Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegagalan Putra Mahkota
Suasana di dalam Aula Pertemuan Agung Kekaisaran mendadak membeku, diselimuti keheningan yang tajam dan mengintimidasi.
Semua pejabat tinggi, jenderal perang, dan penasihat istana kompak menundukkan kepala sedalam mungkin, tak berani menatap takhta emas di depan mereka.
Aura menekan yang dipancarkan oleh sang Kaisar Tertinggi begitu pekat dan berat, seolah-olah atmosfer di dalam ruangan itu mengkristal dan mengunci pergerakan mereka. Bahkan untuk sekadar menggeser kaki atau menarik napas pun, mereka merasa tidak sanggup karena tekanan magis dan wibawa yang luar biasa tersebut.
Di tengah aula yang luas itu, tepat di bawah anak tangga takhta, Putra Mahkota Lin Dui berdiri mematung dengan kepala tertekuk dalam, menahan gemetar di lututnya.
"Membawa seluruh barisan pasukan elit ke luar gerbang istana? Mengosongkan pos-pos krusial hingga membuat sistem pengamanan istana merosot tajam? Lalu dengan mudahnya membiarkan sekelompok pencuri menyusup dan menjarah gudang senjata tepat di jantung kekaisaran ini, sementara kau... apa yang sebenarnya kau lakukan di luar sana, Putra Mahkota?" Tanya Kaisar Lin Dong.
Suaranya terdengar sangat pelan, datar, tanpa nada kemarahan yang meledak-ledak, namun justru keheningan yang dingin itulah yang paling mematikan.
Putra Mahkota Lin Dui menelan ludah dengan susah payah, membasahi tenggorokannya yang mendadak kering sebelum memberanikan diri menjawab.
"Mohon ampun yang sebesar-besarnya, Ayah... aku mengaku bersalah atas kelalaian ini. Aku... aku sebelumnya berpikir bahwa dengan mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, kita akan dengan mudah mengepung dan menangkap komplotan pencuri itu. Aku sama sekali tidak mengira, bahwa target mereka selanjutnya adalah istana ini... aku pikir, mereka tidak akan berani merampok istana dalam." ucap Lin Dui dengan nada suara yang bergetar, mencoba membela diri meski tahu argumennya terdengar sangat lemah.
Kaisar Lin Dong terdiam mendengarkan pembelaan itu, namun aura intimidasi yang keluar dari tubuhnya sama sekali tidak mengendur, justru semakin menekan kuat.
Semua pejabat dan petinggi yang hadir serempak memejamkan mata erat-erat dan menahan napas mereka saat mendengar derap langkah pelan Kaisar Lin Dong yang mulai turun dari takhtanya. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai pualam bergema layaknya lonceng kematian.
Sambil berjalan perlahan mendekati putranya, Kaisar Lin Dong kembali berucap dengan nada yang sangat lirih, namun sarat akan kekecewaan mendalam.
"Sebuah kegagalan yang memalukan? Sebagai seorang Putra Mahkota... calon pewaris takhta Kekaisaran Naga Langit... kau telah gagal total dalam menjalankan satu misi pertahanan yang paling mendasar. Jika keamanan rumahmu sendiri tidak bisa kau jaga, bagaimana mungkin aku bisa mempercayakan masa depan, wilayah kekuasaan yang luas, dan nyawa jutaan rakyat kekaisaran ini kepada pemimpin yang tidak kompeten seperti dirimu?" Tanya Kaisar Lin Dong pelan.
Namun, setiap untaian kata yang keluar dari bibirnya bagaikan belati tajam yang menusuk telak harga diri dan kehormatan Putra Mahkota Lin Dui di depan semua yang hadir.
Putra Mahkota Lin Dui seketika mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat di balik jubah kebesarannya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi dan rasa malu yang membakar dadanya.
Meski demikian, dia tidak berani membantah sepatah kata pun atas Teguran keras tersebut. Dengan sisa keberaniannya, dia bersujud. "Berikan aku satu kesempatan lagi, Ayah... tolong izinkan aku memimpin pencarian ini kembali. Aku bersumpah demi darah kekaisaran yang mengalir di tubuh ku, aku akan membawa kepala para pencuri itu dan membuktikan kepada Ayah serta seluruh istana bahwa aku masih pantas." mohon Lin Dui dengan penuh penekanan.
"Kesempatan?" Ulang Kaisar Lin Dong singkat, memotong kalimat putranya dengan dingin. Dia menatap lurus ke arah Lin Dui yang berada di bawahnya dengan pandangan mata yang kosong namun menusuk. "Ayah pikir, kamu sudah tidak membutuhkan hal itu lagi, Putra Mahkota Lin Dui," lanjut Kaisar Lin Dong dengan nada final yang mutlak karena kekecewaan nya.
Suasana menjadi semakin mencekam karena tidak ada satu pun pejabat yang berani membuka suara.
Sementara itu, kontras dengan ketegangan hebat yang terjadi di Aula Pertemuan, kedamaian dan ketenangan yang mutlak justru menguasai Paviliun Musim Semi.
Angin sepoi-sepoi berembus lembut, menggoyahkan tirai sutra tipis yang mengelilingi Lin Jia. Gadis itu tampak duduk dengan anggun, menikmati ketenangan paginya sambil perlahan menyesap teh melati hangat dari cangkir porselen kecilnya.
Seperti biasa, pelayan setianya, Mei-Mei, berdiri dengan patuh di sampingnya dan menemani sang nona dalam kesunyian yang damai.
"Nona, jika boleh saya jujur... sepertinya pagi ini Anda terlihat sedikit berbeda dari biasanya." kata Mei-Mei memecah keheningan dengan suara yang sangat berhati-hati, mencoba membaca ekspresi wajah majikannya.
Lin Jia tidak langsung menoleh atau menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja kayu cendana, namun sepasang matanya yang indah dan jernih menyiratkan kilatan misterius yang sulit diartikan.
"Berbeda? Bukan diriku yang berbeda, Mei-Mei... tapi aura dan suasana di seluruh istana ini yang mendadak berubah menjadi terlalu kaku, dingin, dan tegang," ucap Lin Jia lirih, menatap ke arah luar paviliun seolah-olah dia bisa merasakan badai besar yang sedang terjadi di Aula Pertemuan sana.
Ia meletakkan cawan tehnya tanpa menimbulkan suara sekecil pun di atas meja kayu cendana. "Aku dengar... pencuri itu berhasil," kata Lin Jia lagi, kali ini dengan nada yang menyimpan kepuasan rahasia.
Mei-Mei mengangguk dalam-dalam, menurunkan pandangannya sebagai bentuk penghormatan sekaligus kehati-hatian. "Sesuai dengan yang Nona katakan kemarin... kita terkecoh. Penyusup itu dengan mudah menembus ruang penyimpanan pusaka kekaisaran tanpa meninggalkan jejak kaki sedikit pun," kata Mei-Mei lagi, melaporkan situasi yang kini tengah membuat para menteri gemetar di aula utama.
"Mereka... sangat profesional... tanpa suara, dan tanpa jejak." kata Lin Jia pelan.
Lin Jia hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang misterius dan sarat akan makna tersembunyi. Keanggunannya tidak terusik oleh kabar kekacauan tersebut. Dia berdiri dari posisinya, membiarkan hanfu nya menjuntai indah menyentuh lantai lantai marmer yang dingin.
"Kalau begitu," katanya pelan, namun getaran suaranya cukup tegas untuk didengar dan dipatuhi oleh Mei Mei yang ada disana.
Lin Jia membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah koridor panjang yang menghubungkan paviliunnya dengan pusat kekuasaan. "Kita ubah suasana ini... menjadi... lebih baik. Biarkan mereka tahu bahwa papan permainan yang sebenarnya baru saja dimulai."
Langkah kakinya yang anggun namun mantap segera membawanya keluar dari Paviliun Musim Semi, membelah kesunyian pagi menuju Aula Pertemuan tempat takdir Kekaisaran tengah dipertaruhkan.