Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
Bahkan jauh sebelum pernikahan dengan Nara terjadi. Rumah itu adalah tempatnya pulang ketika orang tua tak menerimanya, bukan persembunyian Deon. Namun tempat penenang bagi Deon. Dan sekarang ada Nara, yang ingin ia bawa ke sana, untuk tempatnya pulang, dan tempatnya menenangkan hati.
Perempuan yang selama bertahun-tahun hanya mampu ia cintai dalam diam, perempuan yang semula memang sudah ia cintai tapi kalah dengan sahabatnya yaitu Arka yang selalu mengancam ketika tahu dirinya menyukai Nara.
Deon menatap Nara yang sedang tertawa bersama kedua orang tuanya.
Senyumnya muncul tanpa sadar. Namun di balik senyum itu, Deon tahu satu hal. Semakin dekat Nara dengannya, semakin besar pula rahasia yang harus ia ungkap.
Tentang pekerjaannya, Tentang mall, Tentang keluarganya. Dan tentang alasan sebenarnya mengapa ia selama ini begitu mengenal Nara.
Sementara Nara sendiri belum menyadari bahwa rumah yang baru saja ia kagumi itu… sebenarnya telah menunggunya jauh sebelum mereka menjadi suami istri.
...
Keesokan harinya, Nara benar-benar mulai mempersiapkan barang-barangnya.
Setelah pulang dari tempat kerja, ia tidak langsung beristirahat. Beberapa pakaian dilipat dan dimasukkan ke dalam koper. Barang-barang kecil seperti buku, tas, sepatu, serta beberapa peralatan pribadi juga mulai dikemas.
Lely yang melihat putrinya sibuk dari tadi hanya tersenyum. “Tidak usah semuanya dibawa sekaligus, Nara. Nanti juga bisa diambil kalau masih ada yang tertinggal.”
Nara mengangguk. “Iya, Mah. Tapi aku ingin sekalian rapi.”
Hanan yang sedang duduk di ruang tengah ikut memperhatikan. “Jangan lupa dokumen-dokumen penting.”
“Sudah, Yah.”
Deon berdiri di dekat pintu kamar sambil melihat Nara, Ia sebenarnya ingin membantu. Namun melihat Nara nampak bersemangat, membuat Deon memilih membiarkannya.
“Aku bantu bawa koper,” ucap Deon.
Nara menoleh. “iya.”
Deon mengambil dua koper besar, Nara mengambil satu tas.
Lely mendekat dan memeluk putrinya, usai Nara beres semuanya. “Jaga diri baik-baik.”
Nara tersenyum. “Iya, Mah.”
Kemudian Lely memandang Deon. “Jaga Nara.”
Deon mengangguk. “Iya, Bu.”
Hanan berdiri dari duduknya mendekat pada Deon lalu menepuk bahu Deon. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan datang ke sini.”
Deon tersenyum. “Iya, Yah.”
Nara memandang kedua orang tuanya, ada sedikit rasa sedih di matanya. Selama ini ia tinggal bersama mereka. Kini setelah menikah, ia harus meninggalkan rumah yang sejak kecil menjadi tempatnya pulang. Namun ketika Deon menggenggam salah satu koper dan berjalan lebih dahulu menuju pintu, Nara justru merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia memiliki rumah lain sekarang. Rumah yang belum lama ini bahkan tidak pernah ia bayangkan.
...
Perjalanan menuju rumah baru berlangsung cukup tenang. Kali ini Deon membawa mobil sewaan milik temannya yang sengaja ia gunakan agar seluruh barang Nara bisa dibawa sekaligus.
Nara duduk di sampingnya, Sesekali ia melihat ke luar jendela.
“Deon.”
“Hm?”
“Kamu yakin rumah itu tidak terlalu mahal?”
Deon tersenyum kecil. “Kenapa memikirkan harga?”
“Ya harus dipikirkan.” Nara menghela napas.
“Aku tidak mau nanti kita malah kesulitan karena cicilan rumah.”
Deon menahan senyum. “Tidak ada cicilan.”
Nara langsung menoleh. “Sudah lunas?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Deon terdiam sebentar.
“Sudah lama, aku menabung.”
Nara mengangguk.
“Hebat juga kamu.”
Deon melirik sekilas. “Biasa saja.”
“Tidak.” Nara tersenyum. “Aku saja kalau menabung selalu ada yang terpakai.”
Deon tertawa kecil. “Itu karena kamu mungkin terlalu sering membeli cokelat.”
Nara langsung menatapnya. “Kok tahu?”
Deon terdiam. Ia baru sadar dirinya hampir keceplosan.
“Waktu itu…”
“Waktu apa?”
Deon berpikir cepat. “Waktu kamu bilang suka cokelat, pas kita di warung Nasi goreng.”
Nara menyipitkan mata. “Aku pernah bilang?”
Deon mengangguk santai. “Pernah, kamu lupa?"
Nara akhirnya tidak memperpanjang memang sebenarnya benar ia menyukai Cokelat. Sementara Deon diam-diam menghela napas lega.
Ia memang terlalu mengenal perempuan itu, bahkan untuk hal-hal kecil. Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah.
Nara turun, Ia kembali memandang rumah tersebut. Kali ini bukan sebagai calon pembeli, Melainkan sebagai seseorang yang akan tinggal di sana.
Deon membuka pintu.
“Akhirnya sampai... Ayok masuk.”
Nara tersenyum, Kemudian mengangguk.
“Ini. Rumah kita..." ucap Deon.
Entah mengapa dua kata itu membuat dada Nara terasa hangat. Rumah kita, Bukan rumah Deon, namun rumah mereka.
Nara masuk perlahan, Barang-barang mulai dibawa masuk. Deon mengangkat koper menuju kamar utama.
Nara mengikutinya, ketika pintu kamar dibuka, Nara kembali terkejut.
Kamar itu cukup luas. Tempat tidur berukuran besar berada di tengah ruangan.
Seprai berwarna putih, Di sisi kanan terdapat meja kecil, Di sisi kiri terdapat lemari pakaian yang cukup besar, Nara membuka salah satu pintunya.
Kosong.
“Ini buat pakaianmu.”
Nara menoleh.
“Buat aku?”
Deon mengangguk. “Iya.”
Nara diam.
Deon lalu membuka pintu lemari yang lain. “Yang ini buat aku.”
Nara tersenyum. “Kamu sudah membaginya?”
“Biar tidak berebut.”
Nara tertawa kecil.
“Memangnya kita sudah sering berebut?”
“Belum.” Deon tersenyum. “Tapi siapa tahu nanti.”
Nara kembali tertawa, Suasana yang awalnya canggung perlahan menjadi lebih ringan. Mereka mulai mengatur pakaian, Nara menggantung beberapa pakaian kerjanya.
Deon membantu mengambil koper, sesekali tangan mereka bersentuhan, Keduanya sama-sama diam. Namun kali ini tidak terasa terlalu canggung, setelah semua barang selesai dipindahkan, Nara keluar menuju halaman belakang.
Ia melihat kolam kecil yang sebelumnya sudah ia lihat. Beberapa ikan mas berenang perlahan, di samping kolam terdapat kursi kayu.
Nara duduk, Deon menyusul.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Nanti malam ada sif ?”
“Iya.”
“Kalau begitu jangan terlalu Capek, mending kamu izin hari ini.”
Nara menghela nafas, "izin lagi? Kan aku baru masuk dua hari."
Deon mengangguk paham. Ia tak ingin memaksa, Deon tahu Nara takut kehilangan pekerjaan, karena peraturan di sana usai cuti panjang tidak bisa cuti kembali terlalu dekat, kecuali keadaan darurat, tidak mungkin ia katakan tak apa-apa untuk izin cuti sebab Nara tidak tahu Deon siapa.
Kemudian Nara memandang halaman.
“Rumah ini tenang sekali.”
Deon tersenyum. “Makanya aku suka.”
Nara menoleh.
“Kamu sering ke sini sebelumnya?”
Pertanyaan itu membuat Deon terdiam.
“Lumayan.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Nara kembali melihat kolam. “Berarti selama ini kamu sering sendirian di sini. Dan rumah ini memang sudah kamu incar lama donk?”
Deon mengangguk.
“iya, pemiliknya sudah tak di sini, maka dari itu aku sering datang, karena ini milik keluarga salah satu teman kerjaku.”
Nara hanya mengangguk, tak menaruh curiga.
Deon memandang perempuan di sampingnya, begitu tenang, dan cantik.
“Sekarang aku sudah tidak sendirian...” ucap Deon akhirnya.
Nara menoleh, Tatapan mereka bertemu.
Nara tersenyum tipis. “Iya.”