Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bayu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap pantulan wajahnya di kaca jendela lantai tiga.
Pikirannya masih terbayang tentang laporan Roni barusan yang menyebutkan nama mantan pacarnya.
"Vanya benar-benar wanita yang keras kepala dan tidak tahu malu."
"Dia pasti sudah menyadari bahwa aku tidak berbohong soal Lamborghini dan Kartu Blackcard itu."
Bayu berbalik dan menatap ketiga karyawannya yang sedang beristirahat memakan camilan di sudut studio.
"Dimas, pastikan keamanan di lobi bawah diperketat mulai besok."
"Aku tidak ingin ada orang luar yang masuk tanpa janji temu yang jelas, terutama wanita yang bernama Vanya."
Dimas mengangguk tegas sambil mencatat instruksi tersebut di buku kecilnya.
"Siap laksanakan Bos Bayu, aku akan menyuruh satpam depan untuk memasang wajah paling seram jika wanita itu muncul."
Maya yang sedang mengunyah keripik kentang menatap Bayu dengan polos.
"Kak Bayu, apakah wanita bernama Vanya itu adalah saingan bisnis kita dari agensi lain?"
Reza menyenggol lengan Maya dan memberikan isyarat agar gadis itu tidak bertanya terlalu jauh.
"Bukan Maya, dia hanya seorang penipu yang pernah mencoba menjual asuransi bodong padaku dulu," jawab Bayu mengarang alasan.
Bayu tidak ingin mencampuradukkan masalah pribadi masa lalunya dengan lingkungan kerja profesional yang baru dibangunnya ini.
Dia melirik jam tangan peraknya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
Waktu berlalu dengan sangat cepat jika seseorang menikmati pekerjaannya.
"Baiklah tim, karena hari pertama kita sukses besar, siang ini aku akan mentraktir kalian makan sepuasnya."
Sorakan gembira langsung terdengar dari mulut Maya dan Reza yang memang sudah sangat kelaparan sedari tadi.
"Asyik! Kak Bayu memang CEO paling baik hati di seluruh Jakarta!" puji Maya dengan mata berbinar-binar.
Mereka berempat akhirnya turun ke lantai satu dan berjalan menuju restoran hidangan laut mewah yang ada di seberang jalan.
Sambil berjalan, tangan Bayu merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.
Dia membuka aplikasi pesan dan melihat belum ada pesan masuk sama sekali dari Alya hari ini.
"Alya pasti sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor."
"Aku harus mencari alasan yang bagus untuk mengajaknya keluar besok siang."
Di dalam restoran, mereka memesan berbagai macam menu makanan laut yang harganya cukup membuat Dimas menelan ludah.
Satu porsi kepiting Alaska berukuran raksasa disajikan tepat di tengah meja mereka.
Krek krek.
Suara cangkang kepiting yang dihancurkan menggunakan alat pemecah berbunyi nyaring di atas meja.
"Daging kepiting ini manis sekali Bos, rasanya sangat berbeda dengan kepiting di warung tenda," puji Dimas dengan mulut penuh.
"Makanlah yang banyak Dimas, kau butuh banyak energi untuk mengurus jadwal Maya yang pasti akan sangat padat mulai besok."
Reza sibuk memotret makanan tersebut dari berbagai sudut sebelum memakannya.
"Foto ini bisa jadi bahan unggahan untuk akun media sosial agensi kita Bay, menunjukkan bahwa kita ini agensi yang makmur."
Bayu tertawa pelan dan membiarkan karyawannya menikmati makanan mahal tersebut.
Bagi Bayu, menghabiskan uang beberapa juta rupiah untuk makan siang tidak ada artinya dibandingkan uang dari sistem yang mengalir ke rekeningnya.
Trrrrt trrrrt.
Ponsel Bayu yang diletakkan di samping piringnya tiba-tiba bergetar panjang.
Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar ponselnya.
Bayu mengernyitkan dahi sejenak sebelum menekan tombol terima panggilan.
"Halo, dengan siapa di sini?" sapa Bayu dengan nada formal.
"Halo, apakah benar ini dengan Bapak Bayu Pratama, pemilik dari Pratama Creative Agency?" balas suara seorang pria paruh baya dari seberang sana.
"Iya benar saya sendiri, ada keperluan apa Bapak menghubungi saya siang ini?"
"Perkenalkan nama saya Haryo, saya adalah Manajer Pemasaran dari perusahaan kosmetik lokal bernama Beauty Glow."
Mendengar nama perusahaan kosmetik, insting bisnis Bayu langsung menyala terang.
"Ah iya Pak Haryo, saya tahu produk Bapak, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini Pak Bayu, saya tadi menonton siaran langsung dari talenta Bapak yang bernama Maya."
"Kami melihat audiens Maya sangat cocok dengan target pasar produk kecantikan terbaru kami yang menyasar anak muda."
Bayu tersenyum lebar mendengar tawaran kerja sama yang datang jauh lebih cepat dari perkiraannya.
"Tentu saja Pak Haryo, agensi kami sangat terbuka untuk melakukan kerja sama endorsement atau iklan berbayar."
"Bagus sekali Pak Bayu, apakah kita bisa bertemu besok siang di restoran kawasan Senayan untuk membicarakan kontraknya secara langsung?"
"Tentu saja bisa Pak, tolong kirimkan saja detail lokasi dan waktunya ke nomor ini nanti."
Panggilan itu berakhir dengan kesepakatan pertemuan yang sangat menguntungkan.
Klik.
Bayu meletakkan ponselnya dengan wajah yang berseri-seri penuh kemenangan.
"Dimas, siapkan draf standar kontrak kerja sama iklan sore ini juga."
"Kita baru saja mendapatkan klien pertama kita dari perusahaan kosmetik ternama."
Dimas, Maya, dan Reza seketika menghentikan kegiatan makan mereka dan menatap Bayu dengan takjub.
"Bos Bayu tidak sedang bercanda kan? Kita baru buka hari ini dan langsung dapat klien sponsor?" tanya Dimas tidak percaya.
"Aku selalu serius jika menyangkut uang Dimas, Maya bersiaplah karena wajahmu akan segera muncul di iklan kosmetik."
Maya menjerit kegirangan dan memeluk lengan Reza saking senangnya mendengar berita tersebut.
[Ding!]
[Kemampuan negosiasi dan manajemen Tuan sangat memukau di awal karir.]
[Sistem telah menandai pertemuan besok sebagai Titik Kritis Kesuksesan Agensi.]
[Saran Sistem: Bawa rekan yang memiliki kemampuan komunikasi tingkat tinggi untuk melancarkan negosiasi besok.]
Bayu membaca saran dari layar biru transparan itu dengan kening sedikit berkerut.
"Rekan yang memiliki komunikasi tingkat tinggi? Dimas memang bagus dalam administrasi tapi bicaranya kadang masih kaku."
"Aku butuh seseorang yang penampilannya elegan dan pandai membuai klien dengan kata-kata manis."
Wajah cantik Alya Nadhira langsung terlintas jelas di dalam kepala Bayu.