Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Di Balik Pintu
Sepanjang perjalanan pulang, Sebastian tidak mengatakan apa pun.
Namun, tatapannya berulang kali jatuh pada pergelangan tangan Lia yang mulai membiru.
Pak Kelik membawa mereka ke klinik terlebih dahulu. Dokter memastikan tidak ada tulang yang retak, hanya memar dan sedikit keseleo. Setelah diberi salep serta perban elastis, Lia tetap bersikeras pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan laporan dan BAP pada hari yang sama.
Sebastian menemaninya sampai semua keterangan selesai dicatat. Ia tidak menyela, tidak menjawab atas nama Lia, dan hanya menyerahkan salinan video serta data para saksi ketika diminta.
Hari sudah gelap saat mobil memasuki halaman Rumah Wijaya.
Cornelia sedang menemani Bryan di lantai atas. Popo Mei Hoa sudah beristirahat setelah minum obat malam. Lia lega karena tidak perlu menjawab banyak pertanyaan dengan tubuh yang masih gemetar oleh sisa ketakutan.
Ia baru hendak menuju kamar belakang ketika Sebastian berkata, “Ikut saya.”
“Ko Sebas, dokter sudah mengobati tangan saya.”
“Saya tahu.”
Ia tetap berjalan menuju ruang baca kecil di lantai dua. Lia tak punya pilihan selain mengikutinya.
Begitu mereka masuk, Sebastian menutup pintu. Bunyi kaitnya membuat bahu Lia menegang.
Sebastian langsung berhenti.
“Saya tidak akan menguncinya.” Ia membuka kembali kait yang baru menyentuh kusen. “Kalau kamu tidak nyaman, pintunya boleh terbuka.”
Rasa sesak di dada Lia melonggar sedikit. Ia menggeleng dan menutup pintu itu sendiri, menyisakan celah kecil.
Di atas meja sudah ada kotak P3K, segelas air hangat, dan semangkuk bubur ayam. Entah kapan Sebastian meminta orang menyiapkannya.
“Duduk.”
Lia duduk di tepi sofa. “Saya belum lapar.”
“Jangan bohong setelah seharian menghadapi polisi.”
Sebastian menarik kursi dan duduk di depannya. Ia membuka perban luar dengan gerakan pelan, memeriksa warna memar tanpa menyentuh bagian yang paling sakit.
Bekas lima jari Bobby tampak jelas pada kulit Lia.
Rahang Sebastian mengeras.
“Sakit?”
“Sedikit.”
“Jawaban jujur.”
“Lumayan.”
Ia mengoleskan salep baru sesuai petunjuk dokter. Ujung jarinya dingin, tetapi telapak tangannya hangat saat menopang lengan Lia. Sentuhan itu sama sekali tidak kasar. Justru karena terlalu hati-hati, jantung Lia berdebar tak teratur.
“Kamu berani,” katanya.
Lia menatap perban yang dililitkannya. “Saya takut.”
“Berani bukan berarti tidak takut.” Sebastian mengencangkan perban secukupnya. “Kamu tetap berpikir saat takut. Kamu mencari orang, berteriak, merekam, dan mempertahankan diri. Itu yang penting.”
Pujian sederhana itu membuat tenggorokan Lia panas.
Seumur hidup, saat berhasil menyelamatkan diri, orang selalu bertanya mengapa ia berada di sana atau mengapa ia membuat pria marah. Sebastian tidak menanyakan satu pun dari itu.
Ia hanya memastikan Lia tidak menyalahkan dirinya sendiri.
“Terima kasih sudah datang,” bisiknya.
“Saya menyesal datang terlambat.”
“Ko Sebas tidak terlambat.”
Tatapan mereka bertemu. Ruang kecil itu mendadak terasa lebih sunyi.
Sebastian mendorong mangkuk bubur ke hadapannya. “Makan.”
Lia menurut. Tangan kanannya masih sakit, sehingga ia memegang sendok dengan tangan kiri. Butiran nasi beberapa kali hampir tumpah. Sebastian menghela napas, lalu mengambil mangkuk itu.
“Buka mulut.”
“Saya bisa sendiri.”
“Kamu baru saja menjatuhkan ayam dua kali.”
Wajah Lia memanas. Ia ingin merebut mangkuk, tetapi pergelangan tangannya berdenyut. Akhirnya ia membuka mulut dan menerima satu sendok bubur.
Makan perlahan di bawah tatapan Sebastian terasa jauh lebih memalukan daripada memberi keterangan di kantor polisi. Setiap suapan menghangatkan tubuhnya. Aroma manis yang sejak siang hampir tak tercium mulai mengisi ruang baca.
Sebastian berhenti sesaat.
Matanya menjadi lebih gelap, tetapi tangannya tetap stabil saat menyuapkan bubur berikutnya.
“Cukup,” kata Lia setelah mangkuk kosong. Suaranya melemah oleh rasa malu. “Saya sudah kenyang.”
Sebastian meletakkan mangkuk. Baru saat itulah ia melihat satu kancing blus Lia nyaris terlepas. Kain di bagian dada tertarik miring akibat Bobby tadi mencengkeram lengannya.
Lia mengikuti arah pandangnya dan buru-buru menutup bagian itu dengan telapak tangan.
“Benangnya putus,” katanya gugup. “Saya akan menjahitnya di kamar.”
Sebastian mengambil peniti kecil dari kotak jahit darurat di dalam P3K.
“Diam.”
Ia berlutut di depan sofa agar tidak perlu membungkuk dari atas tubuh Lia. Jarak mereka tetap sopan, tetapi ujung jarinya berada begitu dekat dengan kulit di bawah tulang selangka hingga Lia tak berani bernapas dalam.
Sebastian memasang peniti dari sisi dalam kain. Buku jarinya sesekali menyentuh blus, tidak pernah kulitnya. Meski begitu, aroma manis Lia semakin pekat, bercampur dengan wangi salep dan udara dingin pendingin ruangan.
“Sudah,” katanya serak.
Namun, ia tidak segera berdiri.
Lia menunduk. Wajah mereka hanya berjarak satu tarikan napas. Ia bisa melihat urat tipis di pelipis Sebastian dan cara lelaki itu mengatupkan gigi, seolah sedang menahan sesuatu yang menyakitkan.
“Ko Sebas?”
Sebastian mengangkat tangan, hampir menyentuh pipinya.
Jari itu berhenti di udara.
Ia menutup mata sejenak, lalu bangkit dan mundur dua langkah.
“Mulai sekarang, jangan pergi sendiri kalau bukan karena pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan.”
Nada itu terdengar seperti perintah. Lia menahan rasa hangat yang tadi tumbuh.
“Saya tidak bisa selamanya ditemani.”
“Saya tidak bilang selamanya.” Tatapan Sebastian jatuh lagi pada memarnya. “Sampai Bobby dan orang-orangnya jelas proses hukumnya. Beri tahu saya, Pak Kelik, atau Robby. Jangan ambil risiko yang sama.”
Lia memahami ketakutan di balik kekakuannya. Ia mengangguk.
“Baik.”
Sebastian membuka pintu untuknya. Ketika Lia melewati ambang, ia mendengar suara lelaki itu dari belakang, begitu pelan hingga hampir hilang.
“Kalau hari ini kamu benar-benar dibawa pergi, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan.”
Lia menoleh.
Pintu sudah tertutup di antara mereka.