NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Ceklek.

Pintu ruangan bernomor 101 itu mendadak terbuka secara tiba-tiba. Bunyi grendel besi yang bergeser nyaring seketika membuat tubuh Bonna menegang hebat di atas ranjang.

Jantungnya berdegup kencang seraya pikirannya dipenuhi horor ketakutan: Jangan bilang kalau Nolan benar-benar mengirim anak buahnya kemari untuk melakukan apa yang ia ancamkan semalam?

Namun, Bonna menghembuskan napasnya lega ketika pandangan matanya menangkap sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan. Yang masuk bukanlah Nolan ataupun deretan anak buahnya yang bertubuh kekar, melainkan seorang wanita muda yang pernah memeluknya kemarin di ruangan medis—Bonna sempat lupa mengingat namanya di tengah kekacauan pikiran semalam.

"Kak Ele..., ah maksudku Kak Bonna," panggil wanita itu dengan nada suara lembut yang bergetar.

Wanita muda itu mendekat perlahan, lalu duduk di pinggir ranjang berseprai kusut. Ia menatap miris pada keadaan tubuh Bonna yang kurus, layu, dan dipenuhi lebam kebiruan. Lebam-lebam itu merupakan perpaduan siksaan fisik dari masa-masanya sebagai narapidana di penjara dulu, serta benturan luka baru akibat kebrutalan seorang Ezequiel Nolan Ashford sepanjang malam.

Wanita itu menggerakkan jemari lentiknya perlahan, membantu membukakan kuncian collar kulit yang masih terikat kencang mencekik leher Bonna.

Begitu kait besi kalung tersebut terlepas dan terjatuh di atas kasur, Bonna akhirnya bisa menghembuskan napas panjang dan merasa bernapas lega. Udara segar kembali memenuhi paru-parunya yang terasa kering.

Bonna memegangi lehernya yang lebam, lalu memandang wanita di hadapannya dengan tatapan selidik.

"Kau... siapa?" tanya Bonna lagi dengan suara parau.

Wanita muda itu menunduk sejenak sebelum menjawab pelan, "Aku Alena... aku adiknya Kak Nolan."

Adik? batin Bonna terkejut di dalam hatinya. Laki-laki iblis dan kejam seperti Nolan punya adik perempuan?

Bagaimana bisa seorang laki-laki yang memiliki adik perempuan kandung tega melakukan hal-hal yang teramat keji dan tidak manusiawi kepada perempuan lain?

Apa Nolan tidak pernah berpikir bahwa hal-hal buruk, brutal, dan kejam yang ia lakukan kepada perempuan lain mungkin saja suatu hari nanti terjadi kepada adiknya sendiri, atau bahkan kepada putrinya kelak?

Bonna membuang mukanya sejenak, lalu kembali menatap mata Alena yang memancarkan rasa bersalah. "Kau... kau yang membuat aku batal dibunuh oleh Nolan, bukan?" tanya Bonna menegaskan keraguannya.

Alena menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku yang berlutut di depan Kak Nolan dan mengancam akan membunuh diriku sendiri kalau Kak Nolan membunuhmu."

"Kenapa?" Bonna menelisik dengan nada datar. "Apa karena aku sangat mirip dengan wanita bernama Electra itu?"

Sekali lagi Alena menganggukkan kepalanya. "Awalnya aku juga tidak percaya saat aku mendengar Kak Nolan berteriak marah dengan anak buahnya karena mereka lengah membiarkan Dorris mengirimkan orang kemari yang wajahnya mirip sekali dengan Kak Electra. Aku mendengar Kak Nolan menyuruh Kak Lucifer untuk langsung membunuh orang tersebut... dan aku berlari sekuat tenagaku untuk mencegah hal tersebut terjadi."

Bonna menatap Alena yang tampak kebingungan di tempatnya berkali-kali. Alena menundukkan kepala, memainkan jemari lentiknya yang saling bertautan di atas pangkuan.

Ia kemudian melanjutkan dengan suara pelan yang emosional, "Aku juga tidak mengerti kenapa kau bisa semirip itu dengan Kak Electra. Aku... aku hanya tidak ingin melihat mayat Kak Electra lagi. Aku tidak mau merasa bersalah lagi karena tidak bisa mencegah kematian Kak Electra seperti dulu. Tapi..."

Di sini Alena menghentikan kata-katanya. Ia mengangkat pandangannya, menatap sedih ke arah tubuh Bonna yang dipenuhi luka memar dan bekas terbakar.

"Aku tidak menyangka Kak Nolan akan sekejam ini padamu," bisik Alena dengan mata berkaca-kaca. "Dulu... Kak Nolan tidak sejahat itu pada Kak Electra. Dulu dia sangat lembut dan penuh kasih sayang pada Kak Electra."

Di sini Bonna menjawab dengan nada dingin yang sinis, "Karena aku bukan Electra. Semirip apa pun wajahku dengannya di matamu atau mata kakakmu, pada kenyataannya aku bukanlah dia."

Wajah Alena semakin murung mendengar kebenaran yang telanjang itu. "Maafkan aku..." ucapnya tulus.

"Tidak perlu minta maaf," balas Bonna, napasnya terengah tipis. "Justru seharusnya akulah yang berterima kasih padamu. Karena berkatmu, aku masih bisa bernapas sampai detik ini... walau keadaanku sekarang tidak lebih baik daripada mati. Ini baru permulaan, Alena. Kakakmu pasti akan menyiksaku jauh lebih buruk lagi ke depannya."

Alena mendongak, matanya memancarkan kesungguhan yang naif. "Aku akan memohon lagi kepada Kak Nolan agar tidak menyakiti Kak Ele—eh, maksudku Kak Bonna."

Bonna berdecih pelan mendengar perkataan Alena yang terkesan sangat tidak realistis itu.

"Aku ini penyusup yang tertangkap," tegas Bonna, menatap Alena lurus. "Aku orang kiriman dari Dorris, musuh bebuyutan dari kakakmu. Apa kau pikir kakakmu yang berdarah dingin itu akan membiarkan orang kiriman musuhnya hidup di tempat ini dengan tenang seperti tamu yang tengah membawa banyak Dolar?"

Alena terdiam seribu bahasa. Bibirnya terkatung. Apa yang Bonna katakan adalah kenyataan pahit yang tidak bisa ia bantah. Kemarin saja, saat Bonna bersujud memohon pada Nolan, Nolan telah menyatakan dengan jelas bahwa ia tidak membunuh Bonna hanya karena Alena mengancam akan bunuh diri jika wanita ini dieksekusi.

Alena juga teringat bagaimana kakaknya bersumpah dengan nada dingin untuk membuat Bonna membusuk di neraka yang diciptakannya sendiri.

Alena mengusap sudut matanya, berusaha menghapus rasa bersalah yang menggerogoti dadanya. "Aku... aku akan membantu Kak Bonna membersihkan diri," ucap Alena merasa sangat bersalah terhadap Bonna.

Namun, Bonna menggelengkan kepala. "Aku bisa sendiri, tidak masalah."

Bonna mencoba membuktikan ucapannya. Ia menggeser tubuhnya ke tepi kasur dan berusaha menapakkan kakinya ke lantai. Namun, baru saja tubuhnya berdiri tegak, kedua kakinya yang lemas dan bergetar tidak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri.

Bruk!

Bonna jatuh tersungkur ke lantai semen yang dingin. Rasa sakit kembali menjalar di selangkangan dan bahunya. Terpaksa, dengan sisa-sisa harga dirinya yang koyak, Bonna menerima uluran tangan Alena yang dengan sigap memegang badannya dan membantunya berdiri perlahan menuju kamar mandi.

***

Sementara itu, di sisi lain markas megah tersebut, suasana tenang namun mencekam menyelimuti ruang kerja pribadi milik Ezequiel Nolan Ashford.

"Kenapa Anda membiarkan Alena masuk ke kamar 101, Tuan?" tanya Lucifer.

Pria bertubuh tinggi besar yang merupakan tangan kanan Nolan itu mengajukan pertanyaan seraya berdiri tegap.

Di hadapannya, Nolan tengah mengenakan sarung tangan kulit hitamnya, bersiap untuk meninggalkan ruangan.

Nolan tidak langsung menjawab. Ia merapikan lipatan sarung tangannya di bagian pergelangan tangan, lalu menjawab datar, "Kalaupun aku melarangnya, Alena tetap akan memaksa masuk dan membuat keributan di depan pintu. Lagipula, aku sengaja membiarkannya agar Alena melihat sendiri apa yang telah diperbuat oleh kebodohannya."

Nolan membalikkan badan, menatap Lucifer dengan mata elangnya yang dingin. "Terkadang, keegoisan kita yang menginginkan seseorang untuk tetap hidup justru akan membawa neraka yang jauh lebih menyiksa bagi orang tersebut. Aku ingin Alena sadar bahwa membiarkan wanita itu hidup hanya akan berakhir sia-sia. Wanita itu bukanlah Electra, dan sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menjadi Electra."

Nolan kemudian melanjutkan perkataannya dengan nada penuh perhitungan sebelum ia benar-benar melangkah meninggalkan Lucifer di ruang kerja itu.

"Alena pasti sedang membantu wanita itu membersihkan diri sekarang. Usai Alena membantunya, kau bisa memberitahu wanita itu apa yang harus ia lakukan untuk bisa tetap hidup di tempat ini."

Nolan berhenti sejenak di depan pintu, memiringkan kepalanya sedikit. "Wanita itu bukanlah seorang tamu; dia harus memberikan keuntungan. Setiap manusia yang berada di tempat ini harus menguntungkanku, termasuk wanita penyusup itu. Mulai hari ini, dia harus bekerja. Kau bisa masukkan namanya pada daftar wanita bayaran di klub ini. Mungkin akan ada pelanggan yang tertarik untuk menyewanya malam ini. Meski tubuhnya tidak menarik, aku yakin ada satu atau dua laki-laki hidung belang yang akan berminat untuk tidur dengannya."

Lucifer menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda bahwa ia mengerti dan siap menjalankan perintah tersebut tanpa bantahan. "Baik, Tuan."

Lucifer berdiri dalam hening, hanya memandang punggung tuannya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kayu tebal.

Alena pasti tidak akan pernah senang mengetahui kalau wanita yang mirip dengan Electra ini akan dijadikan pelacur mulai hari ini atas perintah langsung dari kakaknya sendiri, batin Lucifer prihatin, menyadari roda takdir yang makin menghancurkan bagi La Bonna De Luca.

1
Nita Nita
hahaha sama2 bingung jg🤔
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!