NovelToon NovelToon
Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Kacang atoom

Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Roda yang Berputar

​Siang yang terik di luar Menara Adhitama terasa begitu dingin bagi Danang. Kilatan lampu kamera dari puluhan wartawan terus menyambar wajahnya yang pucat pasi tanpa ampun.

Suara jepretan lensa dan cecaran pertanyaan yang dilontarkan para pemburu berita terdengar bagaikan kepakan sayap burung gagak yang menyambut kejatuhannya.

Dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap mencengkeram erat kedua lengannya, mengarahkannya secara paksa menuruni anak tangga marmer menuju mobil tahanan berpintu besi tebal yang sudah terparkir di pelataran utama.

​Klek!

​Setiap benturan logam borgol yang melilit kedua pergelangan tangannya mengirimkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

Ayahnya, Pak Winarto, berjalan tertunduk lesu di sampingnya dengan wajah yang kehilangan seluruh wibawanya. Pria tua itu tampak linglung, seolah masih tak percaya bahwa imperium bisnis yang dibangunnya di atas pondasi manipulasi kini runtuh hanya dalam hitungan jam.

​Tepat sebelum tubuhnya didorong masuk ke dalam ruang gelap mobil tahanan, Danang menghentikan langkahnya sejenak. Dengan sisa-sisa tenaga dan rahang yang gemetar hebat, ia memalingkan kepalanya ke arah teras atas Menara Adhitama.

​Di sana, di bawah naungan pilar-pilar beton yang menjulang megah, berdiri Rendy Adhitama. Pria itu tampak begitu tenang dan dominan dalam balutan jas navy-nya, memancarkan aura penguasa yang tak tergoyahkan. Dan tepat di samping Rendy, berdiri Siska.

​Dada Danang terasa terhimpit sesak hingga sulit bernapas. Kenyataan pahit menghantam kesadarannya dengan sangat kejam. Pria yang berdiri di samping Siska itu adalah Rendy—pria yang tiga tahun lalu selalu ia hina sebagai gembel, pria yang dulu ia injak-injak harga dirinya di restoran, dan pria yang pernah ia tertawakan saat meratapi kepergian ibunya.

Namun kini, pria itulah yang berdiri di puncak tertinggi, memegang kendali atas nasib banyak orang, dan menggenggam seluruh masa depan yang pernah Danang impikan.

​Sementara dirinya sendiri?

Danang kini tidak lebih dari seorang pesakitan yang terbuang, kehilangan seluruh harta, reputasi, dan kebebasannya. Kehancuran total yang dulu begitu sering ia tertawakan dari orang-orang miskin dan lemah, kini berbalik menelan dirinya bulat-bulat tanpa menyisakan sedikit pun harga diri.

​"Jalan!" bentak petugas polisi seraya menekan kepala Danang untuk masuk ke dalam mobil.

​Siska menatap pemandangan itu dari atas teras dengan mata yang dingin. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada dendam, dan tidak ada lagi rasa cinta yang tersisa di hatinya untuk Danang. Yang ada hanyalah sebuah penerimaan hampa atas hukum tabur tuai yang akhirnya bekerja. Danang telah menerima pembalasan atas setiap kesombongan dan kejahatan yang ia perbuat dengan sadar.

​Mobil tahanan itu akhirnya bergerak pelan, sirinenya meraung membelah kemacetan jalanan kota Jakarta, membawa Danang menuju jeruji besi yang akan mengurungnya selama puluhan tahun ke depan.

​Siska menarik napas panjang, merasa sebuah beban berat yang selama ini mengimpit dadanya perlahan terangkat. Ia membalikkan badannya, berniat mengucapkan sesuatu kepada Rendy—sebuah ucapan terima kasih atas keadilan yang akhirnya terungkap, atau mungkin sebuah pengakuan atas penyesalan yang terus membakar jiwanya.

"Rendy, aku—"

​Kalimat Siska terputus di udara.

​Saat Siska menoleh, posisi di sampingnya sudah kosong. Rendy tidak membalas tatapannya, tidak pula menunggu Siska selesai meresapi momen kejatuhan Danang. Pria itu sudah berbalik arah lebih dulu, melangkah pasti dengan

langkah-langkah tegap menuju pintu kaca otomatis yang terbuka ke dalam lobi mewah Menara Adhitama.

​Pak Irwan dan beberapa pengawal pribadi berjalan mengekor di belakangnya, menciptakan jarak yang membentang lebar.

Rendy terus melangkah tanpa satu kali pun menoleh ke belakang, membiarkan Siska berdiri sendirian di teras luas itu—terasing di antara angin siang yang berembus dingin, menyadarkannya bahwa roda takdir telah berputar sempurna, dan Rendy telah berjalan jauh meninggalkannya di masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!