NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Bayangan Masa Lalu

Hari ketika Liana belajar jadwal penerbangan ke Bali di Loh Group, rumah keluarga Phua di BSD City sudah kehilangan bentuknya sebagai rumah.

Di meja makan, ada piring bekas makan malam dua hari lalu yang belum dicuci. Nasi di rice cooker mengering di pinggir panci. Kantong sampah di dapur menggelembung, bau bawang busuk dan kuah basi menempel di udara. Mesin cuci berhenti sejak entah kapan, meninggalkan baju basah yang mulai berbau apek.

Albert berdiri di depan kompor dengan kemeja lengan panjang yang kusut. Satu tangannya memegang spatula, satu tangan lain menekan layar ponsel, mencari video cara membuat telur dadar.

Minyak di wajan terlalu panas.

Begitu telur masuk, bunyinya meletup keras. Albert mundur setengah langkah, hampir menjatuhkan spatula.

"Sial," gumamnya.

Dulu, pukul enam pagi, kopi sudah ada di meja. Kemejanya sudah rapi di gantungan. Bekal sudah masuk tas. Obat lambungnya ada di samping gelas air hangat. Ia tidak pernah bertanya siapa yang menyiapkan semua itu.

Sekarang rumah itu seperti sengaja membalas kelalaiannya satu per satu.

Ponselnya berdering. Nama Kim Hwa muncul di layar.

Albert menutup api dengan kasar. "Ya, Mama?"

Suara Kim Hwa langsung meledak dari seberang sana. "Kamu ini laki-laki macam apa, Albert? Istri sendiri saja tidak bisa kamu pegang!"

Albert memejamkan mata. Dari Panti Jompo Kasih Mulia, omelan ibunya datang setiap pagi, siang, dan malam. Kadang lewat telepon. Kadang voice note lima menit penuh.

"Mama, jangan mulai lagi. Aku sedang buru-buru."

"Buru-buru apa? Rumah berantakan, baju tidak ada yang cuci, makanan tidak ada. Jason kemarin telepon Oma, katanya kemejanya rusak karena disetrika sendiri. Semua ini gara-gara kamu!"

Albert menahan napas. "Liana yang minta cerai."

"Karena kamu bodoh!" Kim Hwa membentak. "Perempuan itu tiga puluh tahun di rumahmu. Seharusnya kamu tahu cara membuat dia tidak berani pergi. Kamu malah kasih dia kesempatan keluar."

Tidak sekali pun Kim Hwa menyebut Yuni sebagai kesalahan. Tidak sekali pun ia menyebut sebelas tahun perselingkuhan sebagai dosa. Yang salah, bagi ibunya, hanya satu: Liana berhasil lepas dari tangan mereka.

Albert menatap telur gosong di wajan. Bau hangus naik, menusuk hidung.

"Mama mau apa?" tanyanya letih.

"Bawa dia kembali."

"Itu tidak mungkin."

"Tidak mungkin? Kamu profesor, tapi urusan rumah saja kalah sama perempuan tua yang tidak punya kerjaan?"

Kalimat itu menusuk bukan karena Albert membela Liana, melainkan karena sejak Liana pergi, ia baru sadar rumah ini selama ini berdiri di atas kerja yang tidak pernah ia hitung.

Pintu dapur terbuka. Jason masuk dengan kemeja putih yang kerahnya miring, bagian depan terlihat mengilap karena setrika terlalu panas.

"Pa, dasi hitamku di mana?"

Albert menutup mikrofon ponsel. "Mana Papa tahu? Tanya Liana."

Jason terdiam.

Nama itu jatuh di dapur seperti benda berat. Selama beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Dari ponsel, Kim Hwa masih mengomel, "Albert? Albert, kamu dengar Oma?"

Jason menatap tumpukan pakaian di kursi makan. "Mama biasanya taruh di laci kedua."

"Kalau tahu, cari sendiri."

"Aku sudah cari. Tidak ada."

Albert ingin marah, tetapi ia melihat anak laki-laki yang sudah dewasa itu berdiri seperti anak sekolah yang kehilangan buku tugas. Jason dibesarkan oleh Liana dengan terlalu rapi. Semua hal muncul sebelum ia sempat membutuhkan. Sekarang satu dasi saja bisa membuatnya panik.

"Pakai yang biru," kata Albert.

"Hari ini ada kunjungan klien, Pa. Tiara bilang harus hitam."

Nama Tiara membuat Albert makin pusing. Sejak malam pertemuan keluarga besar itu, menantunya lebih banyak diam. Diam yang bukan tunduk, melainkan menyimpan sesuatu.

Ponsel Albert bergetar lagi. Kali ini Yuni.

Ia memutus telepon Kim Hwa tanpa pamit. Beberapa detik kemudian, voice note dari ibunya masuk bertubi-tubi. Albert membiarkannya.

"Yuni," ucapnya begitu mengangkat panggilan.

Suara Yuni terdengar manis, tetapi ada ujung tajam yang sulit disembunyikan. "Ko Albert, kamu sudah bicara dengan pengacara? Aku capek menunggu."

"Proses cerai tidak bisa selesai dalam sehari."

"Sebelas tahun juga bukan sehari, Ko."

Albert mengusap wajah. "Jangan tekan aku sekarang."

"Aku tidak menekan. Aku cuma mengingatkan. Jayden sudah sepuluh tahun. Dia mulai bertanya kenapa Papa tidak tinggal sama kami."

Di ruang tengah, Jason masih membuka laci satu per satu. Suara kayu dibanting terdengar sampai dapur.

Albert merendahkan suara. "Aku sedang ada masalah di rumah."

"Masalah rumahmu karena Liana pergi, kan?" Yuni tertawa kecil. "Ko, nanti kalau kita menikah, aku bisa atur pembantu. Aku bukan tipe perempuan yang harus pegang lap dan masak sendiri."

Albert terdiam.

Satu kalimat itu membuat sesuatu di dadanya turun. Ia membayangkan Yuni di rumah ini, dengan kuku rapi, parfum mahal, dan nada manja yang selalu menuntut. Ia membayangkan Jayden berlari di ruang tengah, Kim Hwa mengomel, Jason kebingungan, sementara tidak ada Liana yang diam-diam merapikan semuanya.

"Ko?"

"Nanti aku hubungi lagi."

Ia memutus panggilan sebelum Yuni sempat protes.

Di kampus UI, keadaan tidak lebih baik. Dua hari sebelumnya, saat Albert berjalan melewati koridor fakultas, obrolan yang semula terdengar ramai mendadak turun volumenya. Beberapa dosen muda menatapnya sebentar lalu pura-pura membaca ponsel. Di grup WhatsApp internal, undangan rapat yang biasanya menyebut namanya dengan hormat kini datang tanpa basa-basi.

Ia masih profesor. Ia masih punya ruang kerja. Tetapi wibawanya retak, dan retakan itu terdengar bahkan ketika tidak ada orang yang mengucapkannya.

Sore itu, setelah gagal menemukan dasi hitam Jason dan membuang telur gosong ke tempat sampah, Albert akhirnya datang ke Panti Jompo Kasih Mulia. Kim Hwa sengaja menunggunya di ranjang dengan selimut ditarik sampai dada.

Begitu Albert masuk, ia langsung memegang dadanya.

"Aduh... sesak. Oma sesak, Albert."

Perawat yang berdiri di sudut ruangan tampak ragu. "Tadi tensi Bu Kim Hwa normal, Pak. Tapi beliau minta keluarga datang."

Albert mendekat. "Mama minum obat?"

Kim Hwa memalingkan wajah. "Obat apa gunanya kalau anak sendiri tidak peduli? Liana dulu tidak pernah membiarkan Oma sendirian begini."

Albert menahan kesal. "Mama sendiri yang selalu bilang Liana tidak berguna."

"Tidak berguna, tapi dia tahu kewajiban!" Kim Hwa mendesis. "Kamu pikir Yuni itu mau urus orang tua? Dia mau hartamu, mau statusmu. Liana setidaknya takut sama keluarga."

Itu bukan pujian. Itu cara lama Kim Hwa menghitung manusia: siapa yang bisa dipakai, siapa yang bisa dikendalikan.

"Aku tidak bisa memaksa Liana kembali," kata Albert.

Kim Hwa menoleh cepat. Matanya tidak lagi terlihat sakit. "Bisa. Datangi dia. Bilang Oma sakit. Bilang kalau dia masih punya hati, dia harus datang."

"Dia sudah mau cerai, Mama."

"Cerai belum putus! Selama pengadilan belum mengetuk palu, dia masih istrimu."

Albert tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terasa seperti hak, melainkan seperti tali yang sudah mulai putus dari kedua ujungnya.

Perawat keluar untuk mengambil air hangat. Kim Hwa mengira Albert akan luluh, tetapi pria itu hanya berdiri diam, wajahnya gelap.

"Kalau Mama benar-benar sesak, aku panggil dokter," katanya.

Wajah Kim Hwa berubah. "Tidak perlu. Kamu selalu membesar-besarkan."

Albert hampir tertawa pahit. Jadi benar. Sakit itu hanya alat.

Ia keluar tidak lama kemudian, meninggalkan Kim Hwa dengan amarah yang belum sempat selesai. Di kamar panti yang kembali sunyi, perempuan tua itu duduk tegak, napasnya tidak lagi tersengal.

Di meja kecil samping ranjang, ada album foto tua yang dibawa Jason dari rumah beberapa hari lalu. Katanya, Oma mungkin bosan. Kim Hwa mengambilnya dengan tangan yang masih kuat untuk orang yang baru saja mengaku sesak.

Halaman demi halaman memperlihatkan Natal keluarga, ulang tahun Jason, foto Albert menerima penghargaan kampus, Liana berdiri di belakang dengan senyum tipis dan celemek rumah.

Lalu jari Kim Hwa berhenti.

Sebuah foto kecil terselip di balik plastik yang sudah menguning. Anak laki-laki berusia sekitar enam tahun berdiri di teras rumah lama, pipinya bulat, rambutnya dipotong rapi. Ia mengenakan sweater biru. Di dada sweater itu ada gambar Winnie the Pooh kecil, memakai baju merah, dengan huruf "DD" tersulam di bawahnya.

Dede.

Nama itu tidak terucap, tetapi kamar terasa mendadak sempit.

Tangan Kim Hwa bergetar. Bukan karena sakit. Bukan karena tua. Karena dari foto itu, sepasang mata kecil seperti menatapnya kembali dari dua puluh tahun lalu.

Ia menarik foto itu dari album, menoleh ke pintu, lalu cepat-cepat menyelipkannya ke bawah bantal.

"Tidak ada yang boleh tahu," bisiknya.

Di luar kamar, langkah perawat lewat begitu saja.

Kim Hwa menekan bantal itu dengan telapak tangan, seolah satu lembar foto bisa berteriak kalau tidak dibungkam.

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!