Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Tamu Tak Diundang di Mal Permata Timur
"Barang display jangan disentuh, Mas."
Mbak Dewi dari butik Louis Vuitton mengucapkan itu sebelum Raka sempat memegang tas kulit di rak tengah. Nada suaranya manis seperti gula murah, tetapi matanya mengukur kemeja Raka, sepatu Fajar, dan rambut Bayu yang masih berantakan.
Bayu langsung menoleh. "Kalau disentuh meledak?"
Dewi tersenyum kaku. "Kami hanya menjaga kenyamanan pelanggan lain."
Di sofa butik, seorang wanita berkalung emas menatap Raka dari atas ke bawah lalu berbisik kepada temannya. Dua sales lain pura-pura merapikan rak, padahal menunggu drama.
Raka tidak marah. Ia baru saja membeli gedung empat puluh dua lantai. Satu kalimat sales butik tidak cukup mengganggu napasnya.
[Mimpi: Ramuan Karisma Dasar masih belum aktif. Apakah tuan rumah ingin mengaktifkan?]
"Aktifkan."
Cairan hangat mengalir dari Pocket Space ke tenggorokannya tanpa terlihat. Dalam beberapa detik, suasana berubah halus. Bukan wajahnya mendadak berbeda. Cara orang melihatnya yang berubah. Punggungnya terasa lebih lurus. Suaranya saat berbicara membawa tekanan yang tidak perlu dinaikkan.
"Mbak Dewi, benar?"
Dewi terkejut karena ia belum memperkenalkan diri. Name tag-nya memang terlihat, tetapi tadi Raka tidak menunduk lama.
"Iya, Mas."
"Panggil manajer. Saya mau beli semua barang display di butik ini."
Tawa kecil meledak dari sofa. Wanita berkalung emas menutup mulut dengan tangan.
Dewi menghela napas. "Mas, satu tas saja bisa ratusan juta. Kalau ingin lihat-lihat, saya bisa arahkan ke katalog online."
Fajar melangkah setengah senti. Raka mengangkat tangan, menahannya.
"Saya tidak bertanya harga. Saya memberi instruksi."
Dewi memerah. "Security."
Satu petugas masuk dari pintu butik. Sebelum ia bicara, Bayu sudah menunjukkan kartu nama.
"Bayu Santoso, kuasa hukum calon pembeli. Kalau Anda mengusir klien saya setelah ia menyatakan niat membeli, saya minta rekaman CCTV mall dan kirim somasi ke manajemen tenant. Silakan pilih mau terlihat elit atau terlihat bodoh."
Security berhenti.
Dewi mulai kehilangan kendali, tetapi gengsi membuatnya tetap berdiri di jalan salah.
"Baik. Kalau Mas serius, kami butuh bukti kemampuan bayar."
Raka mengeluarkan kartu hitam dari dompet.
Kartu itu ia beli dari Toko Sistem Level 2 pagi tadi: Black Card Pembayaran Terverifikasi. Di dunia luar, sistem bank membacanya sebagai kartu premium dengan limit yang disahkan. Di tangan Raka, harga transaksi tetap mengikuti deflasi.
Dewi menerima kartu dengan dua jari, seperti takut tertular kemiskinan. Lima menit kemudian, mesin EDC berbunyi.
Transaksi disetujui.
Layar internal butik menampilkan pembelian seluruh display, termasuk tas, dompet, koper, sepatu, dan aksesori. Total dunia luar membuat kasir menutup mulut. Total yang terpotong di sistem Raka tidak sampai harga parkir motor.
Wajah Dewi pucat.
"Pak... Raka, saya..."
"Lanjut ke Gucci," kata Raka.
Di luar butik, kabar menyebar lebih cepat daripada langkah mereka. Ketika Raka masuk Gucci, sales yang tadinya mungkin akan menilai pakaian langsung menyambut dengan senyum lebar. Namun Raka tidak lupa tujuan. Ia membeli seluruh koleksi display utama agar bahasa tempat itu berbalik lewat angka penjualan.
Fajar mengurus pengiriman ke vila dan Menara Langit. Bayu memastikan faktur dan pajak. Barang masuk daftar inventaris pribadi dan sebagian akan dikirim untuk Bibi serta disumbangkan melalui jalur yang tidak membuat penerima merasa dipamerkan.
Di butik jam, seorang sales Patek Philippe bernama Anton mencoba lebih halus.
"Pak Raka, untuk model tertentu ada waiting list."
"Model yang tersedia?"
"Nautilus satu, Aquanaut satu, Calatrava satu."
"Saya ambil tiga."
Anton berkedip. "Ketiganya, Pak?"
"Ada alasan saya harus memilih seperti orang yang uangnya terbatas?"
Bayu batuk kecil, menutupi tawa.
Transaksi jam selesai. Fajar menerima kotak dengan posisi tubuh seperti menerima barang bukti. Raka melihat pantulan dirinya di kaca butik. Pelayan yang dulu berdiri di pintu VIP dengan nampan gemetar sudah digantikan pria yang membuat satu lantai mall menahan napas karena belanja.
Tetapi puncak hari itu belum datang.
Saat mereka kembali ke koridor, seorang pria berjas abu-abu terburu-buru menghampiri. Pak Irwan, general manager Mal Permata Timur.
"Pak Raka Surya Pratama? Saya Irwan. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan di tenant kami. Saya baru menerima laporan."
Mbak Dewi berdiri beberapa meter di belakang, wajahnya seperti menunggu vonis.
Raka menatap Irwan. "Laporan apa yang Anda terima?"
Irwan tidak bermain bodoh. "Staf LV meremehkan Bapak dan sempat memanggil security setelah Bapak menyatakan niat membeli. Itu kesalahan pelayanan."
"Bagus. Anda jujur."
Irwan membungkuk sedikit. "Kami siap memberikan kompensasi."
"Saya tidak butuh voucher. Saya butuh standar. Orang yang masuk mall Anda tidak harus membuktikan rekening sebelum diperlakukan manusia."
Kalimat itu membuat beberapa pengunjung yang menonton mengangguk pelan. Dewi menunduk makin dalam.
Irwan berkata, "Kami akan tindak staf terkait."
"Jangan pecat dia hari ini."
Dewi mengangkat wajah, kaget.
"Pindahkan ke bagian cleaning area publik selama satu bulan. Gaji tetap. Setelah itu latih ulang. Kalau dia masih mengukur manusia dari sandal, baru keluarkan."
Irwan tertegun, lalu mengangguk. "Baik, Pak."
Bayu berbisik, "Anda membuat hukuman yang lebih memalukan daripada pemecatan."
"Pemecatan membuat dia merasa korban. Mengepel lantai yang tadi ia anggap terlalu rendah akan membuatnya belajar."
Pak Irwan, yang semula hanya ingin memadamkan komplain, kini memandang Raka dengan hitungan baru.
"Pak Raka, jika Bapak masih punya waktu, kami punya lantai VIP yang sedang tidak optimal. Sewa tenant turun sejak pandemi. Pemilik mempertimbangkan skema jual terbatas."
Mimpi langsung menampilkan peluang.
[Target aset: Lantai VIP Mal Permata Timur. Harga sistem estimasi Rp8.000.]
Raka menatap koridor atas yang hanya bisa diakses lift khusus.
"Lantai VIP itu dijual?"
Irwan ragu, lalu menjawab, "Secara internal, iya. Untuk pembeli yang tepat."
Raka tersenyum.
Raka juga meminta daftar staf yang menerima komisi dari transaksi hari itu. Ketika Irwan bingung, Raka menjelaskan bahwa sales yang bekerja profesional harus tetap mendapat haknya, termasuk Anton dari butik jam. Ia tidak ingin semua orang belajar satu pelajaran yang salah: bahwa satu staf sombong bisa membuat seluruh tim kehilangan rezeki.
Irwan mencatat cepat. Keputusan itu membuat beberapa sales yang menonton dari jauh terlihat lega. Mereka mulai membedakan Raka dari pembeli kaya yang hanya mencari kesempatan menghukum. Ia menghukum, tetapi memilih sasaran. Itu jauh lebih menakutkan.
Fajar berkata rendah, "Pak, kabar Anda membeli satu lantai akan menyebar sebelum kita turun."
"Biarkan. Besok mereka harus terbiasa mendengar nama PT Langit Sembilan."
Raka tidak membawa semua barang belanja ke vila. Sebagian ia minta dikirim ke gudang sementara Menara Langit dengan daftar inventaris. Ia sudah belajar dari Bibi: barang mahal yang datang terlalu banyak bisa membuat rumah terasa seperti toko. Rumah harus punya napas lain.
"Kalau begitu, tunjukkan."