NovelToon NovelToon
KAMU ADALAH MEMPELAI KU

KAMU ADALAH MEMPELAI KU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”

Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : HARI YANG MULAI TERASA BERBEDA

Pagi menyelimuti rumah singgah Hero dengan hangat. Cahaya matahari perlahan menerobos jendela-jendela besar, mengusir remang dan menghangatkan ruang makan yang masih sepi.

Laura melangkah keluar kamar setelah selesai bersiap. Rambutnya terurai rapi, sementara tas kuliah sudah tersampir di bahu. Begitu mendekati ruang makan, langkahnya tertahan sejenak. Hero sudah duduk di sana.

Pria itu tampil rapi dengan kemeja putih dan jas gelap. Beberapa berkas menumpuk di samping piringnya, dibaca sekilas sebelum kembali diletakkan.

Hero mendongak begitu mendengar tapak kaki Laura.

"Pagi," greeted Hero dengan senyum tipis yang hangat.

"Pagi," balas Laura seraya menarik kursi di hadapannya dan mulai menyendok sarapan.

Belum sempat suapan pertama sampai ke mulutnya, Laura merasa diawasi. Ia menoleh dan mendapati Hero sedang memperhatikannya intens dari seberang meja.

"Udah dibawa semua peralatan kuliahnya?" tanya Hero.

Laura menghentikan sendoknya sejenak. "Udah."

"Buku-buku?"

"Udah, Hero."

"Laptop sama charger-nya?"

Laura menaruh kembali sendoknya, lalu menatap Hero dengan raut agak jengkel. "Hero, aku mau pergi kuliah, bukan mau berangkat perang. Kenapa diabsen satu-satu gitu, sih?"

Hero bukannya merasa bersalah, malah terkekeh pelan. "Ya cuma memastikan aja. Biar nggak ada yang ketinggalan."

"Semuanya udah lengkap di dalam tas, tenang aja."

"Bagus kalau gitu," sahut Hero puas. Tanpa jeda, ia menggeser segelas susu hangat mendekati piring Laura. "Minum dulu susunya."

Laura menatap gelas susu itu, lalu beralih menatap Hero. "Kamu... masih terbayang-bayang kejadian kemarin, ya?"

"Tentu aja," jawab Hero tenang.

"Aku cuma terlambat makan sekali, Hero."

"Bukan sekali, Laura," potong Hero lembut namun tegas. "Kamu itu sering banget keasyikan sendiri sampai lupa merawat diri."

Laura mengatupkan bibir, tak bisa membantah karena tahu itu benar. Akhirnya ia meraih gelas tersebut dan meminumnya beberapa teguk. "Nih, udah. Puas?"

Hero mengangguk leluasa. "Nah, sekarang baru tenang."

Laura menahan senyum di bibirnya. Aneh rasanya. Perhatian Hero yang awalnya terasa kelewat posesif dan berlebihan, kini perlahan terasa wajar bahkan menyenangkan.

Usai sarapan, Laura berdiri menyampirkan tasnya. Hero turut bangkit dan menyambar jas yang tersampir di kursi.

"Ayo, aku antar ke kampus," kata Hero singkat.

Laura refleks menoleh. "Nggak usah, aku bisa naik angkutan umum atau pesan taksi."

"Aku tahu kamu bisa."

"Trus kenapa harus diantar?"

Hero berjalan mendekati Laura, memangkas jarak di antara mereka dengan senyum tipis. "Sederhana. Karena aku cuma ingin mengantarmu."

Laura kehilangan kata-kata. dia hanya bisa menghela napas pasrah lalu mengekor di belakang Hero menuju car Porche.

Mobil sedan hitam itu berhenti tak jauh dari gerbang utama kampus. Laura memperhatikan beberapa mahasiswa yang berjalan hilir-mudik di pelataran, lalu menoleh ke arah Hero.

"Kamu nggak ikut turun, kan?" tanyanya curiga.

Hero mengernyitkan alis. "Kenapa memangnya?"

"Nanti semua orang ngelihatin."

"Memangnya kenapa kalau mereka ngelihatin? Ada yang salah?"

Laura menggeleng pelan. "Kamu tuh nggak paham..."

"Aku paham kok," potong Hero dengan binar jahil di matanya. "Kamu malu, kan?"

"Nggak! Siapa yang malu?" bantah Laura cepat, pipinya sedikit merona.

Hero tertawa renyah. "Iya deh, aku percaya. Aku nggak bakal mendebat."

Laura menghembuskan napas lega dan memutar gagang pintu mobil. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, suara Hero kembali menahannya.

"Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku."

"Iya..."

"Dan ingat, jangan kebiasaan menunda makan siang."

Laura menoleh, bibirnya mengukir senyum kecil. "Siap, Tuan Pengawas."

"Kalau perlu, aku memang bakal ngawasin kamu terus," terkekeh Hero.

Laura menggelengkan kepala sambil keluar dari mobil. Namun, baru beberapa langkah menyusuri trotoar menuju gerbang, dorongan di hatinya membuat Laura menoleh ke belakang.

Mobil itu masih di sana. Dan dari balik kaca, Hero masih memperhatikannya sampai ia benar-benar masuk.

Laura tersenyum tipis lalu melanjutkan langkah.

Tanpa ia sadari, hal-hal kecil seperti ini mulai terasa amat berbeda. Dulu, ia selalu terbiasa datang dan pergi seorang diri tanpa ada yang peduli. Sekarang, ada seseorang yang mengantarnya, mengkhawatirkan jalannya hari, dan menunggunya dengan sabar.

Dan yang paling menakutkan sekaligus menenangkan... Laura mulai menikmati rasa dipedulikan itu.

"Laura!"

Panggilan nyaring dari Diana membuat Laura menghentikan langkah tepat di depan pintu kelas. Sahabatnya itu berlari kecil menghampiri dengan cengiran lebar.

"Cie, diantar lagi nih cerita nya?" goda Diana langsung pada intinya.

Laura memutar matanya pelan. "Iya. Kenapa emangnya?"

"Nggak apa-apa sih," Diana terkekeh. "Cuma aneh aja ngelihat perubahan kamu sekarang."

Laura mengernyit. "Aneh gimana?"

"Kamu kelihatan jauh lebih santai, Ra. Nggak tegang kayak biasanya."

Langkah Laura terhenti sejenak. Senyum tipis mengembang alami di wajahnya. "Mungkin... karena sekarang hidupku terasa lebih tenang aja."

Diana mengamati raut wajah Laura beberapa saat. Kali ini, ekspresi menggodanya luntur, berganti raut hangat seorang sahabat.

"Jujur, aku senang banget ngelihat kamu kayak gini, Ra," kata Diana tulus. "Dulu tiap ngelihat kamu, bawaannya kayak ngelihat orang yang lagi nanggung beban berat banget. Sekarang, meski masalahmu belum selesai semua, wajah kamu nggak selelah dulu."

Laura menunduk menatapi ujung sepatunya.

Ia tahu betul siapa sosok di balik perubahan itu. Hero.

Pria itu hadir saat dunianya sedang hancur lebur. Awalnya Laura mengira Hero hanya penolong sementara. Namun, hari demi hari, pria itu membuktikan bahwa ia tak berniat pergi ke mana-mana.

"Aku emang merasa jauh lebih nyaman sekarang, Di," bisik Laura pelan.

Diana tersenyum dan mengelus bahu Laura. "Kalau gitu, nggak usah pusing gini apa kata orang lain. Jalani aja apa yang bikin kamu bahagia."

"Iya, aku bakal berusaha."

Tak lama kemudian, dosen pengampu masuk dan perkuliahan dimulai. Laura menyerap materi dengan fokus, berdiskusi dengan teman-temannya, dan mengerjakan tugas kelompok. Hari itu berjalan begitu mulus. Tanpa drama, tanpa ketakutan. Hanya kehidupan perkuliahan normal yang dulu sempat renggut darinya.

Namun begitu jam perkuliahan berakhir di penghujung sore, Laura berdiri di pelataran gedung sambil berulang kali mengecek jam di ponselnya.

Hero bilang mau jemput jam segini...

Laura memasukkan ponselnya ke tas, lalu mengedarkan pandangan ke arah gerbang luar. Beberapa menit berlalu. dia kembali melirik ke arah yang sama.

Lalu Laura tersentak oleh pikirannya sendiri.

Kenapa aku jadi gelisah gini nungguin dia? Laura menghela napas pendek. Ya wajar sih, kan dia sendiri yang bilang mau datang.

Tapi ketika sebuah sedan hitam yang sangat dikenalnya merapat ke area depan gedung, senyum lebar tak bisa ditahannya lagi. Laura bahkan tak perlu memastikannya lewat pelat nomor dia sudah tahu pasti siapa yang ada di balik kemudi.

Hero keluar dari mobil dan berjalan menghampirinya.

"Udah selesai kelasnya?" tanya Hero begitu sampai di depan Laura.

"Udah kok," jawab Laura halus.

Tanpa bicara banyak, Hero mengulurkan tangan dan mengambil alih tas kuliah Laura. Kali ini Laura tak menolak atau memprotes. Ia membiarkan pria itu dibawakan tasnya begitu saja.

Mereka berjalan berdampingan menuju mobil. Hero membukakan pintu penumpang untuknya.

"Langsung pulang?" tanya Hero sebelum memutari mobil.

Laura berpikir sejenak. "Sebenarnya... aku agak lapar."

Mendengar itu, senyum Hero langsung terkembang lebar. "Kalau gitu, kita cari makan dulu."

Laura ikut tersenyum hangat. Perjalanan sore itu terasa amat rileks. Tak ada lagi kekakuan di antara mereka. Bahkan ketika jemari Hero perlahan menggenggam jemarinya di atas konsol tengah saat menyetir, Laura tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kehangatan itu menjalar.

Malam harinya, usai makan malam dan kembali ke rumah singgah, Laura menggelar buku-bukunya di meja ruang keluarga untuk mengerjakan tugas.

Sementara di ruangan lain, Hero sibuk di ruang kerjanya.

Rumah itu terasa begitu tenang. Suasana yang sangat Laura syukuri. Tak ada bentakan, tak ada kekerasan, tak ada hawa ketakutan seperti yang biasa ia rasakan di rumah keluarga Prayoga dulu. Di sini, ia merasa aman menjadi dirinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Hero melangkah keluar dan berjalan mendekati Laura.

"Belum selesai juga tugasnya?" tanya Hero lembut.

Laura mendongak seraya merapikan lembaran kertasnya. "Dikit lagi kok, tinggal menyusun kesimpulan."

Hero memperhatikan susunan buku di meja, lalu mengusap lembut puncak kepala Laura. "Jangan tidur terlalu malam ya."

Laura tersenyum manis. "Iya, sebentar lagi kelar kok."

Hero baru saja hendak berbalik kembali ke ruang kerja ketika ponsel di sakunya bergetar pendek. Ia mengeluarkannya dan membaca layar.

Pesan dari Valen.

Tuan, ada perkembangan baru mengenai Varell Corporation. Ada beberapa hal mendesak yang perlu kita bahas besok pagi.

Seketika, raut santai di wajah Hero berganti menjadi dingin dan serius. dia membaca pesan itu sekali lagi sebelum mematikan layarnya.

Laura yang menyadari perubahan raut wajah Hero dari meja belajar mengernyit tipis. "Ada masalah, Hero?"

Hero menoleh, lalu dengan cepat menyunggingkan senyum menenangkan untuk Laura. "Nggak ada. Cuma urusan pekerjaan di kantor."

Laura mengangguk paham. "Kalau gitu jangan dipaksakan kerja sampai larut malam juga."

Hero tertegun sejenak mendengar perhatian sederhana dari gadis itu. Senyum tulus kembali terukir di bibirnya. "Iya, makasih ya."

Hero melangkah kembali ke dalam ruang kerjanya.

Laura melanjutkan ketikannya, sama sekali tak menyadari bahwa badai dari masalah yang sempat mereda beberapa hari ini mulai bergerak mendekat kembali.

Bagi Laura, hari ini hanyalah hari biasa yang menyenangkan. Kuliah, bertemu Diana, dijemput Hero, makan bersama, lalu belajar di rumah.

Namun tanpa ia sadari, kehadiran Hero bukan lagi sekadar pelindung atau tumpangan sementara. Pria itu telah menyusup ke dalam setiap jengkal rutinitasnya. Dan jauh di dalam hatinya, Laura tak lagi hanya menunggu mobil jemputan itu datang dia menantikan kehadiran Hero dalam hidupnya.

Sementara di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, Hero menatap kembali pesan dari Valen dengan tatapan tajam.

Besok, urusan Varell Corporation akan menyita seluruh perhatiannya. Dan ketenangan hangat yang baru saja mereka nikmati... mungkin akan segera diuji kembali.

1
-Thiea-
aku pun penasaran Laura. tiba-tiba muncul dan langsung ngajak nikah../Facepalm/
Prayy: sayang nya Laura belum bisa nunjukin perasaan nya🤣
total 1 replies
-Thiea-
jodohmu bukan orang sembarangan Laura. serasa dapat durian runtuh ya. 🤭
Prayy: Hero sering di perebutkan anak anak perempuan para pengusaha karena tampan 🤣
total 1 replies
-Thiea-
sudah terdeteksi Bucin sejak awal nih../Chuckle/
Prayy: iyaa karena Laura telah melewati berbagai hal yang bikin dia terluka,,itu hadiah untuk nya🤣
total 1 replies
Myz Pena
para pembaca juga penasaran siapa.si hero ini 🫣
Myz Pena: tapi dia kaya raya dan bukan orang sembarang 🤭
total 2 replies
Myz Pena
maka beruntunglah kamu laura,, bentar lagi kamu akan kèluar dari siksaan author 🤣
Prayy: karena itu terus di siksa dari awal🤣
total 1 replies
Myz Pena
pasti kaget kalian kan..
Prayy: benar karena masih muda udh terkenal tampan lagi,,jadi rebutan anak anak pengusaha 🤣
total 1 replies
Myz Pena
saking mandirinya jadi kebentuk mentalnya setangguh ini.. ini ma biar nggak ada laki2 tetap juga bisa hidup.. karena semua bisa dilakukan sendirian.. 🤭
Prayy: apa apa sendiri itu sangat menyakitkan 😄
total 1 replies
Myz Pena
pelan2 bang hero 🤭
Myz Pena
aduh perhatiannya ya🤭
Myz Pena
di jemput calon suami 🤭
Myz Pena: diantar jemput donk kalau gitu 🤭
total 2 replies
Kartika Candra Buwana
semoga kalian baik baik saja ya
Kartika Candra Buwana
wah apa ya yang akan dibahas ya?
Prayy: di bab selanjutnya akan terjawab 🙏
total 1 replies
Miu.Nuha
kakek, bawa Laura pergi dari rumah itu donk. bawa dia bersamamu aja 🥲
Miu.Nuha
gk pernah bener laura berbuat dimata kalian 😑 emang nyebelin ih ini keluarga...
Miu.Nuha
yaaa pak dosenny gk mau ngertiin 😑
sedih kan ya...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
okay.. berrti emak mertua mu juga dong! 🗿😭
Arni Arlinawati Pratiwi💃
eee.. lu sape, maen peluk peluk, woy!!! 🗿🙄
Arni Arlinawati Pratiwi💃
gak tau lagi emak!!! thorr.. gak mau tau emak, habis ini buat laura bahagia!!! /Skull/
Prayy: iya Mak bab selanjutnya udh masuk bahagia Laura 😄
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bener ming.. bener banget, pergi gak kamu sayang dari situ! /Skull/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
emak.. "lu brani nampar anak angkat gue!"

kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.

DUAK

"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!