Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Aliansi Tiga Sekte
Upacara penutupan resmi Pertemuan Tiga Sekte diadakan keesokan paginya, jauh lebih sederhana dari perayaan kemenangan yang biasanya mewarnai acara lima tahunan itu—bayang-bayang insiden penculikan dan penyusupan Aula Bayangan masih terasa berat di hati seluruh delegasi yang hadir.
Namun di tengah kesederhanaan itu, sebuah pengumuman besar disampaikan oleh ketiga pemimpin sekte yang berdiri bersama di podium utama untuk pertama kalinya dalam sejarah acara tersebut.
"Setelah pertimbangan matang semalam," Tetua Agung Sekte Awan Putih mengumumkan, suaranya menggema tegas ke seluruh lembah, "ketiga sekte kita sepakat membentuk Aliansi Tiga Sekte secara resmi—bukan sekadar pertemuan persahabatan lima tahunan seperti sebelumnya, melainkan kerja sama berkelanjutan dalam berbagi informasi dan sumber daya untuk menghadapi ancaman bersama, khususnya organisasi bayangan yang telah dua kali menyusup ke acara kita."
Sorak sorai dan tepuk tangan menggema di seluruh tribun, sebuah momen bersejarah yang akan dikenang lama setelah acara tahun itu berakhir.
"Dan sebagai simbol aliansi baru ini," Tetua Agung Puncak Kilat menambahkan, "kami ingin secara khusus menghormati murid dari Sekte Awan Putih yang tindakan beraninya berhasil menyelamatkan delapan korban penculikan sepanjang acara ini—Lin Mu, majulah ke podium."
Lin Mu melangkah maju di antara sorak sorai yang semakin membesar, berdiri di hadapan ketiga pemimpin sekte besar dengan perasaan campur aduk antara kebanggaan dan kewaspadaan—perhatian sebesar ini, meski membawa kehormatan, juga berarti semakin banyak mata yang akan mengawasinya ke depan.
"Sebagai penghargaan," Tetua Agung Lembah Naga berkata, menyerahkan sebuah token emas berukir simbol gabungan ketiga sekte, "kau diberikan Token Aliansi, memberikanmu akses bebas ke perpustakaan dan arsip dari ketiga sekte kita, sebuah kehormatan yang belum pernah diberikan pada siapa pun di luar jajaran tetua senior."
Lin Mu menerima token itu dengan hormat mendalam, menyadari betapa berharganya hadiah itu bagi pencariannya yang sesungguhnya. "Aku menerima kehormatan ini dengan penuh rasa terima kasih," ia berkata, "dan berjanji akan menggunakannya untuk kebaikan aliansi kita bersama."
Beberapa hari setelah kepulangan ke Sekte Awan Putih, setelah masa istirahat singkat dan perayaan sederhana atas kemenangan mereka, Lin Mu memutuskan untuk memanfaatkan Token Aliansi barunya—bukan untuk kepentingan pribadi semata, melainkan untuk melanjutkan pencariannya tentang Tujuh Bayangan yang telah lama menghantui pikirannya.
Perpustakaan arsip Sekte Awan Putih, bagian yang biasanya hanya bisa diakses tetua senior, tersembunyi jauh di bawah tanah kompleks utama, dipenuhi rak-rak tinggi berisi manuskrip-manuskrip kuno dari berbagai era, sebagian bahkan lebih tua dari sekte itu sendiri.
Ditemani Yun Zhi, yang kini menjadi salah satu sekutu terdekatnya di sekte setelah berbagai peristiwa yang mereka lalui bersama, Lin Mu menyusuri rak demi rak, mencari catatan apa pun yang mungkin menyebutkan istilah "Tujuh Bayangan" atau kaitannya dengan kejatuhan Puncak Pedang Sembilan Langit tiga abad lalu.
"Di sini," Yun Zhi akhirnya berkata setelah berjam-jam pencarian, menarik sebuah gulungan tua yang hampir rapuh dari rak paling belakang, tersembunyi di antara catatan-catatan yang jarang disentuh siapa pun selama puluhan tahun. "Ini catatan tentang sebuah dewan rahasia kuno yang disebut beberapa kali dalam sejarah, meski selalu samar dan tidak lengkap."
Lin Mu membuka gulungan itu dengan hati-hati, membaca setiap baris dengan seksama. Tulisan kuno itu menyebutkan tentang Dewan Tujuh Bayangan, sebuah organisasi rahasia yang diyakini berdiri sejak ratusan tahun sebelum kejatuhan Puncak Pedang, terdiri dari tujuh individu misterius yang masing-masing menguasai wilayah kekuasaan tersembunyi mereka sendiri di berbagai penjuru benua, bergerak dalam bayangan untuk mengumpulkan kekuatan dan pengetahuan terlarang tanpa sepengetahuan dunia luar.
"Menurut catatan ini," Lin Mu membaca lebih lanjut, suaranya menegang, "salah satu dari Tujuh Bayangan pernah tercatat beroperasi di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Lembah Kegelapan, sekitar tiga ratus tahun lalu—waktu yang hampir bersamaan dengan kejatuhan Puncak Pedang."
Yun Zhi menatapnya serius. "Lembah Kegelapan adalah wilayah terlarang di perbatasan selatan, dikenal karena formasi qi-nya yang kacau dan berbahaya. Bahkan sekte-sekte besar jarang berani menjelajahinya lebih dari sekadar wilayah perbatasan."
"Jika benar salah satu dari Tujuh Bayangan pernah beroperasi di sana," Lin Mu bergumam, pikirannya berputar cepat menyusun kemungkinan, "maka wilayah itu mungkin menyimpan petunjuk penting tentang identitas dalang sesungguhnya di balik pengkhianatanku tiga abad lalu."
Ia menggulung kembali manuskrip itu dengan hati-hati, menyimpannya dalam-dalam di balik jubahnya. Untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ia memiliki petunjuk konkret—sebuah lokasi nyata yang bisa ia selidiki, bukan sekadar rumor dan desas-desus yang selama ini menjadi satu-satunya panduannya.
"Aku perlu pergi ke Lembah Kegelapan," Lin Mu berkata akhirnya, menatap Yun Zhi dengan tekad baru yang jelas terpancar di matanya.
Yun Zhi menghela napas panjang, meski tak sepenuhnya terkejut mendengar keputusan itu. "Wilayah itu sangat berbahaya, Lin Mu. Bahkan dengan kekuatanmu sekarang, kau membutuhkan persiapan matang sebelum berani menjelajahinya sendirian."
"Aku tidak akan pergi sendirian," Lin Mu menjawab, mengingat kembali sahabat-sahabat baru yang telah ia dapatkan sepanjang perjalanan ini—Han Zhengyu, Su Wan, dan mungkin, jika beruntung, dukungan resmi dari Aliansi Tiga Sekte yang baru saja terbentuk. "Tapi aku juga tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk mencari jawaban yang telah kucari selama tiga ratus tahun."
semngat thor/Determined/