NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Bisikan Angin dari Benua Seberang

Jejak langkah Kaelen dan Lyra meninggalkan batas daratan tengah, menyusuri punggung bukit berbatu yang membatasi wilayah beradab dengan bentangan alam liar bagian timur. Panorama di hadapan mereka berubah drastis dari kemegahan kota-kota pualam menjadi hutan belantara purba yang diselimuti kabut putih tipis. Pepohonan raksasa berbatang hitam legam menjulang tinggi menembus angkasa, dedaunannya yang lebat menyaring cahaya matahari hingga menciptakan pola bayangan remang-remang di atas tanah yang tertutup lumut tebal. Di tempat sunyi ini, suara alam mendominasi—mulai dari desau angin yang melintasi jurang hingga jeritan burung-burung malam berbulu keperakan yang terbang rendah di antara dahan-dahan tua.

Kaelen berjalan di depan, sementara pedang baja gelap di pinggangnya tetap tenang, memancarkan denyutan spiritual yang menyelaraskan diri dengan vibrasi bumi. Perjalanan mereka tidak lagi dibebani oleh rasa gentar atau keharusan melarikan diri dari kejaran pembunuh bayaran. Setiap tarikan napas terasa lapang, seolah esensi kosmik dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit yang menyatu di dalam dantian Kaelen kini telah menjadi bagian dari hukum alam tubuhnya sendiri. Lyra mengikuti di belakang dengan langkah ringan, kantong pinggang alkimianya kini lebih sering diisi oleh bahan-bahan herbal penyembuh dan bunga-bunga liar langka daripada cairan racun pemurni yang mematikan.

"Sudah lima hari kita meninggalkan menara utama aliansi, Kaelen," ucap Lyra sambil memetik sekuntum bunga biru berporos kristal yang tumbuh di sela-sela akar pohon purba. Ia mengamati kelopak bunga itu dengan saksama sebelum menyimpannya ke dalam kotak kayu kecil di dalam tasnya. "Kehidupan di luar sana tampaknya benar-benar kembali normal. Para pedagang sudah mulai berani melintasi jalur utara tanpa rasa takut dirampok oleh sisa-sisa pasukan faksi kuno."

Kaelen melirik sekilas ke arah gadis itu, lalu menghentikan langkahnya sejenak untuk memandang hamparan lembah hijau yang membentang luas di bawah tebing tempat mereka berdiri. "Normalitas itu adalah hasil dari pilihan yang mereka ambil, Lyra. Kedamaian tidak datang begitu saja sebagai hadiah dari langit; ia harus ditebus dengan keberanian untuk merobohkan tirani. Namun, kau benar—untuk saat ini, daratan tengah berada di tangan para pemimpin yang tepat."

"Lalu, apa yang membuatmu tampak begitu serius sejak kita memasuki wilayah hutan timur ini?" tanya Lyra tajam, menangkap perubahan kecil pada ekspresi wajah Kaelen. Sebagai seseorang yang telah mendampingi pemuda itu melewati berbagai krisis mematikan, ia tahu betul kapan intuisi tempur Kaelen mulai mendeteksi anomali di sekitar mereka.

Kaelen tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, memperluas jangkauan indra spiritualnya menembus lapisan kabut hutan sejauh beberapa kilometer ke depan. Di dalam kesadarannya, aliran Qi di udara Lembah Timur ini menunjukkan pola yang tidak biasa—seolah-olah ada pusaran energi asing yang sedang menyedot vitalitas alam secara paksa dari dalam tanah.

"Ada sesuatu yang mengganjal," jawab Kaelen pelan setelah membuka kembali matanya. "Aliran Qi di hadapan kita tidak mengalir secara alami. Ia ditarik ke satu titik pusat, menyerupai pola penyerapan dari formasi alkimia skala masif yang pernah kita lihat di markas faksi sekte kuno. Tapi skalanya jauh lebih besar... seukuran satu wilayah provinsi."

Ekspresi Lyra seketika berubah serius. Ia bangkit berdiri, merapatkan kantong perbekalannya. "Mungkinkah ada sisa-sisa pengikut Liliyana atau aliansi lama yang mendirikan markas persembunyian rahasia di pedalaman hutan ini untuk membangkitkan kembali sisa-sisa kekuatan Jantung Bayangan?"

"Kemungkinan itu selalu ada," kata Kaelen dingin. "Mari kita selidiki. Jangan lepaskan kewaspadaanmu."

Jejak Kaki di Tanah Basah

Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi, memanfaatkan teknik pergerakan bayangan hampa yang membuat tubuh mereka meluncur tanpa suara di atas permukaan tanah. Setelah menempuh jarak sekitar sepuluh kilometer menyusuri lembah curam, pemandangan di sekitar mereka mulai menunjukkan tanda-tanda campur tangan manusia. Pepohonan di kawasan tersebut tampak layu, batangnya mengering dan menghitam, sementara tanah di bawahnya berubah menjadi lumpur kehitaman yang mengeluarkan bau belerang yang menyengat.

Di tengah kawasan hutan yang mati itu, mereka menemukan sebuah jejak kaki besar yang tercetak jelas di atas tanah berlumpur. Bentuk jejak itu tidak menyerupai telapak kaki manusia normal; ia memiliki cakar tajam di setiap ujung jarinya dengan ukuran tiga kali lipat lebih besar dari ukuran telapak kaki pria dewasa. Di samping jejak tersebut, terdapat sisa-sisa kerangka binatang buas yang telah mengering, tulangnya rapuh dan berubah menjadi abu putih begitu tersentuh angin.

Lyra berjongkok, mengamati sisa-sisa abu tulang tersebut dengan menggunakan sebatang ranting kecil. Ia mengambil sedikit serbuk abu itu, mendekatkannya ke hidung untuk mencium aromanya, lalu mengerutkan kening dalam-dalam.

"Ini bukan sisa-sisa perbuatan kultivator manusia," analisis Lyra dengan nada suara berbisik penuh keheranan. "Tulang-tulang ini kehilangan seluruh kalsium dan esensi spiritualnya dalam waktu yang sangat singkat. Sifat korupsinya sangat mirip dengan... manifestasi energi dari makhluk-makhluk dimensi luar yang pernah diceritakan dalam naskah terlarang Sekte Langit."

Kaelen ikut berjongkok, menyentuh permukaan lumpur hitam di dekat jejak cakar tersebut. Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan lumpur itu, sisa-sisa memori purba berkelebat seketika di dalam benaknya—sebuah gambaran samar mengenai sosok raksasa bermata seribu yang merobek celah langit, memuntahkan kabut hitam ke atas daratan subur hingga mengubahnya menjadi tanah mati.

"Bukan sekadar sisa pengikut faksi kuno," gumam Kaelen tegas, berdiri kembali dan mengibas-ngibaskan jarinya. "Celah dimensi yang kita tutup di Pusaran Kabut Abadi beberapa waktu lalu tampaknya bukanlah satu-satunya pintu masuk yang berhasil dibuka oleh para pengkhianat di masa lalu. Ada titik lemah lain di ujung timur benua ini, dan sesuatu yang jauh lebih besar sedang bersiap untuk merobek segelnya."

Sebelum mereka sempat membahas lebih jauh mengenai temuan mengerikan tersebut, suara derap langkah kaki berat yang diiringi oleh gemetar tanah mendadak terdengar dari balik bukit batu di sebelah utara. Tidak lama kemudian, suara raungan rendah yang menggelegar memecah kesunyian hutan mati, membuat dahan-dahan pohon yang mengering patah berhamburan.

Grrr... boom!

Dari balik tirai kabut tebal, sesosok makhluk raksasa muncul dengan kecepatan mengejutkan. Ia memiliki tubuh berotot besar yang diselimuti oleh sisik-sisik baja berwarna kelabu gelap, kepala menyerupai singa bertanduk ganda, dan sepasang mata merah menyala yang memancarkan rasa lapar mutlak. Makhluk itu adalah Behemoth Korup—monster spiritual tingkat tinggi yang telah tercemar oleh miasma dimensi gelap, menjadikannya mesin pembunuh tanpa akal sehat yang hanya didorong oleh nafsu untuk menghancurkan segala bentuk kehidupan.

Makhluk itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah Kaelen dan Lyra begitu ia mencium bau esensi manusia di wilayah kekuasaannya. Tanpa peringatan, sang Behemoth mengayunkan cakar depannya yang besar, menciptakan gelombang angin bertekanan tinggi yang merobohkan belasan pohon mati di sekitarnya, meluncur deras menerjang posisi mereka berdua.

"Mundur, Lyra!" seru Kaelen sigap.

Kaelen mendorong tubuh Lyra ke samping, sementara ia sendiri melompat ke udara untuk menghindari hantaman gelombang angin cakar tersebut. Tanah tempat mereka berdiri sebelumnya hancur berkeping-keping, meninggalkan kawah selebar lima meter yang dipenuhi asap belerang.

Behemoth Korup itu meraung murka melihat sasarannya berhasil menghindar. Ia membuka lebar rahangnya, memuntahkan bola energi hitam pekat yang berukuran sebesar gerobak batu, meluncur cepat mengejar Kaelen yang masih melayang di udara.

Perjalanan Menuju Cakrawala Timur

Matahari perlahan-lahan terbenam di balik deretan pegunungan barat, meninggalkan bias warna jingga kemerahan yang perlahan digantikan oleh kelamnya malam. Kaelen dan Lyra tidak membuang waktu; mereka terus melangkah maju menembus hutan mati, mengikuti arah mata angin yang menuntun mereka menuju titik sumber anomali spiritual di ujung timur benua.

Di sepanjang perjalanan malam itu, mereka menemukan lebih banyak tanda-tanda kerusakan alam: sungai-sungai kecil yang airnya berubah menjadi hitam pekat, serta pepohonan yang meranggas tanpa daun. Namun, alih-alih merasa gentar, tekad di dalam dada Kaelen dan Lyra justru semakin membara. Mereka menyadari bahwa tugas mereka sebagai pelindung keseimbangan dunia belum sepenuhnya selesai.

Ketika fajar keesokan harinya mulai menyingsing, siluet dinding batu raksasa dari Pegunungan Langit Timur—barisan tebing curam tertinggi yang membatasi benua tersebut dengan Samudra Kabut Abadi—mulai tampak di hadapan mereka. Di puncak tebing tertinggi itu, sebuah pilar cahaya keunguan tampak menjulang tinggi menembus awan, memancarkan getaran energi kosmik yang sangat kuat.

Kaelen menghentikan langkahnya di kaki tebing, mendongak menatap pilar cahaya di puncak sana. Pedang di pinggangnya kembali berdenyut, memberikan isyarat bahwa pertempuran baru yang jauh lebih besar telah menanti kedatangan mereka di ujung cakrawala.

"Di sanalah jawabannya berada," bisik Kaelen mantap.

Lyra mengangguk di sampingnya, menggenggam erat tangan Kaelen untuk menyalurkan kehangatan dan keyakinan. Bersama-sama, mereka mulai mendaki jalur pendakian terjal menuju puncak tebing, siap menghadapi apa pun misteri purba yang tersembunyi di balik tirai kabut timur demi menjaga kedamaian abadi di muka bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!