NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Diterima dengan Nilai Sempurna

Pengumuman ditempel pukul sembilan pagi.

Sebelum kertas itu benar-benar rata di papan informasi SMA Negeri 1 Buana, kerumunan calon siswa sudah mendorong maju. Orang tua ikut berdesakan. Nama-nama dibaca keras, ada yang bersorak, ada yang langsung pucat.

Arya Pratama berdiri di bagian belakang.

Budi Pratama berdiri di sampingnya, lebih gugup daripada dirinya. Ayahnya sudah tiga kali bertanya apakah nomor peserta Arya benar 017, dan tiga kali pula Arya menjawab sama.

"Kamu maju lihat, Nak. Ayah tunggu di sini."

"Tidak perlu buru-buru."

"Arya."

Nada Budi membuat Arya menoleh.

"Ayah boleh kelihatan tenang, tapi jantung Ayah dari tadi seperti dipukul tukang cor."

Arya hampir tersenyum. Ia akhirnya maju.

Daftar kelulusan dibagi dua kolom. Kolom kiri berisi peserta yang diterima reguler. Kolom kanan berisi peserta yang mendapat rekomendasi langsung wali Kelas Inovasi.

Di paling atas kolom kanan tertulis:

017 - ARYA PRATAMA - 100/100 - BEASISWA PENUH.

Di bawahnya ada tanda tangan Pak Surya Dharma.

Beberapa detik, suara sekitar seperti menghilang.

Bukan karena Arya terkejut. Ia sudah memperkirakan nilainya. Yang membuat dadanya terasa berat adalah kata setelah angka itu.

Beasiswa penuh.

Artinya Ayah tidak perlu mengambil lembur tambahan.

Seorang ibu di sampingnya membaca keras. "Seratus? Ada yang seratus?"

Kerumunan langsung bergerak.

"Mana namanya?"

"Arya Pratama? Dari sekolah mana?"

"SMA Budi Utama? Bukannya itu yang..."

Bisikan berhenti saat Arya berbalik.

Beberapa orang mengenali kemeja putih lamanya, sepatu yang sudah aus, dan map cokelat bekas. Tidak ada aura anak elit pada dirinya. Justru karena itu, angka 100/100 tampak seperti tamparan di wajah mereka.

Budi mendekat dengan langkah ragu. "Bagaimana, Nak?"

Arya menunjuk papan.

Budi membaca pelan. Bibirnya bergerak mengikuti huruf. Saat sampai pada kata beasiswa penuh, matanya memerah.

"Alhamdulillah," bisiknya. "Alhamdulillah."

Arya menunduk sebentar. Di SMA Budi Utama, surat pemberhentian membuat Ayah menahan sakit. Di sini, selembar pengumuman membuat Ayah hampir menangis lega.

Kertas memang bisa menghancurkan seseorang.

Kertas juga bisa mengangkatnya kembali.

Seorang staf memanggil Arya ke ruang administrasi. Di dalam, Pak Surya sudah menunggu. Ruangan itu lebih rapi daripada kantor kepala sekolah lamanya. Di dinding ada foto-foto pemenang lomba dan rak berisi buku tebal. Beberapa buku tampak sangat tua, dijilid kulit gelap, berbeda dari buku pelajaran biasa.

"Silakan duduk, Arya. Pak Budi juga."

Budi langsung menunduk sopan. "Terima kasih, Pak. Maaf kalau kami merepotkan."

"Tidak merepotkan." Pak Surya menatap Arya. "Justru sekolah yang akan rugi kalau tidak menerima anak Bapak."

Budi terdiam.

Arya tetap tenang, tetapi matanya menangkap perubahan kecil: Pak Surya tidak mengatakan nilai Arya bagus. Ia mengatakan sekolah akan rugi.

Itu kalimat orang yang melihat lebih jauh.

Pak Surya membuka map. "Arya diterima di Kelas Inovasi dengan nilai sempurna. Semua biaya pendidikan, seragam tambahan, buku wajib, dan kegiatan akademik sekolah akan ditanggung melalui skema beasiswa prestasi khusus."

"Pak..." Budi menggenggam lututnya. "Kami tidak punya uang untuk membalas bantuan seperti ini."

"Ini bukan bantuan pribadi. Ini keputusan sekolah." Pak Surya tersenyum tipis. "Dan keputusan akademik yang sangat mudah."

Ia mengeluarkan lembar jawaban Arya.

"Ada satu hal yang ingin Bapak tanyakan. Soal logika nomor terakhir. Kamu tidak memilih opsi jawaban. Kamu menulis bahwa soalnya salah. Kenapa?"

Budi langsung tegang. "Arya, kamu menulis soal sekolah salah?"

Arya menjawab sebelum Ayah meminta maaf. "Karena memang salah, Pak."

Ruangan menjadi hening.

Pak Surya menatapnya. "Jelaskan."

"Premisnya hanya menyatakan semua burung bisa terbang dan kelelawar bisa terbang. Dari dua premis itu, kita tidak bisa menyimpulkan kelelawar adalah burung. Banyak hal bisa berbagi satu sifat tanpa masuk kategori yang sama."

Pak Surya mengetuk meja sekali.

"Jawaban resmi tahun lalu adalah kelelawar termasuk burung."

"Maka jawaban resmi tahun lalu juga salah, Pak."

Budi tampak hampir berhenti bernapas.

Namun Pak Surya tidak marah. Sebaliknya, senyum di wajahnya semakin jelas, meski matanya tetap tajam.

"Berani juga kamu."

"Saya hanya menjawab sesuai logika, Pak."

Pak Surya berdiri dan berjalan ke rak buku. Ia menyentuh salah satu buku tua berjilid kulit, tetapi tidak mengambilnya.

"Sudah lama Bapak menunggu siswa yang menjawab seperti itu," katanya pelan.

Arya menangkap kalimat itu.

Menunggu.

Ia sedang menunggu.

"Mulai besok kamu masuk Kelas Inovasi. Jangan terlambat. Di kelas itu, semua anak merasa dirinya paling pintar se-Kota Buana."

"Baik, Pak."

"Dan Arya." Pak Surya berbalik. "Kepintaran bisa menjadi berkah, tapi juga beban. Jangan terlalu cepat menunjukkan semuanya."

Jari Arya bergerak sedikit.

Kalimat yang sama dengan catatan terakhirnya di perpustakaan.

Budi tidak memahami makna di baliknya. Ia hanya sibuk menahan haru ketika menandatangani berkas beasiswa.

Setelah urusan selesai, Arya dan Budi keluar dari kantor. Di koridor, beberapa calon siswa dan orang tua masih menatap. Kali ini tatapan mereka tidak lagi kasihan atau mengejek.

Di dekat papan pengumuman, seorang ayah yang tadi mencibir pelan sedang berdebat dengan staf.

"Anak saya ikut bimbel tiga bulan. Bagaimana mungkin kalah dari anak yang dikeluarkan sekolah?"

Staf itu menunjuk daftar nilai. "Nilai tesnya begitu, Pak. Kami sudah verifikasi."

"Mungkin dia menyontek."

Pak Surya yang baru keluar dari kantor mendengar kalimat itu. Suaranya tidak tinggi, tetapi cukup membuat koridor diam.

"Saya mengawasi langsung. Jika Bapak menuduh siswa saya menyontek, silakan buat laporan tertulis dan tanda tangani. Saya akan lampirkan rekaman CCTV ruang tes."

Pria itu langsung kaku.

Pak Surya melanjutkan, "Atau Bapak bisa menerima bahwa hari ini ada anak yang lebih siap daripada anak Bapak."

Tidak ada yang berani menjawab. Budi menatap Pak Surya dengan mata terkejut. Arya hanya menunduk sopan, tetapi di dalam dadanya, sesuatu yang lama tertekan akhirnya terasa lurus.

Takut, kagum, iri, bingung. Semua bercampur.

Budi menggenggam bahu Arya. "Ayah bangga, Nak. Sangat bangga."

Arya melihat papan pengumuman sekali lagi.

Kemarin ia siswa buangan.

Hari ini ia pemegang nilai sempurna di sekolah terbaik Kota Buana.

Besok, ia akan masuk ke kelas yang konon berisi otak terbaik kota ini.

Dan di rak kantor Pak Surya, ada buku tua yang tampak seperti datang dari dunia berbeda.

Arya tahu satu hal: Kelas Inovasi bukan akhir.

Di luar gerbang, dua siswa SMA Budi Utama yang kebetulan lewat berhenti ketika melihat pengumuman di ponsel seorang calon siswa. Nama Arya tersebar cepat. Salah satu dari mereka pucat, lalu buru-buru mengirim pesan ke grup kelas lama. Siswa yang kemarin ditertawakan di koridor kini diterima penuh di sekolah terbaik kota. Tamparan itu belum terdengar keras, tetapi arahnya sudah jelas.

Ini baru pintu pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!