NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 4

"Jangan percaya sistem."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Yamada. Bukan seperti gema biasa. Kalimat itu terasa seperti ditulis dengan jari dingin di bagian dalam tengkoraknya.

Tiga kata itu mengikuti setiap langkahnya dari ruang kerja ayahnya kembali ke kamarnya. Melewati koridor kayu, melewati pedang tua yang tidak bisa dianalisis sistem, melewati lukisan gunung yang familiar bagi tubuhnya tapi asing bagi jiwanya.

Dia kembali ke kamarnya dan menutup pintu.

Kemudian menguncinya.

Klik.

Suara kunci yang berderit pelan itu terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi.

Yamada berdiri diam beberapa saat di depan pintu yang terkunci, punggungnya bersandar pada kayu pintu. Napasnya masih sedikit berat. Dia menatap kamarnya yang sederhana, yang disinari matahari siang yang mulai condong ke barat. Tempat tidur yang berantakan, meja kecil, rak buku, cermin di sudut.

Tempat yang seharusnya aman, kini terasa seperti kotak yang sempit berisi tiga hal: dirinya, jiwa lain, dan sebuah sistem yang mungkin berbohong.

"Baiklah." Dia akhirnya berbisik, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.

Dia menarik kursi kayu yang ada di depan meja belajar dan duduk. Kursinya berderit.

"Pertama, kita tenang. Kita urutkan dulu."

Bagaimana bisa tenang setelah melihat sesuatu seperti itu?!

Suara pemilik tubuh yang asli langsung meledak di dalam pikirannya. Suara itu tidak lagi pelan dan rapuh seperti tadi malam di dalam kegelapan. Sekarang suaranya penuh panik, penuh ketakutan yang meluap-luap.

Kau melihatnya juga kan?! Pantulan itu! Itu wajahku! Tapi wajahku tidak menangis! Dan tulisan itu! Jangan percaya sistem! Apa maksudnya?! Apakah sistem ini jahat?!

Yamada menyandarkan dagu pada tangannya, menopang kepalanya yang terasa berat. Kebiasaan berpikirnya yang malas.

"Karena panik tidak berguna." Jawab Yamada dengan suara yang tetap pelan, berusaha menenangkan bukan hanya teman sekamarnya, tapi juga dirinya sendiri. "Panik itu membakar mana, membakar energi, dan membuat kita tidak bisa berpikir jernih. Dan kita butuh berpikir jernih sekarang."

Kalau sistem benar-benar ingin menghapus kita bagaimana? Kalau hitungan 29 hari itu benar? Kalau salah satu dari kita harus dimakan oleh yang lain?!

"Belum tentu hitungan itu benar." Yamada menjawab, matanya menatap kosong ke arah jendela, ke arah hutan yang samar-samar terlihat di kejauhan.

Bukankah sistem sendiri yang mengatakannya? Sistem yang memberimu skill, yang menunjukkan status! Kenapa dia harus berbohong soal itu?

"Benar. Sistem yang mengatakannya." Yamada mengangguk pelan. "Tapi aku tidak tahu apakah semua informasi yang diberikan sistem itu benar 100%. Atau apakah dia memberikan informasi yang dia ingin kita percayai."

Karena tulisan di kristal tadi?

"Ya." Yamada akhirnya mengakui. Dia masih ingat dengan sangat jelas, terlalu jelas untuk disebut halusinasi.

Dia masih ingat dengan jelas pantulan dirinya di Kristal Jiwa milik ayahnya.

Wajah yang sama, rambut hitam yang sama, mata yang sama.

Tapi wajah itu menangis. Air mata mengalir deras di pipi pantulan itu, matanya merah, bibirnya bergetar.

Dan kalimat yang ditulis dengan jari telunjuk di permukaan kristal dari dalam, dengan tulisan yang bergetar karena tangisan.

Jangan percaya sistem.

Masalahnya adalah

Yamada tidak tahu siapa yang menulisnya.

Apakah itu pemilik tubuh yang asli? Apakah itu adalah peringatan dari jiwa asli yang tahu sesuatu tentang sistem ini, sesuatu yang tidak diketahui oleh Yamada yang pendatang?

Atau...

dirinya sendiri? Apakah itu adalah dirinya di masa depan? Atau dirinya dari kehidupan pertama yang mencoba memberinya peringatan?

Yamada menatap kedua tangannya yang tergeletak di atas meja. Tangan anak 15 tahun yang ramping.

"Kalau tubuh ini memang milikmu..." Dia memulai, dengan suara yang lebih tenang, mencoba mengajak diskusi logis.

Ya. Ini tubuhku. Aku lahir di tubuh ini. Aku tumbuh di tubuh ini selama 15 tahun.

"Dan jiwaku berasal dari dunia lain... dari dunia yang sama sekali berbeda, tanpa sihir, tanpa kristal jiwa."

Ya. Kau bilang kau mati ditabrak.

"Kenapa sistem menyebutku sebagai Primary Soul? Kenapa aku yang dianggap utama, dan kau yang dianggap sekunder? Seharusnya kau yang utama, karena ini rumahmu."

Tidak ada jawaban. Keheningan yang panjang mengisi kamar itu, hanya ditemani suara angin di luar.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya diam, merenungkan kejanggalan yang sama.

Kemudian suara pemilik tubuh yang asli terdengar, dengan nada yang jauh lebih pelan, lebih jujur, lebih rapuh.

Aku juga tidak tahu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya ingat pergi ke hutan bersama Reno dan yang lain, lalu ada cahaya terang, lalu sakit kepala yang luar biasa, lalu gelap. Lalu aku bangun dan ada kau di sini. Di dalam kepalaku.

Yamada mengangguk pelan, meskipun tidak ada yang melihatnya.

"Setidaknya kita sepakat dalam satu hal."

Apa?

"Kita sama-sama tidak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi."

Itu tidak membantu sama sekali! Protes suara itu, sedikit kesal.

"Memang." Yamada tersenyum tipis, senyum lelah yang pertama kali muncul hari ini. "Tapi lebih baik daripada berpura-pura tahu dan membuat keputusan yang salah. Lebih baik kita bodoh bersama daripada sok pintar sendirian dan akhirnya salah langkah."

Kalimat itu membuat pemilik tubuh terdiam lagi, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena dia sedikit... setuju.

Yamada bangkit dari kursinya. Duduk dan panik tidak akan menghasilkan apa-apa. Itu adalah prinsip kemalasannya: jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan duduk diam, maka bergeraklah sedikit, dengan usaha paling minimal.

Dia berjalan menuju rak buku yang ada di sudut kamar. Rak kayu sederhana yang penuh sesak.

Ada puluhan buku tersusun di sana. Beberapa terlihat sangat tua, sampul kulitnya sudah retak-retak, judulnya tertulis dengan huruf emas yang sudah memudar. Sebagian besar menggunakan bahasa yang tidak dikenalnya. Huruf-hurufnya melingkar-lingkar, dengan titik-titik dan garis-garis yang rumit, bukan alfabet yang dia kenal dari dunia lamanya.

Namun anehnya, ketika dia menyentuh salah satu buku— buku yang paling tebal, dengan sampul coklat tua— ujung jarinya merasakan kehangatan.

Dia bisa membacanya.

Judul di punggung buku itu yang tadinya terlihat seperti coretan asing, tiba-tiba memiliki arti di dalam kepalanya.

Flora dan Fauna Hutan Elaria - Catatan Penjaga Pertama

"Bahasa ini..." Yamada bergumam, membuka halaman pertama dengan hati-hati. Kertasnya sudah menguning. Huruf-huruf asing yang sebelumnya tidak pernah dia lihat tiba-tiba memiliki arti, memiliki suara, memiliki makna, seolah-olah ada penerjemah otomatis di dalam otaknya.

Kenapa aku bisa membaca ini? Tanyanya pada dirinya sendiri, tapi juga pada penghuni lain di kepalanya.

Yamada membalik halaman, matanya bergerak cepat memindai baris demi baris. Kecepatan membacanya tidak normal.

"Sepertinya tubuh ini memiliki ingatan bahasa. Otot-otot mataku, otak kecilku... sudah terlatih membaca ini sejak kecil."

Benar. Suara pemilik tubuh menjawab, dengan sedikit rasa bangga yang tersisa. Aku bisa membacanya sejak kecil. Ayah mengajariku membaca dan menulis sejak umur enam tahun. Itu bahasa Kerajaan Asteria, bahasa umum benua ini.

Yamada mengangguk, lalu meletakkan buku tebal itu kembali dan mengambil buku lain yang lebih tipis, yang sampulnya berwarna biru pudar dan terlihat lebih baru, seperti buku pelajaran sekolah.

Sebuah buku tentang dasar-dasar sihir.

Judulnya tercetak jelas: Dasar Sihir: Mana dan Sirkuit - Untuk Pemula

Yamada membuka halaman pertama. Di sana ada gambar tubuh manusia dengan garis-garis yang mengalir di dalamnya, seperti pembuluh darah tapi terbuat dari cahaya.

Bab 1: Apa itu Mana? Mana adalah energi kehidupan yang mengalir di alam dan di dalam tubuh setiap makhluk hidup...

Yamada membaca beberapa halaman. Dengan kecepatan yang tidak wajar. Matanya tidak berhenti, jarinya membalik halaman dengan ritme yang konstan.

Lima menit berlalu. Dia sudah sampai Bab 3 tentang cara merasakan mana di dalam tubuh.

Sepuluh menit berlalu. Dia sudah sampai Bab 5 tentang cara membentuk sirkuit sihir sederhana di dalam pikiran untuk mengubah mana menjadi elemen.

Kemudian dia menutup buku itu dengan suara 'buk' pelan.

"Menarik."

Apa? Apa yang menarik? Suara pemilik tubuh bertanya, karena dia melihat Yamada hanya membaca sepuluh menit dan sudah menutup buku yang biasanya membutuhkan waktu seminggu untuk dipahami oleh anak-anak desa.

"Konsepnya sederhana." Kata Yamada, dengan nada yang santai. "Jadi mana itu seperti listrik. Tubuh kita seperti kabel. Sirkuit sihir itu seperti saklar dan rangkaian elektronik. Kau hanya perlu tahu cara mengalirkan listriknya dengan benar, maka lampu akan menyala. Api, air, angin, itu hanya bentuk output dari rangkaian yang berbeda."

Untukmu mungkin! Itu tidak sederhana! Ayah bilang sihir itu sangat sulit! Butuh bertahun-tahun meditasi untuk bisa merasakan mana! Aku mencoba selama dua tahun dan tidak pernah berhasil menyalakan api sekecil apa pun!

Yamada tidak menjawab protes itu. Dia mengambil selembar kertas kosong yang ada di atas meja belajar, kertas perkamen yang sedikit kasar, dan sebuah arang tulis kecil.

Dia mulai menggambar.

Sebuah lingkaran. Tidak sesempurna lingkaran sihir yang ada di kertas ayahnya tadi, tapi cukup bulat.

Kemudian beberapa garis di dalamnya. Garis yang menghubungkan tepi ke pusat.

Lalu simbol. Simbol yang baru saja dia lihat di dalam buku, simbol untuk elemen api dasar.

Tangannya bergerak cepat. Sangat cepat. Tidak ada keraguan. Tidak ada coretan yang salah. Seolah-olah tangannya sudah tahu apa yang harus digambar, bahkan sebelum otaknya selesai memikirkannya.

Pemilik tubuh terdiam, mengamati dari dalam.

Apa yang kau lakukan?

"Mencoba memahami sistem sihir dunia ini dengan cara paling malas." Jawab Yamada sambil terus menggambar. "Daripada bermeditasi tiga tahun seperti yang Ayahmu suruh, lebih cepat langsung coba gambar rangkaiannya dan lihat apakah korslet atau tidak."

Bukankah kau belum pernah belajar sihir sama sekali? Di kehidupan lamamu?

"Belum pernah. Di duniaku tidak ada sihir. Hanya ada rumus fisika dan tagihan listrik."

Lalu kenapa kau bisa menggambarnya? Lingkaran itu... itu terlihat benar!

Yamada berhenti. Dia melihat gambar di depannya. Sebuah lingkaran sihir api dasar yang sederhana, berdiameter sekitar 15 sentimeter, sudah selesai. Garis-garisnya bersih, simbolnya presisi.

"Aku hanya mengikuti logikanya." Jawabnya enteng. "Buku itu bilang, mana mengalir dari luar ke dalam, lalu dikonversi di pusat. Jadi aku buat saja jalurnya seperti itu. Logika itu universal, di dunia mana pun sama."

Sebuah lingkaran sihir sederhana telah selesai. Kertas itu terlihat biasa saja, sampai...

Yamada menatapnya, lalu mengulurkan telapak tangannya di atas kertas itu, sekitar lima sentimeter di atasnya. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan apa yang dijelaskan buku itu: merasakan aliran hangat di dalam perut, di dekat pusar, yang disebut sebagai 'inti mana'.

Awalnya tidak ada apa-apa. Lalu, ada rasa geli, rasa hangat yang samar.

Yamada menarik napas dan memasukkan sedikit mana, sedikit energi itu, ke dalam gambar di atas kertas, tepat ke pusat lingkarannya.

Cahaya kecil muncul. Cahaya oranye kemerahan yang berdenyut.

Puf!

Api sebesar ujung jari kelingking, seukuran korek api, muncul di atas kertas, melayang-layang di udara, menari-nari. Tidak membakar kertasnya. Api itu murni terbuat dari mana.

Yamada mengangkat alis, sedikit terkejut tapi juga puas.

"Berhasil."

BERHASIL?! Suara pemilik tubuh yang asli terdengar jauh lebih keras, hampir memekakkan telinga di dalam kepala Yamada. Suaranya melengking karena tidak percaya.

Yamada sampai harus menjauhkan wajahnya dari bayangan suara itu di dalam pikirannya.

"Jangan berteriak di dalam kepalaku. Nanti aku jadi tuli dua kali, di luar dan di dalam."

Itu sihir! Itu sihir api beneran! Api!

"Ya. Aku tahu. Aku yang membuatnya." Jawab Yamada santai, sambil memperhatikan api kecil itu yang berkedip-kedip.

KAU BARU MEMBACA BUKUNYA SEPULUH MENIT! SEPULUH MENIT! Aku membaca buku yang sama selama berbulan-bulan dan tidak bisa!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!