NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Dua Bocah Satu Kamar

Tangis Nala berubah menjadi jeritan.

“Satya, lepas!”

Laras meraih tangannya, tetapi Satya justru menggenggam telinga Nala lebih erat. Nala menendang-nendang selimut. Laras menarik satu bayi, menahan bayi lain, lalu rasa nyeri tajam menyambar pinggangnya.

“Aduh.”

Ia terpaksa duduk sambil memeluk Nala. Satya kehilangan keseimbangan dan ikut jatuh ke bantal, kemudian menangis karena merasa diperlakukan tidak adil.

Pintu belakang terbuka.

Bima masuk mengenakan kaus tanpa lengan dan celana latihan. Rambutnya masih basah oleh keringat pagi.

“Apa yang terjadi?”

“Anak Komandan menyerang anak saya.”

Bima mengangkat Satya dengan satu tangan dan menaruhnya di bahu. “Kenapa kau tarik telinga adik?”

Satya tidak menjawab. Ia menggigit ujung kerah Bima dan langsung berhenti menangis.

“Jangan biarkan dia mengunyah baju kotor,” kata Laras.

“Daripada mengunyah telinga.”

Bima berjalan mondar-mandir sambil menepuk punggung Satya. Gerakannya sedikit kaku, tetapi bayi itu segera tenang. Laras memperhatikan otot bahunya menahan tubuh kecil tersebut dan mendadak teringat malam ketika ia berpikir laki-laki itu tampan.

Pagi ini pikirannya tidak berubah.

Ia cepat menunduk memeriksa telinga Nala. Tidak luka, hanya merah.

“Pinggangmu?” tanya Bima.

“Tertarik sedikit.”

“Duduk. Aku pegang Satya.”

“Komandan harus apel.”

“Sudah selesai.”

Seolah memahami namanya disebut, Satya menepuk bahu Bima. Lalu ia mencoba meraih Nala lagi.

“Tidak,” kata Bima.

Satya mengerutkan wajah, tetapi tidak menangis. Tatapan tegas itu ternyata lebih ampuh daripada suara Laras yang sudah serak.

“Sore ini petugas perbekalan datang,” kata Bima. “Izin Nala tiga bulan sudah siap. Setelah itu ditinjau ulang untuk penempatan tetap.”

Laras mengusap punggung Nala. “Tiga bulan cepat berlalu.”

“Pelan-pelan. Satu-satu kita urus.”

Ia mengatakannya sambil tetap menggendong Satya, seperti seorang ayah yang sudah terbiasa berada di tengah kekacauan pagi. Dada Laras menghangat.

“Komandan bilang begitu karena tidak harus menyusui dua anak bergantian.”

“Apa yang bisa kulakukan?”

Laras hampir menjawab tidak ada, lalu melihat tumpukan popok basah, air yang belum dipanaskan, dan bubur yang masih berupa beras mentah.

“Ganti popok Satya.”

Bima menatap bayi di bahunya. “Sekarang?”

“Kalau menunggu, baunya tidak hilang sendiri.”

Lima menit kemudian, Komandan batalyon yang mampu mengatur ratusan prajurit berdiri di depan tikar dengan popok terbalik. Satya menendang tanpa henti. Bima memasang satu sisi, sisi lain lepas, lalu kain bersih jatuh ke lantai.

Laras tertawa sampai pinggangnya sakit lagi.

“Jangan tertawa. Bantu.”

“Tadi Komandan bilang bisa pegang Satya.”

“Memegang berbeda dengan membungkus.”

Pada percobaan ketiga popok akhirnya terpasang, meski simpulnya miring. Bima mengangkat Satya seperti memeriksa hasil latihan. Bayi itu menggoyangkan kaki dengan puas.

“Lulus?” tanya Bima.

“Nilai enam.”

“Cukup.”

“Di lomba, nilai enam puluh tidak juara.”

Bima menyipitkan mata, tetapi senyum tipis muncul di wajahnya.

Setelah kedua bayi tenang, Laras menyiapkan susu. Satya mendapat botol kecil karena Laras perlu mengompres pinggang dan menyuapi Nala lebih dulu.

Satya minum beberapa teguk, lalu melihat Nala menatap botolnya. Ia mendorong botol itu ke arah wajah Nala.

Susu tumpah ke pipinya.

Nala terkejut, lalu mulai menangis lagi.

“Tadi telinganya ditarik, sekarang dimandikan susu,” keluh Laras.

Bima menahan tawa. “Niatnya berbagi.”

“Cara berbagi anak Komandan berbahaya.”

“Ajari pelan-pelan.”

Menjelang siang, seorang petugas muda datang membawa formulir. Semua kolom dibacakan: nama Nala, hubungan dengan Laras, alasan darurat, status kesehatan, batas tiga bulan, dan kewajiban melapor jika pindah.

Sebelum menandatangani, Laras meminta bagian yang menyebut biaya makan dijelaskan. Nala belum mendapat jatah satuan karena bukan anak kandung Bima dan belum menjadi tanggungan tetap. Laras harus membayar dari honor sendiri, sedangkan layanan klinik dasar diberikan melalui status keluarga prajurit gugur.

“Saya setuju,” katanya. “Tolong tulis bahwa tidak ada potongan lain di luar ini.”

Petugas menambahkan catatan dan membubuhkan paraf. Bima yang berdiri di pintu tidak ikut menjawab untuknya.

Laras menyukai hal itu. Perlindungan terbaik yang diberikan laki-laki tersebut bukan mengambil semua keputusan, melainkan memastikan ia punya tempat untuk membuat keputusan sendiri.

Setelah berkas selesai, Bima memindahkan ranjang bayi sedikit menjauh dari kasur. Ia memasang pembatas kain agar tangan Satya tidak mudah mencapai telinga Nala lagi. Iwan membawa rak kecil untuk pakaian dua anak, sementara Bu Titin menempel jadwal jaga ketika Laras berlatih lomba.

Ruangan sempit itu tetap sempit, tetapi mulai memiliki aturan baru.

Laras menandatangani setelah memeriksa tanggal.

Petugas itu menyerahkan satu salinan. “Evaluasi sebelum masa berlaku habis. Kalau pekerjaan Ibu tetap dan rekomendasi Danyon baik, bisa diajukan menjadi penghuni tanggungan tetap.”

“Terima kasih.”

Bu Ratna melintas ketika petugas keluar. Ia berhenti di depan pintu terbuka dan memandang dua bayi yang kini tidur berdampingan, dipisahkan guling panjang.

“Wah, nambah anak, nih?”

Laras melipat surat izin. “Nala anak saya sejak lahir, Bu. Bukan baru ditambah hari ini.”

“Kamar dinas makin ramai. Semoga tidak mengganggu pekerjaan menjelang lomba.”

“Tidak akan.”

“Yakin? Mengurus satu bayi saja dulu sering minta izin.”

Laras menatapnya sambil tersenyum.

“Nanti kita ketemu di Adu Masak. Ibu bisa lihat sendiri apakah pekerjaan saya terganggu.”

Bu Ratna tidak menemukan jawaban yang cukup cepat. Senyumnya tetap ada, tetapi sudut bibirnya berkedut sekali.

Di belakang Laras, kedua bayi kecil tetap tidur, seolah tantangan itu sama sekali bukan urusan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!