NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan pagi di Presidential Suite Hotel Grand Wijaya.

Sinar matahari pagi Jakarta menembus masuk melalui jendela kaca raksasa yang menyajikan pemandangan kota.

Rizal sedang duduk santai di sofa kulit berwarna cokelat sambil menyesap kopi hitamnya.

Di seberangnya, Clara Wijaya duduk dengan mengenakan gaun tidur sutra panjang yang tertutup rapat.

Wajah CEO muda itu sengaja dibuat sepucat mungkin dengan sedikit bantuan riasan tipis.

Clara sedang berakting menjadi orang yang sangat sakit dan kelelahan sesuai dengan rencana mereka semalam.

"Masuklah, pintunya tidak dikunci."

Clara menjawab ketukan pintu itu dengan suara yang dibuat sangat serak dan lemah.

Klek.

Pintu ganda kamar mewah itu terbuka perlahan menampilkan sosok pria paruh baya berseragam pelayan rapi.

Pria itu adalah Bramantyo, kepala pelayan pribadi yang sudah mengabdi pada Keluarga Wijaya selama dua puluh tahun.

Bram berjalan masuk dengan senyum kebapakan sambil mendorong troli makanan kecil yang terbuat dari perak.

Di atas troli itu terdapat berbagai macam menu sarapan pagi dan sebuah teko porselen putih yang mengepulkan asap hangat.

"Selamat pagi Nona Clara, saya membawakan sarapan dan teh chamomile kesukaan Anda."

Bram menyapa dengan nada yang sangat lembut dan penuh perhatian.

Rizal hanya diam mengamati pria tua itu dari sudut matanya tanpa meletakkan cangkir kopinya.

Mata Rizal menatap tajam ke arah teko porselen putih itu.

"Sistem, gunakan Mata Deteksi pada teko itu."

Rizal membatin di dalam hatinya untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Ting!

[Mata Deteksi diaktifkan.]

[Objek: Teko Teh Chamomile.]

[Kandungan: Ekstrak bunga chamomile, madu, dan 1 miligram racun saraf jenis Atropa Belladonna. Dosis telah ditingkatkan dua kali lipat dari biasanya.]

Rizal tersenyum sangat tipis hingga hampir tidak terlihat.

Sepertinya sang dalang di balik layar mulai tidak sabar dan ingin Clara segera mati secepatnya.

"Terima kasih Paman Bram, letakkan saja di atas meja."

Clara membalas dengan senyum lemah sambil memegangi kepalanya yang seolah terasa pusing.

Bram mengangguk hormat dan mulai menata piring-piring sarapan di hadapan Clara.

Dia kemudian menuangkan teh chamomile itu ke dalam cangkir kecil dengan sangat hati-hati.

Aroma harum bunga chamomile langsung menguar memenuhi ruang makan kecil di suite tersebut.

"Silakan diminum selagi hangat Nona, teh ini akan membantu meredakan sakit kepala Anda."

Bram menyodorkan cangkir itu tepat ke depan Clara.

Tangan Clara perlahan terulur untuk mengambil cangkir tersebut.

Namun sebelum jari Clara menyentuh gagang cangkir, sebuah tangan kekar lebih dulu menahannya.

Srek.

Rizal berdiri dari sofanya dan melangkah cepat menahan tangan Clara.

"Tunggu sebentar Nona Clara, teh ini sepertinya terlalu panas untuk diminum sekarang."

Rizal berkata dengan nada datar sambil menatap langsung ke mata Bram.

Bram sedikit terkejut melihat kehadiran Rizal yang tiba-tiba ikut campur dalam rutinitas paginya.

"Maaf Tuan, Anda siapa? Ini adalah teh khusus untuk kesehatan Nona Clara."

Bram mencoba menutupi rasa gugupnya dengan memasang wajah berwibawa sebagai kepala pelayan senior.

"Saya adalah tamu Nona Clara, dan saya juga mengerti sedikit tentang minuman herbal."

Rizal mengambil cangkir teh itu dari meja dan memutarnya perlahan di depan wajahnya.

"Aromanya memang sangat harum, tapi sepertinya ada campuran bahan lain yang tidak seharusnya ada di sini."

Wajah Bram langsung menegang mendengar ucapan pemuda asing di depannya itu.

Namun sebagai pelayan yang sudah berpengalaman menipu, Bram segera mengendalikan ekspresinya kembali.

"Tuan pasti salah paham, saya meracik teh ini sendiri hanya dari bunga chamomile pilihan dan madu murni."

Bram membantah dengan suara yang sangat tenang dan meyakinkan.

Clara yang sedari tadi diam kini ikut membuka suaranya.

"Paman Bram, apakah benar hanya itu saja campurannya?"

"Tentu saja Nona Clara, saya sudah melayani keluarga Anda selama dua puluh tahun, mana mungkin saya berani macam-macam."

Bram menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang dibuat sedih karena merasa dituduh.

"Saya menyayangi Anda seperti anak saya sendiri Nona, saya rela menukar nyawa saya demi Anda."

Rizal hampir saja tertawa mendengar bualan penuh drama dari pria tua tersebut.

"Menyayangi seperti anak sendiri ya? Bualan yang sangat klasik."

Rizal meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja dengan suara yang cukup keras.

Tak.

"Lalu bagaimana Anda menjelaskan kandungan Atropa Belladonna yang ada di dalam teh ini, Tuan Bramantyo?"

Duarr.

Nama racun itu meluncur mulus dari mulut Rizal dan langsung menghantam mental sang kepala pelayan.

Mata Bram membelalak lebar dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya.

"A-Atropa Belladonna? Saya tidak tahu apa yang Tuan bicarakan!"

Bram mundur satu langkah dengan tangan yang mulai gemetar hebat.

"Jangan berpura-pura bodoh, racun penekan saraf itu perlahan merusak jantung Nona Clara dari dalam."

Rizal melangkah maju mengintimidasi Bram yang postur tubuhnya lebih pendek darinya.

"Dosis hari ini bahkan kau tingkatkan dua kali lipat dari biasanya kan?"

Clara langsung berdiri dari kursinya dan menatap Bram dengan tatapan penuh kekecewaan yang mendalam.

"Paman Bram... teganya kau melakukan ini padaku setelah semua yang keluargaku berikan padamu."

Suara Clara bergetar menahan amarah yang sudah memuncak sejak semalam.

Bram menyadari bahwa posisinya kini benar-benar terpojok dan tidak ada jalan keluar.

Namun dia tetap menolak untuk menyerah begitu saja tanpa perlawanan.

"Ini fitnah! Kalian berdua pasti sudah bersekongkol untuk memfitnah saya!"

Bram menunjuk wajah Rizal dengan jari telunjuknya yang keriput.

"Tuan ini pasti ingin mengambil alih posisiku di Keluarga Wijaya kan?!"

"Nona Clara, Anda tidak boleh percaya pada pemuda asing yang baru Anda kenal kemarin sore ini!"

Bram terus saja mengoceh mencoba memutarbalikkan fakta dengan sangat nekat.

Rizal hanya melipat tangannya di dada sambil mendengarkan semua omong kosong itu dengan santai.

"Jika kamu merasa difitnah, kenapa kamu tidak meminum teh itu sendiri untuk membuktikannya?"

Rizal menantang Bram sambil menunjuk cangkir teh di atas meja.

Bram menelan ludah dengan susah payah karena dia tahu betul efek mematikan dari teh racikannya itu.

"S-saya tidak haus, dan teh itu khusus dibuat untuk Nona Clara."

"Begitu ya? Kalau begitu biar aku yang memaksamu meminumnya."

Rizal melangkah maju hendak mencengkeram kerah baju Bram.

Bram yang panik langsung berteriak dengan suara yang sangat lantang.

"Saya berani bersumpah demi Tuhan! Saya tidak pernah meracuni Nona Clara dan saya tidak pernah menerima uang sepeserpun dari Tuan Herman Wijaya untuk melakukan ini!"

Bram mengucapkan kalimat itu tanpa sadar karena saking paniknya mencari alasan pembelaan.

"Jika saya berbohong, biarlah semua bukti rekaman suara dan mutasi rekening saya terbongkar di depan mata kalian sekarang juga!"

Ting!

[Mendeteksi janji kebohongan yang diikrarkan dengan sangat percaya diri.]

[Kebohongan: Bram tidak meracuni Clara, tidak disuruh Herman Wijaya, dan menantang bukti untuk terbongkar.]

[Memproses manipulasi realitas...]

Senyum mematikan seketika terkembang di bibir Rizal saat mendengar suara sistem di kepalanya.

Orang-orang yang sedang panik memang selalu mengucapkan hal-hal bodoh yang justru menggali kuburan mereka sendiri.

[Manipulasi berhasil. Sistem telah meretas ponsel milik Bramantyo dan menyambungkannya ke televisi di ruangan ini.]

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!