NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Menuju Takdir Baru

​Matahari pagi menyingsing terang, memancarkan kehangatan yang mengikis sisa-sisa kegelapan semalam. Di saat anak-anak panti sedang tertawa riang bermain di halaman depan, Kirana berdiri mematung di tengah kamarnya. Matanya menatap tajam ke arah bayangan dirinya di cermin retak. Keputusan itu akhirnya telah membulat di dalam dadanya.

​"Aku sudah memikirkan semuanya," bisik Kirana pada pantulan dirinya sendiri, merangkai alasan yang menguatkan ketetapan hatinya. "Aku tidak bisa selamanya terus-terusan membebani Ibu Ratna dan panti ini. Usiaku sudah genap dua puluh tahun, sementara anak-anak panti yang lain umurnya rata-rata masih sangat kecil dan lebih membutuhkan perhatian serta biaya panti."

​Bagi Kirana, menerima tawaran Rian bukan sekadar tentang mengejar cita-cita kuliah, melainkan juga tentang melapangkan jalan bagi adik-adik asuhnya di panti. Ia harus berdiri di atas kakinya sendiri, apa pun risiko yang harus ia hadapi di dunia luar.

​Siang itu, Kirana mulai bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki: sebuah blouse sederhana berwarna krem yang bersih, dipadukan dengan celana jeans cantik yang pas di tubuhnya, serta sepatu flatshoes hitam kesayangannya yang selalu ia jaga dengan baik. Rambut hitamnya yang panjang dan halus dibiarkan tergerai sederhana, membingkai wajah cantiknya yang memancarkan keteguhan alami tanpa polesan riasan tebal.

​Ia mengemas seluruh dokumen penting dan beberapa helai pakaian ke dalam tas ranselnya. Sebelum melangkah keluar, Kirana berpamitan pada Ibu Ratna. Dengan mata berkaca-kaca, sang pengasuh memeluk anak kesayangannya itu, memberikan restu serta doa tulus agar langkah Kirana selalu dilindungi oleh Tuhan.

​"Kirana, ini kesempatanmu," gumamnya pelan di ambang pintu kamar, menghembuskan napas panjang untuk mengusir sisa-sisa rasa gugup di dadanya.

​Dengan jemari yang menggenggam erat tali ranselnya, Kirana melangkah mantap menyusuri lorong panti hingga menuju gerbang depan. Dan benar saja, tepat di tepi jalan di balik gerbang kayu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam milik Rian Wijaya sudah terparkir rapi menunggunya.

​Pak Eko, yang berdiri bersedekah tangan di samping mobil, langsung mengulas senyum ramah saat melihat kedatangan Kirana. Ia segera membukakan pintu belakang kendaraan tersebut.

​Kirana menatap mobil mewah itu sejenak, tahu bahwa begitu ia melangkahkan kaki masuk ke dalamnya, kehidupannya sebagai gadis panti yang terbuang akan berganti menjadi lembaran baru yang penuh misteri di samping seorang CEO berkuasa. Tanpa ragu lagi, Kirana melangkah maju menjemput takdirnya.

Pintu sedan mewah itu terbuka lebar. Kirana membungkukkan badan sedikit untuk melangkah masuk ke dalam kabin yang hangat. Seketika itu pula, pandangannya tertuju pada sosok pria yang duduk tenang di kursi belakang.

​Di dalam sana, Rian sudah menunggunya.

​Pria itu mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap yang dipotong sangat rapi, memancarkan aura ketegasan dan kemewahan yang tak terbantahkan. Posisinya tegap meski ia terduduk di atas jok empuk mobil mewah tersebut, sementara jemarinya yang panjang dan kokoh bertengger di atas pangkuan. Di sampingnya, sebuah kursi roda lipat dengan desain modern dan elegan bersandar rapi di bagasi belakang yang sengaja disiapkan.

​Saat Kirana duduk di sampingnya, Rian memutar pandangannya. Matanya yang tajam dan dingin menatap Kirana dari ujung rambut yang tergerai hingga ke sepatu flatshoes hitam yang dikenakannya. Tidak ada tatapan meremehkan; hanya ada kecermatan seorang pria berkuasa yang sedang menilai keputusan besar dalam hidupnya.

​"Kamu datang tepat waktu," ucap Rian memecah keheningan. Suaranya berat, dalam, dan tanpa ragu.

​Kirana meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. Bau harum kayu cendana yang khas dari tubuh Rian kembali memenuhi indra penciumannya, menciptakan atmosfer yang begitu mengintimidasi sekaligus menenangkan.

​"Saya sudah mengambil keputusan, Pak Rian," jawab Kirana dengan suara jernih dan mantap, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria di sampingnya. "Saya menerima penawaran Bapak untuk menjadi istri Bapak, sesuai dengan kesepakatan yang Bapak ucapkan semalam."

​Rian tidak terkejut. Garis bibirnya yang tegas mengulas senyum tipis—hampir tak terlihat—seolah ia sudah menduga bahwa gadis cerdas di hadapannya tidak akan melewatkan kesempatan berharga ini.

​"Pilihan yang bijak," sahut Rian pelan. Ia mengisyaratkan pandangan ke arah depan. "Pak Eko, langsung menuju Kantor Catatan Sipil. Pastikan tim hukum kita sudah menyiapkan seluruh dokumennya."

​"Baik, Pak Rian," jawab Pak Eko dari kursi kemudi, lalu mulai melajukan kendaraan bernomor polisi istimewa itu membelah jalanan kota yang ramai di bawah terik matahari siang.

​Di dalam perjalanan, suasana kembali hening. Kirana menatap keluar jendela, memperhatikan bayangan pohon dan gedung-gedung tinggi yang berkelebat cepat. Hatinya berdesir hebat. Di sampingnya duduk seorang pria asing berkuasa yang kini siap menjadi suaminya dalam hitungan jam—seorang CEO yang terikat di atas kursi roda, namun memiliki kekuatan untuk mengubah seluruh jalan hidupnya.

​"Jangan merasa cemas," tiba-tiba suara Rian kembali terdengar, memotong lamunan Kirana. Pria itu tidak menoleh, namun tahu persis kegelisahan yang menyelimuti gadis di sampingnya. "Pernikahan ini mungkin berawal dari sebuah kesepakatan, tapi saya tidak pernah main-main dengan komitmen saya. Selama kamu setia dan menghormati posisi ini, seluruh perlindungan dan masa depanmu ada di tangan saya."

​Kirana menoleh, menatap profil samping wajah Rian yang tampak tegas diterpa cahaya siang. Dalam diam, Kirana mengangguk perlahan. Pintu masa lalunya yang penuh luka telah tertutup rapat, dan kini ia resmi melangkah ke dalam dunia baru yang penuh teka-teki bersama Rian Wijaya.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!