Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
luka lama
Alarm belum sempat berbunyi ketika Haseena perlahan membuka mata. Ia meraih ponsel yang berada di samping bantal. Angka 02.45 terpampang jelas di layar. Di luar jendela, langit masih pekat. Bahkan semburat tipis fajar kadzib pun belum tampak. Keheningan dini hari hanya ditemani suara jangkrik dan desir angin yang sesekali menggoyangkan dedaunan di halaman.
Sejak kepergian Ibu, tubuh Haseena seperti memiliki jam biologisnya sendiri. Ia selalu terbangun sebelum siapa pun membuka mata. Bukan karena tidak mengantuk, melainkan karena rumah itu kini membutuhkan seseorang untuk tetap berdiri.
Setelah mengambil wudu dan menunaikan salat malam, Haseena melipat sajadahnya dengan rapi. Ia sempat menengadah beberapa detik, mengirim doa yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
"Ya Allah... tolong jaga Ibu di sisi-Mu. Dan... kalau Kak Husna masih ada di mana pun, tolong jaga juga dia."
Doa itu selalu diakhiri dengan air mata yang berusaha ia tahan.
Haseena kemudian mengambil sapu yang bersandar di balik pintu dapur. Perlahan ia menyapu ruang tamu, teras, hingga lorong rumah. Debu-debu tipis yang menempel di lantai seolah menjadi saksi bahwa kini semua pekerjaan rumah berada di pundaknya.
Dulu, pekerjaan itu selalu terbagi.
Ibu memasak.
Kak Husna membersihkan rumah.
Zafran membantu mengangkat barang-barang berat sambil sesekali mengeluh.
Sedangkan Haseena hanya diminta membantu seperlunya.
Kini...
Tak ada lagi suara Ibu yang memanggil dari dapur.
Tak ada lagi Husna yang berceloteh sambil menyapu.
Rumah itu tetap sama, tetapi suasananya telah berubah sepenuhnya.
Usai membersihkan rumah, Haseena beralih ke dapur. Suara minyak yang mulai mendesis memecah keheningan. Ia menanak nasi, menghangatkan sayur semalam, lalu memasak telur dadar sederhana untuk sarapan.
Sesekali ia membuka buku kecil milik Ibu yang berisi catatan resep.
Ia tersenyum tipis.
"Ternyata Ibu pakai bawang lebih banyak..." gumamnya pelan.
Masakan itu belum bisa menandingi buatan Syafa.
Namun Haseena terus belajar.
Karena tidak ada lagi yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri.
Setelah semua selesai, ia mengambil segelas air hangat dan obat-obatan milik Rayyan. Langkahnya berhenti di depan pintu kamar.
"Bah..." panggilnya pelan sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Haseena membuka pintu perlahan.
Rayyan masih duduk di atas sajadah. Tasbih di tangannya menggantung lemah. Tatapannya kosong mengarah ke jendela yang masih gelap.
"Abah?"
Rayyan menoleh perlahan.
"Oh... Haseena."
Haseena langsung menghampiri. Wajah Abah tampak jauh lebih pucat dibanding biasanya. Kantung matanya menghitam karena beberapa malam terakhir hampir tidak pernah tidur nyenyak.
"Abah belum tidur dari tadi?"
Rayyan hanya tersenyum kecil.
"Nggak bisa tidur."
Haseena berjongkok di hadapannya.
"Abah kepikiran Ibu lagi?"
Rayyan tidak menjawab. Ia hanya mengusap kepala putrinya pelan.
Sentuhan itu justru membuat dada Haseena terasa sesak.
Ia tahu...
Abah sedang berusaha terlihat kuat.
Padahal kehilangan itu juga sedang menghancurkannya sedikit demi sedikit.
"Abah kelihatan lemas," ucap Haseena lirih. "Hari ini istirahat aja ya. Haseena udah siapin sarapan sama obat."
Rayyan mengangguk pelan.
"Iya."
"Jangan lupa diminum ya, Bah."
"Hm."
Haseena tersenyum, meski senyum itu menyimpan banyak kekhawatiran.
Ia berdiri dan hendak keluar, tetapi langkahnya terhenti ketika Rayyan tiba-tiba berbicara.
"Hari ini... acara perpisahan sekolahnya Zafran, ya?"
Haseena mengangguk.
"Iya, Bah."
Rayyan berusaha bangkit dari sajadah.
"Kalau begitu Abah ikut."
Haseena buru-buru menahan lengan ayahnya.
"Jangan dulu, Bah."
"Abah nggak apa-apa."
"Abah lagi sakit."
Rayyan tersenyum tipis.
"Masa Abah nggak datang ke acara kelulusan anak sendiri?"
Kalimat itu membuat Haseena terdiam.
Pandangannya perlahan jatuh ke arah kamar Zafran yang pintunya masih tertutup rapat.
Sejak pulang beberapa hari lalu...
Abangnya justru semakin sering menghilang pada malam hari.
Entah ke mana.
Entah untuk apa.
Bahkan sampai menjelang subuh pun ia belum kembali.
"Bang... belum pulang lagi?" tanya Rayyan pelan.
Haseena menggeleng.
"Belum, Bah."
Rayyan mengembuskan napas panjang.
"Waktu pulang... dia bilang mau berubah."
"Tapi sekarang malah makin sering pergi."
Nada suaranya terdengar lebih sedih daripada marah.
Haseena menggenggam tangan Abah pelan.
"Nanti Haseena coba bicara lagi sama Abang."
Rayyan hanya mengangguk.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia mulai takut.
Bukan takut kehilangan Zafran secara fisik.
Melainkan takut...
Anak laki-laki yang kini tinggal serumah dengannya bukan lagi Zafran yang selama ini ia kenal.