Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Lilin minyak lemak manusia di sudut gua hampir habis, menyisakan pendar redup yang memantulkan cairan kental di lantai batu. Bau daging membusuk dan aroma nanah masih memenuhi udara, namun desisan basah larva di dalam luka Mu Jin perlahan-lahan meredup.
Tubuh sang tukang kayu tergantung tidak bergerak. Kepala dan rambut kotornya terkulai ke depan, menyembunyikan wajahnya yang kini kurus kering dengan tulang pipi menonjol tajam.
Tetua Du Kang melangkah mendekat sambil membawa sebuah belanga tanah liat yang berasap tipis. Udara di sekitarnya mendadak dipenuhi wangi herbal yang tajam dan manis, Minyak Sembilan Akar Pualam, ramuan penyembuh paling langka milik Sekte Racun Jiwa yang sanggup menumbuhkan kembali jaringan daging mati dalam hitungan hari.
Du Kang mengambil segenggam salep kental berwarna hijau keemasan itu, lalu mengusapkannya secara kasar ke atas dada, ulu hati, dan paha Mu Jin yang berlubang-lubang.
SZZZZZT!
Daging melepuh dan luka-luka menganga tempat Cacing Darah Murni serta larva racun bersarang mendadak bereaksi. Lapisan kulit mati yang menghitam perlahan terkelupas dan jatuh berceceran ke lantai batu bagai kerak kayu terbakar. Di bawahnya, serat-serat otot merah yang rusak mulai bergetar hebat, menumbuhkan jaringan daging baru secara tidak alami.
Gatal yang teramat sangat dan rasa panas menyengat menjalar di seluruh permukaan kulit Mu Jin saat sel-sel tubuhnya dipaksa membelah secara cepat.
Mu Jin membuka matanya yang bersimbah darah kering. Helaan napas seraknya terdengar berat dan tersengal.
Dia merasakan jaringan daging di dada dan tangannya menyatu kembali, rapat dan menutup. Namun, regenerasi ini sama sekali bukan bentuk pemulihan murni. Daging baru yang tumbuh di atas tubuh Mu Jin terasa lebih kaku, berwarna pucat keabu-abuan bagai kulit mayat, dan dilapisi oleh urat-urat hijau kebiruan yang berdenyut kencang karena telah menyerap bisa racun ke dalam pembuluh darahnya.
Tubuhnya tidak membuang racun Du Kang. Tubuhnya mendaur ulang dan menyerap racun itu menjadi bagian dari jaringan fisiknya sendiri.
Du Kang memperhatikan proses itu dengan mata melotot lebar. Perlahan, sebuah senyuman gila yang teramat lebar mengukir wajah keriputnya, memperlihatkan deretan giginya yang kuning dan menghitam.
“Luar biasa... Sungguh keajaiban yang mengerikan!” gelak Du Kang gila, suaranya melengking memecah keheningan dungeon. “Jaringan tubuhmu tidak hancur oleh Cacing Darah Murni! Ia justru memakan racunnya dan membentuk pertahanan baru!”
Du Kang menyentuh dada Mu Jin yang baru saja menutup. Kulit di area itu kini terasa kencang dan keras, menyerupai lapisan kayu tua beracun yang sulit ditembus.
“Kau paham apa artinya ini, Cacing?” Du Kang membungkuk, membisikkan kata-katanya tepat di depan telinga Mu Jin yang berdarah dengan nada penuh kemenangan sadis. “Ini artinya tubuhmu tidak akan mati semudah itu. Tubuhmu sanggup menampung dosis racun yang sepuluh kali lipat lebih mematikan!”
Senyum Du Kang makin lebar dan menjijikkan. Penyembuhan ini bukanlah tindakan belas kasihan, melainkan tiket menuju neraka yang jauh lebih pekat. Daging baru yang tumbuh rapat ini hanyalah kanvas kosong yang disiapkan agar bisa dirobek, dibakar, dan diracuni kembali esok hari.
Mu Jin menatap kosong ke lantai batu yang tertutup kerak daging matinya sendiri.
Dia merasakan daya tahan fisiknya meningkat, namun seiring dengan pulihnya jaringan sarafnya, kepekaan terhadap rasa sakit justru menjadi sepuluh kali lipat lebih tajam. Setiap helaan napasnya kini membawa rasa terbakar racun yang mengalir di pembuluh darah barunya.
Kewarasannya yang telah pecah tidak kembali. Di dalam rongga dadanya yang dilapisi daging keabu-abuan, rasa tak berdaya itu mendadak mengkristal menjadi keheningan yang teramat pekat.
Du Kang berbalik, mengambil sebuah cangkir perunggu berisi Minyak Empedu Ular Mahkota, cairan hitam pekat yang dirancang untuk membakar saraf dari dalam.
“Mari kita lihat...” kata Du Kang sambil menyunggingkan senyum iblisnya, “...seberapa kuat daging barumu ini menahan racun generasi berikutnya.”
Iblis tua itu melangkah mendekat membawa cangkir beracun tersebut, siap memulai babak baru siksaan pada tubuh Mu Jin yang telah terdistorsi.