NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 9—

Vorax mulai mendorong pasukannya semakin jauh melewati Asterwaff.

Kini, barisan terdepan pasukannya telah hampir memasuki Victoria.

Namun, kemajuan itu tidak berjalan semulus yang diperkirakan.

Beberapa jam sebelumnya, pasukan Asteria telah menanam ranjau di sepanjang jalur yang diperkirakan akan dilewati pasukan Gracia. Ledakan demi ledakan memecah formasi mereka, memaksa para prajurit memperlambat pergerakan dan mencari jalur alternatif.

Victoria masih bertahan.

Veronica, Lylian, dan Kael berada di sana untuk mempertahankan kota sekaligus menghentikan pasukan Vorax sebelum mereka berhasil menembus pertahanan terakhir.

Di tengah gempuran tersebut, Vorax akhirnya memutuskan untuk mundur seorang diri.

Bukan karena takut.

Ia hanya perlu mengetahui perkembangan medan perang lainnya.

Beberapa menit kemudian, Vorax tiba di sebuah tenda militer sederhana yang dijadikan pangkalan peristirahatan sementara.

Ia masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tubuhnya dijatuhkan ke kursi.

"Apa yang baru saja terjadi?"

Vorax menatap meja yang dipenuhi peta dan dokumen.

"Apa yang sebenarnya mereka lakukan?"

Tangannya mengambil salah satu laporan.

"Jebakan sihir?"

Ia membaca laporan itu lebih teliti.

Kemudian ekspresinya berubah.

"Foulska dibombardir hingga wilayahnya dipenuhi radiasi dan tidak dapat dilewati pasukan..."

Vorax meletakkan dokumen tersebut.

"Pertahanan macam apa ini?"

Ia mengusap dahinya.

Situasi di medan perang mulai menyimpang dari perhitungan awalnya.

Serangan di Foulska terhenti.

Victoria masih bertahan.

Dan sekarang Kael bahkan telah turun langsung untuk memperkuat pertahanan di sana.

"Karena situasi ini, Kael sampai harus membantu di Victoria..."

Vorax menyandarkan tubuhnya.

"Dia benar-benar merepotkan."

Tatapannya beralih kepada peta.

Jari telunjuknya mengikuti posisi Victoria sebelum berhenti pada satu titik.

"Manipulasi ruang..."

Vorax terdiam.

"Apakah ada cara untuk menembusnya?"

Beberapa detik berlalu.

Kemudian satu nama muncul di pikirannya.

"Shindou."

Mata Vorax sedikit menyipit.

"Rule Breaker..."

Artefak itu merupakan salah satu dari dua belas Artefak Legendaris yang ada di Cardinal, sama seperti Gate of Multifunction milik Allwin.

Namun, Rule Breaker bukan sekadar senjata dengan daya hancur tinggi.

Artefak tersebut memiliki kemampuan untuk meniadakan aturan tertentu yang berlaku pada target maupun penggunanya.

Jika teori Vorax benar, maka manipulasi ruang Kael dapat menjadi sasaran yang sempurna.

Dan jika itu terjadi...

Shindou mungkin menjadi kunci untuk menyingkirkan salah satu komandan terpenting Asteria.

"...Aku harus memerintahkannya membunuh Kael secepat mungkin."

Vorax mengambil beberapa laporan lain yang sebelumnya ia abaikan.

Matanya bergerak cepat membaca satu demi satu informasi.

Kemudian tangannya berhenti.

"Rouge telah mati?"

Alisnya terangkat.

"Bagaimana bisa?"

Ia membaca laporan tersebut sekali lagi.

"Siapa yang mampu membunuh monster seperti dia?"

Tatapannya berhenti pada nama yang tercantum di bagian bawah laporan.

"Allwin..."

Tangan Vorax mengepal.

"Bajingan."

Ia menyandarkan tubuhnya.

"Aku sangat yakin Asteria tidak memiliki sebanyak ini penyihir kelas monster sebelumnya."

Vorax kembali menatap peta.

Sekarang ia mulai memahami sesuatu.

Masalah Asteria bukan hanya pertahanan mereka.

Jumlah aset berbahaya yang mereka miliki telah bertambah.

Kael di garis depan.

Veronica sebagai pendukung jarak jauh.

Dan Allwin sebagai executor yang mampu menghadapi monster seperti Rouge.

Belum lagi Serena dan Lylian.

"Kalau begini..."

Vorax berdiri.

"Perang ini akan jauh lebih merepotkan dari perkiraanku."

Ia mengambil plat dada militernya sebelum meninggalkan tenda.

"Aku harus kembali."

---

Victoria.

Ledakan kembali mengguncang tanah.

Debu dan asap memenuhi jalan utama kota.

Pasukan Gracia mencoba menerobos celah yang terbentuk di pertahanan Asteria.

Namun, sebelum mereka sempat memperlebar celah tersebut—

BOOM!

Ledakan menghantam barisan terdepan mereka.

Beberapa prajurit terlempar dan formasi mereka kembali kacau.

"Ranjau lagi!"

"Tidak mungkin!"

"Jangan maju! Cari jalur lain!"

Perintah-perintah saling bertumpuk.

Pasukan Gracia mulai kehilangan momentum.

Di atas salah satu bangunan pertahanan, Lylian mengamati medan perang.

Angin berputar perlahan di sekeliling tubuhnya.

Matanya mengikuti pergerakan pasukan musuh.

"Mereka mulai kehilangan formasi."

Di sampingnya, Veronica menurunkan tangannya setelah menyelesaikan satu rangkaian sihir.

"Bagaimana keadaan sisi timur?"

"Masih bertahan."

Lylian menunjuk ke arah jalan utama.

"Tapi mereka mencoba mengalihkan pasukan ke sana."

Veronica melihat arah yang ditunjuknya.

"Kalau begitu kita tutup jalurnya."

Ia mengangkat tangannya.

Lingkaran sihir mulai terbentuk di udara.

Namun sebelum mantra itu dilepaskan—

"Jangan."

Suara Kael terdengar dari belakang mereka.

Veronica menoleh.

Kael berdiri di antara reruntuhan pertahanan, tatapannya tertuju pada medan perang.

"Jangan habiskan sihir kalian untuk mereka."

Veronica mengernyit.

"Kenapa?"

Kael menunjuk ke arah barisan Gracia.

"Lihat."

Keduanya kembali mengamati medan perang.

Pasukan Gracia memang masih jauh lebih banyak.

Namun mereka tidak lagi bergerak sebagai satu kesatuan.

Ranjau yang dirancang Allwin telah memaksa mereka memecah formasi.

Setiap kali mereka mencoba mencari jalur baru—

BOOM!

Ledakan kembali menghantam tanah.

Kael tersenyum tipis.

"Ranjau buatan Allwin jauh lebih efektif dari perkiraan."

Lylian menatap medan penuh asap dan reruntuhan.

"Dia dapat ranjaunya dari mana?"

"Artefaknya."

Kael menunjuk beberapa posisi pada peta kecil yang dibawanya.

"Allwin menentukan titik-titik pemasangannya. Pasukan teknik hanya perlu mengikuti instruksinya."

Veronica kembali menatap medan perang.

"Jadi selama ini..."

"Ya."

Kael menarik napas.

"Allwin tidak sedang mempersiapkan jebakan untuk menghancurkan mereka."

Tatapannya mengeras.

"Dia mempersiapkan medan supaya mereka tidak bisa bergerak sesuai keinginan mereka."

Di kejauhan, barisan Gracia kembali mencoba maju.

Beberapa unit bergerak melewati jalur sempit.

—

BOOM!

Tanah terangkat.

Formasi mereka kembali terpecah.

"Komandan!"

Seorang prajurit Asteria berlari mendekat.

"Pasukan Gracia di sektor utara mulai mundur!"

Kael menoleh.

"Mundur?"

"Ya. Mereka tidak bisa mempertahankan kecepatan serangan."

Kael memandang Victoria.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, tekanan terhadap pertahanan Asteria mulai berkurang.

"Jangan kejar."

Prajurit itu terdiam.

"Jangan?"

"Benar."

Kael menunjuk garis pertahanan.

"Biarkan mereka mundur."

Tatapannya kembali tertuju pada medan perang.

"Semakin jauh mereka bergerak dari jalur yang sudah kita petakan, semakin sulit bagi mereka untuk menyerang."

Lylian akhirnya memahami maksudnya.

"Jadi kita tidak perlu menghancurkan mereka."

Kael mengangguk.

"Kita hanya perlu membuat mereka tidak bisa maju."

Ia menatap pasukan Gracia yang perlahan mundur.

"Setelah bala bantuan tiba, baru kita serang balik."

Veronica tersenyum tipis.

"Pertahanan yang menyebalkan."

"Itulah tujuannya."

Suara ledakan kembali terdengar dari kejauhan.

Satu demi satu.

Seolah medan perang Victoria sendiri telah berubah menjadi senjata.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

Asteria mulai mengambil kembali kendali atas medan perang.

Lylian tiba-tiba teringat sesuatu.

"Berapa jauh bala bantuan kita?"

Kael membuka peta.

"Yang utama sekitar delapan puluh kilometer."

Ia menunjuk sebuah titik.

"Dengan kondisi jalan sekarang, mungkin membutuhkan dua sampai tiga hari sebelum semuanya berkumpul."

Lylian menghela napas.

"Dua sampai tiga hari..."

"Sedangkan bala bantuan terdekat berasal dari Mattrix."

Kael menunjuk titik lain.

"Jaraknya sekitar dua puluh kilometer."

Veronica terdiam.

"Kalau begitu mereka seharusnya—"

"Belum."

Kael memotong.

"Mereka masih dalam perjalanan."

Lylian menatapnya dengan ekspresi datar.

"Jauh juga."

Veronica mendesah.

"Kita benar-benar masih mengandalkan jalan kaki dan kereta kuda di tengah perang sebesar ini."

Kael menatapnya.

"Selamat datang di kenyataan."

Veronica mengabaikan komentarnya.

"Sebelum bala bantuan tiba..."

Ia menatap medan perang.

"Kita harus memikirkan cara menyelamatkan Serena."

Lylian seketika terdiam.

Ekspresi wajahnya berubah.

"Serena..."

Ia menundukkan kepala.

"Lalu bagaimana kau tahu dia masih hidup?"

Veronica memasukkan tangannya ke dalam saku.

"Beberapa hari lalu dia memberiku sesuatu."

Ia mengeluarkan sebuah kompas kecil berwarna hijau zamrud.

"Dia bilang, kalau dirinya tertangkap atau terpisah dari kita, gunakan ini untuk mencarinya."

Veronica memperlihatkan benda tersebut kepada Lylian.

"Kompas ini mampu mendeteksi keberadaan Magi dari sabuk miliknya."

Lylian menatap benda itu.

"Dan kau masih menyimpannya?"

"Ya."

Veronica tersenyum tipis.

"Lagipula, Serena tidak akan mati semudah itu."

Lylian langsung berdiri.

"Kalau begitu kita cari sekarang."

Kael menatapnya.

"Dan membiarkan Victoria ditaklukkan musuh?"

Lylian terdiam.

Kael menunjuk medan perang.

"Prioritas."

Ia kemudian menatap kompas di tangan Veronica.

"Begitu bala bantuan tiba, kita cari dia."

Veronica mengangguk.

"Setuju."

Mereka kembali menghadap medan perang.

Namun tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa benda yang mereka cari berada jauh di luar jangkauan mereka.

◇◇◇

Di sebuah tempat yang sangat jauh dari medan perang...

Sebuah gudang tua berdiri di tengah hutan.

Tidak ada suara pasukan.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada sihir yang menghantam tanah.

Hanya suara angin yang melewati celah-celah dinding kayu.

Di dalam gudang tersebut, Serena masih duduk di lantai.

Kedua tangan dan kakinya terikat oleh rantai hukuman milik Shindou.

Ia telah mencoba menghancurkannya berkali-kali.

Semuanya sia-sia.

Beberapa bagian tubuhnya telah terkena goresan Rule Breaker.

Aturan yang memungkinkan kekuatannya melawan belenggu tersebut telah dinonaktifkan.

Serena menatap rantai di tangannya.

Kemudian mencoba menggerakkannya sekali lagi.

Tidak bergerak.

Ia menghela napas.

"Jadi..."

Serena mengangkat kepalanya.

"Mau sampai kapan gw di sini?"

Tidak ada jawaban.

Ia menoleh ke kanan.

Kemudian ke kiri.

Gelap.

Tidak ada seorang pun.

"Ruangan ini gelap banget, kampret."

Serena kembali menyandarkan kepalanya ke dinding.

Sudah berjam-jam ia berada di sana.

Tidak bisa berdiri.

Tidak bisa berjalan.

Bahkan tidak mampu menggerakkan tubuhnya dengan bebas.

Yang bisa ia lakukan hanyalah berkedip, berbicara, dan menoleh.

Untuk seseorang seperti Serena, kondisi tersebut terasa lebih menyebalkan daripada luka apa pun.

Ia memejamkan mata.

"Shindou..."

Hening.

Serena membuka satu matanya.

"SHINDOU, BANGSAT!"

Teriakannya menggema di dalam gudang.

Tidak ada jawaban.

Serena mengembuskan napas panjang.

"...Nih orang punya rencana apa dah?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!