Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Malam Hari Harus Ada Uang Lembur, Kan?
Jarak: 1.200 meter.
Kecepatan angin: tingkat tiga, bertiup dari timur laut.
Kelembapan udara: 15 persen.
Berkat insting tempur yang telah menyatu dengan dirinya, Adrian bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat oleh pekerja baru lainnya.
Di dalam bangunan tanah liat yang tampak sunyi di depan mereka, setidaknya ada tiga posisi tembak yang saling mendukung.
Mereka hanya menunggu waktu.
Jadi kalian mau menahan gajiku, ya?
Pihak Black Fox juga mau bermain seperti ini?
Tunggu saja.
Adrian berjalan di bagian belakang kelompok sambil mengamati medan.
Barisan mereka bergerak sangat lambat.
Jarak menuju puncak bukit pasir kini kurang dari empat ratus meter.
Gurun begitu sunyi sampai suara angin yang menyapu pasir terdengar jelas.
Beberapa pekerja baru yang berada di depan mulai sedikit mengendurkan kewaspadaan.
Mereka mengira perjalanan menuju lokasi berjalan lancar.
Lalu—
BOOM!
Cahaya putih yang sangat terang tiba-tiba menyala dari puncak bukit pasir.
Sebuah lampu sorot berkekuatan tinggi langsung menyapu seluruh area.
Belasan pekerja baru yang sebelumnya tersembunyi dalam kegelapan kini terlihat jelas.
Mereka bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi.
DAK! DAK! DAK! DAK!
Rentetan tembakan langsung menghantam posisi paling depan.
Beberapa orang terjatuh dalam sekejap.
“AAAH!”
“BERLINDUNG!”
“Cari perlindungan!”
Barisan yang semula bergerak teratur langsung kacau.
Sebagian menjatuhkan tubuh ke tanah.
Sebagian lainnya berusaha mencari perlindungan di balik gundukan pasir.
Teriakan panik bercampur dengan suara tembakan yang terus menggema di tengah gurun.
Tidak jauh dari kendaraan yang digunakan untuk membawa mereka, komandan bermata satu yang dijuluki Butcher mengangkat teropong.
Dia sama sekali tidak menunjukkan kepedulian terhadap nasib para pekerja baru tersebut.
Matanya justru sibuk mengamati arah tembakan.
Dia bahkan mengambil buku catatan kecil dari sakunya dan mulai mencatat perkiraan posisi senapan mesin berat milik lawan.
Bagi dia, kematian beberapa pekerja baru bukan masalah.
Mereka memang dikirim untuk menguji pertahanan musuh.
Namun pada detik pertama suara tembakan terdengar—
Tubuh Adrian sudah bergerak sebelum pikirannya sempat memberikan perintah.
Kemampuan fisiknya membuat reaksinya jauh melampaui manusia biasa.
Pusat gravitasinya langsung turun.
Kakinya menekan pasir.
Dengan gerakan cepat, Adrian meluncur ke samping dan berguling beberapa meter sebelum berhenti di balik sebuah batu gurun setinggi pinggang.
Semuanya berlangsung begitu cepat seolah-olah gerakan itu telah dilatih ribuan kali.
Sebuah peluru melintas sangat dekat di atas kepalanya.
Hembusan udara yang ditimbulkannya membuat rambut Adrian bergerak.
DUK!
Punggung Adrian menghantam batu tersebut.
Namun dia tidak terluka.
Posisinya ternyata sangat ideal.
Batu itu cukup tinggi untuk menutupi tubuhnya sekaligus memberikan sudut pandang ke medan di depan.
Adrian baru saja hendak mengintip ketika sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan situasi tersebut bergetar di saku celana pendeknya.
Bzzzt. Bzzzt.
Ponselnya.
Adrian mengeluarkannya.
Cahaya layar menerangi wajahnya yang tetap tenang.
Grup WhatsApp teman-teman satu angkatan SMA miliknya ternyata sedang ramai.
99+ pesan.
Ketua kelas baru saja mengirim foto.
Dalam foto itu, dia mengenakan seragam kerja sebuah kedai minuman. Di belakangnya terlihat meja kasir yang bersih dan rapi.
Dia sedang memegang segelas minuman dengan senyum lebar.
Pesannya berbunyi:
> Ketua Kelas: “Hari pertama kerja saat liburan! Ruangan ber-AC, bisa dengar musik, sehari dapat Rp120 ribu. Lumayan banget!”
Pesan lain langsung bermunculan.
> “Gila, dapat kerja di kedai minuman keren!”
> “Aku malah disuruh bantu di dapur. Panas banget, sehari cuma Rp80 ribu.”
> “Kalau aku beli di tempatmu, dapat diskon pegawai nggak?”
Adrian mengangkat kepala.
Sebuah peluru pelacak melintas di atas batu tempatnya berlindung.
Fiuuuh!
Cahayanya meninggalkan garis terang di langit malam sebelum menghilang di kejauhan.
Adrian kembali melihat ponselnya.
Jarinya bergerak cepat.
Dia mengarahkan kamera ke bukit pasir tempat senapan mesin lawan terus mengeluarkan kilatan cahaya.
Karena jaraknya jauh dan tangannya bergerak, hasil fotonya sangat buram.
Yang terlihat hanya cahaya tembakan yang menyala-nyala di kejauhan.
Adrian mengirim foto itu ke grup.
> Adrian: “Di tempatku ada panggangan yang apinya agak besar. Bos sudah menyuruhku segera kerja.”
Beberapa detik kemudian dia menambahkan:
> Adrian: “Bayaran sekitar 28 ribu dolar. Cuma risikonya agak tinggi. 😁”
Grup langsung sunyi selama dua detik.
Lalu pesan-pesan baru bermunculan.
> “HAHAHA! Adrian, kalau mau bohong jangan kelewatan.”
> “28 ribu dolar? Kau kira kami percaya?”
> “Itu pasti tangkapan layar game perang. Kualitas fotonya saja jelek banget.”
> “Jangan-jangan Adrian sedang nongkrong di warnet setelah lulus SMA.”
Ketua kelas bahkan langsung menandainya.
> Ketua Kelas: “Adrian, sudah, jangan bercanda. Kalau memang sedang butuh uang, aku bisa tanyakan kepada pemilik kedai tempatku kerja. Mungkin kau bisa jadi pekerja magang. Sehari Rp50 ribu, dapat satu minuman gratis.”
Adrian menatap layar ponselnya.
Kemudian dia mendengus pelan.
Dia bahkan tidak merasa perlu menjawab.
DAK! DAK! DAK! DAK!
Rentetan tembakan berikutnya kembali menghantam batu tempatnya berlindung.
Percikan kecil beterbangan.
Serpihan batu menghantam pipinya.
Adrian tidak bergerak.
Tidak jauh dari posisinya, pria Texas yang tadi menulis surat terakhir mengeluarkan suara pendek.
Tubuhnya terjatuh dan tidak bergerak lagi.
Jumlah orang yang masih bertahan terus berkurang.
Adrian mematikan layar ponsel.
Dia memasukkannya kembali ke saku.
Kemudian matanya turun ke pergelangan tangan.
Sebuah jam digital murah yang dibelinya sebelum berangkat menunjukkan waktu:
22.01.
Adrian mengerutkan kening.
“Jam sepuluh malam sudah lewat.”
Dia menatap medan perang di depannya.
“Berarti ini sudah masuk shift malam, kan?”
Adrian berpikir sejenak.
“Kalau mengikuti aturan kerja normal, shift malam seharusnya ada tambahan bayaran.”
Tatapannya perlahan menjadi semakin dingin.
“Black Fox mau menahan gajiku.”
Dia melirik ke arah bukit pasir tempat lawan berada.
“Kelompok Black Mamba ini juga membuat jam kerjaku molor.”
Adrian menghela napas.
“Dua-duanya sama saja.”
Entah kenapa, sesuatu dalam dirinya akhirnya meledak.
Selama ini dia datang hanya untuk mencari pekerjaan.
Dia tidak berniat mencari masalah.
Namun semakin lama, semakin banyak pihak yang mencoba memanfaatkan dirinya.
Gaji utama belum jelas.
Bonus belum tentu dibayar.
Sekarang mereka bahkan membuatnya bekerja melewati jam normal.
Kemarahan seorang pekerja akhirnya mencapai batasnya.
Adrian mengangkat senapan yang sebelumnya telah dia periksa.
Seketika, seluruh sikap santainya berubah.
Wajah pemuda yang baru lulus SMA itu menghilang.
Tatapannya menjadi tajam.
Tenang.
Dingin.
Insting tempurnya mengambil alih.
Adrian berlutut dengan satu kaki.
Senapan terangkat dan bertumpu stabil.
Tatapannya melewati alat bidik menuju lampu sorot yang berada sekitar delapan ratus meter di depan.
Kecepatan angin.
Kelembapan.
Jarak.
Arah tembakan.
Semua informasi langsung diproses dalam pikirannya.
Jarinya perlahan menyentuh pelatuk.
DOR!
Satu suara tembakan terdengar.
Berbeda dari suara senapan mesin berat yang terus menggelegar, suara tembakan Adrian terdengar singkat dan tajam.
Sesaat kemudian—
PRANG!
Lampu sorot di puncak bukit pasir pecah.
Pecahan kaca beterbangan.
Cahaya putih yang sebelumnya menerangi seluruh medan perang langsung lenyap.
Gurun kembali tenggelam dalam kegelapan.
Penembak senapan mesin kehilangan sasaran.
Dia panik dan langsung menembakkan senjatanya secara membabi buta.
DAK! DAK! DAK! DAK!
Peluru-peluru pelacak beterbangan di udara.
Cahaya merahnya sesekali menerangi wajah beberapa anggota Black Mamba yang mulai panik.
Mereka tidak tahu dari mana tembakan itu datang.
Teriakan dalam bahasa Arab terdengar bersahut-sahutan.
Mereka menembak ke berbagai arah, berharap dapat menemukan penembak yang baru saja menghancurkan lampu sorot mereka.
Sementara itu, di balik sebuah batu beberapa ratus meter dari sana, Adrian tetap tenang.
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Kalau mereka mau memperpanjang jam kerjaku...”
Dia kembali mengangkat senapan.
“Setidaknya bayar uang lemburnya.”