Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
Perubahan atmosfer di kediaman Arthur pasca-insiden di taman kota mulai terasa semakin nyata.
Valerie, yang biasanya menjadi orang pertama yang memicu genderang perang setiap kali melihat Gisella, kini lebih banyak diam.
Gadis muda itu sering kali tertangkap basah sedang memperhatikan Gisella dari jauh dengan tatapan bingung, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki visual yang rumit.
Sore itu, kediaman Arthur kedatangan tamu penting.
Nyonya Eleanor, seorang wanita bangsawan paruh baya yang merupakan sahabat dekat Nyonya Arthur sekaligus kritikus sosial paling tajam di kalangan elit Aethelgard, datang untuk jamuan teh sore.
Dalam ingatan tubuh asli, Nyonya Eleanor adalah orang yang paling sering menyindir tata krama Gisella yang dinilai
"kasar dan tidak berpendidikan"
untuk standar menantu keluarga Arthur.
Di paviliun belakang yang menghadap langsung ke taman mawar, Nyonya Arthur dan Nyonya Eleanor sudah duduk berhadapan.
Valerie duduk di samping ibunya, tampak tidak tenang.
"Aku mendengar menantumu itu sempat pingsan beberapa hari lalu, Catherine,"
ucap Nyonya Eleanor sambil menyesap tehnya, nadanya terdengar santun namun terselip intonasi meremehkan yang halus.
"Kuharap dia tidak membuat keributan lagi di rumah ini. Adrian adalah profesor muda yang sangat dihormati di universitas. Reputasinya bisa tercoreng jika istrinya terus-menerus bertingkah histeris di depan publik."
Nyonya Arthur tersenyum canggung, mencoba membela.
"Gisella sudah jauh lebih baik sekarang, Eleanor. Dia..."
"Selamat sore, Ibu. Selamat sore, Nyonya Eleanor. Maaf membuat Anda berdua menunggu."
Sebuah suara yang rendah, jernih, dan berirama tenang memotong percakapan tersebut. Ketiga wanita di paviliun itu serentak menoleh ke arah pintu masuk.
Gisella melangkah masuk dengan keanggunan yang seolah memancarkan pendar redup namun memikat.
Dia mengenakan gaun midi berwarna hijau sage yang sederhana tanpa banyak payet riasan, namun potongannya sangat pas membingkai tubuhnya yang tampak lebih tegap dan proporsional.
Rambut cokelat bergelombangnya disanggul rendah dengan gaya french twist yang rapi, menyisakan beberapa helai halus yang jatuh di tengkuknya.
Di tangannya, Gisella membawa sebuah nampan perak berisi satu set teko porselen dan piring kecil berisi camilan baru.
Nyonya Eleanor yang berniat memberikan tatapan menilai yang sinis mendadak membeku.
Cara Gisella berjalan—dengan punggung tegak, dagu yang terangkat proporsional, dan langkah kaki yang ritmis tanpa menimbulkan suara seretan sepatu sama sekali—adalah standar berjalan tertinggi yang biasanya hanya dikuasai oleh para putri bangsawan yang dilatih sejak kecil.
"Gisella, Sayang, kau tidak perlu repot-repot mengantarkan ini sendiri,"
ucap Nyonya Arthur, matanya berbinar melihat penampilan menantunya yang begitu
memukau.
"Tidak apa-apa, Ibu. Aku kebetulan baru saja selesai membuat camilan sore yang cocok untuk menemani teh kalian,"
jawab Gisella dengan senyuman tulus.
Gisella berlutut dengan satu kaki dengan gerakan yang sangat mulus saat meletakkan nampan di atas meja rendah—sebuah tata krama penyajian (tea-serving etiquette) klasik yang bahkan sudah jarang dikuasai oleh gadis-gadis muda zaman sekarang.
Dia menuangkan teh ke cangkir Nyonya Eleanor tanpa menumpahkan satu tetes pun, lalu menggeser sepiring kue kering berwarna kecokelatan.
"Apa ini? Aromanya tidak seperti kue mentega biasanya,"
tanya Nyonya Eleanor, mencoba mencari celah untuk mengkritik, meskipun dalam hati dia sangat terkejut dengan transformasi fisik Gisella.
"Ini Almond Biscotti rendah kalori yang kubuat menggunakan tepung almon, pemanis alami stevia, dan parutan kulit jeruk lemon, Nyonya Eleanor,"
jelas Gisella, suaranya terdengar berwibawa namun tetap rendah hati.
"Kue ini dipanggang dua kali hingga teksturnya renyah, sangat aman untuk kadar gula darah dan memberikan sensasi segar di lidah setelah meminum teh hitam."
Nyonya Eleanor mengerjap. Dia mengambil sepotong biscotti tersebut dengan ragu, menggigitnya sedikit, dan seketika itu juga matanya melebar.
Teksturnya sangat renyah, rasa manisnya pas dan tidak pekat, bercampur dengan aroma sitrus yang elegan.
"Ini... kau sendiri yang membuatnya?"
tanya Nyonya Eleanor, nadanya mulai kehilangan keangkuhannya.
"Benar, Nyonya. Kuharap kue ini sesuai dengan selera Anda,"
jawab Gisella, lalu berdiri kembali dengan transisi gerakan tubuh yang sangat stabil dan anggun, sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di kursi kosong di samping Valerie.
Valerie yang menyaksikan seluruh adegan itu dari dekat hanya bisa melongo.
Dia menyenggol lengan Gisella pelan dan berbisik dengan nada menuntut yang sangat rendah,
"Mengapa kau menjadi sangat anggun seperti ini? Di mana kau menyembunyikan Gisella yang asli?"
Gisella menoleh sedikit ke arah Valerie, memberikan tatapan jenaka yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
"Gisella yang asli sedang pensiun, Valerie. Ini adalah versi yang sudah diperbarui."
Selama sisa jamuan teh sore itu, Nyonya Eleanor yang biasanya mendominasi percakapan dengan gosip dan kritik, justru lebih banyak melempar pertanyaan kepada Gisella.
Mereka berdiskusi tentang seni penataan taman, musik klasik, hingga literatur modern.
Di dunia aslinya, Gisella adalah seorang manajer humas (PR Manager) di perusahaan multinasional; membaca karakter orang, menyesuaikan topik pembicaraan dengan kelas sosial lawan bicara, dan menampilkan citra publik yang sempurna adalah makanan sehari-harinya.
Nyonya Arthur menatap menantunya dengan pandangan penuh rasa syukur dan haru.
Sementara Valerie, meskipun masih memelihara gengsinya, tidak bisa menutupi rasa kagumnya yang mulai tumbuh di balik lipatan tangannya di dada.
Malam harinya, sekitar pukul delapan, Adrian Arthur baru saja kembali dari universitas.
Langkah kakinya yang panjang membawanya melewati paviliun belakang yang kini sudah sepi.
Namun, dia melihat siluet seseorang di dalam ruang tengah yang terhubung dengan taman.
Adrian melangkah mendekat tanpa suara.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu berdiri kekuningan yang hangat, Gisella sedang duduk di depan sebuah piano besar berwajah hitam legam—piano peninggalan nenek Adrian yang sudah bertahun-tahun tidak pernah disentuh oleh siapa pun karena Gisella asli membenci musik klasik yang dianggapnya membosankan.
Jari-jari lentik Gisella bergerak di atas tuts piano dengan sangat lembut. Dia sedang memainkan melodi dari Gymnopédie No.1 karya Erik Satie.
Alunan nada yang minimalis, melankolis, namun sangat damai mengalir memenuhi ruangan, menciptakan kontras yang indah dengan keheningan malam.
Adrian terpaku di ambang pintu.
Pria dengan logika kaku itu mendadak merasakan gelombang ketenangan yang aneh menyelimuti benaknya yang lelah setelah seharian bergelut dengan angka dan rumus kimia yang rumit.
Dia menatap Gisella dari samping.
Cahaya lampu temaram menyoroti profil wajah wanita itu—hidungnya yang bangir, bulu matanya yang panjang yang bergerak mengikuti ritme nada, dan leher jenjangnya yang tegak lurus.
Postur tubuhnya saat bermain piano begitu sempurna, memancarkan aura seorang solois profesional yang sarat akan pengalaman dan emosi yang matang.
"Mengapa dia menjadi sangat anggun?"
Pertanyaan yang sama dengan yang dipikirkan Valerie pagi tadi kini bergaung keras di dalam kepala Adrian.
Gisella mengakhiri bait terakhir lagu dengan tekanan tuts yang lembut, membiarkan gema nada memudar perlahan di udara malam.
Dia mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum sendiri, merasa puas karena memori motorik tangannya dari dunia asal ternyata masih berfungsi dengan baik di tubuh ini.
"Permainan yang indah,"
sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan dari arah belakang.
Gisella tersentak kecil, lalu menoleh dengan cepat.
Adrian berdiri di sana, jasnya sudah dilepas dan tersampir di lengan, sementara kancing kerah kemejanya sedikit terbuka.
Tatapan mata di balik kacamatanya tampak lebih dalam dan intens dari biasanya.
"A-Adrian? Sejak kapan kau di sana?"
tanya Gisella, mendadak merasa sedikit gugup karena tertangkap basah sedang bersenang-senang dengan fasilitas rumahnya.
"Sejak bait pertama,"
jawab Adrian, melangkah masuk ke dalam ruangan dan mendekati piano.
Dia meletakkan jasnya di atas sofa, lalu berdiri di samping Gisella, menatap tuts piano yang putih bersih.
"Aku tidak pernah tahu kau bisa memainkan piano klasik. Seingatku, kau selalu mengeluh pusing setiap kali mendengar melodi seperti ini."
Gisella berdeham pelan, mencoba menyusun alasan taktisnya lagi.
"Manusia bisa berubah, Profesor. Setelah kepalaku membentur jendela, alunan melodi ini entah bagaimana terasa sangat akrab di telingaku, jadi aku mencoba memainkannya. Ternyata jari-jariku masih ingat."
Adrian tidak langsung membalas.
Dia menundukkan tubuhnya sedikit, menumpukan salah satu tangannya di atas bodi piano, membuat jarak di antara mereka kembali terkikis.
Aroma kayu cendana dan mint dari tubuh Adrian seketika mengalir ke indra penciuman Gisella, memicu debaran halus di dadanya yang coba dia abaikan.
"Kau tahu, Gisella?"
ucap Adrian, suaranya rendah dan terdengar seperti bisikan yang mengintimidasi namun memikat.
"Hari ini Valerie menceritakan apa yang terjadi di taman kota pagi tadi. Dia bilang kau mengobati kakinya dengan sangat ahli. Sore ini, Ibu juga bercerita dengan mata berbinar tentang bagaimana kau menundukkan kesombongan Nyonya Eleanor dengan keanggunan dan wawasanmu."
Adrian menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat Gisella.
"Semua orang di rumah ini mulai terpesona olehmu. Mereka melihatmu sebagai sosok menantu ideal yang baru saja mendapatkan hidayah pasca-trauma."
"Lalu... bagaimana denganmu?"
tanya Gisella dengan berani, menantang balik tatapan mata tajam sang suami.
"Apakah kau masih melihatku sebagai penipu yang sedang merencanakan konspirasi bersama Julian?"
Sudut bibir Adrian terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang membuat ketampanannya berlipat ganda di bawah cahaya temaram.
"Secara logika, aku harus tetap mencurigaimu. Tetapi secara insting... aku harus mengakui bahwa versi dirimu yang sekarang jauh lebih berbahaya bagi ketenangan pikiranku daripada versi dirimu yang dulu."
Adrian menegakkan tubuhnya kembali, mengambil jasnya, lalu berbalik menuju pintu keluar.
Namun sebelum melangkah pergi, dia menoleh sekilas.
"Mulai besok, mainkan lagu itu lagi setiap kali aku pulang kerja. Itu... cukup membantu meredakan pusing di kepalaku."
Setelah mengatakan hal itu, Adrian melangkah pergi menaiki tangga menuju lantai dua, meninggalkan Gisella yang masih terduduk di depan piano dengan jantung yang berdegup kencang di luar kendali.
Gisella menyentuh dadanya yang bergemuruh.
"Sial... pria kaku itu benar-benar tahu cara membuat jantung orang lain tidak aman. Fokus, Gisella! Ini hanya taktik pertahanan diri, jangan sampai kau yang malah terjebak di dalam pesonanya!"
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...