Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 1: The Smiling Emperor Chapter 1: The Foolish Fourteenth Prince
Matahari pagi menyiram Istana Kediaman Awan Merah dengan sinar keemasan yang hangat. Di tengah taman istana yang megah, sesosok pemuda berpotongan jubah sutra putih longgar tampak sedang berlari-lari kecil mengejar seekor kupu-kupu biru. Senyumnya terkembang lebar, polos, dan tampak sangat bahagia tanpa beban.
Dia adalah Mu Xuanyuan, Pangeran Ke-14 Kekaisaran Tianming.
"Tangkap! Ah, sedikit lagi... Haha! Kupu-kupunya terbang lebih tinggi!" gelak tawa Xuanyuan menggelegar di area taman. Ketampanan wajahnya sungguh luar biasa mata tajam namun bening bagai danau jernih, hidung mancung yang terpahat sempurna, serta kulit seputih pualam.
Namun, tawa kekanak-kanakan yang keluar dari mulutnya selalu berhasil menghancurkan kesan keagungan tersebut dalam sekejap. Bagi seluruh penghuni istana, Mu Xuanyuan hanyalah sebuah produk gagal. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun, pangeran tampan ini tidak bisa membangkitkan Dantian untuk berkultivasi, tidak paham politik, dan memiliki akal yang dianggap gila atau bodoh.
Di balik semak-semak tak jauh dari sana, dua orang pria berpakaian serba hitam menyilangkan tangan di dada. Mereka adalah pengawal pribadi Xuanyuan: Feng Wuchen yang berwajah dingin kaku bagai es, dan Gu Juechen yang memasang wajah lelah.
"Wuchen," bisik Juechen pelan sambil memijat pelipisnya. "Apakah hari ini majikan kita benar-benar harus pura-pura menangkap kupu-kupu selama dua jam penuh?"
"Itu demi menjaga penyamaran," jawab Feng Wuchen datar tanpa mengedipkan mata. "Seorang Immortal Emperor Puncak yang menyamar sebagai pangeran idiot harus bertindak totalitas."
Juechen menghela napas panjang. Sungguh ironis. Jika orang-orang di Kekaisaran Tianming mengetahui kebenarannya, mereka pasti akan jantungan massal. Pangeran Ke-14 yang mereka ejek setiap hari ini sebenarnya adalah keberadaan paling mengerikan di seluruh benua. Di dalam jiwanya tersembunyi kekuatan tingkat ranah Immortal Emperor Puncak sebuah pencapaian legendaries yang bahkan tidak bisa diimpikan oleh Leluhur Agung Kekaisaran.
Tak hanya itu, jika Xuanyuan mengibaskan tangannya, sebuah Ruang Dimensi Portabel raksasa akan terbuka. Di dalamnya membentang pegunungan yang terbuat dari kristal spiritual, lautan mutiara malam, perhiasan giok langka, serta ribuan hektar tanaman obat kuno dan buah-buahan abadi yang bisa memicu perang antar-benua hanya untuk selembar daunnya.
"Hahaha! Lihat Juechen, Wuchen! Aku hampir menangkapnya!" seru Xuanyuan dari kejauhan sambil melambaikan tangan dengan wajah jahil.
Namun, suasana ceria itu mendadak rusak oleh suara langkah kaki yang berat dan penuh nada keangkuhan.
Tap. Tap. Tap.
Sesosok pria muda berbalut jubah kemewahan berwarna ungu gelap melangkah masuk ke taman, diiringi oleh empat orang pengawal berwajah seram.
Dia adalah Lu Cangqiong, Pangeran Ke-3 Kekaisaran Tianming. Dari 21 bersaudara di istana ini, Lu Cangqiong adalah salah satu yang paling membenci dan paling sering merendahkan Xuanyuan.
"Cih, sungguh pemandangan yang menjijikkan di pagi hari," cibir Lu Cangqiong seraya menghentikan langkahnya. Matanya memandang Xuanyuan dengan penuh penghinaan.
"Adik Ke-14 milikku yang tak berguna... Di saat kakak-kakakmu bertaruh nyawa berlatih kultivasi dan memikirkan masa depan kekaisaran, kau malah bermain dengan serangga seperti bocah berumur lima tahun."
Xuanyuan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Lu Cangqiong, lalu memasang senyum paling lebar dan polos yang pernah ada.
"Eh? Kakak Ke-3!" Xuanyuan berlari mendekat dengan wajah berbinar. "Kakak Ke-3 datang bermain denganku? Kupu-kupu biru ini sangat cepat! Kakak kan hebat, bisakah Kakak menangkapnya untukku?"
"Jauhkan wajah bodohmu itu dariku!" bentak Lu Cangqiong seraya mengibaskan lengannya kasar.
Sebuah gelombang energi Ranah Pendekar Spirit terpancar dari kibasan tangan Lu Cangqiong, menciptakan angin kencang yang disengaja untuk menghempaskan Xuanyuan hingga terjungkal ke tanah.
Brak!
Xuanyuan jatuh terduduk di atas rumput. Bajunya sedikit kotor oleh tanah. Di belakangnya, mata Feng Wuchen dan Gu Juechen memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat selama sekejap mata.
Tangan Feng Wuchen sudah memegang gagang pedangnya, siap memenggal kepala Pangeran Ke-3 dalam hitungan milidetik. Namun, satu sentilan jari tak terlihat dari Xuanyuan dari balik punggungnya memberi sinyal mutlak: Tahan.
"Aduh... pantatku sakit," gumam Xuanyuan sambil mengelus bagian belakangnya, masih dengan wajah agak bingung tanpa rasa dendam.
Lu Cangqiong tertawa terbahak-bahak melihat respon Xuanyuan. "Lihat dirimu. Benar-benar sampah tanpa kultivasi. Menyedihkan! Wajah tampanmu itu sama sekali tidak ada gunanya jika otakmu kosong dan tubuhmu lemah. Kau adalah noda terbesar di dalam garis keturunan Kekaisaran Tianming!"
"Pangeran Ke-3," Gu Juechen melangkah maju dengan wajah dingin, mencoba menahan emosinya. "Pangeran Ke-14 tidak melakukan kesalahan apa pun. Mohon Anda menjaga sikap."
"Diam kau, anjing pengawal!" gertak Lu Cangqiong. "Kalian berdua sama bodohnya karena mau melayani pangeran gila ini. Ingat posisi kalian!"
Setelah memuaskan ego dan harga dirinya dengan menghina sang adik, Lu Cangqiong meludahi tanah di dekat kaki Xuanyuan.
"Minggir dari jalanku. Ayah Baginda Raja memanggil para pangeran berbakat ke Balai Agung. Orang gila sepertimu sebaiknya mengurung diri saja di kamar sebelum membuat malu keluarga kerajaan!"
Dengan langkah angkuh, Lu Cangqiong berlalu meninggalkan taman bersama para pengawalnya.
Begitu sosok Lu Cangqiong benar-benar menghilang di balik gerbang taman, suasana di sekitar Xuanyuan mendadak berubah secara drastis.
Rasa bingung dan wajah bodoh di paras tampan Xuanyuan menghilang tanpa bekas. Ia bangkit berdiri perlahan, membersihkan debu di jubah sutranya dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang.
Matanya yang tadinya polos kini memancarkan aura kedalaman alam semesta yang tak terukur—dingin, bijaksana, dan sangat dominan.
"Yang Mulia," Feng Wuchen mendekat dan berlutut dengan satu kaki. "Pangeran Ke-3 sudah keterlaluan. Jika Anda memberi izin, hamba bisa membuat kematiannya terlihat seperti kecelakaan kultivasi malam ini."
Xuanyuan tersenyum tipis—kali ini senyuman tipis yang sangat menawan namun penuh intrik. "Tidak perlu, Wuchen. Biarkan si menyedihkan Cangqiong bermain-main dengan kesombongan kecilnya.
Berpura-pura menjadi orang bodoh di depan orang yang merasa dirinya paling pintar adalah hiburan terbaik di dunia ini."
Xuanyuan mengibaskan tangannya pelan. Sebuah celah spasial tak terlihat terbuka sekejap di udara. Sebuah buah berwarna merah berkilau seperti kristal muncul di genggamannya.
Itu adalah Buah Teratai Surga, buah langka yang mampu menaikkan umur seseorang hingga seratus tahun dan meningkatkan ranah kultivasi secara drastis—yang di dalam ruang dimensinya hanya ia jadikan cemilan buah sehari-hari.
Kriuk.
Xuanyuan mengunyah buah ajaib itu dengan santai. "Lagi pula, jika aku membunuhnya sekarang, siapa lagi yang akan menghiburku di istana yang membosankan ini?"
Gu Juechen hanya bisa menghela napas seraya menggelengkan kepala. Majikannya ini memang luar biasa santai. Memiliki kekayaan tak terbatas dan kekuatan yang bisa menghancurkan seluruh benua dalam sekali tepukan tangan, tapi malah menikmati peran sebagai "Pangeran Bodoh".
"Bagaimana dengan laporan bisnis hari ini, Juechen?" tanya Xuanyuan seraya melangkah menuju gazebo taman.
Gu Juechen segera bersiap melapor. "Semua berjalan lancar, Yang Mulia. Kakak Han Xingzhou melaporkan bahwa Balai Lelang Xingzhou minggu ini berhasil mendapatkan keuntungan bersih lima ratus ribu batu kristal kelas tinggi dari penjualan Eliksir Pemurni Jiwa yang Anda berikan. Lalu, Komandan Po Jun juga memberi kabar bahwa Tentara Bayaran Po Jun telah berhasil menguasai jalur perdagangan selatan. Sekarang, lebih dari delapan puluh persen kekuatan militer independen di benua secara tidak langsung berada di bawah genggaman Anda."
"Bagus," puji Xuanyuan pelan. "Jaga agar identitasku tetap tersembunyi. Aku belum ingin kerepotan mengurus benua ini."
Namun, sebelum Gu Juechen sempat menjawab, sebuah aroma wangi bunga peony yang sangat menyengat dan elegan mendadak berembus tertiup angin. Sebuah suara halus, sedikit berat, namun sangat menggoda terdengar melayang dari atas dinding taman.
"Oho~ Siapa yang menyangka, Pangeran Ke-14 yang katanya gila dan lemah ternyata sedang asyik menikmati buah langka di balik taman istana?"
Mendengar suara itu, tubuh Xuanyuan mendadak kaku sejenak.
Wajah berwibawanya langsung luntur berganti dengan ekspresi sedikit panik.
Di atas tembok taman, berdiri seorang pria tampan berbalut pakaian sutra merah menyala dengan kipas lipat emas di tangannya. Matanya memancarkan pesona flamboyan yang mampu membuat wanita maupun pria bertekuk lutut. Dia adalah Leng Yan—pemilik rumah bordil terbesar dan paling megah di benua, seorang pria kuat yang sangat terobsesi pada segala hal yang indah.
Dan bagi Leng Yan, Mu Xuanyuan adalah keindahan tertinggi di dunia ini.
"Leng Yan..." gumam Xuanyuan dengan sudut mata berkedut.
"Pangeranku yang sangat tampan!" seru Leng Yan dengan nada puitis dramatis, mengibaskan kipasnya seraya menatap Xuanyuan dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan.
"Ah, betapa tampannya wajahmu saat sedang terkejut! Senyuman bodohmu di depan Pangeran Ke-3 tadi sungguh menggemaskan, tapi tatapan mata dinginmu barusan... Khh! Jantungku hampir berhenti berdetak karena terpesona!"
"Kakak Bodoh! Turun dari sana sekarang juga!"
Plak!
Sebelum Leng Yan sempat melanjutkan kalimat godaan flamboyannya, sebuah tembakan batu kecil meluncur tepat dan menghantam belakang kepalanya dengan keras. Seorang gadis berambut pendek dengan pakaian tempur ringkas—Leng Shuang, adik kembar Leng Yan—muncul di samping tembok dengan wajah merah padam karena menahan malu.
"Aduh! Shuang'er, kenapa kau memukul kakakmu yang rupawan ini?!" ringis Leng Yan sambil mengelus kepalanya.
"Bisakah kau berhenti menjadi orang aneh yang menggoda pangeran orang lain?!" bentak Leng Shuang penuh emosi, memasang wajah facepalm.
"Kau ini pemilik rumah bordil ternama! Jaga gengsimu!"
Xuanyuan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Kehidupan penyamarannya yang damai tampaknya akan menjadi jauh lebih rumit dan penuh kekonyolan dari yang ia bayangkan.