NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Tapi ia tidak lagi terlihat seperti korban.

Keesokan paginya, Arka berdiri di walk-in closet Villa WD8 dan menatap pilihan pakaian yang masih menyedihkan.

Rak besar itu kosong hampir seluruhnya. Di satu sisi hanya tergantung beberapa kaus lama, jaket hitam yang warnanya mulai pudar, dan dua celana olahraga. Rumahnya sudah berubah. Rekeningnya sudah berubah. Tubuhnya mulai berubah.

Isi lemari belum sempat mengejar.

Steven Wibisana datang pukul sembilan tepat dengan Porsche Cayenne hitamnya. Begitu melihat Arka keluar memakai kaus polos, celana olahraga, dan sepatu biasa, ia menghela napas seperti agen properti yang baru melihat klien membeli istana lalu tidur di lantai.

"Bos," katanya hati-hati, "kita mau ke showroom Rolls-Royce, bukan beli galon."

"Mobilnya yang penting, bukan bajuku."

"Di dunia ideal, benar. Di Jakarta Selatan, orang menilai dari sepatu dulu baru KTP."

Arka mengunci pintu Villa WD8. "Berarti bagus. Kita bisa lihat siapa yang bekerja pakai mata dan siapa yang bekerja pakai otak."

Steven tertawa. "Saya mulai kasihan sama sales-nya."

Showroom Rolls-Royce berada di kawasan mewah Jakarta Selatan. Kacanya tinggi, lantainya mengilap, dan suasananya dibuat hening seolah setiap suara harus meminta izin sebelum menyentuh mobil di dalamnya. Di tengah ruangan, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam berdiri seperti kapal perang yang dipoles untuk bangsawan.

Arka berhenti sejenak di depan mobil itu.

Porsche 718 milik Revano pernah membuat Viona merasa telah naik kelas.

Mobil di depannya berada di kelas yang bahkan tidak bisa disentuh Revano dengan cicilan sombongnya.

Seorang sales pria mendekat. Senyumnya rapi, tetapi matanya terlalu cepat turun ke pakaian Arka.

"Selamat pagi, Pak. Mau lihat model apa?"

Steven belum sempat bicara ketika Arka menjawab, "Phantom."

Sales itu menoleh ke mobil hitam di tengah ruangan, lalu kembali menatap Arka. Senyumnya tidak hilang, hanya menjadi lebih tipis.

"Phantom unit ini mulai dari Rp 38 Miliar, Pak. Untuk test drive dan pemesanan, biasanya kami perlu appointment dan bukti kemampuan finansial terlebih dahulu. Mungkin Bapak ingin melihat model pre-owned atau merchandise?"

Steven menutup mulutnya dengan punggung tangan, pura-pura batuk.

Arka tidak marah.

Ia justru berjalan mengitari Phantom itu dengan tenang. Garis bodinya panjang, sunyi, tidak perlu banyak lekukan untuk terlihat mahal. Di kaca hitamnya, Arka melihat pantulan dirinya: tubuh masih besar, tapi wajahnya lebih tajam daripada minggu lalu. Pakaian biasa. Mata yang tidak biasa.

"Warna hitam ini ready?" tanya Arka.

"Ready, Pak, tapi seperti saya jelaskan tadi..."

"Interior?"

Sales itu menahan napas pendek. "Kulit hitam, aksen walnut, konfigurasi standar Indonesia. Unit ini termasuk stok terbatas."

"Bagus. Saya ambil."

Ruangan seperti berhenti satu detik.

Sales itu berkedip. "Maaf, Pak?"

"Saya ambil," ulang Arka. "Full payment. Hari ini."

Steven akhirnya tertawa kecil. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat sales itu sadar bahwa mungkin ia baru saja salah membaca orang.

"Pak," sales itu mulai lebih hati-hati, "untuk transaksi sebesar ini, kami perlu proses administrasi, verifikasi dana, dan..."

Arka mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi bank, lalu menunjukkan bukti saldo rekening dan escrow release dari transaksi properti yang sudah cair sebagian. Ia tidak menaruh ponsel itu terlalu lama. Cukup satu kilasan untuk membuat mata sales tersebut berubah.

Itu perubahan yang selalu menarik.

Dari sopan kosong menjadi sopan sungguhan.

"Baik, Pak Arka." Sales itu langsung menegakkan punggung. "Mohon tunggu sebentar. Saya panggil sales manager kami. Kopi? Teh? Mineral water?"

"Dokumen dulu."

Steven menyenggol lengan Arka pelan. "Bos punya kalimat favorit baru."

"Karena orang terlalu sering menawarkan kopi saat seharusnya menyiapkan kontrak."

Lima menit kemudian, sales manager datang dengan wajah yang sudah dilatih untuk tidak terlihat panik. Ia menjabat tangan Arka dengan dua tangan.

"Pak Arka, kehormatan bagi kami. Mohon maaf jika tadi pelayanan kami kurang tepat."

"Tidak masalah. Saya memang berpakaian seperti orang yang tersesat."

Sales pria tadi tersenyum kaku.

Arka duduk di meja transaksi. Formulir dibuka, nomor rangka diperiksa, dokumen faktur disiapkan. Steven membaca bagian administrasi dengan cepat, sesekali menunjuk biaya tambahan yang tidak perlu.

"Ini hapus," kata Steven. "Ini juga. Bos bayar full, jangan main paket aneh."

Sales manager langsung mengangguk. "Tentu, Pak Steven."

Arka menatap Steven.

"Ternyata berguna juga bawa orang yang suka cerewet."

"Saya mahal karena cerewet, Bos. Kalau diam, saya cuma sopir Cayenne."

Untuk pertama kalinya sejak memasuki showroom, Arka tersenyum sedikit lebih jelas.

Transaksi itu selesai lebih cepat daripada membeli motor bagi sebagian orang. Saat pembayaran dikonfirmasi, sales pria yang pertama menyambut mereka berdiri di samping Phantom dengan sikap yang jauh lebih rendah.

"Selamat, Pak Arka. Rolls-Royce Phantom ini resmi menjadi milik Bapak. Kami akan bantu proses registrasi dan pengiriman dokumen. Untuk hari ini, unit bisa langsung dibawa dengan plat sementara."

Kunci diletakkan di atas nampan kecil.

Arka mengambilnya.

Kunci itu tidak seberat Emas Batangan. Tidak seformal map SHM. Tetapi sebagai simbol, benda kecil itu tajam.

Kemarin, Revano memakai Porsche untuk menunjukkan bahwa ia menang.

Hari ini, Arka memegang kunci mobil yang membuat Porsche itu terlihat seperti mainan mahal.

Sales manager mengantar mereka sampai pintu. Bahkan security showroom ikut membungkuk saat Phantom hitam itu perlahan keluar dari lantai display menuju jalan.

Arka duduk di belakang kemudi.

Mobil itu nyaris tidak bersuara. Setiap gerakan halus, berat, dan patuh. Orang-orang di trotoar menoleh. Pengendara motor memperlambat laju. Di lampu merah, seorang pria dalam sedan mewah menurunkan kaca hanya untuk melihat siapa yang mengemudi.

Steven mengikuti dari belakang dengan Cayenne. Ponsel Arka bergetar.

Pesan Steven masuk.

Bos, saya akui, Phantom ini cocok. Tapi kalau besok dibawa ke UNUSA, gerbang kampus bisa macet.

Arka membalas saat mobil berhenti di lampu merah.

Belum besok.

Balasan Steven cepat.

Jadi kapan?

Arka menatap jalan di depan. Di kaca spion, wajahnya terlihat tenang. Garis rahangnya makin jelas, matanya dingin, dan di bawah tangannya mesin puluhan miliar menunggu satu injakan ringan.

Ia mengetik satu kalimat.

Saat mereka paling yakin aku masih di bawah.

Phantom melaju masuk ke halaman Villa WD8 menjelang sore. Garasi yang kemarin kosong kini terasa punya pemilik yang pantas. Arka turun, menatap mobil hitam itu dari depan.

Rolls-Royce Phantom.

Rp 38 Miliar.

Dan itu hanya potongan kecil dari minggu pertamanya memahami harga dua dunia.

Di layar ponselnya, grup kampus kembali ramai. Ada foto Viona dan Revano di sebuah kafe, Revano sengaja meletakkan kunci Porsche di meja. Komentar-komentar lama muncul lagi, memuji, membandingkan, menyindir pria yang mereka kira sudah kalah.

Arka menutup layar.

Ia tidak perlu menjawab dengan kata-kata.

Sebentar lagi, seluruh UNUSA akan melihat jawabannya datang dari gerbang depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!