NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Kantin Mewah Universitas Nusantara Emas dipenuhi oleh mahasiswa dari kalangan elit. Di salah satu sudut yang agak privat, Clara duduk bersebelahan dengan Bima. Gadis itu terus menempelkan bahunya pada lengan Bima sambil mengaduk matcha lattenya dengan wajah berseri-seri.

​Di seberang mereka, seorang gadis berambut pendek model bob dengan kacamata berbingkai tipis menatap Clara dengan mulut setengah terbuka. Ia adalah Siska, putri dari seorang hakim agung sekaligus satu-satunya sahabat terpercaya yang mendampingi Clara selama masa-masa kelam penyakitnya.

​"Aku... aku masih tidak percaya ini," ucap Siska sambil memijat pelipisnya. "Clara Herman yang terkenal sebagai Ratu Es, yang bahkan menolak berkedip pada putra menteri, sekarang bertingkah seperti anak kucing manja? Dan kau... kau dijodohkan dengan pria ini?!"

​Siska menunjuk Bima, lalu menghela nafas panjang. "Meskipun aku harus mengakui, insiden di lobi tadi pagi membuat seluruh kampus gempar. Dan, yah... dia memang jauh lebih berwibawa daripada si sombong Kevin."

​Bima mengangguk sopan ke arah Siska. "Terima kasih telah menjaga Clara selama saya belum datang ke kehidupan gadis keras kepala ini, Nona Siska."

​"Hei! Aku tidak keras kepala, aku hanya tahu apa yang kumau!" protes Clara sambil mengerucutkan bibir, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bima.

​Siska tertawa melihat interaksi keduanya. "Baiklah, Bima. Kuserahkan sahabatku padamu. Jangan berani-berani membuatnya menangis, atau kau akan berurusan denganku!"

​Namun, sebelum Bima sempat membalas, ponsel di tas Clara berdering keras. Nada dering itu adalah panggilan khusus dari Pak Herman.

​Clara segera mengangkatnya. "Halo, Pa? Ada apa—"

​Suara Clara terputus. Wajah gadis itu yang semula merona bahagia mendadak pucat pasi. Tangannya sedikit bergetar memegang ponsel.

​"B-baik, Pa... Kami segera ke sana sekarang," ucap Clara dengan suara panik, lalu mematikan sambungan.

​"Ada apa, Clara?" tanya Bima, auranya langsung berubah menjadi mode pelindung.

​"Rumah Sakit Utama Herman Medika... sedang kacau balau, Bima," suara Clara bergetar ketakutan. "Papa bilang, pagi ini ada puluhan pasien yang tiba-tiba pingsan di lobi dan ruang tunggu dengan gejala aneh. Seluruh dokter spesialis turun tangan, tapi mereka tidak bisa menemukan penyebabnya. Tiga pasien sudah kritis dan jantung mereka nyaris berhenti!"

​Mata Bima menyipit. Intuisi medisnya seketika menangkap kejanggalan. Puluhan orang pingsan serentak di satu tempat? Itu bukan pola penyebaran penyakit alami.

​"Kita berangkat sekarang," putus Bima tegas.

​Dua puluh menit kemudian, mobil Bima dan Clara tiba di pelataran Rumah Sakit Herman Medika, rumah sakit swasta terbesar dan tercanggih di ibukota yang dimiliki oleh keluarga Herman.

​Kondisi di sana benar-benar kacau. Sirine ambulans meraung-raung. Perawat berlarian membawa tandu, sementara keluarga pasien menangis histeris di ruang tunggu.

​Bima dan Clara bergegas masuk menuju UGD. Di sana, Pak Herman berdiri dengan wajah tegang, didampingi oleh Dokter Hendra, Kepala Rumah Sakit sekaligus profesor medis senior yang tampak sangat frustrasi.

​"Nak Bima! Syukurlah kau cepat datang!" seru Pak Herman lega, seolah melihat juru selamat.

​Dokter Hendra mengerutkan keningnya, menatap Bima dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Tuan Herman, situasi sedang krisis! Puluhan nyawa di ujung tanduk, kenapa Anda malah memanggil seorang pemuda kemari? Kita butuh tim ahli CDC, bukan anak magang!"

​Pak Herman menatap tajam Dokter Hendra. "Jaga bicaramu, Hendra! Dia adalah tabib yang menyembuhkan putriku, orang yang kalian semua anggap tidak bisa diselamatkan!"

​Bima tidak memedulikan perdebatan itu. Ia melangkah cepat menuju salah satu ranjang darurat di lorong, di mana seorang pasien pria paruh baya sedang kejang-kejang. Wajah pasien itu membiru, dan terdapat urat-urat hitam yang menonjol dan berdenyut aneh di area lehernya, menjalar pelan ke arah jantung.

​Bima menempelkan dua jarinya di pergelangan tangan pasien tersebut. Matanya terpejam sejenak, menyalurkan sedikit tenaga dalam untuk memeriksa jalur meridian pasien.

​Deg.

​Bima membuka matanya, kilatan amarah yang sangat dingin terpancar dari manik hitamnya.

​"Dokter Hendra," suara Bima bergema berat, memotong kepanikan di ruangan itu. "Obat apa yang baru saja Anda suntikkan pada mereka?"

​"K-kami menyuntikkan epinefrin dosis tinggi dan antivirus spektrum luas untuk menstabilkan detak jantung mereka! Ini pasti jenis virus mutasi baru!" jawab Dokter Hendra defensif.

​"Bodoh!" bentak Bima, suaranya mengandung tenaga dalam yang membuat Dokter Hendra terhuyung mundur ketakutan. "Apa mesin canggih kalian membuat kalian buta?! Ini bukan virus, dan ini bukan penyakit menular!"

​"L-lalu apa?!" bantah Dokter Hendra dengan suara gemetar.

​"Ini adalah Racun Parasit Bayangan Kematian," ucap Bima dingin, membuat seluruh ruangan mendadak hening.

​"Racun ini dihirup melalui udara dan akan tertidur di paru-paru. Namun, saat kalian menyuntikkan zat perangsang jantung seperti epinefrin, racun ini justru aktif dan langsung menyerang sistem saraf pusat. Kalian bukan menyelamatkan mereka, kalian sedang mempercepat kematian mereka!"

​Penjelasan Bima bagaikan petir di siang bolong. Dokter Hendra memucat. Ia melihat ke layar monitor detak jantung, dan benar saja, pasien yang baru disuntik epinefrin kini grafiknya semakin menurun drastis, memasuki fase kritis!

​"I-ini tidak mungkin... secara medis ini tidak logis..." gumam Dokter Hendra, merosot lemas.

​"Singkirkan semua mesin dan obat modern itu sekarang!" perintah Bima mutlak, mengambil alih otoritas tertinggi di ruangan darurat tersebut. Bima menatap Pak Herman. "Seseorang dengan sengaja menyebarkan racun ini melalui sistem ventilasi sentral lobi rumah sakit. Ini adalah serangan teror langsung terhadap reputasi medis keluarga Herman."

​Pak Herman menggeram marah. Ia langsung menyadari bahwa ini adalah sabotase dari musuh bisnis atau Asosiasi Medis Gelap. "Apa yang harus kita lakukan, Nak Bima? Apakah mereka masih bisa diselamatkan?"

​Bima melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.

​"Beri saya seratus batang jarum perak murni yang sudah disterilkan menggunakan api, dan kosongkan ruang aula pertemuan utama. Pindahkan semua pasien yang terinfeksi ke sana," perintah Bima dengan ketenangan seorang jenderal di medan perang.

​Bima mengeluarkan kantong jarum andalannya sendiri, siap untuk melakukan teknik akupunktur massal yang belum pernah disaksikan oleh dunia medis modern.

​"Waktu kita hanya tiga puluh menit sebelum racun ini mencapai jantung mereka. Aku akan menarik racun ini keluar dari tubuh mereka satu per satu, dengan tanganku sendiri."

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!