NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana pesta pernikahan

"Apa?! Ibu menggadaikan sertifikat rumah ini ke bank?!"

Suara jeritan melengking itu bersahutan memenuhi ruang tamu. Semua orang di sana terbelalak tak percaya kecuali Karin. Ya, tentu saja Karin santai, sebab sejak awal ini memang transaksi rahasianya bersama Bu Ismi. Tanpa sepengetahuan Pak Bambang, tanpa melibatkan anak-anak yang lain.

"Ibu cuma mau mewujudkan pernikahan impian Karin, tapi kenapa malah jadi hancur begini?" tangis Bu Ismi pecah, terisak-isak dramatis meratapi nasibnya.

Mendengar pengakuan telanjang dari mulut istrinya sendiri, Pak Bambang mendadak mencengkeram dadanya. Rasa nyeri yang baru saja reda kini menghantam dua kali lebih hebat. Sementara itu, Siska dan Beni membeku di tempat dengan mulut menganga lebar, benar-benar kehabisan kata-kata melihat kelakuan Bu Ismi.

"Bisa-bisanya Ibu nekat menggadaikan sertifikat rumah kita?!" tegur Pak Bambang dengan suara bergetar menahan sakit. tangannya tak melepas cengkeraman di dada. "Kenapa Ibu nggak bicara dulu sama Bapak? Masalah sebesar ini harusnya dimusyawarahkan, bukan main ambil keputusan sendiri kayak gini!"

"Betul itu, Bu." Siska menimpali dengan nada sewot. "Harusnya Ibu ngomong sama Siska dulu. Aku ini anak tertua di keluarga ini, aku berhak tahu!"

Beni ikut menyambar gelisah, "Kalau sampai kita nggak bisa bayar dan rumah ini disita bank, kita semua mau tidur di mana?"

Bu Ismi malah mengibaskan tangan santai, berusaha membela diri. "Aduh, kalian tenang dulu, dong! Ibu kan baru banget cairin uangnya tadi. Uangnya masih utuh kok sama Ibu... cuma kepotong sedikit buat makan siang di kafe tadi."

"Ya ampun! Bisa-bisanya Ibu ngopi-ngopi cantik di kafe pakai uang hasil ngutang?!" cibir Beni, benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran ibu mertuanya.

"Sudah! Cukup!" potong Pak Bambang lemas. "Uang itu simpan baik-baik. Begitu waktunya tiba, langsung pakai buat tebus kembali sertifikat rumah kita ke bank."

Tanpa menunggu balasan siapa pun, Pak Bambang memilih beranjak ke kamar. Rasa sakit di dadanya sudah semakin menusuk, dan ia hanya ingin memejamkan mata menghalau sesak yang kian menghimpit.

Keesokan harinya, Karin nekat mendatangi rumah Bagas. Ia tidak bisa terus-terusan dibiarkan menggantung tanpa kepastian seperti ini. Menyelesaikan masalah pelik lewat pesan singkat atau telepon rasanya tidak akan pernah cukup, ia harus menatap mata laki-laki itu langsung.

Namun, setibanya di sana, pemandangan di depan mata justru menghantam dadanya telak. Bagas tampak bersiap pergi, dan di sampingnya, seorang wanita berdiri manis sambil menggenggam jemarinya dengan begitu mesra.

*Ternyata kamu masih bisa sebahagia ini ya, Mas?* bisik Karin dalam hati. Matanya mulai memanas, tergenang air mata yang siap tumpah. *Kamu sama sekali nggak mikirin perasaanku? Kita ini sebentar lagi mau menikah, tapi kamu malah asyik pacaran dan main-main sama perempuan lain! Apa kamu memang nggak pernah serius sama pernikahan kita?*

Karin menyapu air matanya cepat-cepat, lalu melangkah lebar mendekati mereka. Ia butuh jawaban pasti sekarang juga. Bagaimanapun, ia masih menyimpan harapan tipis untuk menyelamatkan pernikahan ini, tak peduli betapa bodohnya mempertahankan laki-laki peselingkuh seperti Bagas.

"Bagas!" panggil Karin tegas.

Bagas menoleh serentak. Matanya membelalak kaget mendapati Karin berdiri tegak di depan rumahnya. "Karin?" gumamnya tak menyangka.

Belum sempat Bagas bersuara lagi, wanita di sampingnya langsung memasang wajah sinis dan bersedekap dada. "Mau ngapain lagi kamu ke sini? Bukannya kamu sendiri yang udah ngebatalin pernikahan kalian?" cerceh Sonya, selingkuhan Bagas.

Karin memilih mengabaikan godaan emosi dari wanita itu. Pandangannya terkunci rapat pada Bagas. "Aku ke sini mau bicara hal penting sama kamu, Gas. Kita butuh ngobrol berdua."

"Mau ngobrolin apa lagi, sih? Kalian itu udah putus!" potong Sonya galak, jelas tidak suka dengan kehadiran Karin.

"Aku bicaranya sama Mas Bagas, bukan sama kamu!" tegas Karin menatap tajam Sonya, berusaha keras mempertahankan sisa harga dirinya agar tidak tampak lemah di depan pasangan selingkuh itu.

Bagas menghela napas panjang. "Yaudah, tapi aku nggak punya banyak waktu." ucapnya dingin.

"Kok kamu mau sih, Gas?!" protes Sonya tidak terima.

"Nggak apa-apa, Sonya. Aku juga butuh selesaikan ini sama dia." ujar Bagas menenangkan selingkuhannya.

Karin mendengkus tipis, lalu menatap Bagas tanpa ragu. "Biar bagaimanapun, urusan kita ini udah menyangkut orang tua. Aku tunggu kamu nanti siang. Tempatnya nanti aku kirim via share location. Ingat, aku cuma mau bicara BERDUA SAJA"

Karin sengaja menekankan kata-katanya agar wanita itu tidak terus-terusan mengekor. Tanpa menunggu respons lebih lanjut, ia balik badan dan melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah Bagas.

"Gas, aku mau ikut! Aku ini pacar kamu lho! Dia sendiri yang kemarin mutusin kamu, jadi di antara kalian tuh udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!" rengek Sonya penuh kekesalan sambil menarik-narik lengan baju Bagas.

Bagas memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Sonya, please... aku cuma mau bicara berdua aja. Aku janji ini buat yang terakhir kalinya."

Sonya mendengkus kasar, akhirnya menyerah meski wajahnya tertekut sebal. "Ya udah! Tapi janji ya, ini benar-benar yang terakhir kali!"

Bagas hanya mengangguk terpaksa demi menyumbat celotehan pacar barunya itu.

Siang harinya, Bagas mendatangi kafe yang ditentukan. Karin rupanya sudah duduk menunggu lebih dulu di salah satu sudut meja. Tanpa basa-basi, Bagas langsung mengambil tempat duduk tepat di hadapan Karin.

"Langsung aja, aku nggak mau bertele-tele." buka Karin, nadanya bergetar menahan kepedihan. "Kamu tega banget ngelakuin ini sama aku, Mas. Ini sakit banget... Aku udah mempersiapkan pernikahan kita setengah mati, tapi kamu malah biarin semuanya batal gitu aja!"

Bagas menyenderkan punggungnya santai, merespons tanpa rasa bersalah. "Lho, aku nggak pernah bilang batal. Bukannya Ibu kamu sendiri yang membatalkannya?"

"Iya! Tapi kamu malah mengiyakan gitu aja!" sergah Karin, air matanya menetes. "Ibu mana yang nggak sakit hati melihat calon menantunya selingkuh?! Pantas kalau Ibuku emosi dan ngomong begitu!"

Bagas mendesah malas. "Ya terus, sekarang kamu mau gimana?"

Jawaban enteng itu bagai tamparan keras di muka Karin. Bukannya meminta maaf, mengiba, atau berusaha membujuknya, Bagas justru melemparkan pertanyaan seolah tak berdosa sama sekali.

"Ya harusnya kamu bujuk aku, kek! Datangin aku atau lakuin sesuatu!" semprot Karin dengan nada meninggi. "Ini sama sekali nggak ada usahanya dari kamu! Kamu malah ngebiarin hubungan dan rencana pernikahan kita menggantung begitu aja!"

Dengan wajah tanpa dosa, Bagas menjawab santai, "Sebenarnya aku sama Sonya itu nggak ada niat serius kok. Aku cuma sebatas main-main aja."

Karin membelalak, benar-benar syok. "Apa kamu bilang?! Cuma main-main?! Jadi selama ini rencana pernikahan kita juga kamu anggap main-main?!"

"Aku nggak bilang gitu," potong Bagas cepat.

"Aku udah menyiapkan segala sesuatunya buat pernikahan kita, Mas! Aku udah keluar banyak uang buat sewa vendor ini dan itu!" cecar Karin dengan napas memburu. "Kalau pernikahan kita benar-benar batal, aku minta kamu bayar ganti ruginya!"

Mendengar tuntutan uang, ekspresi santai Bagas mendadak berubah keras. "Apa? Ganti rugi?! Nggak ya, enak aja! Kamu yang sewa-sewa sendiri, kenapa aku yang harus ganti? Itu salah kamu sendiri karena nggak pernah diskusi dulu sama aku!"

"Gimana mau diskusi?!" potong Karin meradang. "Kamu selalu beralasan sibuk setiap kali dihubungi! Makanya aku terpaksa ambil keputusan sendiri. Aku pikir kamu sibuk kerja keras buat masa depan kita, tapi nyatanya kamu malah sibuk selingkuh!"

Bagas bersedekap dada, menolak mentah-mentah. "Nggak! Pokoknya aku nggak sudi ganti rugi satu sen pun. Kalau kamu mau batalin pernikahan ini, ya tanggung sendiri akibatnya. Enak aja main minta ganti rugi ke aku!"

Setelah Mengatakan itu Bagas langsung pergi dengan begitu saja, meninggalkan Karin yang menangis tergugu. Mau dilanjutkan, tapi Karin tidak mau memiliki suami selingkuh seperti Bagas, belum menikah saja rasanya sesakit ini bagaimana kalau sudah menikah nanti. Begitu pikir Karin.

Kini akhirnya Karin hanya bisa pasrah dengan nasib pernikahannya yang tidak jadi. Pernikahannya terpaksa dia batalkan, acara hajatan yang rencananya akan digelar nanti malam juga terpaksa dibatalkan. Dulu dia berhubungan dengan Bagas dari hasil merampas milik kakaknya, dan sekarang sesuatu yang dia rampas malah dirampas balik oleh orang lain.

Sekarang Bagas jadi lebih banyak diam, sehingga membuat Bu Ismi sangat khawatir dengan putrinya itu. Kondisi Pak Bambang semakin hari juga semakin memburuk, karena banyak pikiran.

Dadanya terasa begitu sakit, tapi Pak Bambang berusaha untuk menahannya. Sengaja Pak Bambang tidak bilang ke siapapun karena Pak Bambang takut akan merepotkan anak dan istrinya. Sampai-sampai Pak Bambang tidak sanggup untuk sekedar turun dari ranjang untuk mengambil makan atau minuman. Semenjak tidak ada Aira tidak ada orang yang perhatian lagi dirumah itu.

...****************...

“Wah, masak apa kamu, Sayang?” Tanya Maria saat melihat Aira menghidangkan makanan diatas meja makan.

“Masak gulai ikan salmon sama perkedel daging, Oma.” jawab Aira.

“Wah, sepertinya enak ini. Perkedel itu makan kesukaan Oma loh.”

“Benarkah, kalau begitu ayo Oma kita makan bareng." ajak Aira.

“Iya, nih. Oma juga sudah lapar." ujarnya.

Dengan cekatan Aira langsung mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi. “Segini cukup, Oma? Tanya Aira.

“Cukup, Sayang,” jawabnya yang langsung mengambil lauk sendiri.

Ambil yang banyak, Oma. Aira ini masakannya enak.” Kata Devan yang membanggakan istrinya.

“Sudah bisa Oma tebak, dari baunya aja sudah harum begini.” Maria langsung mencicipi masakan Aira dan setelah dirasakan rasanya memang enak.

“Kamu sangat beruntung bisa mendapatkan istri seperti Aira, udah pinter masak, cantik lagi orangnya.”

“Ah, Oma bisa aja. Ini juga Ibuku yang mengajarnya Oma.”

Berbicara sola Ibunya, Aira jadi ingat dengan sang Ibu. Walaupun Ibunya itu selalu menyisihkan, begitu-begitu Ibunya yang mengajarinya masak. Walaupun dengan cara mengomel dan sedikit kasar.

“Oh! Iya. Oma Belum kenal loh sama keluarga kamu, Aira. Kalau bisa di kenalin lah, masa Oma nggak tau keluarga cucu menantu Oma.” ujar Maria.

“Iya, nanti juga bakal dikenalkan Oma. Aku dan Aira ini kan belum mengadakan pesta pernikahan, jadi nanti pas mengadakan pesta pernikahan pasti mereka bakal diundang karena mereka ada andil besar di dalamnya,” ujar Devan.

Sementara Aira malah tidak kepikiran ke arah sana kalau suaminya akan mengadakan pesta pernikahan untuk mereka.

“Jadi kamu akan mengadakan pesta pernikahan, Mas?” Tanya Aira.

“Iya dong, Sayang. Aku inikan seorang pebisnis, dan semua orang harus tau kalau aku ini sudah menikah. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku lebih dahulu nanti setelah itu kita bisa menggelar pesta pernikahan,” jawabnya.

“Betul kata Devan, kalian harus mengadakan pesta pernikahan. Masa iya seorang pebisnis sekelas keluarga Kusuma menikahnya diam-diam, nanti suami kamu malah disangka masih lajang diluaran sana, kan bahaya.

BERSAMBUNG.

1
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
Tuty Yatun
sering2 up dong kak bagus ceritanya asal jgn terlalu bertele2 seperti sinetron ikan terbang🤭🤣
Noona Rara: Hehehe iyaa kak
total 1 replies
Cha Libra
thour ..novel mu masih bnyak yg On going npa udh nongol yg baru terus setiap cerita hampir Sma smua
Noona Rara: Iya kak. Untul novel sebelumnya itu udah stuck. Nggak bisa aku kembangin lagi.
Dan untuk kenapa ceritanya hampir sama karena memang aku fokusnya ke drama keluarga yah.
Jadi saat ini fokus aku kedua novel aja. Terjerat Takdir dan suksesnya istri yang tersakitii.
Makasih kak udah mau baca🙏🏽
total 1 replies
Sri Supriatin
Saya hadiir thor baru aja bc marathon n seryuuu👍🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih ya udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!