ke belakang.

Matanya bergerak menghitung satu per satu.

Kael.

Alesya.

Dante.

Jessica.

Darren.

Reana.

Dan dirinya sendiri.

Jari-jarinya ikut bergerak saat menghitung.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

Rachel berhenti.

"Tiga cukup kayaknya."

Namun belum sempat wanita di balik kaca mengatakan apa pun—

"Empat."

Suara Kael terdengar.

Datar.

Singkat.

Rachel langsung menoleh.

"Serius?"

Kael tidak menjawab.

Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah jumlah kamar bukan sesuatu yang layak diperdebatkan.

Rachel menyipitkan mata.

Ia memandang Kael beberapa detik.

Kemudian menghela napas.

"Yaudah."

Ia kembali menghadap resepsionis.

"Kami pesan empat kamar."

Wanita itu tidak bertanya lagi.

Tangannya masuk ke bawah meja.

Beberapa detik kemudian, empat buah kunci diletakkan di atas meja.

Rachel mengambil semuanya, baru setelah itu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari saku celananya. Lalu menyerahkannya kepada wanita itu.

Kemudian ia berjalan menghampiri mereka.

Satu kunci diberikan kepada Kael.

Satu kepada Dante.

Satu kepada Darren.

Dan tanpa banyak bicara, mereka mulai bergerak menuju kamar masing-masing bersama pasangan mereka.

Kael pergi membawa Alesya.

Dante bersama Jessica.

Darren bersama Reana.

Sementara Rachel—

Tetap berdiri di tempat.

Sendirian.

Ia melihat satu per satu punggung mereka menghilang di balik lorong.

Sampai akhirnya...

Sepi kembali.

Rachel berkedip.

Menatap kunci yang tersisa di tangannya.

Kemudian menatap lorong yang sudah kosong.

Wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi tidak percaya.

"Ceritanya aku tidur sendiri nih?"

Tidak ada jawaban.

Rachel menoleh ke arah lorong.

"Tega yaaa, kalian."

Tetap tidak ada jawaban.

Ia bahkan sempat melangkah beberapa langkah mengejar mereka.

"WOI!"

Tak ada satu pun yang menoleh.

Rachel berhenti.

Mulutnya sedikit terbuka.

"Serius ditinggal?"

Ia kemudian berbalik menuju meja resepsionis.

Mungkin setidaknya wanita tadi bisa diajak mengobrol. Namun begitu Rachel sampai di sana, pemandangan yang ia lihat justru membuatnya terdiam. Wanita paruh baya itu telah memasang earphone di kedua telinganya.

Matanya terpejam.

Seolah dunia tidak pernah ada.

Rachel menatapnya lama.

Wanita itu sama sekali tidak bergerak.

Rachel menghela napas panjang.

"Wow."

Ia mengangguk pelan.

"Benar-benar tidak ada yang membutuhkan aku di sini."

Gadis itu menatap kunci kamar di tangannya, Kemudian berjalan perlahan menuju lorong. Langkahnya dibuat sengaja lambat.

Wajahnya murung secara dramatis.

"Kayaknya..."

Ia berhenti sebentar.

Menatap langit-langit motel yang kusam.

"...cuma aku yang diciptakan tanpa jodoh."

Rachel kembali berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu tiba-tiba ia tersenyum sendiri.

"Gapapa."

Ia mengangkat bahu.

"Saat balik nanti, aku bisa cari brondong"

Sesaat ia terdiam.

Kemudian wajahnya kembali murung.

"Tapi tetap aja..."

Rachel menatap pintu kamar yang menunggunya sendirian.

"...sepi juga, sih."

"Awas aja yaaa kalo butuh lagi bantuan ku"

Lorong itu kembali sunyi.

Hanya suara Rachel yang perlahan menghilang di antara dinding-dinding tua.

Setelah selesai mengerutu gadis itu membuka pintu kamarnya dan langsung terlentang di atas Ranjang kayu yang terlihat lusuh. Meskipun tidak senyaman kasur rumahnya, tetap aja lumayan untuk beristirahat sebentar.

***

MALAM HARI!

kamar Kael

Alesya masih terlelap.

Rambutnya sedikit berantakan, beberapa helai menutupi wajahnya. Napasnya terdengar pelan dan teratur, meskipun sesekali keningnya berkerut kecil seperti sedang berada di antara mimpi dan kenyataan.

Kael berdiri di sisi ranjang.

Diam.

Tatapannya jatuh pada wajah Alesya, Untuk beberapa saat, pria itu tidak melakukan apa-apa. Hanya memperhatikannya. Seolah memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja, Tangannya terangkat.

Dengan dua jarinya, Kael menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Alesya. Gerakannya begitu pelan hingga hampir tidak terasa.

Alesya bergeser sedikit.

Kael langsung menghentikan tangannya.

Namun gadis itu tidak terbangun.

Ia hanya menarik napas panjang, lalu kembali tenang.

Kael mengembuskan napas pelan.

"tidur"

Satu kata.

Begitu kecil hingga hampir tenggelam dalam sunyi kamar. Ia kemudian menarik selimut dan menutup tubuh Alesya sampai sebatas bahunya.

Setelah itu, Kael berdiri tegak.

Matanya kembali mengamati ruangan.

Kamar itu sederhana. Sebuah meja kecil, lemari tua, kursi di sudut ruangan, dan jendela yang tertutup tirai kusam. Tidak ada sesuatu yang istimewa.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Kael tidak sedang memikirkan pelarian.

Tidak sedang menghitung kemungkinan serangan.

Tidak sedang menyusun langkah berikutnya.

Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang yang sedang tertidur di hadapannya.

Alesya.

Gadis yang entah bagaimana selalu berhasil membuat ketenangan hidupnya menjadi sesuatu yang mustahil.

Kael menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Tatapannya tetap pada Alesya.

Beberapa menit berlalu.

Alesya tiba-tiba menggerakkan tangannya.

Jari-jarinya meraba sisi ranjang secara perlahan, seolah mencari sesuatu dalam tidurnya.

Kael memperhatikannya.

Tangan gadis itu terus bergerak.

Sampai akhirnya berhenti ketika menemukan ujung jemari Kael.

Alesya menggenggamnya.

Lemah.

Nyaris tanpa sadar.

Kael menunduk menatap tangan mereka.

Ia bisa saja menarik tangannya.

Tapi tidak.

Pria itu hanya membiarkannya.

Wajahnya tetap datar, seperti biasa.

Namun kali ini, tidak ada keinginan untuk melepaskan.

Alesya kembali tenang.

Kael bersandar pada kursinya.

Di luar, angin malam bergerak melewati jendela motel tua itu. Suaranya samar, seperti bisikan yang datang dari tempat jauh.

Dan di dalam kamar kecil itu, dua orang yang seharusnya tidak pernah bertemu justru menemukan sebuah jeda.

Bukan kebahagiaan.

Belum.

Hanya ketenangan singkat sebelum dunia kembali menuntut mereka berlari.

Kael menatap wajah Alesya sekali lagi.

Lalu dengan suara rendah yang hampir tak terdengar, ia berkata,

"Istirahat."

Seolah gadis itu bisa mendengarnya.

Seolah untuk beberapa jam ke depan, ia ingin dunia berhenti mengganggu mereka.

Setidaknya sampai matahari kembali terbit.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!