"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Sepuluh menit ini adalah waktu yang paling berharga bagi Angga. Ia langsung mengusap layar ponselnya dan mengirim pesan perintah tegas di grup WhatsApp anak buahnya:
Angga: [Pastikan seluruh mobil Grand Livina tidak boleh masuk!]
Abay: [Siap, Bos!]
Angga: [Apakah kalian sudah menemukan Amira?]
Acil: [Belum, Bos. Kita sedang melacak ojol yang bawa Amira.]
Angga: [Oke, sekarang periksa seluruh mobil yang mau masuk ke rumah. Kalau ada Amira, usahakan tahan selamanya!]
Aday: [Mobil yang lain bagaimana, Bos?]
Angga: [Mobil Alphard jangan kalian periksa! Yang lain periksa semua!]
Acay: [Kenapa, Bos?]
Angga: [Biasanya itu mobil kolega istri saya, dan yang terpenting itu bisa saja mobil Raka. Jadi kalian jangan cari gara-gara!]
Abay, Acay, Aday: [Siap, Bos!]
Lima menit berlalu. Angga berpura-pura sibuk dan gelisah, sengaja bolak-balik menelpon di depan Pak Handoko.
"Cepat kalian cari Amira dan bawa ke sini! Dalam waktu lima menit kalian harus menemukannya!" panggil Angga dengan suara lantang yang disengaja.
Para kerabat yang melihat aksinya berbisik-bisik, mengagumi kebaikan Angga yang terlihat sangat peduli pada Amira. Padahal, jika Amira tidak datang, Angga-lah yang paling diuntungkan.
Di sudut teras, Pak Handoko mendesah kecewa dalam hati. Aku terlalu berharap besar pada pria asing itu bisa membahagiakan cucuku...
Denting ponsel Angga berbunyi. Anak buahnya mengirimkan foto saat sedang mengejar sepeda motor ojol yang membonceng seorang wanita—pakaian penumpang itu terlihat mirip dengan yang dikenakan Amira tadi.
Angga membalas singkat: [Kalian tahan ojol itu! Jangan sampai sampai ke sini!]
Aday: [Tenang saja, Bos!]
Risma mendekati ayahnya. "Bagaimana, Yah? Ada kabar dari Kak Amira?" bisiknya.
"Anak buah Ayah sudah mengunci keberadaan Amira. Kamu bisa tenang sekarang," bisik Angga mantap.
"Beneran, Yah?"
"Iya, tenang saja."
Risma mengulum senyum lalu menjauh pelan. Keberuntungan rasanya datang bertubi-tubi malam ini—berhasil menggagalkan pernikahan Amira dan Raka, dan sebentar lagi ia akan memegang jabatan CEO! Sungguh hal yang sangat membahagiakan. Meski begitu, di permukaan Risma tetap memasang raut wajah khawatir dan sedih.
"Sudah enam menit, Ayah... Aku siapkan dokumennya dulu, ya," ujar Ratna pada Pak Handoko.
"Kenapa kamu enggak sekalian sediakan pena, meja, sama mesin fotokopi ke sini?" ketus Pak Handoko tajam.
"Oh, tentu saja sudah saya persiapkan, Ayah," jawab Ratna tanpa rasa bersalah.
"Kamu..." Gigi Pak Handoko gemetuk menahan emosi.
"Sayang, jangan keterlaluan... Kita tunggu Amira sebentar lagi," sela Angga berpura-pura menenangkan.
"Iya, Mah... Aku juga enggak mau dapat jabatan CEO dengan cara seperti ini," timpal Risma memasang wajah polos.
"Kalian ini terlalu baik..." ucap Ratna terharu. "Padahal Amira selalu bersikap dingin pada kalian. Tenang saja, ini bukan kesalahan kalian. Ini murni kesalahan Amira sendiri—siapa suruh tidak disiplin? Lagipula, sebagian besar investor memang menginginkan perubahan kepemimpinan, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, Risma."
Pak Handoko rasanya ingin muntah mendengar sandiwara manis keluarga itu. Sebagai pria uzur yang kenyang pengalaman hidup, ia tahu betul betapa liciknya Angga dan Risma.
Tak lama, beberapa orang suruhan membawakan meja dan pena, meletakkannya tepat di hadapan Pak Handoko. Bahkan di samping mereka sudah berdiri seorang pengacara dan notaris yang siap mengeksekusi.
"Kamu benar-benar merencanakannya dengan sangat matang, ya," sindir Pak Handoko dingin.
"Sudah, Ayah. Cepat tanda tangan."
Pak Handoko menarik napas berat dan memegang pena. Namun, baru saja ujung pena hendak menyentuh kertas, terdengar keriuhan dari arah gerbang utama. Empat unit mobil Alphard hitam mengilap masuk beriringan dengan sangat anggun.
"Wow! Pejabat mana yang datang itu?"
"Iya, pasti pengusaha besar! Lihat saja, mobilnya seragam semua. Biasanya disamarkan begitu supaya orang penting di dalamnya aman dari sergapan."
"Nyonya Ratna memang luar biasa... Bisa mendatangkan tamu sepenting ini. Kita harus makin mendekat sama Nyonya Ratna!"
Berbagai pujian terlontar dari para tamu. Ratna sendiri sempat bingung, sebab tamu penting utamanya adalah Raka, dan ia ragu Raka mau membawa iring-iringan mewah seperti ini setelah dikhianati.
"Itu mobil Mas Raka, Mah!" seru Risma gembira.
"Yang mana?"
"Itu, yang paling depan! Aku hafal plat nomornya!"
"Sepertinya Raka benar-benar menyukaimu sampai datang membawa rombongan semewah ini!" puji Ratna.
Pintu penumpang Alphard paling depan terbuka. Raka melangkah keluar dengan setelan jas mahal dan gaya yang sangat elegan.
"Wah, beneran! Itu kan Raka Karyana! Tampan sekali..." bisik para tamu terpukau.
Raka berjalan menuju teras dengan langkah penuh percaya diri dan dagu terangkat.
"Terima kasih sudah datang, Raka," sambut Ratna penuh senyum.
Dengan wajah dingin, Raka menjawab, "Saya hanya menghargai Tante dan Risma, makanya saya datang."
"Iya, terima kasih. Dan... hadiah darimu banyak sekali," puji Ratna merujuk pada tiga Alphard di belakangnya.
Dahi Raka berkerut bingung. "Hadiah?"
"Iya, kamu sampai membawa tiga mobil Alphard mengiringimu, itu pasti hadiah pengawalan buat Risma, kan?"
Raka terdiam sejenak. Ia sebenarnya bingung Alphard siapa itu, tetapi karena hal ini mengangkat gengsinya, Raka memilih diam dan memanfaatkan situasi.
"Kamu memang luar biasa, Raka! Nanti setelah urusan dokumen ini selesai, aku suruh orang untuk mengurus mobil-mobil hadiahmu," puji Ratna kian membubung tinggi. Raka hanya mengangguk pelan, yang langsung diartikan Ratna sebagai konfirmasi.
Ratna kembali berbalik menatap Pak Handoko. "Ayah, tadi Raka baru datang, jadi saya harus menyambutnya dulu. Sekarang cepat tanda tangani surat pengalihan perusahaan itu."
Mata Pak Handoko mendelik tajam. "Masih ada satu menit lagi! Kenapa kamu begitu bersemangat?!"
"Ayah, sudahlah! Amira enggak akan datang! Dia pasti malu harus menikah sama tukang ojol, gengsinya kan gede sekali. Besok aku yang akan cari dia, Ayah... Mungkin dia cuma sedang ngambek," cerocos Ratna.
"Baiklah... Tapi ingat, kalau Amira pulang, suruh dia langsung ke rumahku," tegas Pak Handoko pasrah. Demi harga diri dan janjinya, ia bersiap menorehkan tanda tangan di atas dokumen pengalihan cabang perusahaan tersebut.
"Tuan... Bukankah itu Nona Amira?" bisik Farid, asisten pribadi Pak Handoko, tiba-tiba.
"Mana cucuku?!"
"Itu, Tuan! Baru keluar dari mobil Alphard tengah!"
Pak Handoko mengikuti arah telunjuk Farid, dan seketika bibirnya mengembang lebar. "Hahaha!" tawa Pak Handoko pecah. "Ratna, sepertinya malam ini anak tirimu kurang beruntung!"
Angga dan Risma langsung menoleh cepat, menatap tajam ke arah mobil Alphard tersebut dengan wajah pucat pasi.
Di sana, Amira melangkah keluar dengan gaun pengantin super mewah, bertengger mahkota bertatahkan kilau berlian di kepalanya. Ia berjalan anggun bersanding dengan seorang pria berpostur tegap—Luki! Jika tadi pagi Luki mengenakan jaket ojol lusuh, kini ia menjelma menjadi pria berkarisma dalam balutan jas eksklusif yang sangat elegan. Kehadiran mereka diapit oleh sepuluh orang pengawal berbadan tegap bersetelan jas hitam yang mengawal ketat.
Para tamu undangan seketika riuh rendah membicarakan mereka:
"Wah! Pantas saja Amira meninggalkan Raka! Rupanya dia punya pilihan yang jauh lebih berkelas!"
"Ih, bukankah itu gaun koleksi eksklusif? Kalau enggak salah harganya tiga ratus juta lebih!"
"Bukan tiga ratus juta, itu koleksi Super Nova! Setidaknya lima ratus juta lebih!"
"Kasihan sekali, ya... Gaun semewah itu harusnya untuk pesta megah di ballroom, bukan acara rumah sederhana begini..."
Berbagai bisikan pujian dan kekaguman terus bersahutan di udara, membuat kepala Ratna mendadak berdenyut pusing seketika.